Terpaut 6 tahun, ingin menikah

Romo, saya ingin bertanya mengenai pernikahan dengan beda usia jika wanita lebih tua dari pada pria…?
apakah di dalam ajaran katholik ada larangan akan menikah dengan beda usia…?
rasanya sedih sekali pada saat kita ingin membawa hubungan yang lebih serius di jenjang pernikhan orang tua tidak menyetujui atas hubungan kita.. padahal rasa cinta, sayang kami sangat lah tulus.
kita terpaut beda 6 tahun, bagaimana menurut pandangan romo..?

Allah mengasihi kita smua.
Humble

4 Responses to “Terpaut 6 tahun, ingin menikah”

  1. Dear Humble,

    Dalam hukum Gereja Katolik tidak ada aturan untuk menikahi perempuan yang lebih tua umurnya dari lelaki. Coba pahami keberatan orang tua sebagai pernyataan kasih mereka. Kelihatannya mereka mengkhawatirkan beberapa hal, seperti:

    1. dengan lebih tua 6 tahun maka ketika anda berumur 40 tahun, istri anda akan berumur 46 tahun. lelaki 40 tahun kehidupan sex akan – secara umum – masih hebat. sedangkan perempuan umur 46, bukan tidak mungkin sudah sampai di masa ketuaan dini. Kalau itu terjadi, apakah kalian siap menghadapinya?

    2. perbedaan psikologis yang besar dikawatirkan akan membawa keresahan dalam perkawinan kalian,

    Seandainya kalian berdua memang yakin seyakin-yakinnya bagaimana menghadapi kekawatiran kekawatiran itu semua, ya gpp sih. toh yang kawin kan kalian. biasanya orang tua kawatir jangan sampai kalian nanti menyesal.

    salam berkat Tuhan, rin

  2. @humble.. selama memenuhi ketentuan hukum negara, [Katekismus Gereja Katolik mengatakan "suitable age to engage"..] tidak ada halangan untuk menikahi wanita yang usianya lebih tua dari pria.
    bahkan di negara-negara maju ada survey yang menunjukkan peningkatan ketertarikan wanita pada pria yang lebih muda, dan juga ketertarikan pria pada wanita yang lebih tua juga bertambah. memang benar wanita biasanya lebih cepat matang dalam sikap, dibandingkan pria.
    Namun ada baiknya juga bila pria berdampingan dengan wanita yang lebih tua dilihat dari kecenderungan dominasi. Dominasi pria terhadap pasangan wanita yang lebih muda biasanya menjadi lebih tinggi (faktor egoisme pria yang cenderung lebih tinggi dari wanita mempengaruhi hal ini). hal itu biasanya bisa diimbangi apabila si wanita lebih tua dan berpengalaman. Tetapi ini pun bisa menimbulkan masalah, apabila egoisme pria mengalahkan akal sehatnya (padahal laki-laki katanya lebih menggunakan logika daripada perasaan, berbeda dengan wanita). Atau si wanita menjadi terlalu dominan dan cenderung melupakan perannya sebagai seorang pendamping suami yang merupakan kepala keluarga dalam pernikahan. Jadi memang ada tantangan dalam hubungan tersebut.

    tetapi apakah pria yang lebih tua dari pasangan wanitanya adalah selalu lebih baik dari kebalikannya ? :) rasanya perbedaan usia itu tidak bisa menjadi jaminan (coba di cek mereka yang mengalami permasalahan keluarga dalam kasus-kasus di website ini, saya percaya rata-rata si suami lebih tua usianya dibandingkan isterinya). yang penting adalah kesetiaan pada komitmen dan janji pernikahan.

    saya pikir sebaiknya kamu bicara dengan orang tuamu atau ia bicara dengan orang tuanya untuk menanyakan apa keberatan mereka. jawaban dari orang tua masing-masing diskusikan berdua. jika sudah mantap, cobalah kalian minta waktu untuk bertemu dan menyatakan kehendak kalian (tentu saja pilih situasi yang kondusif).
    Ada baiknya kalian berdiskusi menjawab hal2 seperti yang ibnurini sampaikan di atas. Apakah perlu dikhawatirkan atau tidak itu bisa saja dijadikan komitmen bersama juga. Ingat, Asalkan satu sama lain setia pada komitmen dan janji pernikahan, maka seharusnya hal2 itu tidak perlu menjadi kekhawatiran, tantangannya yang kalian hadapi bersama adalah bagaimana meyakinkan orang-orang disekitar anda, terutama keluarga anda.
    Jika sulit sekali membuka komunikasi dengan orang tua, ada bagusnya juga kalian berdialog dengan seseorang yang dihormati keluarga, yang juga adalah anggota keluarga. istilahnya mencari sekutu :) nah carilah sekutu terbaik untuk membantu kalian meyakinkan mereka.
    May God bless your steps..

  3. @humble sebagai informasi tambahan..

    dari Kitab Kanonik 1983 tentang sakramen pernikahan

    Can. 1083 §1. A man before he has completed his sixteenth year of age and a woman before she has completed her fourteenth year of age cannot enter into a valid marriage.

  4. Dear Humble,

    Saya adalah seorang lelaki yang kini menjalin hubungan dengan seorang wanita berusia 8 tahun lebih tua dari saya. Hubungan kami telah berjalan lebih dari dua tahun dan sebentar lagi, kami akan menapaki ke jenjang berikutnya. Kedua keluarga kami sudah bertemu dan kami juga telah menetapkan beberapa hal yang diperlukan untuk mempererat ikatan kami, lebih dari sekedar pacaran.
    Saat saya berdialog dan berdiskusi dengan Pastor Paroki, saya tidak mendapati adanya larangan tersebut. Dan memang benar, bahwasanya tidak ada aturan (Gereja Katolik Roma) yang menetapkan umur menjadi patokan/batas bagi seseorang untuk melangsungkan pernikahan.
    Sekedar sharing, kami menjalani hubungan kami dengan penuh kesabaran dan saling memahami satu sama lain. Perbedaan usia yang terpaut jauh -terlebih kedewasaan pasangan saya yang sudah sangat matang- membuat usaha tersebut (bisa jadi) lebih besar ketimbang pasangan dengan usia yang gap-nya tidak terlalu besar. Namun, perlu saya tekankan bahwa manusia adalah organisme dinamis yang mana kehidupan (baca: kematangan) seseorang tidak bisa diukur dari perkara usia saja. Jadi, menurut saya -berbekal dari pengalaman saya sendiri- adalah kenalilah pasanganmu sebelum kamu memutuskan ke arah yang lebih serius tersebut.
    Tidak ada pernikahan yang mudah. Bahkan pasangan yang tampak harmonis dan ideal dari berbagai segi pun, bisa saja menapaki jalan berbatu dan terjal untuk terus-menerus mempertahankan ikatan suci mereka. Seperti yang diujarkan oleh Ibnurini sebelumnya, itu adalah salah satu dari sekian banyak yang harus saya (dan nanti, Anda) dan pasangan saya alami serta hadapi. Hanya saja, saya perlahan-lahan menemukan rencana Tuhan lewat pasangan saya. Begitu juga rencana-Nya atas dia, melalui saya. Hal inilah yang membuat kami menjadi yakin dengan setiap langkah yang kami buat. Tapi, ini bukan berarti jalan setapak yang kami tempuh menjadi mudah. Pertengkaran -besar dan kecil- menghiasi perjalanan itu. However, it’s not the destination measured, but the journey itself that counts.
    Saya berharap, sharing singkat ini bisa memberikan beberapa pertimbangan yang tersedia sebelum menapaki jenjang tersebut. Pernikahan tidak hanya sekedar dua insan memadu kasih, tapi di sana akan hadir keluarga dengan segala tetek-bengeknya. Tidak ada manusia yang siap 100%. Yang ada adalah manusia yang terus-menerus belajar menerima apa pun yang akan dialaminya di sebuah keluarga. Baru saja saya mendapat kabar duka, seorang tetangga yang masih muda belia dan bakal menjadi tulang punggung keluarga, harus tewas mengenaskan tertabrak kereta api. Out of Topic memang, namun peristiwa ini menjadi pengingat bagi saya bahwa selisih usia bukanlah satu-satunya yang patut dipikirkan di sini.

    “Carilah Allah dan semuanya itu akan ditambahkan bagi kamu.”

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>