Yesus, Napi dan Ekaristi

Setiap kali kita lewat dan melihat sekejap pintu penjara tentu beragam perasaan dan pikiran muncul dalam diri kita masing-masing. Ada yang merasa ngeri, takut dan juga munculnya pemikiran ah itu kan tempat orang-orang “jahat” yang bermasalah. Kadang kita bertanya, adakah sukacita di dalam penjara ? Sebagaimana yang pernah dirasakan Rasul Paulus sendiri. Semua itu hanya akan dapat terjawab jika kita secara personal mau mendekat, terlibat dan memberikan perhatian pada saudara-saudari kita yang ada dalam penjara.

Sebagai salah satu wujud solidaritas kita kepada mereka, Sie Reksa Rohani Penjara Santa Anna bekerja sama dengan Komunitas Kasih Tuhan dari Kelapa Gading yang berada dalam FPP (Forum Pelayanan Penjara) hadir berkunjung, merayakan Ekaristi bersama mereka di LP Cipinang pada tgl. 31 Agustus 2009. Dipimpin oleh Romo Agustinus Yew, OFM Capusin, Ekaristi berlangsung sangat khusyuk ditambah dengan adanya Adorasi yang menyentuh hati. Sungguh luar biasa, keheningan begitu dapat tercipta ditengah tangis air mata kesedihan para napi, keheningan dapat tercipta ditengah guratan wajah yang tampak kosong. Wajah Yesus benar-benar hadir dalam wajah saudara-saudara napi yang mencerminkan rasa sedih, terpenjara, sepi, sendiri, berbeban berat, butuh pengakuan, dan masih begitu banyak perasaan yang berkecamuk dalam diri mereka.

Meskipun kesedihan menghimpit mereka, akan tetapi mereka begitu hormat, terlibat aktif dalam setiap doa dan pujian bersama. Tentu saja, semua itu dilambungkan sebagai ungkapan rasa sesal, tobat atas segala dosa dan kesalahan, dan juga rasa rindu pada keluarga mereka, pada bapak/ibu mereka, pada anak dan cucu mereka. Ekaristi sungguh luar biasa, pada saat Adorasi,Yesus terasa datang menyelimuti Kapel di LP Cipinang, Kami percaya bahwa kekhusyukan, keheningan yang tercipta sebagai cerminan penyerahan kedosaan diri mereka di hadapan Allah Sang Maharahim. Dalam Ekaristi bersama itu, kita dapat merasakan bahwa mereka juga saudara-saudara kita seiman yang membutuhkan doa dan dukungan terus menerus dari kita yang “bebas” untuk mendatangi dan mendoakan mereka.

Hanya melalui pengalaman untuk mau terlibat secara mendalam lewat hati dan budi kita, kita akan dapat merasakan bagaimana kesedihan yang mereka rasakan. Melalui kebersamaan dengan mereka, walaupun sejenak, kita belajar bagaimana merekam wajah Yesus dalam diri saudara-saudara Napi dan keluarganya yang sedang dalam penderitaan dan penuh harap. Pada saat bersalam-salaman dengan mereka tergambar dengan jelas, guratan kesedihan, senyuman yang hambar, wajah yang kosong dan terbeban berat. Kami yakin bahwa Roh Kudus juga hadir dalam diri kami dan mereka. Tuhan datang tidak saja kepada orang yang diluar penjara akan tetapi Tuhan juga hadir dalam diri orang-orang yang terpenjara. Kerahiman Ilahi menjadikan suatu anugerah yang dirindukan mereka dan kita semua agar dalam keadaan apapun kita diharapkan akan tetap dapat mewartakan kabar sukacita kepada semua orang,

Sebagaimana tertulis dalam Filipi 4:4-7 “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan ! Sekali lagi kukatakan : Bersukacitalah ! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Harapan kita dengan keterlibatan tersebut setidaknya kita akan dapat hadir sebagai teman bagi mereka yang “kesepian dan menderita” sehingga mereka akan dapat merasakan suka cita dalam nama Tuhan Yesus. Sukacita itu akhirnya diharapkan akan dapat mereka sebarkan kepada para sesama narapidana dan juga melalui doa-doa mereka diharapkan akan meluap keluar kepada orang-orang yang ada di luar penjara. Sebagaimana Rasul Paulus memberikan salam dan damai sejahtera kepada umat yang berada di luar penjara yang berada dalam situasi dan kondisi yang lebih baik, lebih damai, lebih sukacita. Semoga dengan pendampingan, Ekaristi dan pertemanan ini, dapat dijadikan jalan untuk menemukan Tuhan dalam segala hal.

. Apa yang kami tulis ini hanya sebagai salah satu “oleh-oleh” iman yang ingin kami bagikan kepada siapa saja yang menaruh perhatian, penghargaan kepada siapa saja yang mengalami penderitaan dan berbeban berat. Itulah sekelumit refleksi dari kami Sie Reksa Rohani Penjara Santa Anna yang terus menerus ingin mencari dan menemukan Tuhan Dalam Segala. (Salam dari kami yang mewakili teman-teman Sie Reksa Rohani Penjara St. Anna – Ibu Singgih, Ibu Anik Wahyudi, Ibu Lucy, Fr. Pandrias, SJ)

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>