Suami tidak setuju anak kawin campur
Saya sekeluarga warga katolik.permasalahannya adalah anak saya yg perempuan ingin menikah dengan islam. Anak saya sudah tahu segala konsekuensinya dan mau menikah secara katolik krn calonnya walaupun islam tetapi sekolah kristen dan mereka jg meyakinkan saya klo py anak akan mendidik scr katolik tetapi calonnya mau tetap menganut agama islam,krn dia ingin spy hubungan dgn orangtuanya tdk putus.
Perlu diketahui kedua keluarga tdk setuju,trtm para ayah.skrg krlg laki2 ud mulai menerima krn merasa ud tua dan ingin cucu.masalahnya ada pada suami saya,dia marah besar sp tercetus putus hubungan dgn anak,ttp suami saya keliatan menyesal dgn perkataan itu. jd klo kegereja tidak ambil komuni dan email jg keanaknya
Perlu Romo ketahui knp suami saya bs keras begitu,karena dia kecewa berat dgn keluarganya,dia anak ketiga dr sebelas anak. Nah 5 dr adiknya menikah dgn islam,yg dua suami saya yg mengurus pernikahannya secara islam krn ortunya tdk mau tau
masalah yg kedua ialah dua tahun yg lalu suami saya kerja diluar kota,krn tdk ada keluarga jadi waktu luangnya main komputer,main diyahoo answer,forum agama dan kepercayaan.mula2 suami saya ty jawab agama sopan dan klo ada yang jwb atau pertanyaan kasar,suka dihapus oleh suami saya.tetapi akhir2 ini menunjukan gejala fanatik,benci sekali dgn islam dan klo menjawab atau kasih pertanyaan kasar sekali.nah Romo skrg apa yang hrs saya perbuat,waktu konseling digereja jwbnya saya hrs byk berdoa,ya berdoa ud setiap saat,bgmn solusinya soalnya suami saya bilang ga apa2 anak2 ga senang kelakuan ayahnya,suami saya bilang dia siap hidup sendiri. padahal sblm kejadian ini suami saya suami dan ayah yg sangat baik,keluarga rukun sekali.terima kasih.
ET







@ET, pilihan anak anda menikah dengan Islam adalah pilihan yang buruk menurut saya. Tetapi seringkali pasangan menggampangkan perbedaan iman tersebut dimuka, dan berpikir bahwa semua masalah sudah dibereskan di awal. tetapi itu adalah salah besar. Karena masalah sesungguhnya baru akan terjadi ketika mereka sudah memasuki pernikahan.
Jadi saya sangat memahami keberatan suami anda.
Yang perlu untuk pernikahan beda agama, adalah dispensasi dari ordinaris wilayah atau keuskupan.
Kemudian anak anda harus berjanji, pertama, untuk menghilangkan semua bahaya terhadap imannya dan artinya calon suaminya tidak keberatan anak anda menjalankan kewajibannya sebagai seorang Katolik, dan tidak melarangnya.
yang ke-2, anak anda harus dengan sekuat tenaga membawa anak-anak ke dalam Gereja Katolik. Bukan hanya dididik, tetapi dibaptis dan menjadi Katolik.
yang perlu dilihat juga adalah hukum Gereja melarang pengukuhan pernikahan dengan agama atau tata cara lain diluar tata cara Kanonik baik sebelum atau sesudahnya. Jadi tidak boleh terjadi pengukuhan secara Islam sebelum atau sesudah pengukuhan secara Katolik.
setelah itu anda pun perlu melihat peran orang tuannya, calon besan anda, terhadap pengambilan keputusan anaknya. Apakah pengaruhnya cukup besar. Karena dari cerita anda, sebenarnya keluarganya tidak setuju pernikahan anaknya terjadi karena perbedaan agama tersebut. Sehingga bisa saja kelak hal ini menjadi potensi masalah dalam keluarga yang sedang dibangun oleh anak anda bersama suaminya. Hal ini pernah terjadi dalam pernikahan beda agama, dimana orang tua pasangan ikut campur dalam masalah yang dihadapi anaknya, dan mendorong anaknya untuk mengambil penyelesaian ke arah perceraian, dimana Islam sendiri mengijinkan hal itu terjadi.
Jadi memang sebaiknya dipertimbangkan sangat matang dan bijak oleh anak anda tentang keputusannya menikah dengan pasangannya yang berbeda agama. Karena ini bukanlah hal yang mudah.
Tetapi jika ia sudah bulat tekadnya, maka ikutilah hukum Gereja dalam mengukuhkan pernikahannya. Sang ayah yang kecewa, walau tidak setuju, sebaiknya memberi dukungan bagi sang anak, terutama untuk mengingatkan janjinya untuk setia kepada Gereja Katolik.
Mengenai kebenciannya terhadap Islam, “Cum dilectione hominum et odio vitiorum” – With love for mankind and hatred of sins – Dengan cinta untuk umat manusia dan kebencian atas dosa-dosa” kata-kata Santo Agustinus ini hanpir sama dengan tulisan “Hate the sin, not the sinner” – Bencilah dosa-dosanya, bukan si pendosa”.. sejahat-jahatnya orang yang bertindak atas nama agama, kita harus mendoakannya supaya ia bertobat dan terbebas dari murka Allah, dan berdoa juga untuk segala yang menyebabkan dan menjadikannya alasan ia berbuat jahat tersebut musnah dari muka bumi.
May God bless your family..
Terimakasih atas sarannya.GBU