Testimoni retret 9-17 Sept 2010 (3): “Bangun dari tidur”

Bapak Jjs, 52 tahun, Katolik, wiraswasta, peserta baru.
=======

Aku ”dibuang” selama sembilan hari. Kemana dibuangnya? Ke suatu tempat sederhana dengan susana hening. Walah kok mau-maunya sementara orang lain lagi senang-senang liburan. Lah, bagaimana lagi wong yang ngebuang Penciptaku je. Apa sih tujuan membuang dirimu? Kasihan deh! Dua hari pertama di tempat pembuangan aku juga tidak tahu, “Duh Gusti, mengapa tega-teganya Engkau melamparkan diriku ke tempat yang menyebalkan ini ?”

Anda sah-sah saja tidak setuju akan kesebalanku karena anda pasti berpendapat Sang Pencipta jagad ini adalah Sang Maha Baik yang tidak mungkin menyusahkan ciptaannya, tapi nyatanya coba anda bayangkan lagi enak-enaknya tidur jam 3 pagi dibangunin cuma disuruh duduk diam melihat “layar” pikiranku dan tidak boleh dikomentari apapun juga. Gila kan! Ini baru urusan bangun tidur, belum yang lainnya lagi. S…sssssst sudahlah nanti bisa-bisa diomelin.

Dengan hanya mengamati “layar” pikiran atau bahasa kerennya kalau ada kesadaran pasif, pengamatan pasif, perhatian pasif terhadap suatu objek, maka si aku tidak ada … disitulah tercipta keheningan, kesadaran diri dan kucoba semua itu dengan susah payah, walaupun orang-orang lain mungkin melihat aku santai-santai saja kayak nggak serius. Lah, kalau nggak malah tambah stres, pikirku.

Kebanyakan orang, walaupun mereka tidak mengetahuinya, sedang “tertidur”. Mereka dilahirkan dalam keadaan “tertidur”, mereka hidup, menikah, membesarkan dan mengasuh anak dalam keadaan “tertidur”, bahkan mereka meninggal dalam keadaan “tertidur” (Awareness – disunting oleh J Francis Stroud SJ)

Sebenarnya sudah lama sekali aku mengenal apa itu meditasi tapi karena lebih suka menikmati “tidur” maka ya begitulah jadinya. Ya nggak “bangun-bangun”.

Bangun! bangun! ooooooi bangun! Setelah bersusah payah melakukan pengamatan pasif akhirnya aku kayaknya sih mulai ter-bangun, walaupun masih reyep-reyep banget (setengah bangun setengah tidur).

Terima kasih romo Sudri yang telah memberi kesempatan aku mengikuti retret ini dan mohon doa … bukan pelarian loh romo, semoga aku diberi kerajinan melakukan pengamatan pasif terus-menerus sehingga aku dapat benar-benar bangun dari “tidurku”, yang mana aku akan dapat menghayati hidup ini dengan lebih baik lagi dan benar. Tuhan itu maha baik, telah “membuang” aku ke Retret Meditasi ini. Coba kalau tidak, aku tentunya masih “tertidur” pulas.*

One Response to “Testimoni retret 9-17 Sept 2010 (3): “Bangun dari tidur””

  1. [karena lebih suka menikmati “tidur”]
    Tidur terlalu lama juga gak baik broer :)

    Terima kasih sudah membangunkan aku dan banyak AKU lainnya dengan testimoni ini. Dalam kehidupan meditatif batin yang “bangun” betul2 bebas dari masa lampau yg kerap menggayut dan pada malam hari tidur adalah kekosongan dari hari kemarin.

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>