Tiada Kelahiran dan Tiada Kematian

Kelahiran dan Kematian Yesus
Darimanakah Yesus datang sebelum dilahirkan dan kemana Yesus pergi setelah kematian? Marilah kita menatap dalam-dalam pertanyaan ini.

Orang bilang bahwa Yesus pergi ke surga setelah kematian; dari surga juga ia datang sebelum dilahirkan. Jadi sejak semula Yesus tetap hidup, juga setelah kematian. Ia sudah datang sebelum dilahirkan dan tidak pergi setelah kematian. Ia tidak datang dan tidak pergi; Ia tidak lahir dan tidak mati.

Pada tahun 1 masehi, Yesus dilahirkan di Bethlehem, di tanah Yudea. Ia lahir dari seorang perawan bernama Maria. Itulah yang membuatnya sungguh sebagai Anak Manusia. Ia juga lahir dari benih Roh Kudus. Itulah yang membuatnya sungguh sebagai Anak Allah. Yesus adalah 100% manusia sekaligus 100% Allah.

Apa artinya kelahiran seorang bayi manusia? Orang mengartikan kelahiran sebagai menjadi ada dari ketiadaan. Kalau Yesus terlahir di dunia ini dari ketiadaan, maka istilah kelahiran bagi bayi Yesus tidaklah tepat karena Yesus sudah ada sebelum dilahirkan; Ia bukan menjadi ada dari ketiadaan. Oleh karena itu, lebih tepat dikatakan bahwa Yesus hanyalah bermanifestasi dalam bentuk lain. Ia yang sejak semula telah hidup sebelum dunia dijadikan, bermanifestasi dalam diri seorang Yahudi 2000 tahun yang lalu; namanya Yesus.

Lahirnya manifestasi akan diikuti berakhirnya manifestasi. Pada tahun 33 masehi, Yesus mengalami kematian. Apa artinya kematian? Orang mengartikan berakhirnya kehidupan. Apakah kehidupan Yesus sungguh-sungguh berakhir dalam kematian? Arti kematian di sini juga tidak sesuai dengan kenyataan, sebab Yesus tetap hidup setelah kematian. Lebih cocok dikatakan bahwa manifestasi Yesus berakhir dan Ia beralih kehidupan dalam bentuk yang lain.

Apa saja yang lahir, pasti mengalami kematian; apa saja yang tidak dilahirkan, tidak mengalami kematian. Yesus rupanya mengalami kedua-duanya.

Manifestasi Yesus pernah terlahir dan manifestasiNya pernah berakhir. Itulah dimensi dari ketidakkekalan. Namun pada dimensi yang paling dalam, Yesus tidak pernah lahir dan tidak pernah mati. Itulah sebabnya kita menyebutNya Kristus yang Hidup (the Living Christ). Ia hidup melampaui ruang dan waktu, dahulu dan sekarang, awal dan akhir, alpha dan omega; Ia ada di mana-mana dan tidak ada di mana-mana secara khusus; Ia adalah fondasi eksistensi anda dan melingkupi anda secara sempurna.

Kelahiran dan Kematian Ibu
Kelahiran seorang manusia membawa kegembiraan; kematian seorang manusia meninggalkan kesedihan. Demikianlah kegembiraan dan kesedihan silih berganti kalau orang terjebak pada pikiran kelahiran dan kematian.

Pada umur 16 tahun, ibu saya meninggal dunia. Pada tahun-tahun awal ditinggal ibu, saya didera oleh kesedihan. Saya meratapi diri sebagai seorang yang paling kesepian di seluruh muka bumi karena kehilangan seorang pribadi yang paling mencintai dan menyayangi.

Ketika sudah menginjak dewasa, pikiran saya mulai berubah. Orang-orang yang mengenal ibu saya mengatakan bahwa wajah saya mirip sekali dengan ibu. Orang bilang, dengan melihat wajah saya mereka melihat ibu saya. Dan saya senang mendengarkan pengakuan mereka. Saya menjadi sadar bahwa kemana saja saya pergi saya membawa ibu dalam diri saya. Ia ada dalam setiap sel dan darah saya. Dan orang lain melihatnya.

Saya bangga mempunyai seorang ibu yang baik. Ia sabar, sederhana, penuh cinta dan pengorbanan. Itu adalah darah spiritual yang ia wariskan kepada saya. Ketika saya bertindak sabar, sederhana, berani mencinta dan berkorban, ibu hidup dalam diri saya. Ibu tidak pernah mati, tetapi selalu hidup. Kemana saja saya pergi, ia selalu menyertai.

Pada tahun 1930, seorang perempuan cantik melahirkan seorang bayi yang daripadanya aku kemudian dilahirkan. Namun sesungguhnya, ibu juga tidak pernah lahir karena ia sudah ada sebelum dilahirkan. Ia sudah ada dalam diri nenek dan kakek yang juga saya kenal. Ibu mirip sekali dengan mereka dalam berbagai bentuk dan sifatnya. Ibu juga sudah ada dalam diri para leluhur mereka yang hidup sebelum dunia dijadikan. Ibu dan mereka semua tidak lahir dan tidak mati.

Belajar Menatap Awan
Mari kita belajar menatap awan. Hampir setiap pagi pada hari-hari ini, kita bisa melihat langit biru dengan awan gemawan. Kawanan-kawanan kecil awan putih bergerak lembut bersama angin dan memancarkan kilau mentari pagi. Kita senang sekali setiap pagi ditemani oleh tari-tarian awan putih di cakrawala. “Oh, betapa indah pagi ini!” Lama-kelamaan, makin banyak kawanan awan bergabung dan langit biru yang cerah berubah menjadi gelap. Kita menjadi sedih. “Oh, sahabatku, awan putihku, mengapa engkau pergi? Mengapa engkau pergi meninggalkan aku sendiri?”

Hujan yang turun ke bumi membuat kita menangis. Suara tangisan kita menghentak-hentak seperti suara air hujan menjejak bumi. “Oh, di manakah engkau sahabatku, awan putihku? Mengapa engkau pergi meninggalkan aku sendiri?”

Ketika hujan mencapai bumi, air mengalir bersama sungai menuju ke lautan. Pada malam yang sunyi, suara tangisan kita terdengar nyaring, menghentak-hentak seperti suara gelombang sungai memukul-mukul dinding-dinding bebatuan di tepian. “Oh, di manakah engkau sahabatku, awan putihku? Mengapa engkau pergi meninggalkan aku sendiri?”

Ketika air sungai sampai di lautan, jadilah samudra raya. Kesedihan dan tangisan kita belum mereda. Namun sinar mentari menghangatkan samudra raya dan samudra raya memberikan uap air sebagai jawaban trimakasih. Uap air ini dibawa oleh angin ke atas dan jadilah awan. Setelah semalaman menangis, pagi itu kita kembali bergembira. Kita kembali melihat sahabat kita, kawanan awan putih di cakrawala.

Sebenarnya kita tidak harus menunggu sehari, setahun atau seribu tahun, untuk kembali melihat awan putih. Saat ini pula, kita bisa menatap awan. Saat langit biru menjadi gelap, dimanakah awan putih? Saat hujan turun, air sungai mengalir dan berhenti di samudra raya, dimanakah awan putih? Bukankah ia tetap ada, hanya bersembunyi di balik langit yang gelap, hujan, air sungai dan samudra raya? Jadi kapankah awan putih terlahir dan mati? Ia tidak lahir dan tidak mati. Ia hidup di balik langit gelap, hujan, air sungai dan samudra raya. Dengan menatap dalam-dalam langit yang gelap, hujan, air sungai dan samudra raya, kita melihat awan putih berarak! Ia selalu menemani kita.

Kebangkitan Yesus dan kebangkitan Kita
Kebangkitan Yesus mengingatkan kita tentang hakekat terdalam diri kita, bahwa kita tidak lahir dan tidak mati. Untuk menyentuh dimensi terdalam itu, kita hanya perlu belajar menatap fakta kehidupan itu dalam-dalam. Seperti kita menatap Yesus, ibu, awan, kita bisa menatap dalam-dalam pasangan hidup, anak-anak atau cucu, sahabat, diri kita, persoalan-persoalan kehidupan dan segala hal.

Dalam kehidupan sehari-hari, betapa mudah kita dikuasai oleh rasa takut, sedih, khawatir, kecewa dan putus asa. Itu semua terjadi karena kita terjebak pada kelahiran dan kematian. Maka latihan-latihan untuk menatap secara dalam, akan membebaskan diri kita dari ketakutan dan kesedihan.

Cara yang paling praktis untuk bangkit dari ketakutan dan kesedihan adalah dengan menatap kembali pengalaman-pengalaman manis dan bahagia. Yesus sendiri menggunakan teknik ini untuk membangkitkan para MuridNya dari deraan ketakutan dan kesedihan. Setelah bangkit, Yesus mengajak para muridNya untuk pergi ke Galilea (Mat 28:1-10). Galilea merupakan tanah penuh kenangan. Di sana tersimpan banyak kenangan manis dan kisah-kisah sukses. Menatap kembali pengalaman-pengalaman manis dan kisah sukses akan membantu menyirami benih kebahagiaan dan keabadian dalam diri anda. Dan dalam realitas yang paling dalam, anda akan melihat Kristus yang Hidup: “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudaraKu, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.” (Mat 28:10)

Kenangan-kenangan manis bisa membantu, namun bukan yang paling penting. Yang paling penting adalah melihat Kristus yang Hidup, atau melihat fakta tidak lahir dan tidak mati. Dengan menatap fakta ini dalam-dalam, ketakutan dan kesedihan kita akan banyak berkurang atau hilang sama sekali dan diganti dengan kedamaian dan kegembiraan yang mendalam.*

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>