Telepon dari Presiden

Seorang teman berseloroh, dalam beberapa hari belakangan ini dirinya sibuk berjaga-jaga, menanti telepon dari Cikeas – apakah ia akan dipanggil menghadap Presiden sebagai calon menteri? Ia tidak sendirian. Segelintir rakyat Indonesia pun harap-harap cemas menanti suara Pak SBY di ujung telepon.

Undangan ke Cikeas untuk mengikuti seleksi calon menteri menjadi suatu kehormatan dan kebanggaan. Bayangkan. Anda ditelepon orang nomor satu di Republik ini dan diminta duduk dalam kabinet baru, bersama-sama menjalankan roda pemerintahan negeri ini!

Sekarang, coba Anda bayangkan yang lain. Sang Pencipta – Raja Semesta Alam – memanggil Anda untuk melayaniNya. Apa yang Anda rasakan? Bukankah seharusnya Anda lebih antusias? Namun kenyataannya, perasaan kita biasa-biasa saja, mungkin malah kita tidak merasakan getaran apa pun. Bahkan, yang lebih lagi, tidak sama sekali merasa dipanggil olehNya.

Kekuasaan dan kepopuleran yang kasat mata menjadi dambaan manusia, sehingga seringkali menutupi makna yang lebih tinggi dan dalam di balik panggilan Tuhan kepada kita sebagai makhluk ciptaanNya. Padahal, setiap kita dipanggil olehNya untuk menjadi serupa dengan Kristus.

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab, semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya, menjadi yang sulung di antara banyak saudara (Roma 8:28-29).

Menjadi serupa dengan Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari merupakan panggilan umum bagi kita sebagai anak-anakNya. Kalau kita memandang pada kaum berjubah yang ada di lingkungan Gereja Katolik, kita akan segera paham, mereka yang memilih hidup selibat adalah orang-orang yang menanggapi panggilan khusus dari Tuhan.

Meski tampak jauh dari tampuk kekuasaan dunia dan kepopuleran, jika kita renungkan lebih dalam, sebenarnya kaum biarawan dan biarawati telah memilih bagian yang terbaik: menjawab panggilan istimewa dari Tuhan secara pribadi.

Yang menjadi persoalan sekarang, ada saja terdengar kabar tentang pastor atau suster yang meninggalkan biara. Sebenarnya, kalau Sang Pencipta yang Mahatinggi telah menjadi Tuan atas mereka, mengapa mereka yang melepas jubah malah lebih memilih mengabdi pada “tuan” yang lebih rendah?

Masalah lain, kaum muda yang menanggapi panggilan khusus dari Tuhan kian hari kian menyusut. Kehidupan biara dianggap ketinggalan zaman dan tidak lagi menarik, dibandingkan kemilau kehidupan duniawi yang serbamodern dan menyenangkan. Tidakkah sesungguhnya merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan yang luar biasa dapat melayani Tuhan Raja Semesta Alam?

Jika “telepon” hati Anda sekarang berdering – Tuhan meminta Anda datang ke hadiratNya dan melayaniNya – entah secara umum sebagai anak-anak Allah atau secara khusus dalam hidup membiara, apakah Anda akan bergegas menanggapinya seperti orang-orang yang ditelepon oleh Presiden?

Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku (Wahyu 3:20).

Refleksi 15 Oktober 2009
Cendrawati Suhartono

One Response to “Telepon dari Presiden”

  1. Bu Cendera,
    Renungan yang baik disaat yang tepat. Setiap orang mempunyai panggilan masing-masing sesuai dengan rencana Allah, namun sering batin yang tumpul menjadi tidak peka terhadap panggilan Tuhan ;padahal panggilan tersebut berasal dari “Presiden diatas presiden”,Yah banyak yang lebih tanggap dengan panggilan/telepon dari Cikeas atau lebih kepada popularitas diri ataupun kekuasaan . Nah apa yang harus kita lakukan untuk menjawab telepon dari Allah sendiri? Saya kira untuk menjawab itu Gereja harus terus berubah dan berkembang kearah yang baik karena di ladang yang subur pasti akan menghasilkan panenan yang baik.
    Semuanya perlu kerjasama antara para gembala dan awam sehingga buah buah Roh Kudus senantiasa terpancar dari tindakan kita. Bila demikian halnya maka bila “Presiden diatas presiden” mengetuk pintu hati kita maka pastilah segera dibuka…..

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>