Testimoni retret (4): Efek tenang dan damai
Testimoni Ndi, 36th, guru.
============
Monday, 30 November, 2009 17:52
Sebagai orang baru yang belum pernah menjalani meditasi namun sok percaya diri dan penuh semangat, saya memberanikan diri ikut retret meditasi dibimbing oleh Romo Sudri. Berikut pengalaman saya.
Hari Pertama:
Dari pengantar Romo Sudri yang singkat namun “terasa penuh di otak”, saya mencoba mengikuti aturan mainnya.
1. Jangan berpikir (hah? Orang gila aja mikir, cuma mikirnya yang gak waras aja). Tenang ndi, ikuti aturan main
2. Gunakan panca indera, tapi tetap jangan berpikir. Rasakan angin berhembus, dengarkan suara, melihat benda-benda kalo terpaksa buka mata. (ok! Bisa dimengerti)
3. Dilarang bicara, jam dan handphone disita (ampun deh, perasaan di email pendaftaran gak disebut handphone disita deh)
4. Semoga bisa mencapai apa yang disebut keheningan
Meditasi hari pertama sekitar 1 jam lebih, kaki pegel, otak lelah berusaha mengusir pikiran-pikiran liar yang terus masuk, badan kadang-kadang bergoyang sendiri (ups, rupanya ketiduran).
Selesai meditasi, tidur pulas….
Hari Kedua:
Ibu Merry gedor-gedor pintu jam 3 pagi. Dengan SEMANGAT 100% dan NGANTUK 200% ikut meditasi dini hari. Masih sering tertidur, tapi engga sampe jatuh ke lantai sih (engga kebayang malunya kalo sampe menggeletak di lantai hihii…)
Setiap 1 jam (kira-kira yang tahu cuma bu Merry seorang) ada walking meditation. Ini dia… Lumayan, meregangkan otot. Semua orang jalan pelan-pelan. Ah…. Gak terasa udah 2 putaran, tapi kok tuh ibu masih setengah jalan ya. Ya ampun, gue udah 2 putaran, dia masih ˝ jalan hehehe…. Perlu strategi nih, angkat kaki tinggi-tinggi, jatuhkan pelan-pelan, sampe hampir kehilangan keseimbangan. Strategi dua, langkahnya jangan jauh-jauh, pendek-pendek aja.
Saat walking meditation yang kedua, terpaksa berlagak jalan 1 putaran dulu, lalu langsung kabur ke kamar dan meditasi di bawah selimut. Kayaknya yang ini efektif banget, tanpa pikiran sesuai petunjuk The Master Romo Sudri. Mimpi indah.
Hari Ketiga:
Walau mulai bete, tapi bertekad tidak akan menyerah. Saya mencoba mengikuti saja semuanya. Dijalani saja. Kalo duduk ya duduk, jalan ya jalan. Merem ya merem (gak pernah merem terus sih, alias merem melek merem melek).
Saya lihat bu Merry pas di depan saya, kok bisa ya diam terus tidak bergerak. Tuh orang tidur kali ya…hahahah (peace bu). Saya sendiri setiap 10 menit ganti gaya. Pertama kali gaya lotus, 10 menit kemudian kaki ditekuk ke depan, ketiga kaki lurus ke depan. Keempat, looping ke gaya pertama lagi. Demikianlah aktivitas kaki saya seperti senam pagi.
Aktivitas pikiran lain lagi. Lima menit pertama bisa konsentrasi ke nafas tanpa pikiran. Tarik nafas, buang nafas. Selanjutnya lamunan-lamunan indah mulai menyerang. Tapi sesuai petunjuk The Master, jangan dilawan. Ya udah, lanjutin terus ngelamun hehehe… Soalnya sebelum tok tok nya bu merry, sang kapten, berbunyi, kita gak boleh angkat kaki dulu. Well, dengan lamunan indah waktu menjadi tidak terasa lho.
Saat malam, sharing dengan pak Helmi membuka mata saya akan hal-hal yang selama ini saya lupakan. Great thanks to you sir, it opened my mind and gave me new vision of my life.
Bagaimanapun, hari ketiga merupakan hari paling nyaman buat saya. Tingkat efektivitas meditasi paling tinggi dibanding hari sebelumnya. Kalo diukur pake efektif-meter kira-kira 10% lah hahahah….. But I did enjoyed the day.
Hari Keempat:
Penutupan yang indah. Misanya indah. Lagu nya indah. Terasa semangat kebersamaan. Damai di hati.
Tiba di Jakarta
Sampe rumah, biar masih ngantuk, pergi ke mall sama isteri. Entah kenapa, perasaan damai masih nyangkut terus. Saya lebih tenang. Ke ace hardware cari lilin dan aroma terapi. Dingklik belum nemu. Saya bertekad mau meneruskan belajar meditasi sendiri di rumah.
Malam tiba, dan saya janji pada romo untuk menulis email. Tapi saya tunda dulu ah. Besok aja.
Monday – Always busy day
Kembali bekerja, menjalani rutinitas kesibukan dan tekanan-tekanan tinggi.
Tapi ada yang lain. Yes…I can’t be wrong. Saya lebih tenang. Biasanya, saat tekanan tinggi, tegangan mulai naik. Tapi sekarang bener-bener lebih tenang, lebih sabar menghadapi masalah. I am quite sure this is the effect of my meditation. Gila, padahal kemarin cuma 10% efektivitasnya, tapi efeknya masih terasa. Saya deg-deg an. Sampai kapan efek ini masih nyangkut, karena saya tidak mau kehilangan kedamaian dan ketenangan ini. Meditasi mesti diasah terus nih, ibarat pisau, terus diasah agar manfaatnya tidak berkurang.
Demikian pengalaman saya… Semoga engga jadi bete karena kepanjangan.
Terima kasih banyak untuk Romo Sudrijanta SJ, atas kesempatan yang diberikan dan bimbingan meditasinya. Dari perjumpaan yang singkat, kesan saya terhadap beliau: saya melihat beliau cerdas namun tetap rendah hati. Semoga Tuhan dengan murah hati terus membimbing beliau dalam perjalanan spiritualnya, sama seperti beliau membimbing kami semua dengan penuh kesabaran dalam perjalanan spiritual kami.
Terima kasih juga untuk teman-teman dari paroki St. Anna. Kemurah-hatian kalian membuat saya dan beberapa teman dari negeri lain bisa merasakan talenta dan kekayaan rohani yang ada di paroki anda.
salam damai,
Ndi







Membaca testimony 2-4 membuat nafas saya hilang timbul lenyap, tahan nafas sampai tersenyum geli dihadapan komputer. Mulai dari peserta yg tune-in, diam gak bisa ngomong apa-apa, sampai peserta yg polos banget menceritakan pengalaman pertama tanpa pernah menjalani meditasi.
Dua peserta secara jujur menceritakan tangisan mereka. Saya pun melalui saat-saat itu. Airmata mengalir begitu saja, tak mampu dibendung saat duduk diatas bangku meditasi (dingklik) lewat tengah malam. Siapakah aku sehingga Dia Yang Mengasihi aku berkenan mendengar doaku, membangunkan aku untuk kembali bersujud di hadapan-Nya? Hanya saja saya tidak cerita pada Romo tentang pengalaman itu … malu ah
Diam tanpa upaya untuk meronta atau melawan pun hingga kini masih berlangsung. Dulu sebelum ikut meditasi, pikiran kerap dominan menentukan arah dan langkah kaki menerjang gelombang kehidupan, bila terpenuhi apa yg saya ingini ada rasa puas dan bangga. Kini setelah teratur mengolah batin, dalam diam ada Cahaya Abadi yg menuntun saya dalam kehidupan. Satu dua kali ada perasaan ingin melawan dalam diam, seterusnya rasa perasaan ingin melawan surut dengan sendirinya; begitu pula ketika seorang teman mengirim pesan singkat dengan sedikit ‘tekanan’: jadi ikut retret meditasi nggak! Saya tidak menjawab hanya mengikuti gerak usus-ku… lah usus kan ada di dalam tubuh, iya nggak pak guru (Ndi)?! ketika saya menyadari ada upaya untuk melawan saya merasa ada yg salah dengan diri ini. Tidak bisa berdoa di gereja, saya alami pula. Keinginan untuk berkata-kata di hadapan Sang Pencipta surut dengan sendirinya, kata seolah tiada arti.
Pengalaman saya mengolah batin tidak berbeda dengan teman-teman: ada tangis, kaki kesemutan, ngantuk atau merasa melayang, tidak ber-interaksi dengan teman, dst. Dengan keluarnya testimoni pengalaman kekosongan, diam tidak melawan, efek tenang dan damai dari teman-teman yang mengikuti retret saya merasa senang bisa sharing apa yg saya alami, biasanya saya sharing limited edition… Terimakasih untuk teman-teman yg telah menceritakan pengalamannya, tetap semangat dalam mengolah batin dan sampai ketemu. Testimoni selanjutnya ada nggak MO … ayo siapa yg belum pernah menulis… maukah sharing pengalaman retret meditasi?
Salam,
LF