Testimoni retret (5): Berakhirnya rasa khawatir
Testimoni FNS, 28th, single, manager sebuah lembaga keuangan.
============
Hihihihi…tertawa geli ketika membaca sharing dari P Andi, ga nyangka, ternyata saya punya teman seperjuangan selama retret 3 hari di Wisma Cibulan.
Motivasi ikut retret kali ini benar-benar murni ingin liburan untuk menarik diri dari semua rutinitas di rumah, pekerjaan dan permainan internet. Sialnya, kondisi badan kurang mendukung sehingga suasana liburannya ga kena banget.
Ketika hari keberangkatan menuju Cibulan, suasananya terasa berbeda, terasa sangat berat, seolah-olah hari itu menghambat diri ini untuk berangkat retret. Pekerjaan yang tiba-tiba harus diselesaikan pada hari itu juga, perasaan berat untuk meninggalkan rumah karena kondisi rumah sedang kosong, dan yang paling membebani diri ini secara keseluruhan adalah ketika saya menerima kabar bahwa saya mendapat pekerjaan yang baru sebagai pekerja tetap.
Alhasil, saya pun berangkat dengan membawa segudang beban bersama rombongan mobil P Toni. Syukurnya, di dalam mobil, saya bertemu dengan teman-teman yang taraf kegilaannya setara dengan saya, bahkan bisa dibilang lebih tinggi dari saya, sehingga suasana pembicaraan yang terjadi sedikit menghibur saya (yang masih saja menggendong beban berat).
Sebenarnya tidak hanya terbebani, tetapi juga diselimuti kekhawatiran yang teramat sangat oleh berita kemacetan yang diforward oleh mb kristin (dari romo sudri), jangan-jangan akan sangat terlambat tiba di tempat dan tidak diijinkan untuk ikut retret. Beruntungnya, kegilaan saya kembali menghibur saya, kalau memang tidak diijinkan ikut retret karena terlambat datang, ya sudah, kita numpang tidur saja di wisma cibulan, toh nanti kita juga akan diajak meditasi bareng…hehehe.
Kami berangkat pukul 15.10 dari rumah P Toni. Perjalanan menuju Wisma Cibulan terasa menyenangkan terutama karena saya punya teman-teman untuk bergila bareng dan bercanda bareng, meski saya tahu pada saat itu kami semua yang berada dalam mobil yang sama mempunyai kondisi dan masalah yang macam-macam. Perjalanannya hanya 1,5 – 2 jam menuju Wisma Cibulan, padahal menurut kabar, kondisi jalanan ke Puncak sudah macet dan padat. Heh…kena dech dikerjai oleh orang yang menyebarkan isu macet itu, yang tak lain dan tak bukan adalah romo sudri.
Sia-sia dunks yach semua rasa khawatir yang dibawa-bawa tadi…cape dech!!!
Setibanya di Wisma Cibulan, kembali dikejutkan dengan kondisi kamar yang tempat tidurnya terlalu kecil untuk ditiduri oleh 2 orang (pantes aja mb kristin nanya mb asri di email, apakah mb asri ga kesempitan klo tidur berdua bareng novi…ternyata tempat tidurnya lebih kecil dari tempat tidur di rumah yang juga ditiduri oleh 2 orang). Huh…retret belum mulai, tapi sudah mendapat pengalaman yang ga enak.
Mau tidak mau, saya dan mb asri sebagai pasangan satu kamar pun membuat satu kesepakatan cara tidur yaitu kepala bertemu dengan kaki. Lagi-lagi rasa khawatir datang karena saya sering tidur kasak-kusuk dan pastinya nanti akan menendang mb asri tanpa sadar ketika tidur. Syukurnya, mb asri tidak keberatan akan hal itu, yang secara otomatis mengurangi rasa khawatir saya.
Suasana hati (yang masih terbebani itu) sedikit demi sedikit mulai membaik karena dapat bertemu muka dengan orang-orang terkasih. Kegilaan saya pun dimulai. Herannya, semua teman mendukung kegilaan saya itu dan mereka terlihat begitu senang. Saya melihat aura keceriaan di wajah mereka (meski di dalam hati mereka, jangan-jangan, juga punya kondisi yang sama dengan saya). Aura keceriaan yang memancar dari wajah mereka memberi sinar yang menghangatkan hati saya, sehingga perlahan-lahan beban yang terbawa-bawa itu mulai terkikis.
Sesi pertama adalah pengantar dari romo sudri yang pada kesempatan kali ini romo memberi wejangan yang mendetil (bahkan sangat mendetil). Hanya saja kali ini romo tidak mengeluarkan begitu banyak larangan, jangan ini dan jangan itu, jadinya aturan main yang diberlakukan pun tidak lagi memberatkan, malah aturan main kali ini sangat menyenangkan, terutama karena romo mengijinkan perpanjangan jam tidur (jika benar-benar diperlukan).
Sesi meditasi awal dilakukan sekitar 20 menit, meski hanya sebentar tapi efeknya sangat berbeda. Sekejap, semua beban lenyap, pikiran berhenti dan rasa khawatir pun sudah tidak ada. Begitu selesai, saya pun melangkah ringan menuju kamar untuk tidur.
Pengalaman pertama tidur bersama orang asing dalam posisi tidur yang aneh (kepala bertemu dengan kaki) membuat saya tidak bisa tidur semalaman, sehingga ketika mendengar ketukan pintu sebagai tanda sesi meditasi akan dimulai, kepala pun terasa berat. Oleh karena memang sudah waktunya untuk mulai meditasi, mau tidak mau saya pun melangkahkan kaki menuju ruangan meditasi. Suasana dingin, gelap dan kepala yang berat sangat menyiksa saya selama sesi meditasi pagi itu. Saya hanya mampu bertahan beberapa sesi saja, kemudian melanjutkan istirahat saya di kamar. Sepertinya dari semua arahan romo semalam, yang paling melekat di benak saya adalah boleh lanjut tidur jika perlu.
Alhasil, saat itu, saya mengalami masa-masa tidur yang paling enak, pulas tanpa mimpi, meski dalam keadaan tidur tersebut saya dapat mengetahui semua kejadian di sekitar kamar, dan juga dapat mendengar percakapan-percakapan halus dari teman-teman yang baru saja selesai sesi meditasi pagi itu. Saya tertidur sampai jam 8.30 dan ketika bangun dari tempat tidur, suasana wisma sangat sepi. Dalam benak terlintas, barangkali sesi meditasi pribadi sudah dimulai. Saya pun langsung menuju kamar mandi untuk menyegarkan badan. Selama di dalam kamar mandi, semua pikiran dan rasa khawatir itu datang kembali. Arrghh, saya pun berteriak dalam hati, kenapa datang lagi sich.
Meski badan terasa segar tapi hati penuh sesak, pikiran pun jadi mumet banget. Muncul niat saat itu juga untuk menyendiri, benar-benar menyendiri, tidak ingin bertemu muka dengan siapa pun. Tentu saja hal itu tidak mungkin, karena saat itu adalah sesi meditasi pribadi, yang tentunya akan bertatap muka dengan teman-teman yang sedang melakukan walking meditation. Pupus sudah niat untuk benar-benar menyendiri selama beberapa saat.
Setelah jam makan siang selesai, keinginan untuk menyendiri kembali datang. Saya pun memutuskan untuk melakukan meditasi dalam kamar bersama dengan kursi malas yang sangat menggoda. Meski namanya kursi malas, tetapi tidak membuat saya malas untuk melakukan meditasi pribadi. Saya pun mulai meditasi pribadi yang tentunya ditemani oleh semua beban yang dibawa-bawa sejak berangkat dari Jakarta.
Sepanjang meditasi pribadi tersebut, badan terasa sangat lelah, bahkan kondisi saya saat itu benar-benar tidak baik, saya mulai merasa mual-mual. Walah, saya kok malah menjadi semakin depresi ya. Saya coba untuk bertahan sampai akhirnya benar-benar tertidur di atas kursi malas (hehehe), sampai tiba waktunya untuk sesi sore meditasi bersama.
Meski terasa berat, saya bawa semuanya dalam ruangan meditasi bersama. Kali ini, ruangan meditasi sangat berisik oleh suara TV yang gaduh di luar, suara sirine mobil polisi di jalanan, suara hiruk pikuk perayaan lebaran haji, suara orang berpesta, dll. Ya Tuhan, kenapa, lagi-lagi, suasananya sangat tidak enak, semakin menambah beban.
Kondisi terbebani yang teramat sangat terus berlanjut sampai pada hari Sabtu malam, sehingga sesi meditasi yang dijalani sepanjang hari itu benar-benar sangat menyiksa. Akan tetapi ketika masuk dalam meditasi bersama pada hari Sabtu malam, saya merasakan sebuah energi yang berbeda memasuki diri saya, sebuah energi yang saya benar-benar tidak tahu berasal dari mana. Energi itu memampukan saya untuk melepas semua beban, menghentikan semua pikiran yang pernah ada.
Namun, saat itu saya masih ragu, jangan-jangan energi ini hanya berefek sebentar saja. Saya pun membiarkan dia memasuki diri saya dan mulai menikmati efeknya. Meski masih ada beban yang tersisa dan pikiran yang macam-macam mulai berdatangan, tetapi saya sudah tidak lagi terganggu oleh mereka. Saya membawa semuanya dengan sukacita meski saya tahu mereka tidak akan terlepas dari diri ini sebelum waktunya tiba.
Setiba di Jakarta, saya kembali masuk dalam rutinitas. Belum tiba di rumah, tetapi sudah bertemu dengan masalah, hanya saja kali ini masalah itu sudah tidak lagi menjadi masalah karena saya mampu menghadapinya dengan kondisi yang baik.
Begitu sampai di rumah, kembali saya bertemu dengan masalah rutin, kondisi kamar yang berantakan, meja kerja yang penuh dengan tumpukan pekerjaan dan suasana rumah yang gaduh. Huff…banyak banget urusan yang harus segera dibereskan, akan tetapi saat itu semuanya dapat saya jalani dengan kondisi yang sangat baik, semua gerakan saya seperti mengalir, sehingga tanpa terasa beberapa urusan dapat diselesaikan saat itu juga.
Sepertinya kondisi semakin berat saja dengan adanya masalah yang terus bermunculan, terutama karena saat ini saya benar-benar memasuki babak kehidupan yang baru, yang dengan jujur saya katakan, saya tidak suka dengan babak baru ini (malah saya cenderung menghindar untuk masuk ke dalamnya).
Hanya saja, kali ini saya benar-benar tidak bisa menghindar, saya merasa sepertinya Tuhan menghendaki saya untuk masuk ke dalam babak baru ini karena proses yang saya jalani sejak pertama kali seperti mengalir apa adanya. Meski saya berupaya untuk menghindar, tetapi tetap saja proses itu berjalan seperti apa adanya.
Sebelum berangkat retret, berita mengenai babak baru ini sangat membebani saya, tetapi sekarang, saya berserah sepenuhnya, sebab jika memang jalan ini adalah kehendakNYA maka saya siap untuk menjalaninya dengan penuh syukur. Karena menurut pengalaman selama retret, sia-sia saja semua kekhawatiran akan segala sesuatu yang belum terjadi.
Apa yang sudah terjadi, saya tak mampu kendalikan, begitu juga dengan apa yang akan terjadi nanti. Satu-satunya hal yang mampu saya lakukan adalah menghadapi apa yang terjadi hari ini dan melakukan yang terbaik untuk menjalaninya, selebihnya saya serahkan semuanya kepada kuasaNYA.







Leave a Reply