Testimoni Retret (2): Pengalaman kekosongan

Testimoni Angela A, 29 th, single, auditor.
============
Hmm… kali ini, saya ingin bercerita banyak, selagi masih ingat hehe…

Niat awal saya kembali mendaftar ikut retret meditasi untuk kedua kalinya ini, sebenarnya hanya ingin ‘berlibur’. Berhenti sejenak dari rutinitas dan kejenuhan kesibukan kerja harian.

Berangkat pukul setengah 3 sore dari kantor, batin saya sdh penuh dg kecemasan karena ternyata harus berhadapan dg kemacetan dlm kota. Ditambah harap-harap cemas jika nanti ternyata sms Romo yang mengatakan arus di puncak mulai padat, terbukti.

Tapi Ia mahabaik, karena sampai di ciawi, arusnya ramai lancar.

Sepanjang perjalanan, saya merasa seperti hendak pulang kampung. Penuh kerinduan. Dan ketika sampai di Cibulan pukul setengah 5, rasanya lega sekaligus bahagia. Karena setelah beberapa bulan lalu, Romo dan kami bisa berkumpul kembali sebagai keluarga dalam momen serupa.

Momen yang serupa sekaligus menjadi sangat berarti bagi saya pribadi. Begitu berarti sehingga saat ini saya memiliki keinginan untuk menuliskannya.

Saat baru tiba, saya sdh tersenyum mendengar sahabatku, mba Novi, sedikit mengeluh karena kamar kami berdua (yang kebetulan, bersebelahan dgn Romo), hanya ada satu tempat tidur. Menurutnya tidak cukup. Tapi setelah saya tengok, ah… cukup kok ^_^. Bahkan tawaran Romo untuk menambah tempat tidur, saya tolak.

Seusai mandi sore dgn air sedingin es namun menyegarkan, kami bersiap-siap utk makan malam sebelum acara pembukaan. Seperti biasa, kami berkumpul mesra di lantai atas dan makan bersama.

Pada saat menikmati santapan, tiba-tiba ada suatu ‘ titik’ yang membuat memori saya berputar seperti slide. Memori di tahun 2007, yaitu saat-saat paling hitam dan kelam dalam hidup saya, yang pernah terjadi. Peristiwa itu tidak akan saya ceritakan di sini. Namun yang jelas, peristiwa itu memang efeknya dahsyaat. Mampu mengubah 180 derajat cara pandang saya dalam melihat segala sesuatu. Sekaligus mengubah kepribadian saya.

Peristiwa lama yang tidak lagi membuat saya menderita batin maupun fisik. ‘Luka-luka’ yang ditimbulkannya telah terkikis habis saat saya berada di pengakuan dosa. Mengaku dosa di hadapan Romo Sudri. Saya telah mampu memaafkan semuanya.

Namun malam itu, ketika slide tersebut terputar kembali, tiba-tiba batin saya bergeming. Kali ini bukan kesedihan atau semacamnya. Saya merasa hampa. Batin saya menjadi samar-samar. Saya tdk bisa membedakan senang, sedih, atau bahkan gembira ketika tertawa. Ada kehampaan yang menusuk-nusuk. Saat itu saya mulai bingung dengan suasana batin saya. Dan sejujurnya, ketika Romo memberikan pengarahan , saya bahkan terpaksa harus mengeluarkan seluruh energi pikiran, hanya untuk mengerti sebuah kalimat. Selama pengarahan, saya mencoba sekuat tenaga untuk tetap terlihat normal atau bersikap tenang.

Keadaan itu membuat saya sangat lelah. Dan setelah pengarahan dan meditasi selesai, saya bahkan terpaksa tidak menghiraukan mba Novi karena fisik saya sangat lelah dan akhirnya tertidur pulas.

Esok paginya, ketika pukul tiga kurang 10, pintu kamar kami diketok-ketok, saya langsung menyadari bahwa kondisi batin saya makin parah. Begitu kosong namun sekaligus penuh sesak. Memenuhi seluruh batin saya. Saat itulah saya sadar bahwa perasaan ini bukan perasaan biasa dan tidak berhubungan sama sekali dengan masa lalu.

Tiba-tiba saya merasa sedikit takut dan sambil bersiap-siap untuk meditasi, saya teringat ucapan Romo untuk tidak lari dari situasi batin apapun.

Selama meditasi, kekosongan itu justru semakin menekan, membuat batin saya terasa ‘penuh sesak’. Namun nampaknya, berkat meditasi, saya bisa bersikap tetap tenang.

Peraturan Romo untuk tidak boleh bicara ternyata ada gunanya. Saya bisa menutupi kondisi batin saya yang aneh dan kacau dari peserta lainnya. Bahkan teman sekamarku yang setia, juga tidak menyadarinya. Saya melakukan aktivitas mandi pagi dan sarapan, nyaris dalam keadaan ling-lung/tidak sadar. Sekaligus sangat menyiksa. Lucunya, tiba-tiba saya menyadari bahwa saya sedang mencuci piring-piring kotor di dapur. Padahal saya tadinya hanya ingin mengambil air minum ^_^

Akhirnya, saya kembali ke kamar dan duduk bersila di tempat tidur. Mencoba mengamati batin. Hasilnya, saya malah menangis tersedu-sedu sambil merebahkan badan. Saya tidak lagi peduli pd mba Novi, yang saat itu kebetulan juga ada di kamar.

Setelah fisik saya terasa lelah, tangis itu berhenti dengan sendirinya. Namun agaknya, tidak mengubah batin saya. Saya terus merasa hampa bahkan bertambah dengan timbulnya perasaan diri tidak berarti. Tiba-tiba saya merasa bahwa Angela A bukan siapa-siapa dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Di tengah keadaan yang nyaris putus asa itu, saya mencoba kembali hening dengan walking meditation. Saya perlahan-lahan melangkah ke ruang meditasi dan mengambil dingklik. Mencoba mencari tempat sepi untuk bermeditasi. Sambil mencari, ada tekanan yang saya tidak paham darimana datangnya. Membuat saya sakit kepala dan sesak napas.

Akhirnya tempat itu saya temukan di lantai paling atas yang tidak beratap (dak). Yang anehnya, selama pencarian tempat itu, tiba-tiba saya merasa benci setiap kali melihat atau berpapasan dengan peserta lain. Bahkan ketika melihat Romo (maaf ya, Mo ^_^).

Di tempat itu, saya mengeluarkan semuanya dengan menangis keras. Saya tidak peduli dengan panas terik matahari saat itu. Sampai pada suatu ‘titik’, saya terdiam dan menyadari bahwa segala sesuatu di dunia, bahkan yang paling indah sekalipun, tidak lebih dari sebuah ciptaan. Ciptaan yang tidak mungkin hidup tanpa penciptanya. Sehingga pemandangan indah yang saat itu nampak, seperti barang mati atau tidak lebih dari sebuah lukisan.

Kesadaran itu membuat saya tenang dan perlahan-lahan saya bsisa mulai melakukan aktivitas lagi seperti makan siang atau duduk bermeditasi di teras depan. Dan saat itulah, pikiran saya tiba-tiba berjalan tanpa sengaja dan bertanya, ’Jika semua terlihat nampak seperti hanya sebuah lukisan, lalu siapa pelukisnya?’

Dalam hati saya bertanya, apakah pelukis itu Tuhan? Seketika saya sadar bahwa pikiran tidak boleh dibiarkan berjalan. Kesadaran itu, saya coba pertahankan hingga meditasi bersama pukul 7.

Sekalipun selama meditasi, kaki kiri saya sudah menjadi mati rasa karena sakit yang ditahan, dan tubuh saya juga sedikit terasa melayang, namun malam kedua di Cibulan, akhirnya saya menyadari bahwa jika diri hampa, maka tidak akan ada sesuatu pun di dunia yang dapat mengisinya. Entah kesedihan, kegembiraan, senyuman, dsb. Satu-satunya yang menggerakkan segala sesuatu dan mengisi kekosongan diri hanya Kristus sendiri. Yang adalah Allah Bapa sendiri.

Saya memahami artinya DIA tidak terlihat dan tidak terjangkau namun sekaligus ada di mana-mana.

Maaf kepanjangan, lagi semangat sih hehe…

Terima kasih tak terhingga tulus dari lubuk hati terdalam, Romo Sudri, serta rekan-rekan meditasi terkasih.

salam hangat,
Angela A

3 Responses to “Testimoni Retret (2): Pengalaman kekosongan”

  1. sepertiny kondisi saat itu mbuat kita saling tidak menyadari keadaan kita masing2,mb^^

    but,it’s so nice to read ur sharing…thank u=)

  2. Angela, selamat ya..

    Saya bnr2 turut bahagia membacanya. Mmg benar,sakit ketika proses penyadaran dan diam itu. Tp akhirnya kita dapat bebas..

    God bless You.

  3. Yup. Hidup sepenuhnya^_^, mba Aida. Aku jg surprise mba Nov, ternyata dirimu jg sdg tersiksa wkt itu hehe…

    salam hangat selalu,
    asri.

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>