Sudah 12 tahun menikah, cerai, ingin menikah lagi

Dengan hormat,

Saya menikah 12 thn, dgn 2 anak, krn ketidak cocokan dan perbedaan pandangan, cekcok terus menerus, akhirnya kami memutuskan berpisah secara sipil (hukum negara).
Kebetulan juga saya sudah tidak pernah kembali ke rumah hampir 2 thn.
Secara umum 12 thn usia pernikahan kami sungguh membuat depresi di kedua belah pihak.
Permohonan kami dikabulkan dan secara catatan sipil kami telah terpisah.
Setelah beberapa bulan kemudian, saya berkenalan dan menjalin hubungan dgn wanita katolik. Sejujurnya, saya merasa terlahir kembali dgn kehadirannya. Dan berharap bisa menjalani kehidupan berkeluarga dgnnya, begitupun sebaliknya.
pasangan saya saat ini mengetahui semua latar belakang kehidupan saya, dan Puji Tuhan, bisa menerima dan mengerti akan hal itu.

Solusi apakah yg terbaik dlm hal ini?
Mungkinkah kami menikah, atau adakah jalan lain yg harus saya tempuh?

Ketika melihat website ini, sungguh memberi pengharapan akan situasi yg saya hadapi saat ini.
Terima kasih atas perhatiannya.

Edward
=======
@Pak Edward, Pengharapan apa yang muncul ketika melihat website ini ?
Karena jika pernikahanmu terdahulu adalah pernikahan Kanonik yang sah, maka pernikahan anda tidak bisa dibatalkan (saya tidak menemukan alasan dalam cerita anda untuk mengajukan pembatalan). Artinya anda tidak bisa menikah di Gereja Katolik, karena status anda di mata Gereja masih merupakan suami yang sah dari isteri anda yang telah diceraikan melalui pengadilan sipil.

saran saya, sebenarnya perasaan “terlahir kembali” mungkin bisa istilah yang tepat, melainkan “kepuasan dahaga”. Terlahir kembali lebih ke arah kesucian diri, yaitu saat anda dibaptis dalam Gereja Katolik. Pada saat itu anda bersih dari noda dosa. Dan kita manusia cenderung berdosa, entah itu dosa ringan atau bahkan dosa berat. Itu sebabnya kita diingatkan selalu untuk selalu mengaku dosa kita dalam sakramen tobat khususnya dalam masa adven ini, saat kita menanti kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.

Dalam kasus anda, anda dituntut untuk setia dalam janji pernikahan anda. Perasaan anda yang muncul saat berdekatan dengan seorang wanita, adalah perasaan manusiawi, yang sulit untuk dihindari. Terlebih sosok itu adalah sosok seorang isteri yang anda tidak temukan dalam diri isteri anda, dan saat ini anda merasa ditinggal olehnya. Perasaan ini masih membelenggu anda, hingga anda menemukan wanita lain. Anda merasa dibebaskan, setidaknya rantai yang melilit tubuh anda mengendur, sehingga anda bisa bernafas. Sesungguhnya, lilitan itu ada karena pikiran anda yang masih belum berdamai dengan masalah yang anda hadapi. wanita itu hadir pada saat yang tepat. dan anda berpikir wanita inilah yang bisa membebaskan anda dari lilitan rantai itu. itu adalah hal yang umum diketahui, bahwa menikah lagi adalah jalan keluar untuk kebebasan beban yang ada dalam pikiran mereka yang telah menikah secara sah dalam Gereja Katolik namun kemudian memutuskan bercerai dengan pasangannya karena suatu masalah.

Jika pikiran itu sebenarnya ada dari diri anda sendiri, sebenarnya anda pun bisa membebaskan diri anda dari belenggu itu, bukan orang lain. Orang lain termasuk teman wanita anda bisa membantu, tetapi bantuan itu sebenarnya ada batasnya. batasnya adalah bahwa bantuan itu tidak melukai “kasih” dan “iman” itu sendiri. bila bantuan itu menuntut sesuatu (memiliki pamrih) maka itu sudah melukai “kasih” , dan bila bantuan itu meminta sesuatu yang melanggar ajaran dan perintah Gereja yang adalah Tubuh-Nya, maka itu melukai “iman”. Jadi “pengharapan” yang muncul harus harmonis dengan kedua hal itu, sehingga anda tetap bisa setia dengan Allah.

Saya tahu, ini adalah godaan yang luar biasa besarnya dalam situasi anda saat ini. Tetapi jika wanita Katolik itu pun, tahu bahwa pernikahan anda terdahulu belum dibatalkan oleh Gereja, maka ia pun seharusnya tahu, bahwa laki-laki yang ia kasihi adalah suami yang sah bagi seorang isteri (yaitu isteri anda) di mata Gereja, dan ia pun mengerti, ia tidak bisa menikahi anda kecuali ia melukai imannya sendiri dan mengkhianati Yesus yang mencintainya terlebih dahulu.

Jadi saran saya, tetaplah setia pada janji pernikahan anda (kecuali anda punya alasan yang kuat untuk mengajukan pembatalan pernikahan, meskipun saya ragu anda memilikinya), cobalah mengalihkan perhatian anda dari perasaan untuk mencintai orang lain, tetapi lebih fokuskan pada kualitas hidup anda dan keluarga anda, yaitu anak-anak anda. Berikan yang terbaik bagi mereka, dan jadikan diri anda panutan seorang Bapak Katolik yang baik, sehingga kelak iman mereka pun bertumbuh karena anda menjadi saksi hidup bagi cinta Allah.

May God bless your steps..
Johan

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>