Sudah 21 tahun menikah, tidak tahan

Romo yang saya hormati, perkenalkan saya Wawan Serdang, saya sudah berumur 52 tahun dan istri 43 tahun, kami telah di karunia 3 org anak yang sulung sdh kuliah. Begini Romo, semenjak perkawinan saya (1990)sampai sekarang saya merasa istri saya bukanlah pasangan saya, kami sungguh2 tidak cocok apalagi serasi. Karakter, tabiat, pola pikir, sungguh sangat tidak cocok, rasa saling peduli tidak ada, istri hanya tau “uang” melulu, berapapun yg sy bawa pulang selalu tidak cukup, kini usiaku sudah 52 tahun, sy sudah merasa cape, sdh tdk sanggup lagi bertarung dijalan.Istri sama sekali tdk bisa mencari uang.

Bagaimana ya Romo, jika kami cerai apakah akan lebih baik ?
Jika tetap ngumpul, sy sudah tidak tahan lagi, seperti kelurga ini sudah tidak ada lagi keramah-tamahan.

Terima-kasih Romo.
WN

2 Responses to “Sudah 21 tahun menikah, tidak tahan”

  1. bp…klo boleh anak ini mnyarankan…coba bp&ibu aktif dlm kgiatan kemasyarakatan supaya bp&ibu dapat sama2 mlihat bhw dluar sana sgt bny pasangan yg juga punya masalah yg kurang lebih sama namun tetap btahan dlm keadaan senang, ceria dan bahagia…

    Ktika kita mau mbuka mata&hati untk mlihat knyataan yg ada di skitar kita, maka kita akan mrasa sgt bsyukur krn tnyata keadaan kita jauh lebih baik dr yg kita sangka/pikirkan…

    Bp, 21 tahun itu bukan wkt yg sbentar loh…tentunya telah banyak suka duka yg bp&ibu serta kluarga lalui bersama…knapa tidak syukuri smua itu? Apakh TUHAN tidak layak mdapat rada syukur dr bp&ibu serta keluarga atas pjalanan slama 21thn tsb? Silahkan bp renungkan dlm keadaan diam&tenang yach…

    Mohon maaf bila tdapat kata2 yg kurang pantas…

    Salam kasih,
    NN

  2. Dear Bapak WN,

    rasanya tidak ada pastor Katolik yang akan mengatakan cerai lebih baik, itu hanya “shortcut” yang terlihat sebagai solusi dari masalah kehidupan pernikahan anda. Tetapi apakah anda juga melihat efek psikologis bagi anak-anak anda ?

    Pertanyaan : sudahkah anda berusaha mengkomunikasikan perasaaan anda dengan isteri anda ? dan bagaimana tanggapannya ?
    Pernahkan anda mengajak isteri anda berkonsultasi dengan seorang konselor (entah romo paroki atau seorang profesional atau seorang yang anda berdua segani dan merupakan panutan) ? Intinya, apa yang sudah anda lakukan untuk menjaga keharmonisan perkawinan anda ?

    Coba refleksi ke belakang sejenak :
    Mengapa anda menikahi isteri anda jika karakter, tabiat, dan pola pikirnya seperti itu ?
    Apakah ada suatu perjanjian di antara anda dan isteri anda sebelum mengikat tali perkawinan yang hanya diketahui oleh anda berdua ?

    untuk sementara itu dulu… May God bless your steps..

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>