Suami selingkuh, istri trauma

Dear Romo,

Saya anggota salah satu paroki di Tangerang.
Saya dan istri menikah secara Katholik, dan punya 2 orang anak.

Kami ada permasalahan yang berat, mengenai perselingkuhan yang saya lakukan. Saya berselingkuh (namun tidak sampai melakukan hubungan badan). Saya menyesal sekali, benar-benar menyesal.

Perbuatan bejat ini sudah diketahui oleh istri awal bulan Juli 2010. Saya mengalami penghukuman dari istri (dimaki, ditampar dan muka diludahi) berulang kali, dan semua itu saya terima, karena saya layak menerima itu semua. Dan saya tetap ingin mempertahankan keluarga saya, saya ingin membangun kembali keluarga saya. Saya sayang pada anak2 saya, dan istri.

Istri saya setuju untuk mempertahankan juga.
Namun, perselingkuhan ini membuat istri saya tidak dapat melupakannya. Istri saya sering memikirkan/mengigat perselingkuhan itu, sehingga hal ini sering menimbulkan pertengkaran diantara kami. Pertengkaran muncul karena istri saya sering menanyakan detail kejadian perselingkuhan yang pernah saya lakukan, sedangkan saya berulang kali mengatakan bahwa pertanyaan ini hanyalah akan membuat luka lama terkuak kembali, sehingga akan menghambat proses penyembuhan (proses pembentukan keluarga yang bahagia kembali).

Namun dilain waktu, istri sering kali ingin selalu berada disamping saya. Bahkan jika saya berada di kantor, seringkali dia minta dihubungi atau di sms. Demikian kondisi istri saya, sering labil.
Kami berdua ingin berkonsultasi untuk penyembuhan ini, namun istri saya berkeberatan kalau berkonsultasi di paroki kami, karena merasa malu dengan rekan paroki / rekan lingkungan kami.

Mohon Romo dapat memberikan saran ke kami, tempat mana yang bisa kami datangi, atau dapatkah kami datang ke Romo untuk memberikan konseling penyembuhan ke kami.

Demikian kami sampaikan, terimakasih sebelumnya.

Salam,
AF

5 Responses to “Suami selingkuh, istri trauma”

  1. Kalau Anda mau ke St Anna, mohon telpon dulu untuk mencocokkan waktu pertemuan. Silahkan telpon ke sekretariat paroki atau hubungi via facebook.

  2. dear romo,

    saya tinggal di daerah tangerang, 7 thn lalu saya menikah dengan pria dari gereja GKI. saat ini saya belum di karuniai keturunan ( 2 kali anak saya meninggal dalam kandungan ). suami saya sangat tertutup sifatnya. saat ini saya sudah pisah kamar 6 bulan. waaupun saya menolak untuk berpisah tetapi suami saya tetap berkeras. selama ini saya merasa kehidupan pekawinan kami baik-baik saya. kami berdua bekerja, suami di kantor saya seorang wiraswasta. mulai dari awal menikah 80% pengeluaran rumah tangga saya yang menanggung, karena pendapatan saya lebih besar dari suami. pertengkaran besar memang mewarnai awal pernikahan kami, tapi seiring berjalannya waktu mulai berkurang. bahkan 2 tahun kebelakang, kami jarang sekali ribut. alasan yang suami saya katakan adalah saya tidak pernah bisa percaya dengannya. walaupun saya bilang, kalau tidak bisa percaya, kenapa saya mau menikah dengannya. saya ingin sekali konseling berdua, tapi suami selalu bilang, masalah rumah tangganya orang lain tidak perlu tahu. saya tidak mau cerai karna saya tidak mau melanggar janji perkawinan saya, tapi keadaan ini menjadi menggantung. apa yang harus saya perbuat selanjutnya romo? mohon pemikiran romo untuk masalah ini. terima kasih

    salam,
    SN

  3. @SN, Jika anda tidak bisa dengan berbagai cara mengajaknya berbicara mengenai masalah yang kalian hadapi saat ini, maka tampaknya anda membutuhkan seseorang yang bisa anda percaya, yang kalian berdua hormati dan segani untuk menjadi jembatan komunikasi kalian, terutama tentang apa yang ia khawatirkan terhadap perkawinan kalian.

    Atau anda bisa mencoba terlebih dahulu mencari tahu dari orang-orang terdekatnya yang anda percaya bisa diajak membicarakan hal ini, mulai dari keluarganya. Selidiki mengapa suami anda menjauh dari anda. Apakah masalah tentang keuangan ? masalah pekerjaan ? tentang kehadiran anak ? masalah seksualitas pasangan suami isteri ? atau ada hal lain..

    dalam kesempatan itu pun, cobalah menggali ingatan anda kembali hingga ke waktu yang paling awal kapan hal itu mulai terjadi atau menunjukkan tanda-tanda konflik tersebut.

    Tentu saja anda harus berusaha agar ia mau membuka dirinya untuk anda dan anda dapat membuka diri anda untuknya.
    Nah, dalam kondisi pisah kamar saat ini, maka hubungan suami isteri akan semakin kaku, hal ini tidak sebenarnya hanya menjadi benalu yang merusak komunikasi kalian. SEmakin lama akan semakin tidak terkendali, hingga akhirnya menjadi akut dan ia yang lemah (anda atau suami anda) mencari “jalan keluar” masing-masing dari kejenuhan. Ini bukanlah keluarga Kristiani yang dikehendaki oleh Allah. Dua menjadi satu…
    cobalah sekarang seiring usaha anda, anda kembali menyapanya dengan gembira, menunjukan semangat yang berbeda, melayani suami anda dengan gembira.. membersihkan kamar tidurnya, menyiapkan keperluannya berangkat kerja, memasak.. buatlah hari-hari yang berbeda setiap harinya untuk dia. Jangan berhenti mengajaknya berbicara, walaupun ia diam seribu bahasa, walaupun prilakunya menyebalkan ketika anda bercerita. Jangan biarkan kesedihan dan kekecewaan mengganggu anda. Ini sangat sulit untuk anda lakukan, tetapi jika anda tidak melakukannya anda tidak membuat kondisi rumah tangga anda menjadi lebih baik. Setidaknya masih ada satu orang di dalam rumah itu yang berusaha membawa “kehidupan” dalam hubungan kalian.

    Cobalah membuat ia senyaman mungkin berada di rumah. Ajaklah selalu berdoa bersama di ruang keluarga. Walaupun ajakan anda ia acuhkan, lakukanlah sendiri,kali ini janganlah bersembunyi di dalam kamar tertutup. Tetapi biarkan ia melihat anda berdoa, nyalakan sebatang lilin dan mulai daraskan doa anda dengan sungguh-sungguh, mendoakan suami anda, mendoa diri anda, mendoakan kalian sebagai suami dan isteri, dan mendoakan orang-orang disekitar anda.

    Ajaklah ia ke GEreja bersama .. (saya harap anda masih ke GEreja Katolik ya, karena yagn saya maksud ke “Gereja” adalah Gereja Katolik).. walaupun ia tidak mengindahkan semua itu, terus lakukan tanpa anda terlihat bosan menerima jawaban “tidak” atau bahkan sama sekali tidak menerima jawaban darinya.

    Sementara, anda menggali lebih banyak lagi tentang apa yang ada dalam pikirannya lewat orang-orang disekitarnya. Anda tidak perlu menyimpan masalah ini seorang diri, tetapi berhati-hatilah dan bertindaklah bijaksana, karena bagaimana pun suami anda tampaknya tidak ingin masalah di dalam rumah diketahui oleh orang di luar rumah. Bisa jadi tindakan anda malah memperkeruh situasi, bila suami anda tahu bahwa orang lain telah mencium keretakan hubungan kalian sebagai suami dan isteri.
    Anda harus tulus seperti merpati cerdik seperti ular. Pertimbangkan masak-masak setiap tindakan yang anda ambil.

    Akan sangat baik, bila anda berhasil membuatnya membuka diri untuk menyelesaikan masalah ini bersama-sama. dan memang masalah ini hanya bisa diselesaikan bukan oleh anda sendiri, tetapi juga peran sertanya. Dan mintalah peran serta Roh Kudus, untuk membimbing kalian ke jalan yang Allah sediakan.

    May God bless your steps..

  4. Romo yang baik,

    saya warga paroki di Serpong. Saya + suami Katolik dan menerima sakramen perkawinan pada 2001. Saat ini saya telah dikaruniai 1 orang anak.

    Saya baru saja mengetahui adanya perselingkuhan suami saya , hal mana sungguh menghancurkan hati saya.

    Sulit rasanya bisa menerima dia sperti semula. Apakah perceraian /pembatalan pernikahan dimungkinkan karena salah satu pihak berselingkuh?

    Terima kasih Romo.

  5. @sta, jawabnya “tidak”.

    Anda bisa saja bercerai secara sipil, tetapi GEreja tidak mengakui perceraian itu dan melihat bahwa kalian satu sama lain masih adalah suami dan isteri yang sah.

    sungguhkan anda hendak menceraikannya ? anda hendak melakukannya ini untuk anda atau anak anda ?

    hope this helps..

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>