Takut kembali, suami KDRT
By admin on November 10th, 2011 | Edit
Mlm Romo,saya ingin sharing dgn permasalahan yg sedang saya hadapi, karna sy td tau hrs bertanya dgn siapa n adakah yg mau memberikan solusi. Mslnya begini Romo. Saya sudah menikah slama 5thn n dikarunia 2 putri yg cantik, namun slama 5thn RT kami sering terjadi kdrt yg dimana anak2 sering melihat scr lgs jg. Dimana skrg sudah 2 bln saya di bw pulang oleh org tua saya ke rumah berserta anak, skrg sudah 2 bln berpisah dgn suami. Setiap saat suami sms minta kembali berkumpul. Blg tdk akan memukul lg. Org tua saya sudah tdk dpt memaafkan suami saya lg karna sudah ckp lama ksh kesempatan. Saya sendiri sebenarnya m memberikan kesempatan , namun ada perasaan tkt juga bila nanti akan terjadi KDRT lagi, memang dia blg k kembali berkumpul n dia melakukan lg saya n anak2 blh pergi tinggalkan dia. Memang suami saya org templamental, mudah emosi , slh dikit bs marah2 semua hrs benar. Romo tlg ksh saya jalan keluar yah secepatnya
VF







@VF, saya pernah menuliskan di salah satu topik yang mirip dengan kejadian yang anda alami. Pada prinsipnya apa yang anda lakukan saat ini yaitu hidup terpisah sementara waktu dengan suami dengan membawa anak-anak adalah sudah benar. Saya sarankanhal ini diketahui oleh romo paroki.
Namun mengenai keinginan suami meminta anda dan anak-anak kembali, anda tidak perlu terburu-buru mengambil keputusan.. untuk sementara pulihkan diri anda dari “Trauma” KDRT yang pernah ia lakukannya, fokus kepada kesejahteraan anak-anak.
mengenai suami anda.. suami anda perlu menunjukkan niat yang tulus untuk melakukan rekonsiliasi dengan anda. Salah satunya adalah menjalani sesi konseling. Bisa saja dengan romo paroki, bisa saja dengan konselor Katolik lain baik awam (bila memungkinkan seorang psikolog, mengingat emosi suami anda yang mudah meledak dan tervisualisasi lewat kekerasan kepada pasangan) atau profesional. Saya pikir ada hal yang perlu digali mengenai pribadi suami anda, sehingga bisa ditemukan cara yang tepat untuknya mengendalikan emosi. Ia perlu menjalani suatu terapi. Dan ini harus disadari olehnya, bahwa ia memiliki masalah pengendalian diri (terutama pada saat emosi) dan perlu melakukan suatu upaya untuk memperbaikinya, jika tidak bukan saja anda, tidak tertutup kemungkinan kelak putri-putri kalian. Dan hal itu bisa menjadi trauma berkepanjangan yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang psikis mereka secara negatif.
Nah inilah bukti nyata, kesungguhan dan ketulusan suami anda, untuk berkumpul dengan isterinya dan anak-anak anda.
Bila ia mau melakukan hal di atas, itu sudah awal dari terapi itu sendiri, yaitu merendahkan ego-nya, mengakui kesalahan, tahu bahwa dirinya memiliki masalah dalam mengendalikan dan me-manage emosi-nya, dan mau untuk memperbaikinya, demi keutuhan perkawinan dan keluarga.
Sampaikan hal ini kepada suami anda… dan anda pun akan menemaninya selama proses pemulihan dilakukan. Dan selama itu anda tidak perlu tergesa-gesa untuk segera tinggal kembali serumah. Sabar dan ikuti prosesnya bersama dia. Kumpulkan kepercayaan anda dari bukti-bukti fisik yang anda bisa lihat dan rasakan. Bukan hanya mendengar janji-janji saja.
Pada saat kelak.. suami anda harus datang menjemput anda dan putri-putrinya dari rumah orang tua anda. Ia akan meminta maaf dengan rendah hati karena telah lalai menjaga putri mereka dan merepotkan mereka karena perbuatannya.
Untuk sementara itu dulu..
May God bless your and your familiy.. protect you and your children.. Bring your husband back to follow His will…