Testimoni retret (3): Diam tidak melawan
Testimoni DSI, 30th, single, karyawati.
============
Tuesday, 1 December, 2009 6:0
Romo Sudri,
Setelah romo menuliskan di buku saya “enjoy your traverse within”, jadi ada yang ingin saya sampaikan ke romo.
Beberapa bulan lalu saya pernah bertanya ke romo tentang kondisi saya yang tidak bisa bedoa dengan kata-kata. Dan itu terus berlanjut sampai sekarang. Awalnya saya terus mencari kenapa saya seperti ini?. Karena rasanya gak enak sekali romo. Ingin bicara tapi gak bisa. Rasanya hati saya seperti dikunci. Hal yang sebelumnya tidak pernah saya alami. Pernah suatu kali selama dua hari saya ingin berontak dari ketidak bisaan saya bicara dihadapanNYA. Saya berusaha bicara. Saya paksakan diri saya bicara. Rasanya seperti saya memakai baju yang kesempitan dan saya ingin melepaskan baju ini supaya saya bisa bergerak. Tapi akhirnya saya malah kecapekan sendiri. Ya sudah. Saya kembali diam. Padahal didalam meditasi romo sudah mengajarkan untuk tidak melawan/menolak gerak batin. Tapi ego saya terlalu besar. DihadapanNYA saya yang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa ingin menunjukkan existensi saya. Saya merasa bodoh sekali.
Dan dibalik ketidak bisaan saya bicara di hadapanNYA ada kerinduan terhadap Tuhan di hati saya. Kondisi tidak bisa bicara itu membuat kerinduan terhadapNYA menyesakkan hati saya. Pernah suatu kali kerinduan itu hadir menyeruak begitu saja. Menyesakkan hati. Saya gak bisa berbuat apa-apa. Saya cuma bisa menangis. Rasanya Tuhan itu jauuuuhh sekali. Sampai saya katakan pada Tuhan, Ya Tuhan jangan siksa saya dengan kerinduan ini, hibur saya dengan cintaMU ya Tuhan. Dan belum lama ini saya sampai gak tahan dengan kerinduan saya terhadap Tuhan. Rasanya menyesakkan sekali. Dari pagi ketika ikut misa harian kerinduan itu sudah menyesakkan hati. Saya berfikir mungkin setelah misa selesai kerinduan ini akan terurai dan berubah menjadi damai seperti yang biasanya terjadi terhadap saya. Namun hari itu kerinduan itu tidak terurai. Terus menyesakkan hati sepanjang hari. Pada saat itu saya ingin sendiri. Tapi gak bisa. Saya masih bekerja. Begitu sampai rumah saya sudah betul-betul gak tahan. Selesai mandi saya langsung masuk kamar. Dan saya menangis dihadapan Tuhan. Rasanya saya seperti jatuh terkapar romo. Seluruh tenaga saya habis. Seluruhnya. Gak ada yang tersisa. Seperti anak kecil yang bersalah dan dihukum ibunya saya mohon ampun pada Tuhan. Ampun Tuhan. Ampun. Tangis saya tidak berhenti. Kerinduan itu tetap begitu menyesakkan hati. Dan dalam tangis tersebut saya tertidur.
Esok paginya saya ikut misa harian di Samadi. Pagi itu kerinduan saya sudah mulai terurai. Dan hati saya menjadi damai, tenang sekali. Dalam misa saya ingin mengucap syukur pada Allah karena Dia sudah berbaik hati memberikan kedamaian dalam hati saya. kerinduan saya terhadapNYA tidak menyesakkan hati saya lagi. Tapi kembali saya tidak bisa bicara. Mengucap syukur saja gak bisa. Ya sudah. Saya kembali diam. Pelan-pelan sekarang saya mulai bisa menerima kondisi saya. Saya gak berontak lagi. Kalau memang tidak bisa bicara ya sudah. Saya ikuti saja.
Meditasi yang romo ajarkan sangat membantu sekali dalam menghadapi kondisi yang saya hadapi. Sangat membantu karena romo mengajarkan untuk tidak menolak/melawan gerak batin yang ada. Terima saja apa adanya. Kerinduan yang saya rasakan terhadap Tuhan saya bawa dalam meditasi. Didalam meditasi kerinduan itu berangsur-angsur terurai. Dan ada sukacita yang dalam. Saya tidak bisa menggambarkan bagaimana rasa sukacita itu. Tapi saya merasakannya. Kerinduan saya terhadap Tuhan sampai saat ini masih ada romo. Tapi tidak sampai membuat saya terkapar lagi. Ketidak bisaan saya bicara dihadapanNYA kadang-kadang masih membuat saya merasa seperti terpasung. Tapi ya sudah. Ikuti saja. Saya terima apa adanya. Maybe one day i can enjoy this condition. I don’t know.
Ya Allah segeralah menolong aku
Tuhan perhatikanlah hambaMU
Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus
Seperti pada permulaan
Sekarang, Selalu dan Sepanjang Segala Abad
Amin.
Salam
DSI







jatuh bangun, pada akhirnya hanya kepasrahan dan percaya suatu saat akan tiba waktunya keindahan menyelimuti diri, sebab segala sesuatu sudah ada dlm rencanaNYA.