<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Sunatan Menurut Iman Katolik</title>
	<atom:link href="http://gerejastanna.org/sunatan-menurut-iman-katolik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gerejastanna.org/sunatan-menurut-iman-katolik/</link>
	<description>Situs Resmi Gereja St. Anna - Paroki Duren Sawit, Jakarta Timur</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 02:33:06 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: johan</title>
		<link>http://gerejastanna.org/sunatan-menurut-iman-katolik/comment-page-1/#comment-2167</link>
		<dc:creator>johan</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 22:07:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=245#comment-2167</guid>
		<description>@chris... mengenai poin 1, dimana anda nyatakan ada pergulatan iman yang tidak bisa anda terima tentang kebaikan Allah, coba anda ke www.ekaristi.org\forum.. silahkan bawa pergulatan anda di sana.. saya kira para member dan moderator bisa membantu anda mengerti.. bagaimana pun ini adalah bagian dari pengetahuan iman Katolik. Sebagai seorang Katolik adalah sangat baik bila semakin melengkapinya untuk semakin mengenal Allah kita yang Maha Baik dan Maha Kasih..

dan saya pun memang berniat mengakhiri diskusi ini, dan silahkan bagi orang tua yang membaca memutuskan yang terbaik buat anak-anak mereka... May God guide your steps...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@chris&#8230; mengenai poin 1, dimana anda nyatakan ada pergulatan iman yang tidak bisa anda terima tentang kebaikan Allah, coba anda ke <a href="http://www.ekaristi.org" rel="nofollow">http://www.ekaristi.org</a>\forum.. silahkan bawa pergulatan anda di sana.. saya kira para member dan moderator bisa membantu anda mengerti.. bagaimana pun ini adalah bagian dari pengetahuan iman Katolik. Sebagai seorang Katolik adalah sangat baik bila semakin melengkapinya untuk semakin mengenal Allah kita yang Maha Baik dan Maha Kasih..</p>
<p>dan saya pun memang berniat mengakhiri diskusi ini, dan silahkan bagi orang tua yang membaca memutuskan yang terbaik buat anak-anak mereka&#8230; May God guide your steps&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Chris</title>
		<link>http://gerejastanna.org/sunatan-menurut-iman-katolik/comment-page-1/#comment-2166</link>
		<dc:creator>Chris</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 14:33:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=245#comment-2166</guid>
		<description>terima kasih kpd sdr Johan.
saya tdk akan memberikan sanggahan lg mengenai tulisan anda,tp saya hanya memberikan pesan sesuai nomor pd penjelasan sdr Johan :

1. memang benar apa yg dikatakan oleh sdr Johan tp jika saya hanya memikirkan spt itu saja maka akan ada banyak pergulatan iman yg tdk dpt saya terima mengenai gambaran Allah Yang Maha Baik.

2. seseorang yg menolak &amp; tdk menerima sunat belum tentulah bahwa orang tersebut anti Yahudi.
jika memang tdk ada dlm situs online spt perpustakaan online maka belum tentu tidak ada krn mungkin saja bahwa informasi tersebut memang tidak dipublikasikan scr online.
tp memang ada kemungkinan jg mengenai apa yg dikatakan oleh sdr Johan jika apa yg dikatakan Paus tdk diungkapkan scr ex cathedra namun apa yg saya percayai adalah apa yg dikatakan Paus tentunya didasarkan atas bimbingan Roh Kudus.

3. kita tdk bisa menganggap hasil-hasil yg didptkan dr penelitian-penelitian yg mendukung sunat pasti benar.
spt yg kita ketahui bahwa pengaruh sunat sdh ada sejak lama &amp; pengaruh tradisi sunat ini bisa mempengaruhi scr kuat dlm menghasilkan suatu hasil dr penelitian-penelitian sunat yg terpengaruh jg oleh tradisi sunat sehingga penelitian-penelitian tersebut dpt menghasilkan hasil-hasil yg sebenarnya salah &amp; kita tdk bisa menolak akan adanya pengaruh kuat sunat dlm penelitian-penelitian tersebut.
apa yg saya ketahui adalah bahwa kebersihan alat kelamin yg tdk disunat pun tetap terjamin krn pd usia puber &amp; dewasa kulit kulup dpt dengan mudah ditarik ke belakang sehingga memudahkan utk membersihkan bagian dlm dr alat kelamin.
tdk perlu terlalu memusingkan mengenai kebersihan alat kelamin ini kan seseorang tdk akan mati atau terkena penyakit serius akibat tdk disunat.

4. saya lebih percaya pada referensi-referensi yg anda sebut sebagai anti sunat krn kebanyakan dr mereka tdk terlalu terpengaruh oleh tradisi sunat.

5. memang saya akui bahwa saya mengalami sedikit kesalahan yg tdk terlalu banyak dlm pemahaman religiusnya krn memang sebenarnya ajaran Kristen yg disampaikan oleh mereka memang tdk menuliskan bahwa ajaran Kristen melarang sunat.

apa yg saya pegang adalah bahwa sunat sangat tdk diperlukan dlm ajaran Gereja krn memang tdk penting namun non terapi sunat juga benar-benar tdk bermanfaat bagi kesehatan atau kebersihan.
&amp; apa yg saya pegang adalah saya melarang sunat dlm keluarga serta keturunan-keturunan saya tp bkn krn alasan religius saya melarangnya.

saya rasa cukup sudah diskusi ini krn diskusi ini terasa sdh terlalu berlarut-larut.
harap sdr Johan juga mau mengakhirinya sampai di sini saja.
terima kasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>terima kasih kpd sdr Johan.<br />
saya tdk akan memberikan sanggahan lg mengenai tulisan anda,tp saya hanya memberikan pesan sesuai nomor pd penjelasan sdr Johan :</p>
<p>1. memang benar apa yg dikatakan oleh sdr Johan tp jika saya hanya memikirkan spt itu saja maka akan ada banyak pergulatan iman yg tdk dpt saya terima mengenai gambaran Allah Yang Maha Baik.</p>
<p>2. seseorang yg menolak &amp; tdk menerima sunat belum tentulah bahwa orang tersebut anti Yahudi.<br />
jika memang tdk ada dlm situs online spt perpustakaan online maka belum tentu tidak ada krn mungkin saja bahwa informasi tersebut memang tidak dipublikasikan scr online.<br />
tp memang ada kemungkinan jg mengenai apa yg dikatakan oleh sdr Johan jika apa yg dikatakan Paus tdk diungkapkan scr ex cathedra namun apa yg saya percayai adalah apa yg dikatakan Paus tentunya didasarkan atas bimbingan Roh Kudus.</p>
<p>3. kita tdk bisa menganggap hasil-hasil yg didptkan dr penelitian-penelitian yg mendukung sunat pasti benar.<br />
spt yg kita ketahui bahwa pengaruh sunat sdh ada sejak lama &amp; pengaruh tradisi sunat ini bisa mempengaruhi scr kuat dlm menghasilkan suatu hasil dr penelitian-penelitian sunat yg terpengaruh jg oleh tradisi sunat sehingga penelitian-penelitian tersebut dpt menghasilkan hasil-hasil yg sebenarnya salah &amp; kita tdk bisa menolak akan adanya pengaruh kuat sunat dlm penelitian-penelitian tersebut.<br />
apa yg saya ketahui adalah bahwa kebersihan alat kelamin yg tdk disunat pun tetap terjamin krn pd usia puber &amp; dewasa kulit kulup dpt dengan mudah ditarik ke belakang sehingga memudahkan utk membersihkan bagian dlm dr alat kelamin.<br />
tdk perlu terlalu memusingkan mengenai kebersihan alat kelamin ini kan seseorang tdk akan mati atau terkena penyakit serius akibat tdk disunat.</p>
<p>4. saya lebih percaya pada referensi-referensi yg anda sebut sebagai anti sunat krn kebanyakan dr mereka tdk terlalu terpengaruh oleh tradisi sunat.</p>
<p>5. memang saya akui bahwa saya mengalami sedikit kesalahan yg tdk terlalu banyak dlm pemahaman religiusnya krn memang sebenarnya ajaran Kristen yg disampaikan oleh mereka memang tdk menuliskan bahwa ajaran Kristen melarang sunat.</p>
<p>apa yg saya pegang adalah bahwa sunat sangat tdk diperlukan dlm ajaran Gereja krn memang tdk penting namun non terapi sunat juga benar-benar tdk bermanfaat bagi kesehatan atau kebersihan.<br />
&amp; apa yg saya pegang adalah saya melarang sunat dlm keluarga serta keturunan-keturunan saya tp bkn krn alasan religius saya melarangnya.</p>
<p>saya rasa cukup sudah diskusi ini krn diskusi ini terasa sdh terlalu berlarut-larut.<br />
harap sdr Johan juga mau mengakhirinya sampai di sini saja.<br />
terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: johan</title>
		<link>http://gerejastanna.org/sunatan-menurut-iman-katolik/comment-page-1/#comment-2162</link>
		<dc:creator>johan</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 06:41:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=245#comment-2162</guid>
		<description>Dear all, menanggapi tulisan Chris terkait dengan posisi Gereja Katolik terhadap sunat pada pria saya akan memberikan rangkuman.

1. Pada masa perjanjian lama, Allah meminta sunat sebagai tanda perjanjian antara Dia dan Abraham. Ini memang perjanjian lama, dan sudah tidak berlaku lagi sejak Kristus menyatakan Diri-Nya sebagai perjanjian baru, antara Allah dengan umat-Nya. Tetapi Allah Maha Baik, dari yang jahat Ia bisa membuat sesuatu yang baik. Tetapi Allah tidak bisa meminta umat-Nya berbuat sesuatu untuk menghasilkan yang jahat, karena itu berkontradiksi dengan Diri-Nya. Karena apabila sunat pada pria menghasilkan sesuatu yang tidak bermoral, maka Allah pasti tidak akan meminta umat-Nya melakukan hal itu.

2. Berdasarkan prinsip di atas, semua dokumen atau kutipan dari sumber Katolik tidak bisa diterjemahkan secara bertentangan dengan prinsip dasar pertama. baik papal bull Paus Eugene IV atau pesan Paus Pius XII. Tentang bull Paus Eugene IV sudah saya jelaskan di atas, bahwa beliau tidak berbicara mengenai larangan sunat pria per se, tetapi berbicara mengenai keselamatan yang di dalam Kristus.
Saya cukup menghabiskan waktu mencari pesan lengkap paus Pius XII mulai dari kumpulan perpustakaan online vatican barbahasa Italia dan Inggris atau dari sumber lainnya, tetapi tidak saya temukan kutipan tulisan yang dijadikan referensi tersebut. Semua artikel anti sunat hanya menggunakan potongan pesan Paus XII tersebut. Namun akan sangat baik bila anda yang anti sunat menunjukkan keseluruhan pesan tersebut sehingga kita bisa melihat esensinya dan di bagian mana dari pesan itu yang disampaikan secara ex cathedra. Perlu diberi catatan dalam hidupnya, Paus Pius XII menolak anti semistisme (atau anti Yahudi) - lihat kutipan ensiklik summi pontificatus yang saya quote di sini. Sehingga berdasarkan fakta ini, pun bila beliau benar mengatakan hal itu [terkait dengan moral dalam sunat] dalam pesan radio-nya, maka [menurut saya] tidak mengikat gereja universal, itu artinya beliau tidak berbicara dalam kapasitas ex cathedra. keluarga Yahudi pada tahun 1950-an [yang bahkan sudah lebih sekular dan meninggalkan tradisi judaisme, termasuk yang sudah memeluk Kristen] masih ada yang melakukan sunat. 

3. banyaknya kesalahan prosedur medis sunat pada pria yang menyebabkan kematian, atau trauma rasa sakit adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri. Namun hal itu tidak menyebabkan  secara otomatis sunat pada pria menjadi tidak bermoral dalam pandangan Gereja. Penjelasan Gereja terkait dengan definisi mutilasi sudah saya quote juga dalam penjelasan2 saya sebelumnya. Termasuk paragraf dalam Katekismus Gereja Katolik terkait hal tersebut. Orang tua yang percaya kepada manfaat sunat dan menyunatkan anaknya untuk alasan pemeliharaan kesehatan tidak bersalah dalam hal ini. Dan sangat dianjurkan untuk melakukannya dengan prosedur medis yang benar dan dilakukan oleh seorang ahli medis yang tahu prosedur dan caranya.

4. bagi mereka yang percaya semua referensi anti sunat, juga tidak bersalah apabila memilih anaknya tidak disunat. Namun juga sangat disarankan mendidik anaknya untuk membersihkan kulup penis secara benar dan teratur untuk menghindari penyakit yang bisa ditimbulkan [boleh-boleh saja tidak percaya bahwa hal ini perlu dilakukan, walaupun sebenarnya pun tidak ada ruginya melakukannya].

5. Saya menganjurkan kelompok-kelompok anti sunat Katolik tidak secara buta mempropagandakan anti sunat kepada umat Katolik dengan membawa referensi dari dokumen atau sumber lain Gereja Katolik [terlebih pengutipan ayat-ayat Kitab Suci] yang menyebabkan kebingungan umat Katolik mengenai posisi Gereja Katolik tentang sunat. Sangat saya anjurkan untuk tidak membawa propaganda sebagai alasan religius. Propaganda yang buta bisa menjerumuskan seseorang untuk melupakan dasar hukum Allah itu sendiri yaitu cinta kasih, karena kecenderungan untuk memaksakan pemahaman.

Semoga semua yang membaca diskusi di topik ini mengerti..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear all, menanggapi tulisan Chris terkait dengan posisi Gereja Katolik terhadap sunat pada pria saya akan memberikan rangkuman.</p>
<p>1. Pada masa perjanjian lama, Allah meminta sunat sebagai tanda perjanjian antara Dia dan Abraham. Ini memang perjanjian lama, dan sudah tidak berlaku lagi sejak Kristus menyatakan Diri-Nya sebagai perjanjian baru, antara Allah dengan umat-Nya. Tetapi Allah Maha Baik, dari yang jahat Ia bisa membuat sesuatu yang baik. Tetapi Allah tidak bisa meminta umat-Nya berbuat sesuatu untuk menghasilkan yang jahat, karena itu berkontradiksi dengan Diri-Nya. Karena apabila sunat pada pria menghasilkan sesuatu yang tidak bermoral, maka Allah pasti tidak akan meminta umat-Nya melakukan hal itu.</p>
<p>2. Berdasarkan prinsip di atas, semua dokumen atau kutipan dari sumber Katolik tidak bisa diterjemahkan secara bertentangan dengan prinsip dasar pertama. baik papal bull Paus Eugene IV atau pesan Paus Pius XII. Tentang bull Paus Eugene IV sudah saya jelaskan di atas, bahwa beliau tidak berbicara mengenai larangan sunat pria per se, tetapi berbicara mengenai keselamatan yang di dalam Kristus.<br />
Saya cukup menghabiskan waktu mencari pesan lengkap paus Pius XII mulai dari kumpulan perpustakaan online vatican barbahasa Italia dan Inggris atau dari sumber lainnya, tetapi tidak saya temukan kutipan tulisan yang dijadikan referensi tersebut. Semua artikel anti sunat hanya menggunakan potongan pesan Paus XII tersebut. Namun akan sangat baik bila anda yang anti sunat menunjukkan keseluruhan pesan tersebut sehingga kita bisa melihat esensinya dan di bagian mana dari pesan itu yang disampaikan secara ex cathedra. Perlu diberi catatan dalam hidupnya, Paus Pius XII menolak anti semistisme (atau anti Yahudi) &#8211; lihat kutipan ensiklik summi pontificatus yang saya quote di sini. Sehingga berdasarkan fakta ini, pun bila beliau benar mengatakan hal itu [terkait dengan moral dalam sunat] dalam pesan radio-nya, maka [menurut saya] tidak mengikat gereja universal, itu artinya beliau tidak berbicara dalam kapasitas ex cathedra. keluarga Yahudi pada tahun 1950-an [yang bahkan sudah lebih sekular dan meninggalkan tradisi judaisme, termasuk yang sudah memeluk Kristen] masih ada yang melakukan sunat. </p>
<p>3. banyaknya kesalahan prosedur medis sunat pada pria yang menyebabkan kematian, atau trauma rasa sakit adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri. Namun hal itu tidak menyebabkan  secara otomatis sunat pada pria menjadi tidak bermoral dalam pandangan Gereja. Penjelasan Gereja terkait dengan definisi mutilasi sudah saya quote juga dalam penjelasan2 saya sebelumnya. Termasuk paragraf dalam Katekismus Gereja Katolik terkait hal tersebut. Orang tua yang percaya kepada manfaat sunat dan menyunatkan anaknya untuk alasan pemeliharaan kesehatan tidak bersalah dalam hal ini. Dan sangat dianjurkan untuk melakukannya dengan prosedur medis yang benar dan dilakukan oleh seorang ahli medis yang tahu prosedur dan caranya.</p>
<p>4. bagi mereka yang percaya semua referensi anti sunat, juga tidak bersalah apabila memilih anaknya tidak disunat. Namun juga sangat disarankan mendidik anaknya untuk membersihkan kulup penis secara benar dan teratur untuk menghindari penyakit yang bisa ditimbulkan [boleh-boleh saja tidak percaya bahwa hal ini perlu dilakukan, walaupun sebenarnya pun tidak ada ruginya melakukannya].</p>
<p>5. Saya menganjurkan kelompok-kelompok anti sunat Katolik tidak secara buta mempropagandakan anti sunat kepada umat Katolik dengan membawa referensi dari dokumen atau sumber lain Gereja Katolik [terlebih pengutipan ayat-ayat Kitab Suci] yang menyebabkan kebingungan umat Katolik mengenai posisi Gereja Katolik tentang sunat. Sangat saya anjurkan untuk tidak membawa propaganda sebagai alasan religius. Propaganda yang buta bisa menjerumuskan seseorang untuk melupakan dasar hukum Allah itu sendiri yaitu cinta kasih, karena kecenderungan untuk memaksakan pemahaman.</p>
<p>Semoga semua yang membaca diskusi di topik ini mengerti..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Aloysius Adi</title>
		<link>http://gerejastanna.org/sunatan-menurut-iman-katolik/comment-page-1/#comment-2154</link>
		<dc:creator>Aloysius Adi</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Feb 2010 13:33:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=245#comment-2154</guid>
		<description>Terima kasih atas kehadiran Pak Johan, Pak Chris &amp; Pak Samuel dalam rubrik ini. Saya pribadi appreciate maksud baik bapak-bapak semua untuk menyampaikan informasi &quot;yang terbaik&quot; bagi pengunjung Web St. Anna. 
Saya percaya bahwa argumen-argumen yang sempat mengemuka meski agak kurang mengenakkan,  namun hal tersebut justru telah memberikan masukan yang cukup berarti bagi saya yang jarang mengakses berbagai situs sebagai referensi. Saya tetap menantikan tulisan bapak-bapak pada topik-topik mendatang.
Salam,</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih atas kehadiran Pak Johan, Pak Chris &amp; Pak Samuel dalam rubrik ini. Saya pribadi appreciate maksud baik bapak-bapak semua untuk menyampaikan informasi &#8220;yang terbaik&#8221; bagi pengunjung Web St. Anna.<br />
Saya percaya bahwa argumen-argumen yang sempat mengemuka meski agak kurang mengenakkan,  namun hal tersebut justru telah memberikan masukan yang cukup berarti bagi saya yang jarang mengakses berbagai situs sebagai referensi. Saya tetap menantikan tulisan bapak-bapak pada topik-topik mendatang.<br />
Salam,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Chris</title>
		<link>http://gerejastanna.org/sunatan-menurut-iman-katolik/comment-page-1/#comment-2153</link>
		<dc:creator>Chris</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Feb 2010 03:51:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=245#comment-2153</guid>
		<description>pendapat sdr Samuel bisa saya terima.
sptnya saya mengalami sedikit kesalahan pengertian jadi mohon maaf atas kesalahan saya terebut.
saya akan coba baca-baca lebih teliti lg namun saya tdk mau melanjutkan diskusi ini lg.
terima kasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>pendapat sdr Samuel bisa saya terima.<br />
sptnya saya mengalami sedikit kesalahan pengertian jadi mohon maaf atas kesalahan saya terebut.<br />
saya akan coba baca-baca lebih teliti lg namun saya tdk mau melanjutkan diskusi ini lg.<br />
terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: johan</title>
		<link>http://gerejastanna.org/sunatan-menurut-iman-katolik/comment-page-1/#comment-2152</link>
		<dc:creator>johan</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Feb 2010 00:20:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=245#comment-2152</guid>
		<description>@chris dan @Samuel ... nanti saya akan jelaskan lebih banyak karena keterbatasan waktu (termasuk pandangan Paus Pius XII mengenai hal ini)

bagaimanapun ada kesalahan identikal yang anda berdua lakukan di website ini..

1. saya tidak pernah menjelek2an kelompok anti sunat.. silahkan anda paparkan tulisan saya.. kata &quot;sentimen&quot; tidak pernah melulu digunakan untuk menjelekan sesuatu.. dan sebaliknya anda juga berhenti menuduh sembarangan tentang Morris dan para dokter yang melakukan praktek sunat atau yang mempromosikan tentang manfaat sunat. di link website yang anda berikan pun, tidak menunjuk siapa pelaku praktik penjualan kulup pria, apakah dokter atau bukan. 

2. saya tidak pernah mengusir Chris, tetapi memintanya menghentikan propaganda-nya yang keliru tentang GEREJA KATOLIK MELARANG PRAKTEK SUNAT PADA PRIA (terlebih bila alasannya karena tidak bermoral).

@Samuel sebaiknya anda tidak fokus membahas penting tidaknya sunat, tetapi lihat dokumen2 dan link2 saya tentang praktek sunat pada pria menurut iman Katolik. sekali lagi saya katakan bahwa saya tidak terlalu peduli pros dan cons manfaat sunat. saya pribadi somehow cenderung tidak setuju sunat pada bayi yang baru lahir.

itu saja dulu nanti saya lanjutkan.. walaupun saya sibuk saya akan berusaha meluangkan waktu untuk membahasnya ini lebih lanjut demi iman Katolik yang kita semua miliki</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@chris dan @Samuel &#8230; nanti saya akan jelaskan lebih banyak karena keterbatasan waktu (termasuk pandangan Paus Pius XII mengenai hal ini)</p>
<p>bagaimanapun ada kesalahan identikal yang anda berdua lakukan di website ini..</p>
<p>1. saya tidak pernah menjelek2an kelompok anti sunat.. silahkan anda paparkan tulisan saya.. kata &#8220;sentimen&#8221; tidak pernah melulu digunakan untuk menjelekan sesuatu.. dan sebaliknya anda juga berhenti menuduh sembarangan tentang Morris dan para dokter yang melakukan praktek sunat atau yang mempromosikan tentang manfaat sunat. di link website yang anda berikan pun, tidak menunjuk siapa pelaku praktik penjualan kulup pria, apakah dokter atau bukan. </p>
<p>2. saya tidak pernah mengusir Chris, tetapi memintanya menghentikan propaganda-nya yang keliru tentang GEREJA KATOLIK MELARANG PRAKTEK SUNAT PADA PRIA (terlebih bila alasannya karena tidak bermoral).</p>
<p>@Samuel sebaiknya anda tidak fokus membahas penting tidaknya sunat, tetapi lihat dokumen2 dan link2 saya tentang praktek sunat pada pria menurut iman Katolik. sekali lagi saya katakan bahwa saya tidak terlalu peduli pros dan cons manfaat sunat. saya pribadi somehow cenderung tidak setuju sunat pada bayi yang baru lahir.</p>
<p>itu saja dulu nanti saya lanjutkan.. walaupun saya sibuk saya akan berusaha meluangkan waktu untuk membahasnya ini lebih lanjut demi iman Katolik yang kita semua miliki</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Samuel</title>
		<link>http://gerejastanna.org/sunatan-menurut-iman-katolik/comment-page-1/#comment-2151</link>
		<dc:creator>Samuel</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 04:15:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=245#comment-2151</guid>
		<description>BAGIAN 4
Menurut pendapat saya, perumpamaan pemotongan kuku, rambut, dan hair toning tidak cocok untuk digunakan oleh Pak Johan untuk menjawab argumen Pak Chris dan untuk masalah perumpamaan ini saya lebih setuju kepada Pak Chris, alasannya karena (saya ambil satu contohnya saja) kuku terbuat dari keratin, rambut dan kuku tidak tergolong sebagai organ tubuh dan sedangkan kulup adalah bagian permanen dari organ penis.

Menurut pendapat saya setelah membaca beberapa website pro dan anti sunat, saya merasa orang2 yang anti sunat dalam website tersebut istilah kasarannya &quot;lebih nggena&quot; karena selain topik tentang Kristiani mereka tidak bertentangan dengan ajaran Gereja, mereka juga menyajikan data secara jujur baik dari penelitian yang pro dan menentang sunat. Dan saya melihat beberapa website pro sunat menyajikan informasi tentang sunat lebih mengarah ke seksualitas dan pornografi (dalam hal ini circinfo.net tidak termasuk).
Untuk penjelasan yang baik tanpa efek pro dan anti sunat, coba baca2 informasi di &lt;a href=&quot;http://www.circinfo.org&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;http://www.circinfo.org&lt;/a&gt;. Meskipun banyak pembahasan tentang sunat pada bayi, tetapi setidaknya terdapat juga pedoman tentang sunat pada usia dewasa dan remaja.

Pak Johan, tulisan Pak Johan tentang kekatolikan Pak Chris, menurut saya, lebih mengarah ke pengusiran. Kalau Pak Johan menganggap Pak Chris salah persepsi terhadap ajaran Katolik, seharusnya Pak Johan tidak boleh bermaksud untuk mengusir karena di dalam perumpamaan domba yang hilang, Tuhan kita Yesus Kristus tidak mengusir, tetapi mencari. Dan tentang penutupan topik, menurut saya, hal ini lebih mengarah ke pembatasan terhadap hak pembaca untuk mengutarakan pendapat. Jadi, penutupan suatu topik sebenarnya tidak boleh seenaknya main tutup. Harap dikoreksi lagi.

Pak Chris, tolong dibaca kembali tentang sumber2 yang Pak Chris baca sehingga tidak ada kesalahan persepsi lagi.

Demikian komentar saya dalam topik ini. Dan karena faktanya menunjukan bahwa sunat tidak terbukti memiliki hubungan dalam pencegahan suatu penyakit dan sebagian besar dari apa yang dikatakan dalam circumstitions.com benar adanya, maka dengan berat hati saya menerima fakta2 tersebut meskipun sebelumnya saya memegang erat pemikiran bahwa sunat memang menguntungkan.
Terus terang, saya adalah orang yang sangat sibuk, jadi saya mungkin tidak berkunjung ke website ini lagi.
Saya harap Pak Chris dan Pak Johan serta semuanya yang terlibat dalam diskusi di sini mau saling mengerti, memahami, dan mau menerima fakta yang ada. Pahamilah bahwa kita adalah saudara apalagi kita adalah sesama umat Katolik. Jangan saling menuduh/mencari kesalahan satu sama lain karena bukan itulah yang diajarkan oleh Tuhan kita Yesus Kristus.

Salam damai, semoga komentar2 saya ini bermanfaat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>BAGIAN 4<br />
Menurut pendapat saya, perumpamaan pemotongan kuku, rambut, dan hair toning tidak cocok untuk digunakan oleh Pak Johan untuk menjawab argumen Pak Chris dan untuk masalah perumpamaan ini saya lebih setuju kepada Pak Chris, alasannya karena (saya ambil satu contohnya saja) kuku terbuat dari keratin, rambut dan kuku tidak tergolong sebagai organ tubuh dan sedangkan kulup adalah bagian permanen dari organ penis.</p>
<p>Menurut pendapat saya setelah membaca beberapa website pro dan anti sunat, saya merasa orang2 yang anti sunat dalam website tersebut istilah kasarannya &#8220;lebih nggena&#8221; karena selain topik tentang Kristiani mereka tidak bertentangan dengan ajaran Gereja, mereka juga menyajikan data secara jujur baik dari penelitian yang pro dan menentang sunat. Dan saya melihat beberapa website pro sunat menyajikan informasi tentang sunat lebih mengarah ke seksualitas dan pornografi (dalam hal ini circinfo.net tidak termasuk).<br />
Untuk penjelasan yang baik tanpa efek pro dan anti sunat, coba baca2 informasi di <a href="http://www.circinfo.org" rel="nofollow">http://www.circinfo.org</a>. Meskipun banyak pembahasan tentang sunat pada bayi, tetapi setidaknya terdapat juga pedoman tentang sunat pada usia dewasa dan remaja.</p>
<p>Pak Johan, tulisan Pak Johan tentang kekatolikan Pak Chris, menurut saya, lebih mengarah ke pengusiran. Kalau Pak Johan menganggap Pak Chris salah persepsi terhadap ajaran Katolik, seharusnya Pak Johan tidak boleh bermaksud untuk mengusir karena di dalam perumpamaan domba yang hilang, Tuhan kita Yesus Kristus tidak mengusir, tetapi mencari. Dan tentang penutupan topik, menurut saya, hal ini lebih mengarah ke pembatasan terhadap hak pembaca untuk mengutarakan pendapat. Jadi, penutupan suatu topik sebenarnya tidak boleh seenaknya main tutup. Harap dikoreksi lagi.</p>
<p>Pak Chris, tolong dibaca kembali tentang sumber2 yang Pak Chris baca sehingga tidak ada kesalahan persepsi lagi.</p>
<p>Demikian komentar saya dalam topik ini. Dan karena faktanya menunjukan bahwa sunat tidak terbukti memiliki hubungan dalam pencegahan suatu penyakit dan sebagian besar dari apa yang dikatakan dalam circumstitions.com benar adanya, maka dengan berat hati saya menerima fakta2 tersebut meskipun sebelumnya saya memegang erat pemikiran bahwa sunat memang menguntungkan.<br />
Terus terang, saya adalah orang yang sangat sibuk, jadi saya mungkin tidak berkunjung ke website ini lagi.<br />
Saya harap Pak Chris dan Pak Johan serta semuanya yang terlibat dalam diskusi di sini mau saling mengerti, memahami, dan mau menerima fakta yang ada. Pahamilah bahwa kita adalah saudara apalagi kita adalah sesama umat Katolik. Jangan saling menuduh/mencari kesalahan satu sama lain karena bukan itulah yang diajarkan oleh Tuhan kita Yesus Kristus.</p>
<p>Salam damai, semoga komentar2 saya ini bermanfaat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Samuel</title>
		<link>http://gerejastanna.org/sunatan-menurut-iman-katolik/comment-page-1/#comment-2150</link>
		<dc:creator>Samuel</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 04:10:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=245#comment-2150</guid>
		<description></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>BAGIAN 3<br />
Tentang ajaran Gereja, tidak perlu dipungkiri bahwa masih banyak umat Katolik yang melakukan sunat karena beralasan bahwa di samping masalah kesehatan dan kebersihan, terdapat juga alasan bahwa Tuhan memerintahkan sunat di dalam kitab Kejadian (saya tanya sendiri alasannya). Liburan sekolah yang lalu saja saya mendapatkan 3 undangan untuk menghadiri syukuran dan pesta sunatan anak dari umat Katolik. Dan yang saya lihat adalah rumah dari sang pengundang ada di lingkungan di mana banyak umat Muslimnya. Jadi, perkiraan saya adalah umat Katolik yang menganggap bahwa sunat masih diharuskan karena tertular oleh keyakinan Islam. Saya memberikan link dari salah satu surat kabar yang berisi bahwa umat Kristen Protestan diwajibkan untuk sunat &#8220;Khitan bagi orang muslim dan Kristen Protestan memang diwajibkan oleh agama.&#8221; (<a href="http://www.surabayapagi.com/index.php?p=detilberita&amp;id=2494" rel="nofollow">http://www.surabayapagi.com/index.php?p=detilberita&amp;id=2494</a>). Di sana memang tidak disebutkan umat Katolik karena terus terang saya merasa bahwa umat Kristen lebih populer di kalangan publik Indonesia daripada umat Katolik. Dan kalau ada umat Katolik membacanya, tentu ada kemungkinan bahwa umat Katolik tersebut berpikir bahwa ajaran Kristen diharuskan untuk sunat. Saya sudah mencoba untuk mengontak adminnya melalui email, tetapi tidak ada tanggapan sama sekali.</p>
<p>Memang ada benarnya tentang tulisan Pak Chris demikian &#8220;Circumcision practices are largely culturally determined and as a result there are strong beliefs and opinions surrounding its practice. It is important to acknowledge that researchers’ personal biases and the dominant circumcision practices of their respective countries may influence their interpretation of findings.&#8221; karena saya menemukan beberapa website Islam yang memberikan informasi secara salah dan cenderung untuk fokus pada kebaikan sunat dengan hanya memberikan hasil penelitian yang salah/expired/tanpa referensi yang jelas. Kalau peneliti2 hanya berfokus untuk membuktikan sunat sebagai hal yang bagus demi tradisi/ajaran agamanya, maka peneliti2 tersebut berpotensi besar untuk menghasilkan hasil yang salah dan memang hal itu tidak bisa kita pungkiri.<br />
Saya ambil contoh mengenai informasi yang berpotensi salah dari website2 Islam seperti <a href="http://swaramuslim.com/islam/more.php?id=5607_0_4_0_M" rel="nofollow">http://swaramuslim.com/islam/more.php?id=5607_0_4_0_M</a> (lihat bagian II.3 dan II.4) dan referensi pada bagian III.3 sangatlah tidak jelas karena saya sudah mencoba mencari referensinya tetapi tidak ada. Dan Kalau pembaca membaca link ini <a href="http://www.missionislam.com/health/circumcisionislam.html" rel="nofollow">http://www.missionislam.com/health/circumcisionislam.html</a>, maka pembaca akan menemukan kalimat &#8220;And Allah knows best.&#8221; yang kalau digabungkan dari isi bacaan tersebut, kita bisa mengetahui bahwa mereka menyediakan informasi2 pro-sunat untuk mendukung bahwa dengan memberikan sunat Allah mengetahui yang terbaik. Memang maksud tersebut tidak salah, tetapi Kalau yang disediakan adalah informasi yang salah atau bertujuan untuk menyesatkan orang lain, maka informasi2 tersebut tidak ada bedanya dengan kebohongan. Pembaca perlu mengetahui bahwa menurut Alkitab, Allah memberikan ritual sunat hanyalah sebagai perjanjian dan bukan karena memang ada keuntungan kesehatan.</p>
<p>Jadi, di dalam Cantate Domino, Paus Eugene IV ingin menegaskan bahwa sunat tidaklah membawa keselamatan dan jangan sampai umat Katolik terpancing oleh ajaran agama lain tentang keselamatan sunat. Menurut pandangan saya, umat Muslim menganggap sunat sebagai salah satu bagian keselamatan dan mereka berusaha untuk mencari keuntungan sunat agar mereka lebih yakin lagi akan keselamatan dari sunat yang tentunya hal ini berpotensi menghasilkan hasil penelitian yang salah. Sama seperti halnya (perumpamaan sederhana) seseorang yang tidak mengerti akan mencuri dan seseorang tersebut disuruh oleh orang lain untuk mengambil sesuatu tanpa izin dan pembayaran, maka seseorang yang mencuri tersebut tetaplah dianggap mencuri dan menurut pengetahuan saya orang tersebut berdosa meskipun dia tidak tahu apa yang dia lakukan, sama juga seperti sunat, Kalau kita melakukan sunat karena pengaruh budaya Islam, maka kita juga terseret ke dalam pencarian keselamatan dari sunat baik sadar maupun tidak sadar.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Samuel</title>
		<link>http://gerejastanna.org/sunatan-menurut-iman-katolik/comment-page-1/#comment-2149</link>
		<dc:creator>Samuel</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 04:06:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=245#comment-2149</guid>
		<description>BAGIAN 2
Tentang argumentasi rohani Pak Johan, Pak Johan tidak bisa menolak apa yang dituliskan oleh Paus Pius XII karena dalam menulis buku yang sah apalagi kalau yang menulis adalah Paus, seseorang tentunya tidak boleh main2. Apa yang dikemukakan dalam ajaran Gereja Katolik tidaklah saling berkontradiksi, jadi kalau Pak Johan beranggapan bahwa apa yang ditulis oleh Paus dalam bukunya adalah salah atau ada kontradiksi dengan ajaran yang lainnya, maka Pak Johan berpotensi mematahkan kepercayaan umat Katolik kepada Paus sebagai pendamping Bapa dalam memimpin seluruh umat Katolik dan pemilik penafsiran ajaran Allah Bapa yang tertinggi. Tentu apa yang ditulis oleh Paus Pius XII dalam bukunya didasarkan juga dengan pendampingan Roh Kudus.

Tentang anggapan Pak Johan tentang Anti Sunat, sebenarnya tidak ada yang salah/jelek dari grup Anti Sunat. Dan apa yang ditulis dalam website &lt;a href=&quot;http://www.circumstitions.com/Xy.html&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;http://www.circumstitions.com/Xy.html&lt;/a&gt; tidak berisi bahwa ajaran Kristen/Katolik melarang sunat, coba lihat lagi judulnya &quot;Why Christians need not be circumcised&quot; artinya &quot;mengapa umat Kristiani tidak perlu disunat&quot;, dan mungkin karena Pak Chris kurang memperhatikan judulnya, jadi Pak Chris mengatakan bahwa Gereja menurut grup anti sunat ini melarang sunat. Pak Johan sebaiknya bisa memaklumi Pak Chris ini karena apa yang dialami Pak Chris ini adalah human error. Terus terang, saya melihat Pak Johan juga menuduh sembarangan tentang anti sunat setelah membaca tulisan Pak Chris yang mengatakan ajaran Gereja melarang sunat karena berasal dari website circumstitions.com. Pak Johan juga tidak melihat judulnya dan terlalu cepat mengambil keputusan tentang image anti sunat. Tetapi, saya bisa memaklumi Pak Johan karena masalah human error juga. Jadi, cobalah Pak Chris dan Pak Johan untuk mengoreksi lagi human error ini.

Tentang study sunat, terus terang saja bahwa saya berasal dari keluarga dengan tradisi sunat dan saya juga telah disunat saat umur 18 tahun. Terus terang juga saya merasakan ketidaknyamanan akibat disunat dan saya juga mengalami komplikasi berupa pembengkakan bekas luka sunat yang harus dioperasi untuk dibenahi atas pembengkakan tersebut. Sebelumnya saya beranggapan bahwa sunat memang baik di dalam kesehatan, tetapi dengan berat hati saya harus menerima faktanya bahwa sebenarnya penelitian2 pro-sunat memang telah dipatahkan seperti apa yang dikatakan oleh Pak Chris. Dan saya bisa menjamin hal itu karena saya mendapat konfirmasi dari teman2 saya yang dokter dari Australia. Dan beratnya lagi, argumen2 Prof. Morris tidak disetujui oleh RACP (badan kesehatan resmi Australia) seperti yang diungkapkan Pak Chris dan saya juga mendapatkan konfirmasi dari teman2 saya tersebut bahwa Prof. Morris memang agak sedikit aneh. Teman2 saya tersebut bisa saya percayai dan Kalau mereka membohongi saya, maka saya akan membuat perhitungan dengan mereka :D. Kalau Pak Johan tidak suka akan penjelasan2 Pak Chris, coba baca saja link yang diberikan oleh Pak Chris. Saya perlu beritahukan bahwa saya tidak bermaksud untuk memihak, tetapi saya memberikan faktanya seperti itu. Tentang penjualan kulup, hal itu memang dibenarkan oleh teman2 saya, memang ada juga penjualan semacam itu. Dan tentang tulisan Pak Chris tentang Prof. Morris dan penjualan kulup, hal itu adalah dugaan yang kuat, tetapi juga tidak bisa dipastikan. Terus terang saja, saya menghabiskan banyak pulsa untuk melakukan panggilan kepada teman2 saya di Australia untuk membuktikan informasi2 yang tersedia di sini.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>BAGIAN 2<br />
Tentang argumentasi rohani Pak Johan, Pak Johan tidak bisa menolak apa yang dituliskan oleh Paus Pius XII karena dalam menulis buku yang sah apalagi kalau yang menulis adalah Paus, seseorang tentunya tidak boleh main2. Apa yang dikemukakan dalam ajaran Gereja Katolik tidaklah saling berkontradiksi, jadi kalau Pak Johan beranggapan bahwa apa yang ditulis oleh Paus dalam bukunya adalah salah atau ada kontradiksi dengan ajaran yang lainnya, maka Pak Johan berpotensi mematahkan kepercayaan umat Katolik kepada Paus sebagai pendamping Bapa dalam memimpin seluruh umat Katolik dan pemilik penafsiran ajaran Allah Bapa yang tertinggi. Tentu apa yang ditulis oleh Paus Pius XII dalam bukunya didasarkan juga dengan pendampingan Roh Kudus.</p>
<p>Tentang anggapan Pak Johan tentang Anti Sunat, sebenarnya tidak ada yang salah/jelek dari grup Anti Sunat. Dan apa yang ditulis dalam website <a href="http://www.circumstitions.com/Xy.html" rel="nofollow">http://www.circumstitions.com/Xy.html</a> tidak berisi bahwa ajaran Kristen/Katolik melarang sunat, coba lihat lagi judulnya &#8220;Why Christians need not be circumcised&#8221; artinya &#8220;mengapa umat Kristiani tidak perlu disunat&#8221;, dan mungkin karena Pak Chris kurang memperhatikan judulnya, jadi Pak Chris mengatakan bahwa Gereja menurut grup anti sunat ini melarang sunat. Pak Johan sebaiknya bisa memaklumi Pak Chris ini karena apa yang dialami Pak Chris ini adalah human error. Terus terang, saya melihat Pak Johan juga menuduh sembarangan tentang anti sunat setelah membaca tulisan Pak Chris yang mengatakan ajaran Gereja melarang sunat karena berasal dari website circumstitions.com. Pak Johan juga tidak melihat judulnya dan terlalu cepat mengambil keputusan tentang image anti sunat. Tetapi, saya bisa memaklumi Pak Johan karena masalah human error juga. Jadi, cobalah Pak Chris dan Pak Johan untuk mengoreksi lagi human error ini.</p>
<p>Tentang study sunat, terus terang saja bahwa saya berasal dari keluarga dengan tradisi sunat dan saya juga telah disunat saat umur 18 tahun. Terus terang juga saya merasakan ketidaknyamanan akibat disunat dan saya juga mengalami komplikasi berupa pembengkakan bekas luka sunat yang harus dioperasi untuk dibenahi atas pembengkakan tersebut. Sebelumnya saya beranggapan bahwa sunat memang baik di dalam kesehatan, tetapi dengan berat hati saya harus menerima faktanya bahwa sebenarnya penelitian2 pro-sunat memang telah dipatahkan seperti apa yang dikatakan oleh Pak Chris. Dan saya bisa menjamin hal itu karena saya mendapat konfirmasi dari teman2 saya yang dokter dari Australia. Dan beratnya lagi, argumen2 Prof. Morris tidak disetujui oleh RACP (badan kesehatan resmi Australia) seperti yang diungkapkan Pak Chris dan saya juga mendapatkan konfirmasi dari teman2 saya tersebut bahwa Prof. Morris memang agak sedikit aneh. Teman2 saya tersebut bisa saya percayai dan Kalau mereka membohongi saya, maka saya akan membuat perhitungan dengan mereka <img src='http://gerejastanna.org/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Kalau Pak Johan tidak suka akan penjelasan2 Pak Chris, coba baca saja link yang diberikan oleh Pak Chris. Saya perlu beritahukan bahwa saya tidak bermaksud untuk memihak, tetapi saya memberikan faktanya seperti itu. Tentang penjualan kulup, hal itu memang dibenarkan oleh teman2 saya, memang ada juga penjualan semacam itu. Dan tentang tulisan Pak Chris tentang Prof. Morris dan penjualan kulup, hal itu adalah dugaan yang kuat, tetapi juga tidak bisa dipastikan. Terus terang saja, saya menghabiskan banyak pulsa untuk melakukan panggilan kepada teman2 saya di Australia untuk membuktikan informasi2 yang tersedia di sini.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Samuel</title>
		<link>http://gerejastanna.org/sunatan-menurut-iman-katolik/comment-page-1/#comment-2148</link>
		<dc:creator>Samuel</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 04:03:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=245#comment-2148</guid>
		<description>BAGIAN 1
Di dalam topik ini, saya mencoba untuk memahami apa yang dipikirkan Pak Chris. Dan kita tidak boleh asal tuduh kepada Pak Chris mengenai iman Katoliknya sebab kita tidak berhak menentukan apakah iman seseorang itu rendah/tinggi dan yang berhak menentukan iman seseorang adalah Allah sendiri. Saya rasa di topik ini terjadi semacam keributan/perdebatan tentang sunat, tetapi saya yakin bahwa tidak ada maksud buruk yang ada pada orang2 yang berdebat di sini termasuk Pak Chris sebab saya yakin juga bahwa orang2 di sini ingin memberikan yang terbaik bagi sesama umat Katolik atau pembaca2 yang lain. Saya minta pembaca untuk membaca sampai tuntas karena saya hanya menulis di topik ini sekali saja.

Saya perlu menyarankan kepada Pak Chris dan Pak Johan untuk saling memahami satu sama lain dalam menyelesaikan perdebatan di sini dan jangan saling menyalahkan karena anggapan masing2. Saya juga menyarankan agar Pak Chris dan Pak Johan bisa berpikiran jernih dan positif. Begini, sebenarnya saya sudah mengikuti perdebatan di sini sejak beberapa hari lalu karena saya secara tidak sengaja menemukan website ini dan membuat saya tertarik untuk membacanya. Saya juga telah membaca informasi2 (semuanya yang penting) dari circinfo.net yang diberikan Pak Johan dan circumstitions.com dari Pak Chris dan karena saya mencari kebenaran dari informasi2 yang diberikan oleh Pak Chris dan Pak Johan, saya memutuskan untuk tidak menulis di topik ini terlebih dahulu dan saya mengikuti perkembangan yang ada di sini.

Saya akan membahas mengenai informasi rohani dari Pak Chris terlebih dahulu. Tentang tulisan Paus Pius XII &quot;From a moral point of view, circumcision is permissible if, in accordance with therapeutic principles, it prevents a disease that cannot be countered in any other way&quot;, sebenarnya dari yang saya tangkap, Paus Pius XII memberikan syarat untuk membatasi kemoralan dari sunat dan Paus Pius XII sebenarnya tidak melarang sunat. Di dalam tulisan beliau, dikatakan bahwa &quot;it (circumcision) prevent a disease that cannot be countered in any other way&quot;, kata &quot;prevent&quot; dalam bahasa Inggris diartikan sebagai perlindungan 100% dan Kalau kata &quot;prevent&quot; diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, maka artinya adalah mencegah. Di dalam bahasa Indonesia, kata &quot;mencegah&quot; bisa diartikan sebagai perlindungan 100% atau yang tidak 100%. Di dalam bahasa Inggris, perlindungan yang tidak 100% disebut sebagai &quot;protection/give protection&quot; atau &quot;reducing the rate of a disease&quot;. Dari sini, saya bisa memahami bahwa Pak Chris mengalami sedikit kesalahan dalam menangkap maksud dari tulisan Paus Pius XII. Kalimat &quot;it prevent a disease that cannot be countered in any other way&quot; yang artinya &quot;sunat mencegah (makna 100%) suatu penyakit yang tidak dapat diatasi dengan cara lain selain sunat&quot; yang digabungkan dengan tulisan sebelumnya bisa diartikan bahwa sunat bisa tidak menjadi praktek tak bermoral bila memenuhi tulisan Paus Pius XII dan bisa menjadi praktek tak bermoral bila tak memenuhi prinsip &quot;therapeutic&quot;. Jadi, jangan salah Pak Chris, dalam tulisan Paus Pius XII sebenarnya tidak melarang sunat sepenuhnya, tetapi hanya memberikan syarat saja. Tetapi faktanya, sunat tidak mencegah penyakit apa pun secara 100%, seseorang masih bisa terkena kanker penis (maaf), penyakit menular seksual, AIDS, penularan HPV ke wanita, dan infeksi saluran kencing meskipun seseorang tersebut sudah disunat sehingga dari segi kemoralitasan, sunat memang tidak memenuhi syarat yang dituliskan oleh Paus Pius XII yaitu tentang prinsip &quot;therapeutic&quot;. Oleh karena itu, ada benarnya Kalau Pak Chris menuliskan bahwa umat Katolik sebaiknya jangan melakukan sunat karena sunat tidak sesuai dengan syarat moralitas Paus Pius XII. Tetapi, Kalau Pak Chris mengatakan bahwa Paus Pius XII melarang sunat, Pak Chris salah karena Paus Pius tidak mengatakan larangan sunat itu. Karena sunat tidak memenuhi syarat yang dituliskan oleh Paus Pius XII, Father John Dietzen memang benar dengan mengatakan bahwa sunat menyalahi syarat Paus Pius dengan kata2 &quot;amputation&quot; dan &quot;mutilation&quot;.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>BAGIAN 1<br />
Di dalam topik ini, saya mencoba untuk memahami apa yang dipikirkan Pak Chris. Dan kita tidak boleh asal tuduh kepada Pak Chris mengenai iman Katoliknya sebab kita tidak berhak menentukan apakah iman seseorang itu rendah/tinggi dan yang berhak menentukan iman seseorang adalah Allah sendiri. Saya rasa di topik ini terjadi semacam keributan/perdebatan tentang sunat, tetapi saya yakin bahwa tidak ada maksud buruk yang ada pada orang2 yang berdebat di sini termasuk Pak Chris sebab saya yakin juga bahwa orang2 di sini ingin memberikan yang terbaik bagi sesama umat Katolik atau pembaca2 yang lain. Saya minta pembaca untuk membaca sampai tuntas karena saya hanya menulis di topik ini sekali saja.</p>
<p>Saya perlu menyarankan kepada Pak Chris dan Pak Johan untuk saling memahami satu sama lain dalam menyelesaikan perdebatan di sini dan jangan saling menyalahkan karena anggapan masing2. Saya juga menyarankan agar Pak Chris dan Pak Johan bisa berpikiran jernih dan positif. Begini, sebenarnya saya sudah mengikuti perdebatan di sini sejak beberapa hari lalu karena saya secara tidak sengaja menemukan website ini dan membuat saya tertarik untuk membacanya. Saya juga telah membaca informasi2 (semuanya yang penting) dari circinfo.net yang diberikan Pak Johan dan circumstitions.com dari Pak Chris dan karena saya mencari kebenaran dari informasi2 yang diberikan oleh Pak Chris dan Pak Johan, saya memutuskan untuk tidak menulis di topik ini terlebih dahulu dan saya mengikuti perkembangan yang ada di sini.</p>
<p>Saya akan membahas mengenai informasi rohani dari Pak Chris terlebih dahulu. Tentang tulisan Paus Pius XII &#8220;From a moral point of view, circumcision is permissible if, in accordance with therapeutic principles, it prevents a disease that cannot be countered in any other way&#8221;, sebenarnya dari yang saya tangkap, Paus Pius XII memberikan syarat untuk membatasi kemoralan dari sunat dan Paus Pius XII sebenarnya tidak melarang sunat. Di dalam tulisan beliau, dikatakan bahwa &#8220;it (circumcision) prevent a disease that cannot be countered in any other way&#8221;, kata &#8220;prevent&#8221; dalam bahasa Inggris diartikan sebagai perlindungan 100% dan Kalau kata &#8220;prevent&#8221; diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, maka artinya adalah mencegah. Di dalam bahasa Indonesia, kata &#8220;mencegah&#8221; bisa diartikan sebagai perlindungan 100% atau yang tidak 100%. Di dalam bahasa Inggris, perlindungan yang tidak 100% disebut sebagai &#8220;protection/give protection&#8221; atau &#8220;reducing the rate of a disease&#8221;. Dari sini, saya bisa memahami bahwa Pak Chris mengalami sedikit kesalahan dalam menangkap maksud dari tulisan Paus Pius XII. Kalimat &#8220;it prevent a disease that cannot be countered in any other way&#8221; yang artinya &#8220;sunat mencegah (makna 100%) suatu penyakit yang tidak dapat diatasi dengan cara lain selain sunat&#8221; yang digabungkan dengan tulisan sebelumnya bisa diartikan bahwa sunat bisa tidak menjadi praktek tak bermoral bila memenuhi tulisan Paus Pius XII dan bisa menjadi praktek tak bermoral bila tak memenuhi prinsip &#8220;therapeutic&#8221;. Jadi, jangan salah Pak Chris, dalam tulisan Paus Pius XII sebenarnya tidak melarang sunat sepenuhnya, tetapi hanya memberikan syarat saja. Tetapi faktanya, sunat tidak mencegah penyakit apa pun secara 100%, seseorang masih bisa terkena kanker penis (maaf), penyakit menular seksual, AIDS, penularan HPV ke wanita, dan infeksi saluran kencing meskipun seseorang tersebut sudah disunat sehingga dari segi kemoralitasan, sunat memang tidak memenuhi syarat yang dituliskan oleh Paus Pius XII yaitu tentang prinsip &#8220;therapeutic&#8221;. Oleh karena itu, ada benarnya Kalau Pak Chris menuliskan bahwa umat Katolik sebaiknya jangan melakukan sunat karena sunat tidak sesuai dengan syarat moralitas Paus Pius XII. Tetapi, Kalau Pak Chris mengatakan bahwa Paus Pius XII melarang sunat, Pak Chris salah karena Paus Pius tidak mengatakan larangan sunat itu. Karena sunat tidak memenuhi syarat yang dituliskan oleh Paus Pius XII, Father John Dietzen memang benar dengan mengatakan bahwa sunat menyalahi syarat Paus Pius dengan kata2 &#8220;amputation&#8221; dan &#8220;mutilation&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
