Testimoni Retret (1): Memahami diri itu membebaskan
Retret Meditasi tanggal 26-29 November 2009 di Wisma Cibulan diikuti oleh 24 orang. Berikut ini adalah sebagian dari pengalaman mereka.
============
Testimoni AD, 35th, Ibu 2 anak, wiraswasta.
============
Monday, November 30, 2009 10:19 AM
Terima kasih sebelumnya saya ucapkan kepada Romo Sudri SJ. yg telah mengijinkan saya ikut kembali di retret ini.
Walaupun tidak full saya ikuti, namun ada perubahan-2 yang saya dapatkan. Ketika pertama kali retret bulan Juli, segala rasa perasaan dan pikiran yg kacau, memenuhi diri saya. Sampai karena merasa tidak sanggup, saya ijin pulang jam 12 malam dalam kondisi cuaca hujan deras malam itu.
Di retret yang ke-2 ini, ada perubahan, di mana ada rasa semangat untuk ikut. Dalam perjalanan menuju puncak, masih terselip rasa cemas dan tegang namun saya sadari segera, maka ‘rasa’ itu hilang dan saya dapat tidur selama perjalanan. Rasa tegang hanya sedikit terasa, tidak seperti ketika retret pertama. Dan selama di sana, saya dari jam 10 malam sampai jam 2.30 subuh dapat tidur dengan nyenyak. Namun memang karena gak makan nasi malam hari, subuh jam 04.00an, maag saya kumat dan saya juga masuk angin. Setelah makan dulu dan makan obat maag, saya kemudian meneruskan meditasi kembali.
Di sana selama meditasi, hal-hal di masa lampau terkuak kembali yang kemudian saya sadari, amati, dan akhirnya membawa pencerahan dan penjelasan pada diri saya mengapa semua hal itu terjadi. Sekarang, saya dapat menikmati hidup ini dengan apa adanya, menerima segala sesuatu apa adanya, baik segala kelemahan dan kekurangan yang saya miliki. Sekarang juga ketika saya berdoa apa saja, termasuk Rosario, tidak hanya asal bunyi saja. Saya benar-benar bisa menghayatinya dari kedalaman hati ini dengan mendaraskan doa itu. Dan doa yang saya lakukan juga, bukan karena saya ingin minta ini itu seperti dulu. Sekarang, malah sebagai ungkapan syukur dengan apa yang ada saat ini dan syukur dengan apa yg telah terjadi maupun yg saat ini terjadi.
Saya akan share di sini, walaupun sempat terselip pikiran, waduh bagaimana nanti kalau setelah share penyakit saya malah kambuh. Ya saya sadari saja, dan saya amati tanpa analisa macam-macam dan saya akan share mengenai yg terjadi pada saya di saat lampau.
Awal saya mengenal meditasi adalah pada bulan Juni. Saya menemui Romo Sudri jam 21.00 – 22.30. Ketika saya menemui Romo, batin dan jiwa saya benar-benar terguncang. Saya bingung. Saya sudah melakukan banyak doa, saya ikut karismatik katolik or karismatik di luar katolik, saya koronka, saya temui pendeta or orang pinter. Saya gak tau apa yang terjadi dengan diri saya ini. Saya seperti orang yang hidup segan, mati tak mau. Orang yang tidak memiliki semangat dan gairah hidup. Istilah Romo ‘depresi Akut’.
Saya sedih dan malu, karena dengan kondisi saya ini, banyak yang mengatakan bahwa saya orang yang tidak tau bersyukur. Punya dua anak; suami dan materi pun ada. Namun gak ada gairah. Saya paksakan untuk bergairah hidup saya malah makin drop..sampai-sampai saya tidak berani keluar rumah, khawatir terjadi sesuatu pada saya. Misalnya sampai menabrakan diri ke mobil. Dan pernah ketika di mall di lt.3, saya ketakutan,karena terlintas di kepala saya, nanti saya lompat bunuh diri dari lantai ini, seperti yang ada di berita TV. Kemudian saya buru-buru turun bersama anak-anak saya dan saya telpon suami saya, sambil menangis ketakutan, khawatir, saya lari ke jalan raya dan tabrakan diri karena saat itu saya tidak bersama ibu saya, takut tidak ada yang mencegah saya.
Dulu,benar-benar hampa, kosong, sedih, kecewa. Pokoknya yang tidak bagus-bagus.
Hari demi hari saya jalani dengan segala kecemasan dan ketakutan. yang akhirnya saya temui Romo Sudri SJ. Tidak instan, namun melalui proses. Saya sadari terus. Menyakitkan bagi jiwa dan batin ini ketika meditasi kesadaran ini saya jalani. Tidak mudah. Awalnya malah saya tidak Percaya dengan meditasi yang diajarkan Romo Sudri, maka-nya saya kadang suka email marah2 ke Romo. Namun walau tidak percaya, tetapi saya tetap jalani.
Dan akhirnya, inilah saya. Melalui proses ini, saya terbentuk jadi pribadi yang lebih bisa menerima keadaan, pribadi yang sudah punya rasa sabar. Karena dulu saya adalah orang yang terlalu terburu-buru, dan ada rasa KASIH yang benar-benar keluar dalam diri saya tanpa saya paksakan. Dan saya sekarang dapat menjalani kehidupan saya dengan normal, tanpa ketakutan atau kecemasan yang berlebihan. Dan terutama saya sudah bisa tidur dengan nyenyak dengan hati dan pikiran yang plong.
Saya sudah dapat melakukan aktifitas saya tanpa ditemani, bisa setir sendiri. Ke pasar atau ke mall juga sudah bisa sendiri. Dan sekarang ini saya dapat menyadari keindahan alam ciptaan Tuhan, yang di mana saya dulu adalah tipe yang tidak bisa menikmati apapun. Semua yang terjadi pada diri saya, sangat saya syukuri, karena dengan ini semua dapat membentuk diri dan pribadi saya menjadi manusia yang lebih baik lagi dan dekat pada SANG PENCIPTA, tanpa ada rasa ketakutan lagi. Amin.
Terima kasih Tuhan atas semuanya. Terima kasih Romo n teman2. Ini sedikit share dari saya. Semoga ada manfaatnya.







Hai AD
Senang lihat AD banyak kemajuan. Waktu pertama saya mengenal AD, perasaan saya mengatakan AD sebagai pribadi yang sangat labil saat itu. Akhir-akhir ini penilaian mulai berubah seiring dengan kemajuan yang AD rasakan. Saya melihat sekarang sebuah pribadi yang setiap harinya mengalami pertumbuhan positif, mensyukuri dan itu tereskpresikan dari sikap, pancaran wajah yang penuh semangat dan kehendak untuk menerima segala sesuatu apa adanya. Saya tahu itu hanya bisa bila kita berlatih meditasi. Selamat ya AD.
Meskipun saya ngga bisa ikut retret kemarin, saya senang bisa baca sharing dan dengar cerita teman-teman dan semua itu memperkaya iman kita pada Dia yang mengasihi kita.
Salam,
CLM
Pertama kali berjumpa AD di ruang meditasi gedung Yos, yg nampak melulu ketegangan, reaksi batin atau reaksi pikiran yg kerap meluap juga bicara yg terkesan terburu-buru seperti pengakuannya sendiri. Wajahnya selalu cemas, dan rasanya ada sesuatu yg selalu ada dalam benaknya, mungkin ketakutan. Namun saya tidak ingin tahu, saya membiarkan semua terkuak dengan sendirinya. Dari waktu ke waktu bulan demi bulan saya melihat perubahan dalam diri AD, dia punya tekad yg kuat utk membenahi diri bukan sekedar masuk dalam keheningan.
Setelah AD mengikuti retret meditasi pertamanya dia pernah sekilas bercerita bahwa dia ijin pulang pada malam hari, waktu itu saya antara percaya dan tidak percaya. Ijin pulang saat mengikuti retret meditasi? Apa mungkin? Dan membaca kisahnya ini bahwa dia ijin pulang pd saat retret terdahulu membuat saya tersenyum. Saya dulu ikut retret meditasi berkutat dengan ketakutan .. hihihi… Romo, jangan buka rahasia ya! Aws (Awas MO!!!)
Dik AD, pengalaman retret tentu bermanfaat namun janganlah puas berhenti pada saat retret.
Selamat melanjutkan perziarahan, God Bless You.
Membuka diri dan Percaya tanpa batas, telah membuka jalan buat adik AD. Sangat tepat AD memilih Rm. Sudri sebagai gembala dlm meniti jalan kebajikan dan kebijaksanaan. Semoga AD dpt lebih hidup dan bersinar.
Terima kasih buat Rm yg telah membagikan testimoni teman2 peserta retret sebagai penghibur hati, krn sy sudah seperti kehilangan sesuatu yg amat berharga dg tdk ikut retret ini.