Testimoni retret 9-17 Sept 2010 (1): “Getaran itu sampai sekarang kadangkala masih terasa”
Saudari Ag, 30 tahun, Katolik, auditor, peserta lama.
=======
Ajaib Mo, selama retret, saya selalu terbangun sebelum jam setengah 3 pagi. Jadi, belnya tidak pernah lupa. Hanya ada satu malam, kalau tidak salah malam ke-5 atau ke-6, saya terlambat bangun. Bersyukur, Melisia, yang saya minta untuk pegang bel, tidak ikut terlambat bangun hehe…
Romo, sejujurnya saya bersyukur karena para peserta bisa “mengalami” berbagai pengalaman yang berharga. Semoga berguna dan tidak malah menyulitkan langkah hidup selanjutnya.
Untuk saya pribadi, memori pikiran saya tidak mencatat banyak. Mungkin karena terlalu berkonsentrasi pada waktu (meditasinya malah sedikit, Mo heheheh…). Namun ada saat yang setidaknya masih sempat tercatat sampai detik ini. Kalau tidak salah, di pagi hari kedua atau ketiga, saya menyempatkan diri untuk duduk sempurna di serambi kamar atas. Menghadap ke landasan heli di lahan sebelah. Pagi itu, di situ sudah ada mba Christine. Namun saya tidak terganggu.
Saya mencoba rileks dengan angin dingin yang berhembus dan suara burung yang berkicau. Ada suara satu burung yang saya tahu, kalau di sekitar perumahan tempat kami tinggal, burung tersebut seringkali dipanggil dengan burung pembawa kabar kematian. Ah, pikiran sudah mulai berjalan…
Sepuluh menit duduk. Tiba-tiba tubuh saya bergetar hebat dan dada di sebelah kiri terasa sangat sakit. Sebenarnya sudah mulai terasa di malam sebelumnya namun pagi itu, saya tidak dapat mengendalikannya. Saya nyaris memanggil mba Christine yang juga sedang meditasi namun urung saya lakukan. Karena saya sadar betul bahwa udara sudah beranjak panas tapi kenapa tubuh saya malah jadi begini???
Akhirnya, saya sadar bahwa itu bukan karena cuaca atau penyakit apapun. Yaa… sudah, dibiarkan saja. Setelah sekitar setengah jam, getarannya mulai mereda namun tidak hilang.
Romo, saya mengalaminya hampir selama 3 hari berturut-turut. Dan sekarang saya mohon maaf karena teringat bahwa saya telah memecahkan sebuah gelas ketika mencuci piring. Maaf ya, Mo. Itu karena saya sebenarnya tidak dapat mengendalikan getaran yang sudah mulai merambat ke tangan. Bersyukur ada mba Novi yang selalu tidak jauh dari saya dan membantu saya yang sempat kaget karena gelasnya pecah.
Romo, getaran itu sampai sekarang kadangkala masih terasa. Saya sudah terbiasa dengan kondisi yang tiba-tiba seperti itu. Ketika saya menyerahkan bel ke Melisia untuk dipegangnya dan ketika akhirnya saya bisa total bermeditasi (hehe…), saya “merasa” ada sesuatu yang tercabut dari batin saya. Apakah ini hanya perasaan atau apa, saya tidak tahu. Seperti ada ruang hampa dalam batin saya. Sebenarnya tidak mengapa, saya tetap berusaha menjalani rutinitas saat ini, apa adanya ^_^.*







Leave a Reply