Testimoni retret 9-17 Sept 2010 (4): “Belajar meditasi dalam kondisi apapun”

Saudari FN, 29 tahun, Katolik, konsultan lingkungan hidup, peserta lama.
=======

Setelah beberapa hari berlalu sekembalinya dari retret, ternyata baru hari ini saya bisa cerita tentang pengalaman retret selama 9 hari yang lalu. Alasannya hanya karena saya bingung mau cerita apa, begitu banyak sensasi dan pengalaman yang saya dapat selama retret mulai dari hari ke-0 (saat naik gunung).

Saya akhirnya dapat menyadari sepenuhnya apa itu kelekatan, apa itu konflik, apa itu rasa perasaan, dan semua reaksi diri yang muncul selama hidup 29 tahun ini. Meski kelihatannya saya tidak serius selama retret tapi pada kenyataannya saya tersiksa selama retret apalagi sering mengalami distraksi dari luar diri. Awalnya distraksi tersebut sangat menganggu namun saya amati terus apa yang sebenarnya hal yang menganggu itu atau lebih tepatnya siapa sebenarnya yang merasa terganggu.

Selain itu, kondisi fisik juga tidak bersahabat. Ketika meditasi bersama di malam hari, fisik terasa baik-baik saja namun ketika meditasi bersama di pagi hari, fisik benar-benar payah karena vertigo datang tanpa diundang. Seringkali muncul keinginan untuk “ignore” atau ingkar dengan keadaan fisik yang sebenarnya (karena ada rasa malu dan enggan meninggalkan tempat meditasi), namun keinginan tersebut semakin memperparah konflik yang sedang saya alami. No matter what people said about my self, saya pun meninggalkan tempat meditasi bersama dan kembali istirahat di kamar. Sialnya, bukan tidur pulas yang terjadi, melainkan tidur dengan kesadaran penuh (sleeping meditation). Saya dapat mendengar bunyi bel meditasi, dan saya dapat melihat semua teman yang sedang meditasi. Bedanya tidak ada rasa sakit yang terasa, hanya keheningan dan kenyamanan.

Saya senang dengan keheningan dan kenyamanan tersebut karena tidak ada rasa sakit sehingga saya pun berupaya untuk kembali mengulang keadaan tersebut. Alhasil, kelelahan yang luar biasa yang terjadi dan fisik menjadi lebih parah karena depresi (hahahahaha…kelekatan itu benar-benar membuat depresi yach mo…).

Meditasi dengan keadaan fisik yang tidak bersahabat benar-benar sangat sulit, namun saya tetap jalani hari demi hari di retret dengan segala kesakitan fisik yang muncul. Ketika meditasi pribadi di satu hari (saya sudah lupa, hehehe…), saya melihat bahwa kehidupan nyata juga demikian, penuh dengan kesakitan-kesakitan, hanya saja saya tidak pernah sadar akan hal tersebut. Lalu dalam meditasi tersebut saya melihat semua adegan kehidupan saya selama 29 tahun, mulai dari saya lahir dan bahkan mampu melihat semua wajah orang-orang yang turut hadir dalam setiap moment.

Ketika melihat setiap wajah, pikiran saya bergerak untuk menamai mereka. Ada rasa sakit yang teramat sangat ketika wajah yang pernah membuat saya terluka muncul, sebaliknya, ada rasa yang sangat nyaman ketika wajah yang mencintai saya muncul. Doh…selama 3 jam saya larut dalam meditasi yang setengah sadar karena konflik yang terjadi akibat pikiran ingin memilih wajah-wajah mana saja yang boleh muncul (hiyaaaa, konyol banget dech waktu itu…), sayangnya keinginan tersebut tak pernah terjadi. Adegan kehidupan selama 29 tahun terus bermunculan, suka atau tidak suka, bahkan sampai detik ini.

Dahulu sewaktu saya berhasil menguasai diri terhadap konflik kehidupan, satu saat ketika muncul konflik yang sama, maka sensasi yang dirasakan sama persis dengan sewaktu pertama kali mengalami, namun kini, semua adegan tersebut atau konflik apapun yang muncul sudah tidak ada efeknya lagi, tidak menyakitkan atau menyenangkan.

Konflik tidak dapat dikendalikan, tak dapat dihindari atau diingkari ketika masih ada harapan “yang seharusnya sesuai dengan keinginanku”, namun konflik dapat diakhiri ketika mampu menyadari setiap kali harapan itu muncul dan kembali melihat realita/kenyataan apa adanya.

Yup romo…pengalaman inilah yang terjadi selama retret kemarin. Meski fisik tak mendukung, namun meditasi tetap saja datang dengan sendirinya dalam keadaan apapun setiap kali kesadaran itu muncul. Kini yang perlu saya lakukan adalah terus melatih diri tuk tetap meditasi dalam kondisi/kesempatan apapun.*

2 Responses to “Testimoni retret 9-17 Sept 2010 (4): “Belajar meditasi dalam kondisi apapun””

  1. Wah..seneng banget baca sharringnya. Semangatnya itu loh bikin ngiri…disadari sj ya irinya..hehehe..

    Sbnrnya aku jg pengen banget ikut ret2 kmrn,tp krn ada kewajiban yg gak terelakkan,jd gak bisa. Padahal udah kangen ketemu temen2 n ret2 bareng,krn pd saat ret2 tuh,suasana kebersamaan yg menyatu terasa banget ya..Tp ini bukan kelekatan ya mo?,mungkin apa krn timbul rasa kasih di masing2 peserta ya,mknya smua menyatu. Tidak ada yg saling menilai satu sama lain.

  2. mb aida…kangennnn…kapan yach kita bisa kumpul2 lagi? Rombongannya mb aida dibawa ke meditasi dunks skali waktu yach, xixixixi…
    *pasti dech meditasinya jadi lebih seru
    ^_^*

    sbenarnya mb aida jg smangat kok dlm blatih meditasi dan sdh mngalami bny hal juga khan…meski sangat sibuk, mb aida jgn patah smangat yach tuk terus meditasi…ciayoooo

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>