The Wounded Lord’s Love

The Wounded Lord’s Love
Minggu Paskah 2/C, Yoh 20:19-31

Pernahkah Anda menyembunyikan diri di balik pintu tertutup karena takut? Kalaupun tidak, mari bayangkan kita ada dalam situasi tersebut, resah gelisah gentar gemetar. Saati itu kiranya kita merindukan seseorang datang melalui pintu yang kita tutup dan menuntun kita keluar dari ketakutan-ketakutan kita, seseorang yang memahami kita karena ia telah mengalami hal yang sama.

Ada sebuah cerita tentang seorang perempuan yang luar biasa. Suaminya luka parah ketika mencoba menyelamatkan kedua orang tuanya dari rumah mereka yang terbakar. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, kedua orang tua malang itu tak terselamatkan, sementara wajah sang suami rusak berat karena terbakar dan cacat tak karuan. Sang suami ini begitu terpukul dan malu dengan wajahnya itu hingga tak mau lagi bertemu dengan orang lain, bahkan istrinya pun tak mau ia temui. Akhirnya, setelah berminggu-minggu sang suami mengasingkan diri, sang istri pergi menjumpai dr Maxwell Maltz, seorang ahli bedah plastik dan penulis yang ternama -yang kemudian menuliskan kisah ini. Dokter Maxwell berusaha menenangkan tamunya dan menyatakan ia dapat mengembalikan wajah suaminya seperti semula. Namun sang istri menyahut, “Pak Dokter tidak mengerti rupanya… Dia tidak akan mau seorang pun melihatnya. Dia tidak akan mau menerima bantuan apapun.”

“Lalu, mengapa Ibu kemari?” Tanya sang dokter.
Ia menjawab, “Karena saya ingin Pak Dokter merusak wajah saya supaya wajah saya menjadi seperti dia. Jika saya dapat merasakan kepedihan penderitaannya, mungkin dia lalu mau menerima saya kembali dalam hidupnya.”

Dr. Maltz mengatakan, dia sangat terkejut dan tentu saja menyatakan bahwa ia tak akan pernah mau melakukan apa yang diminta itu. Namun ia sangat tergerak dengan cinta sang perempuan itu hingga pergilah ia berbicara dengan suaminya. Setelah mengetuk pintu kamar, ia berteriak lantang “Selamat siang… nama saya dokter Maltz. Saya ahli bedah plastik dan saya ingin Anda tahu bahwa saya bisa memulihkan wajah Anda menjadi seperti sedia kala.” Tak ada reaksi.

“Tolong keluar, Pak”. Tak ada reaksi.
Masih berbicara di depan pintu, dr Maltz memberitahu pria itu tentang niatan sang istri. “Dia ingin saya merusak wajahnya lewat operasi agar bisa menjadi seperti Anda, dengan harapan Anda akan menerima dia lagi dalam hidup Anda. Sebesar itulah cintanya padamu.”

Ada keheningan mencekam sejenak, lalu, perlahan pegangan pintu kamar mulai bergerak memutar….

Saudara-saudariku ytk dalam Kristus, para murid dulu seperti sang suami, bersembunyi ketakutan di balik pintu terkunci. Hati mereka hancur karena pengkhianatan dan kepengecutan mereka, meninggalkan Sang Guru menderita dan wafat dalam kesendirian yang menyedihkan. Yesus muncul di tengah-tengah mereka, dan dia menampakkan diri dengan luka-lukanya. Luka-luka itu dibawaNya serta, mungkin agar mereka membiarkanNya masuk kembali dalam hidup mereka yang juga rusak penuh luka. Yesus mendapatkan luka-lukaNya saat Jumat Agung, agar kita membuka pintu hati kita akan kehadiran Dia yang berbela rasa menjadi seperti kita, saat Paskah tiba. Dia datang melalui pintu kita yang kita kunci dalam kepedihan, rasa malu, takut dan bersalah, dan menyatakan bahwa Dia memahami kita karena Dia sendiri terluka, bahwa dia dapat mengaruniakan damai sejahtera dan kepenuhan hidup.

Itulah antara lain mengapa kita merayakan minggu ini, seminggu setelah Paskah, Pesta Kerahiman Ilahi. Pesta ini mulai diresmikan tahun 2000 oleh Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II, berawal dari serangkaian penampakan yang diterima seorang suster Polandia yang telah dinyatakan sebagai orang suci, Santa Faustina. Namun juga dinyatakan bahwa sebenarnya akar pesta ini jauh melintasi sejarah Gereja hingga ke masa Gereja Perdana. Dalam dokumen Liturgi awali, Konstitusi Apostolik dari abad ke4 yang merupakan kumpulan karya kedua belas rasul yang telah menjadi bagian tradisi Gereja, dikatakan bahwa St Thomas menyatakan, “Setelah delapan hari (paska pesta Paskah), adakanlah pesta lain yang dirayakan dengan penuh hormat, hari kedelapan saat mana Dia mengaruniakan padaku, Thomas, yang susah untuk percaya, kepastian dan jaminan penuh, dengan menunjukkan padaku luka bekas paku di tanganNya dan tusukan tombak di lambungNya.”

Inilah hari kita rayakan Kerahiman Ilahi, kerahiman dari Tuhan yang terluka. Kerahimannya yang tak terbatas. KerahimanNya yang lebih kuat dari dosa, kejahatan, penderitaan, bahkan kematian! Dalam kerahminaNya itu kita dapatkan kemenangan, keselamatan, kedamaian, kepenuhan dan hidup abadi. Hari ini, adalah hari untuk berpaling kembali pada Allah dan membenamkan diri dalam samudra kerahimanNya. Hari ini adalah hari untuk membenamkan keluarga dan saudara-saudari kita dalam kerahimanNya yang tak terbatas lewat doa-doa kita. Hari ini adalah hari untuk mengatakan pada Tuhan Yesus bahwa kita mencintaiNya dan bahwa kita memberikan hidup kita padaNya, bahwa kita percaya sepenuhnya padaNya. Hari ini, dan setiap hari, mari serukan padaNya: Yesus, Engkaulah andalanku! Amin.

(AM Ardi Handojoseno SJ. PS: Selamat Paskah…!)

6 Responses to “The Wounded Lord’s Love”

  1. Selamat Paskah Romo Ardi,

    Terima kasih untuk “Kado” Paskahnya.

  2. Dear Rm.Ardi,

    Thanks Renungan Paskah dan Pesta Kerahiman Illahi..nya.
    So moving,Amazing…Jesus, I trust You……………..
    hope, I may imitate His loving action,day by day, more
    and more,care others,esp. in this kind of situation evr
    where… Also ,how wonderful..the wife is….so thrilling

    o.k Mo,sugeng enjing….
    stay blessed,
    ly

  3. Dear Romo Ardi

    Hallo Mo, Met Paskah (telat gpp ya Mo). Makasih postingannya, juga untuk postingan yang sebelumnya. GBU

  4. Dear Romo Ardi,
    Maaf sudah telat saya baca tulisan ini. permenungan yang indah, selamat Pesta Paskah semoga setiap saat bisa mengalami cinta yang kudus dalam perjalanan Imamat Romo. GBU.

  5. selamat Paskah jg, Romo. salam hangat untuk semuanya di sana ^_^

  6. Slmt sore Romo…

    Aku membacanya juga telat, tapi tak mengurangi indahnya santapan iman. Sungguh renungan yang membangkitkan rasa, untuk turut merasakan betapa berat penderitaan yang dirasakan seorang suami yang luka bakar, mendiscribsikan penderitaan Yesus ketika dihukum sampai mati.
    Kalo sekarang aku boleh senang, boleh belajar kemanasaja, boleh aktivitas apasaja, tentu aku tak lupa: darimana aku berasal, karunia Tuhan yang menyertai, dan kakiku berpijak.
    Demikian berat perjuangan para pendahulu itu, sbg budak di Mesir bertahun tahun, keluar dari mesir mengalami kelaparan di padang gurun, menjalani hukum taurat yang saklek. aku takut.
    Karena Yesus merelakan jadi korban maka aku ikut merasakan kebebasan kehidupan melalui penebusan itu. Mengingat peristiwa itu aku selalu dekat dengan Tuhan. aku selalu berbicara dalam doa, dan bersyukur.
    Tks ya Romo atas santapan iman yang dihidangkan.

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>