Susah menjadi istri dan ibu yang baik
Romo, saya seorang istri yg sudah mempunyai anak. Saya ingin sedikit cerita, dulu suami sering pergi dugem dgn teman2nya tanpa sepengetahuan saya dgn cara selalu berbohong sama saya. Setelah beberapa tahun ketauan sm saya dia suka pergi ditemanin seorang wanita, pernah saya pergoki. Semenjak itu saya ikut dia pergi dugem. Tapi tetap saja hati saya selalu tidak tenang. Tiga tahun yl kami berhenti dugem krn ada masalah. Mungkin itu teguran Tuhan, karena Tuhan sayang sm kami. Tapi belum lama ini suami saya ketahuan pergi lagi ke tempat itu, dia berbohong lagi sama saya, sepertinya suami saya itu masih suka ke sana. Saya bingung apa yang harus saya lakukan?? Rasanya kok susah yah ingin menjadi istri & ibu yang baik. Mohon saran Romo. Makasih.
Sta







@sta, pernikahan itu bukan hanya diperankan oleh seorang saja, melainkan dua orang, suami dan isteri. Jadi masalah yang dihadapi saat ini, harus diselesaikan pula oleh anda dan suami anda.
Jika anda berusaha semaksimal anda dengan penuh pengorbanan, belum tentu ada perubahan dari suami anda, jika suami anda pun tidak memiliki keinginan untuk berubah, atau tergerak atas pengorbanan yang anda lakukan.
Lalu bagaimana jalan keluarnya.. ada kelemahan dengan cara konsultasi melalui dunia maya seperti ini. Jadi sebenarnya akan jauh lebih baik dan efektif jika dilakukan secara langsung. dari cerita di atas, belum terlihat apakah ada komunikasi sebelumnya dengan suami anda mengenai apa yang anda rasakan dan khawatirkan. Pernahkah anda juga mengkonsultasikan masalah ini dengan orang lain, atau adakah orang lain yang pernah anda minta bantuannya dalam menyelesaikan masalah tersebut.
Jika anda belum lakukan itu, ada baiknya anda mencari seorang konselor pernikahan. Dan akan sangat baik, bila suami anda pun ikut konseling.
Jika anda berkonsultasi dengan teman anda, mungkin akan banyak saran yang anda terima, dari yang sederhana sampai ekstrim. Yang ekstrim contohnya, mendatangi atau mengajak bicara perempuan yang diajak suami anda itu pergi dan memintanya tidak melakukannya lagi, karena kehidupan keluarga anda terganggu secara halus namun tegas (pesan jelas tersampaikan). Atau meminta mertua-nya atau seorang yang ia hormati dan segani menasihatinya. Cara-cara ini tetap mengandung resiko, apabila suami anda justru malah merasa terganggu atau terusik harga dirinya. (Ini tipe pria yang egois dan memiliki pride yang besar)
CAra halus antara lain dengan menjadi seorang isteri secara maksimal. artinya apa, artinya ciptakan suasana yang hangat dan penuh cinta kepadanya [misal dengan mencium atau memeluknya setiap ia ingin berangkat kerja dan mengucapkan “hati-hati di jalan, dan selamat bekerja ya Pak”, dan pada saat ia pulang, sambut dengan penuh semangat, dan layani degnan sebaik-baiknya) penuh maaf dan kesabaran juga ketekunan. tunjukkan juga kecintaan anda kepada anak-anak anda. Dalam kondisi ini, memang anda harus bisa meluangkan lebih banyak waktu bersama anak-anak anda. Hindari pertengkaran, sekecil apa pun, anda harus lebih sabar (jika anda sudah sabar hari ini, berarti anda dituntut lebih sabar lagi). Sampai sejauh apa pengorbanan anda ? Sampai batas-batas harkat seorang manusia tidak dilewati atau tanpa menodai iman Katolik yang anda miliki.
Jika belum ada perubahan, dan bila komunikasi anda macet, itu saatnya anda membutuhkan seorang konselor (bisa romo, bisa profesional atau seorang panutan yang anda berdua segani).
Saya pikir anda tidak perlu melulu ikut2an dugem. boleh saja untuk refreshing sesekali, tetapi ingatlah tugas utama anda selain sebagai seorang isteri, juga seorang ibu. Jadi jangan lalaikan tugas utama anda sebagai seorang ibu untuk anak anda. Jadi bila dugem itu justru mengganggu sebaiknya anda tidak lakukan. Lalai melakukan hal ini, demi ketakutan atau kecemasan anda akan prilaku suami anda, bisa jadi juga melukai kasih.
ada banyak alasan yang bermanfaat dari saran-saran saya supaya anda lebih berperan dirumah sebagai seorang isteri dan seorang ibu, dan juga dalam membangun kembali komunikasi yang retak karena masalah ini. Namun untuk sementara itu dulu…
May God bless your steps and protect you and your children..
Dear Ibu Sta,
Dari cerita ibu yang hanya sepotong ini, agak sulit bagi saya untuk memberi idea dalam hal: apa sih hubungannya sulit jadi istri/ibu dengan soal suami senang dugem.
Tapi sementara ini ada hal yang ingin saya sampiakan kepada ibu:
1. Manusia hidup dalam perkawinan itu tidak kemudian untuk menjadi sandungan bagi pasangannya. Misal, ada suami yang senang berkebun. Tidak karena menikah lalu istri boleh melarang suaminya berkebun. Soal dugem juga begitu. What’s wrong with dugem? Saya punya teman yang sejak bujangan hingga nikah dan anak anaknya besar dia memang suka dugem karena dia emang suka main keyboard, maklum dulunya emang anak band walau sekarang executive. Jadi hari hari tertentu pasti dia dugem, sambil ngisi acara, duitnya ya habis disitu aja buat gaul. Istrinya tau kebiasaan itu dan abb ya mesti terima kenyataan bahwa suaminya emang begitulaaahh, toh dia tidak pakai uang belanja.
2. Terhadap suami yang demikian, apa yang mesti dilakukan istri? Bicarakan dan bikin aturan mainnya. Tiap orang hanya memiliki kontrol terhadap dirinya sendiri. Suami tidak ada dalam kontol istri. Jadi, pilihan untuk dugem atau tidak, ada pada suami anda. Kalau anda melarang atau mengontrol dia, itu hanya bikin capek anda sendiri. Maka tentukan bersama saja aturan mainnya bagaimana. Misal: biaya dugem dari uang apa? dugem boleh pada hari apa? Hubungkan dengan keperluan keluarga, misalnya anak memerlukan bapaknya.
3. Soal main perempuan kan beda dari soal dugem. Biar gak dugem kalo dia mau main perempuan sih ya main aja. Yang ini juga mesti dibuat aturan mainnya. Misal anda menentukan boleh dugem asal tidak main perempuan. Konsekwensinya apa.
4. Jadi istri yang baik itu yang seperti apa? Tiap rumah tangga punya ciri khasnya sendiri, jadi tidak bisa rumah tangga A harus sama dengan rumah tangga ibunya yang sepertinya ideal. itu karena pemeran di tiap rumah tangga itu beda. Istri A yang suaminya memang suka dugem tentu apa yang dilakukan berbeda dengan istri B yang suaminya gemar meditasi. Tapi semua kuncinya: komunikasi. Sejauh komunikasi lancar dan masing masing pihak menghargai kebebasan pasangannya sejauh bertanggung jawab, ya OK aja.
Sementara itu ya bu.
Salam, rin
Ibu Sta, mengapa Ibu merasa sulit menjadi istri dan ibu yang baik, hanya karena suami punya hobi ke dugem? Saya kira, peran seorang istri dan ibu jauh lebih luas daripada sekadar mencegah agar suami tidak pergi ke dugem. Mari kita lihat persoalan ini dengan lebih jernih.
Selama beberapa waktu Ibu bersedia menemani suami ke dugem, dengan harapan suami tidak berbuat macam-macam. Sampai kapan Ibu memperlakukan suami seperti anak kecil yang perlu diawasi terus-menerus? Kebiasaan istri ber”patroli” dapat membuat suami tidak nyaman, memicu pertengkaran. Suami Ibu diam-diam ke dugem lagi belakangan ini, lalu tidak mau mengatakan sejujurnya kepada Ibu. Mungkin bukan karena dia suka berbohong, tetapi karena dia tidak mau menyakiti Ibu. Maka, lebih baik Ibu dengan lembut mengajak suami bicara dari hati ke hati, apa yang ia inginkan sebenarnya? Kupaslah masalah ini, lalu buatlah komitmen yang dapat diterima kedua pihak – bukan pemaksaan sepihak, agar suami stop ke dugem.
Sekitar sepuluh tahun lalu, suami saya juga gemar ke dugem dengan beberapa teman prianya. Saya tidak pernah merecokinya. Pulang malam hari, tak pernah saya tanya apa yang dia lakukan selama di dugem. Saya menganggap, kegemaran suami itu sekadar senang ngumpul dan bercanda dengan teman-teman. Beberapa tahun kemudian, suami dan teman-temannya bosan sendiri ke dugem dan menghentikan total kegemaran tersebut.
Yang saya lakukan selama itu hanyalah mendoakan suami, agar biar pun dia berada di dugem, dia tidak terpengaruh hal-hal yang buruk. Ibu Sta janganlah merasa tidak tenang dan penuh curiga pada suami. Sesungguhnya kita punya Penjaga yang tak pernah tidur. Mengapa kita tidak menyerahkan “pengawasan” suami kepada Dia yang Maha-mengetahui segala sesuatu?
Kita sadari saja kecemasan kita (saat suami berangkat ke dugem), lalu lepaskan/pasrahkan segalanya kepada Tuhan, maka hati kita akan damai. Kita dapat mengurus rumah tangga dan anak dengan sukacita – bukan muka ditekuk karena pikiran terus tertuju kepada suami yang sedang enak-enak di dugem, lalu membayangkan yang buruk-buruk. Jika kita sebagai istri bersikap hormat, tidak cerewet terhadap suami; maka suami pun akan merasakan ketulusan kita dan menghargainya. Itulah buah kemenangan kasih dari seorang istri. Ibu Sta, nikmatilah peran sebagai istri dan ibu, tanpa merasa terbebani atas karunia Tuhan itu.
“Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.” (Amsal 12:25)