Tidak Dapat Restu Orang Tua
Singkat cerita:
Saya dan calon saya sepakat untuk menikah tahun ini, dan saya sudah membicarakan ini kepada orang tua saya. Tiba2 calon saya membatalkan dengan alasan ingin mencari pekerjaan yang pasti. saya memahami posisi calon saya yang baru saja menyelesaikan sekolahnya. akhirnya keputusan itu saya sampaikan ke orang tua saya, dan orang tua saya kaget sekali mendengar mengunduran pernikahan itu. Dan orang tua saya tetap bersikeras harus berjalan tahun ini.
Akhirnya saya bercerita kepada calon mertua saya…….. dan calon mertua saya menghubungi orang tua saya, dalam pembicaraan calon mertua saya kepada orang tua saya “biarlah mereka yang menentukan kapan kesiapan mereka untuk menikah, karena kalau kita paksa mereka menikah dan mereka belum siap takut ada kehancuran dipertengahan kehidupan berkeluarga mereka dan yang paling kita takutin jangan sampai menikah dua kali” tapi orang tua saya salah pengertian mendengar kata2 “MENIKAH DUA KALI” dan yang timbul orang tua saya merasa tersinggung atas kata2 itu, karena abang kandung saya sudah menikah 2 kali, dan orang tua saya menganggap kata2 itu sebagai penghinaan terhadap keluarga kami. dan saya ditekan oleh keluarga saya, untuk meninggalkan calon saya, dan jangan coba2 berhubungan lagi dengan calon saya, kl tetap saya bersikeras tetap memilih dia, km harus jalani sendiri dan tanpa restu orang tua saya. (saya akan terbuang dari keluarga saya) itu kata2 dr orang tua saya kl tetap saya memilih dia. gimana solusinya, tolong dibantu……
Terima kasih
Sdr S, Jakarta
===============================================================
Saudara S. yang baik, kiranya jelas ada suasana emosi tinggi yang perlu diredakan dahulu, diendapkan dahulu, sebelum mengambil keputusan apapun. Yoseph cukup tahu kalau calon mertua tidak berniat untuk menghina keluarga (“salah pengertian”), maka baik coba diluruskan dan dijernihkan ketersinggungan, dibenahi pengertian yang keliru itu lebih dahulu. Ada nasehat yang baik dari St Ignatius Loyola: jangan mengubah keputusan dalam keadaan kekeringan rohani. Nasehat ini juga bisa dibaca jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosional, apalagi menyangkut keputusan sangat penting soal pernikahan.
Keputusan pernikahanmu pertama-tama adalah soal hidupmu, maka penting bahwa Yoseph berani mengambil tanggung jawab sendiri. Sebagaimana sebuah pernikahan Katolik tidak bisa dilakukan dalam keterpaksaan/di bawah ancaman atau ketakutan, demikian logika sebaliknya dalam konteks Anda, keputusan meneruskan/memutuskan hubungan sebaiknya tidak didasarkan atas keterpaksaan, ancaman atau ketakutan. Yoseph menyatakan bisa memahami posisi calon, maka saya andaikan dalam dirimu tidak ada masalah sama sekali soal pengunduran perkawinan, masalahnya lebih datang dari orang tuamu. Teruslah berusaha bicara baik-baik dengan mereka. Kalau orang tua masih lengkap, dekati salah satu yang nampak lebih lunak sikapnya, lalu mudah-mudahan dia bisa diajak untuk mendukungmu dalam melunakkan hati orang tuamu yang satunya lagi. Kalau perlu, carilah orang yang kiranya dihormati dan didengarkan orang tuamu, dan mintalah ia bicara dengan orang tuamu untuk bisa menemani mereka mengolah pengalaman rasa-perasaan dan pemahaman mereka atas situasimu.
Semoga membantu.







tinggal seminggu lagi saya menikah dgn efraim tapi orang tua saya melarang katanya efraim orang miskin dan jelek tapi saya sebagai olga tetap akan teguh melawan semua penderitaan ini.tolong bantu saya romo.olga misdinar st anna
Selamat pagi romo
Romo…saya dan pacar saya berencana untuk melangsungkan pernikahan pada tahun ini,tapi ayah saya tidak merestuinya.saya baru di babtis katolik pada desember 2008,pada waktu mau di babtis,ayah saya memang sudah mengetahuinya,tapi dia hanya bicara sedikit lewat sms dan setelah itu tidak ada pembicaraan kembali.saya berasal dari keluarga yg bermasalah…ayah saya seorang muslim dan menikah dengan ibu saya dengan latar belakang keluarga kristen protestan (ibu saya ikut menjadi muslim pada waktu menikah dengan ayah saya),ayah saya telah menikah lagi sudah sekitar 10 tahun yg lalu dan telah memiliki anak,semenjak itu juga ayah saya tidak lagi tinggal dirumah kami,dan dia hanya datang semingu/dua minggu skali.saya sangat kecewa dengan ayah saya,karna sejak kecil saya sangat dekat dengan ayah saya.romo…baru tadi pagi ayah saya mengirim sms pada saya,karena kemarin saya dan pacar saya datang ke rumah ibu saya (saya tidak tinggal dirumah,saya tinggal dengan sepupu saya yg beragama kristen protestan)untuk ketemu ayah saya membicarakan rencana pernikahan kami.tetapi ayah saya tidak mau menemui kami,dan menyampaikan pesan pada ibu saya yg katanya “saya tidak akan merestui hubungan mereka dan lebih baik mereka tidak menemui saya karna akan menimbulkan emosi,dan saya juga tidak akan datang pada hari pernikahan mereka”.setelah itu kami memutuska untuk pulang,pagi tadi ayah saya sms ” klo kamu mau pindah agama,jangan karna mau menikah,tapi selidiki dulu kebenaran agamanya,kamu udah kena sirep,papa sudah tanya sama kyai klo dalam diri kamu ada jin yg menutupi mata hati kamu,datang kerumah hari ini dan papa akan mendoakan kamu dengan rukyah”.Romo bagaimana seharusnya saya menyikapi masalah ini,apa yg harusnya saya lakukan?saya mau menikah dengan pacar saya bukan karna harta,jabatan atau fisiknya,saya mau menikah dengan dia karna dia bisa menuntun saya untuk jadi lebih baik,dia bisa menuntun saya tuk semakin dekat dengan Tuhan & dia bisa menerima saya apa adanya,karna dari awal sebelum kita resmi menjalin hubungan saya sudah menceritakan apa adaya diri saya dan begitu pula sebaliknya,saya juga menemukan keluarga baru yg begitu sayang terhadap saya,saya sangat menginginkan mempunyai keluaraga besar yg hidup rukun,dan saya dapat temui dalam keluarga pacar saya.saya yakin romo dengan pilihan saya ini,bahwa ini adalah pemberian Tuhan pada saya,saya minta bantuan romo untuk saya dapat dengan bijak menyikapi masalah ini.Terima kasih romo… Salamat pagi
Walaupun anak diminta Gereja untuk mendengarkan nasihat orang tua, tetapi Gereja juga meminta orang tua untuk tidak memaksakan keinginannya terutama dalam pernikahan. Tanpa restu orang tua pun Gereja bisa menikahkan pasangan yang memenuhi syarat pernikahan Katolik.
Untuk kasus Siska, jika saya jadi anda, saya tidak mau anak-anak saya dididik dalam keluarga yang percaya takhyul dan kebohongan mistis. So, saya katakan, lanjutkan…tetapi bukan untuk lebih cepat lebih baik karena kamu harus Pro pada perintah dan ajaran Gereja..
May God bless your steps..