Tumbuh Bersama Konflik
Kehidupan manusia tak pernah lepas dari konflik, benarkah demikian?
Barangkali, beberapa dari kita akan menjawab “setuju” dan ada juga yang menyatakan “belum tentu”. Apapun tanggapan saudara, bukanlah hal yang patut diperdebatkan karena memang tulisan ini ditujukan semata untuk berbagi pengalaman tumbuh bersama konflik.
Agak sulit rasanya bagi saya untuk menterjemahkan “tumbuh bersama konflik” ke dalam rangkaian kalimat yang lebih tepat, karena sejak pertama kali merasakannya, saya pun tidak pernah berusaha untuk memahaminya.
Lagipula saya termasuk golongan orang yang tidak suka konflik dan cenderung menghindar dari konflik sehingga rasanya saat itu menjadi lebih sulit bagi saya untuk tumbuh bersama konflik. Akan tetapi, semakin saya menghindari konflik, bukanlah saya benar-benar terhindar darinya, malahan saya tenggelam dalam konflik karena kelihatannya saya tidak berdaya untuk menghindar.
Pengalaman tenggelam dalam konflik membuat saya terjebak dalam kegelapan yang saya buat sendiri. Pada saat itu, saya mencari pertolongan ke mana-mana namun tak satu pun mampu membawa saya keluar dari jebakan konflik. Akibatnya, saya pun kelelahan mencari pertolongan, hingga akhirnya saya pun masuk ke dalam ruangan yang hening dan duduk terdiam. Kala itu rasanya sangat tenang, nyaman dan sejuk. Sayangnya, rasa itu tidak bertahan lama, karena kegelapan itu kembali datang.
Tak kuasa bertahan dalam kegelapan, saya pun berteriak minta tolong dalam hati sambil terisak tangis. Cukup lama juga saat itu saya bergelut dengan diri sendiri yang ingin keluar dari kegelapan sampai akhirnya saya pun merasakan ketenangan yang sama sekali berbeda dari ketenangan yang pertama kali muncul ketika masuk ke ruangan hening ini.
Agaknya, ketenangan ini bertahan cukup lama dan secara perlahan mampu mengusir kegelapan yang membelenggu saya kemudian mengubahnya menjadi sesuatu yang baru, sesuatu yang indah, yang tidak dapat diungkapkan ke dalam bahasa manusia. Di dalam ketenangan ini, saya mampu menelaah semua konflik yang ada.
Saat itu, saya tidak berusaha menerima konflik-konflik itu tetapi juga tidak menolak mereka karena memang mereka tidak terelakkan. Saya tiada daya mengendalikan konflik-konflik itu tetapi rasanya saya mampu mengelola mereka menjadi sesuatu yang baik dan sehat bagi pertumbuhan kehidupan saya.
Mengelola konflik, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, memerlukan daya upaya yang disertai oleh bimbingan Sang Bijaksana. Awalnya, saya tak mampu mengenali bimbingan Sang Bijaksana ini hadir dalam diri saya yang sedang mengelola konflik.
Namun saya terus menerus melatih diri mengelola konflik yang tentu saja melibatkan kerja Sang Bijaksana dalam diri saya. Perlahan-lahan saya berlatih untuk melepaskan diri saya dan membiarkan Sang Bijaksana bekerja total atas diri saya.
Lagi-lagi, tak sekejap pula hasil pekerjaan Sang Bijaksana tampak dalam diri saya, akan tetapi satu hal yang pasti, saya merasakan perubahan yang luar biasa yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya tidak lagi tersiksa ketika konflik datang, malahan saya merasa senang bertemu konflik karena (tidak tahu mengapa) saya dapat merasakan gejolak Sang Bijaksana menyelimuti diri saya, seolah-olah selimut ini melindungi saya dari setiap rasa yang dimunculkan oleh konflik yang datang.
Beberapa tahun sudah waktu berlalu bagi saya yang tidak pernah terlepas dari konflik, namun sampai saat ini tak sedetik pun konflik tersebut mengganggu proses pertumbuhan kehidupan saya. Saya mulai terbiasa dengan konflik, malah mulai menyenangi konflik. Ketika saya berada dalam konflik, saya merasakan kehadiran Sang Bijaksana bekerja dalam diri saya yang ternyata sedang membentuk saya menjadi seorang pribadi yang hidup sebagai pribadi yang dikasihiNya.
Memang, saya belum mengalami konflik luar biasa yang dapat mengganggu pertumbuhan kehidupan saya, namun saya akan terus menerus meminta pada Sang Bijaksana untuk tetap tinggal dalam diri saya dan terus bekerja membentuk saya menjadi pribadi yang tangguh, tabah dan bijaksana, sehingga setiap konflik yang akan muncul nanti, entah besar atau kecil, hanyalah sekedar bumbu dan warna warni kehidupan yang membuat hidup saya menjadi lebih kaya rasa dan kaya warna.
Roda kehidupan ini masih berputar dan pastinya konflik pun masih akan bermunculan, namun satu hal yang pasti akan terjadi, jika saya tetap mengandalkan Sang Bijaksana untuk terus bekerja dalam diri saya, maka saya pun akan dapat tumbuh bersama konflik, bagaikan bejana yang siap dibentuk setiap saat menjadi sesuatu yang indah sesuai dengan rancanganNya.
~Familia N. Simanjuntak~







wuih, hebat euy, sahabatku yang satu ini. Pantas aja terasa cucok dekat2 dengan dikau gitu lho…
terima kasih tulisan indahnya, mba Novi. jadi, selama ini punya rahasia indah tentang diri ya?
Nah nah, ada lagi kah OMK lainnya yang punya pengalaman batin indah seperti ini?
Emm… biasanya memang kaum muda cenderung terlihat emosional dan kurang bisa mengendalikan diri tapi alangkah indahnya jika sekarang bisa dimulai gerakan yang menunjukkan bahwa justru kaum mudalah yang sanggup merangkul segala usia dan jaman.
Kenapa tidak dicoba memahami dan menjadi pribadi yang sanggup beradaptasi dan dewasa secara emosional justru di saat diri masih muda, dan tidak perlu menunggu usia menjadi tua atau harus melewati segala pencobaan iman yang berat?
Bukankah Sang Bijaksana telah hadir sejak awal mula dan bekerja LEMBUT di dalam diri? Jadi, bagaimana bisa disadari bahwa Sang Bijaksana ikut bekerja jika diri ’sangat gaduh’ dengan segala keinginan?
Tetap semangat!
salam hangat,
angela a,