Suami selingkuh, istri bimbang

Salam Damai Romo, Saya bukan dr paroki sini, tapi saya tertarik dgn diskusi2 dr ruang konsultasi ini.

Saya seorang ibu dgn 2 anak, umur 37th. Saya sudah menikah selama 10th. Baru2 ini saya mendapatkan fakta bahwa suami saya 3 th yang lalu menikah lagi dgn perempuan secara islam, dia sendiri jg masuk islam secara KTP. Dia sendiri selama ini kadang2 k gereja kadang2 tidak. Tapi selama ini dia memperlakukan saya dan anak2 baik2 saja, bahkan kami tidak pernah ribut, baru setahun belakangan ini agak berubah.

Awalnya sebulan sekali ia ke luarkota dgn alasan ada urusan kerjaan. Lalu suatu saat saya menemukan sms dgn kata ‘sayang’ d hapenya. Waktu ditanya katanya, tidak, dia gak bakalan begitu (selingkuh), sms itu salah sambung. Makin lama dia makin sering kluar rumah, tapi selalu pulang, hanya sebulan sekali 2 kali menginap.

Singkat cerita akhirnya 3 minggu yg lalu saya menemukan foto2 dia dengan wanita tersebut. Saya ajak omomg baik2 dan dia menangis mengakuinya. Saya tanya, apa salah saya, dia bilang saya gak ada salah, semuanya salah dia. Dia malah menyalahkan kedua ortunya yg suka selingkuh jg.

Hubungan dia dgn wanita ini jg tdk harmonis, karena wanita ini makin merongrong dia secara ekonomi dan batin. Dia juga kesulitan memutuskan hubungannya karena wanita ini berjiwa labil, sering mengancam bunuh diri dsb.

Akhirnya saya lalu tanya, bgmn dengan kami, dia bilang dia lebih berat ke kami, krn dia sayang sama anak2.
Sekarang saya terima dia kembali, tapi hubungan kami sekarang masih tetap ada jarak. Padahal sebelumnya dia sangat sering menunjukkan afeksi terhadap saya. Dia juga belum mau kembali k gereja atau mengaku dosa.

Saya masih terombang ambing antara akan menerima kembali atau tidak. Saya takut dia kembali ke wanita itu, walaupun mereka ini sekarang dlm proses talak 3/ tidak boleh rujuk lagi. Saya mohon saran, juga bgmn prosedur bagi org katolik masuk islam dan kembali lg.

LNH

17 Responses to “Suami selingkuh, istri bimbang”

  1. Yth. Ibu LNH,

    Orang Katolik masuk Islam balik lagi ke Katolik ya prosedurnya Sakramen Tobat saja karena tidak ada ceriatnya babtis ulang. Sakramen Babtis itu hanya sekali seumur hidup. Kecuali kalo orang itu mau menipu dengan KTP baru dengan nama dan agama Islam lalu mendaftar katakumen di gereja lain dengan keterangan bahwa dia aslinya Islam yaaaaaa…. bisa sih babtis lagi, tapi itu kan dia sedang erusaha menipu Tuhan.

    Masalah suami ibu sudah akan kembali ke Katolik, hal yang dianjurkan adalah memaafkannya. Sejauh cerita ibu benar, maka kelihatannya suami ibu memang pernah terperosok tapi sekarang kelihatannya kapok hingga akan talak 3 (walaupun mungkin kapoknya ya hanya untuk case yang ini). Apapun masalahnya dengan perempuan itu, ini adalah saat ketika ibu bisa memperlihatkan Kasih Tuhan dalam perkawinan kalian. Tentu saja sulit dan penuh luka. Yesus juga begitu. Tapi kalau ibu bisa menunjukkan Kasih Tuhan kepadanya, mungkin dia bisa bersyukur dan tidak mengulangi kebodohannya (kalau sungguh tobatnya ya…).

    Semoga ibu tabah dan sabar.
    Semoga keluarga ibu mengalami damai sejahtera.

    salam, rin

  2. Saya ibu LNH sendiri, ingin menceritakan perkembangan terakhir dr masalah kami.
    pertama2 terimakasih ibu Rin atas nasihatnya.

    Setelah membaca beberapa kasus yang mirip dengan saya dari rubrik ini dan tanggapan2nya, saya mencoba sebuah saran yang mengatakan untuk berusaha mendekati istri ke2 suami saya.
    Kami bertemu dan berbincang baik2, bahkan akhirnya suami saya juga bergabung untuk berbicara bersama kami.
    Banyak persoalan yang menjadi lebih jelas, dan saya lega sekali telah mengambil jalan ini.
    Setelah kejadian ini suami saya mengatakan bahwa dia ber-sungguh2 berjanji tidak akan melakukan perselingkuhan lagi, dan benar2 ini membereskan perceraian mereka secepatnya.
    Ada sebuah hal yang saya ketahui dr perbincangan kami, bahwa ternyata suami saya masuk Islam krn keinginan sendiri, bukan dipaksa istri ke2nya.

    Ini membuat menjadi ganjalan bagi hubungan kami ke depannya. Suami saya mengatakan bahwa ia ingin mempunyai pegangan hidup, karena selama ini di Katolik ia memang tidak terlalu mendalami. Dalam hal ini mungkin ada salah dari saya juga yang tidak membimbing kami berdua untuk lebih tekun beribadah.
    Selama bersama istri ke2nya ia melihat beberapa point dr Islam yg bagus, misalnya kepasrahan total thd Allah. walaupun ia tidak menutup mata juga ada yg tidak sreg d hatinya. Saya mengatakan, bagaimana kamu bisa mengatakan di Katolik tdk ada kepasrahan semacam itu, kalau d Katolik sendiri dia belum memberi kesempatan untuk berkembang, tapi kamu sudah pindah k agama lain. Dia mengatakan dia sendiri masih mencari. Dia ingin setelah semua ini selesai (proses pengadilan baru dapat selesai kurang lbh 3 bulan lagi), dia dapat bercakap2 dgn org yg dapat memberi pencerahan.

    Lalu muncul perkembangan baru dimana istri keduanya menjadi depresi setelah peninggalannya, sampa hrs masuk RS. Hal ini sangat memukul suami saya, dimana d satu sisi dia tetap pada komitmen untuk kembali k saya, tetapi ia tidak tega juga membiarkan istri ke2nya menderita. Sayapun merasa tidak pantas bahagia d atas kesedihan org lain.
    Keadaan tersebut membuat dia stress, lalu saya menyarankan dia berdoa. Sebagai info, sampai saat ini dia belum kembali k Gereja, dan dia masih sholat walau bolong2. Saya melihat dia sungguh tertekan, lalu saya mengatakan, jika memang sembahyang bisa membuat dia lebih tenang, sembahyang-lah, saya tidak akan melarang. Bukannya saya belum pernah mengajak dia berdoa bersama, tapi dia selalu menolak.
    Akhirnya dia sembahyang tiap maghrib di rumah, krn di lain waktu tidak memungkinkan (dia bekerja bersama seluruh keluarganya, dan mereka tidak tahu soal pindah agama ini).
    Saya melihat dia memang menjadi jauh lebih tenang kalau setelah sholat. Tapi saya juga bingung, karena dalam hati saya yg terdalam, saya ingin ia kembali k Katolik.

    Bagaimana kebijakan Gereja dalam keluarga yang seperti ini?
    Bgmn peraturan Gereja dalam menjalankan keluarga seperti ini?
    Apakah saya hrs membiarkan saja dia tetap d Islam kalau memang itu memberikan dampak yg baik baginya?
    Siapa yg harus saya temui untuk mendiskusikan hal ini? Kalau saya bertemu dengan Romo bersama suami saya, dia pasti menolak.
    Siapa org yg dapat membantu membuka matanya tanpa membuat agama yg lain kelihatan buruk (berpandangan netral)?

  3. Ibu LNH yang bijak dan tegar,
    Saya pujikan kebaikan dan ketabahan anda dalam mengasihi suami, keluarga dan madu anda.

    Kali ini saya ingin mengajak ibu untuk mendalami ayat ini:
    Matius 5:7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
    Apa hubugannya ayat ini dengan keadaan rumah tangga ibu?
    Suami ibu memerlukan kemurahan hati yang luar biasa dari ibu. Kemurahan hati itu berupa pengertian akan kebutuhannya untuk bertemu dengan wajah Tuhan yang bisa dimengertinya.
    Saran saya yang paling mendasar adalah: bermurah hatilah untuk mendampinginya dalam perjalanan pencaharian kepada Tuhan. Suami anda kelihatannya sekarang ini memang sedang dalam proses mencari. Maka sebagai istri ya monggo menemani. Aplikasinya, kalau memang suami ingin mendalami Islam ya ingatkan selalu untuk sholat, belikan buku buku Islam yang BAIK.

    Apakah ibu mengenal ajaran Islam dengan baik? Bila ya, maka kalian akan sampai pada kenyataan bahwa di dalam Islam pun diajarkan bahwa pada saat pengadilan terakhir kelak semua manusia akan bertemu dengan nabi Isa AS karena nabi Isa AS adalah hakim apakah seseorang akan masuk surag atau tidak. Cari saja ayatnya, saya tidak hapal.
    Beruntungnya kita, karena kita sudah tau pertanyaan apa yang akan ditanyakan kepada kita kelak saat pengadilan terakhir. Bacalah Matius 25: 31 – 46. Maka kalau mau mudah, supaya konsisten ya sebaiknya melakukan segalanya dalam cara Katolik.
    Tapi, kalau suami mau tetap menjalankan cara Islam unrtuk menjawab pertanyaan pertanyaan dalam Matius ya gpp juga, murah hatilah! Jangan pernah memaksa orang untuk mengimani sesuatu karena keimanan itu adalah berkat Tuhan. Hanya Tuhan yang memilih, bukan kita, siapa dipanggil dengan cara apa. Kita hanya bisa menemani saja.

    Mengapa saya katakan cara Katolik itu konsisten dengan apa yang akan ditanyakan pada akhir jaman? Kelak, hakimnya Yesus. Dan Yesus sudah mengajarkan segala sesuatunya. Kita tinggal melaksanakan saja. Dan memang ajaran ajaranNya konsisten. Kasihilah Tuhan Allahmu lebih dari segala sesuatu, dan sama seperti itu: Kasihilah sesamamu manusia (biarpun dia orang yang memusuhimu) seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Carilah ayat yang bertentangan dengan itu, pasti tidak ada.
    Tapi dalam agama lain?
    Islam mengajarkan Kasih, sehingga orang yang menjalankannya pasti juga bisa lulus dari pertanyaan yang akan diajukan Tuhan Yesus. Tapi Islam juga menjarkan Qisas. Keterangannya, saya ambil dari Wikipedia agar netral:
    Qisas
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Langsung ke: navigasi, cari
    Qisas (bahasa arab: ????) adalah istilah dalam hukum islam yang berarti pembalasan, mirip dengan istilah “hutang nyawa dibayar nyawa”. Dalam kasus pembunuhan hukum qisas memberikan hak kepada keluarga korban untuk meminta hukuman mati kepada pembunuh. [1]

    Dasarnya adalah: “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kamu qishash atas orang-orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Barangsiapa mendapat ma’af dari saudaranya, hendaklah yang mema’afkan mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik.” [Al Baqarah:178]

    “Dan Kami tetapkan atas mereka di dalamnya (Taurat) bahwa jiwa dibalas dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka pun ada Qisasnya. Barangsiapa yang melepaskan hak Qisas, maka melepaskan hak itu jadi penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang yang zalim.” [Al Maa-idah:45]

    Meski demikian dikatakan Al Qur’an bila hak Qisas dilepaskan oleh korban maka itu menjadi penebus dosa bagi mereka. Keluarga korban dapat memaafkan pembunuh dan meminta penebus dalam bentuk materi.

    Qisas dipraktekkan di negara-negara yang menganut syariat Islam seperti Arab Saudi, Iran dan Pakistan

    ====
    Sedangkan untuk kasus yang sama, ajaran Yesus mengatakan: ampunilah!

    Tidak usah berperkara dengan suami soal hal ini. Saya hanya ingin menunjukkan kepada anda bahwa Islam pun bisa membawa suami anada kepada Yesus, tapi harus dengan cara benar, yani menurut ajaran Yesus.

    Sekarang, baiklah, saya akan menjawab pertanyaan anda:
    LNH:
    Bagaimana kebijakan Gereja dalam keluarga yang seperti ini?
    Bgmn peraturan Gereja dalam menjalankan keluarga seperti ini?
    Apakah saya hrs membiarkan saja dia tetap d Islam kalau memang itu memberikan dampak yg baik baginya?

    Rin:
    Gereja Katolik setelah Konsili Vatican II menghargai bahwa di luar Katolik pun ada keselamatan, asalkan tetap dalam jalan Tuhan. Maka dalam hal ini, seperti yang saya uraikan di atas, apa bila hatinya memang hanya bisa tenang bila melakukan syariah Islam, Gereja pun menghargai itu.

    Saya tidak menyarankan untuk “membiarkan”, tapi katakanlah kebenaran yang ibu ketahui. Bahwa cara Katolik itu konsisten, misalnya. Tentu tidak usah maksa, tapi bersikap sebagai pendamping. Kalau suami dzikir ya silakan menemani dengan berosario. Kalau suami sholat, silakan menemani dengan berdoa. Tebakan saya, ibu juga akan bersyukur karena jadi bisa bersyukur 5x sehari. Duduklah di sebelahnya, peluklah setelahnya sehingga suami bisa merasakan kebahagiaan berumah tangga bersama ibu.

    LNH:
    Siapa yg harus saya temui untuk mendiskusikan hal ini? Kalau saya bertemu dengan Romo bersama suami saya, dia pasti menolak.
    Siapa org yg dapat membantu membuka matanya tanpa membuat agama yg lain kelihatan buruk (berpandangan netral)?

    Rin:
    Kalau sudah tau suami pasti menolak romo ya jangan mengajak dia bertemu romo. Tapi kalau persoalan siapa yang dapat membuka mata hatinya untuk iman Katolik, ya berdoalah bu, hanya Roh Kudus yang bisa memberikan pengertian itu kepadanya.

    Bu,
    kalau ibu percaya kepada saya dan memang ingin suatu saat kita ngobrol bareng, saya terbuka.

    salam berkah Dalem, rin

  4. Ibu Rin, (benar ibu kan? saya br sadar namanya Ibnurini, bukan ibu rini) terimakasih atas tanggapannya yg menyejukkan hati saya.

    Saya tidak mempunyai pengenalan yg baik thd agama Islam. Bgmn saya tahu buku ttg Islam itu baik atau tidak?
    Terusterang saran ibu mendampingi suami saya dalam sholat dan mempelajari Islam sama sekali di luar pikiran saya, dan sekarang ini belum tergerak untuk melakukannya. Mungkin pelan2 harus saya coba. Saya juga tidak melarang dia sholat, dan tidak cemberut jg kalo dia melakukannya. Tapi ada rasa tidak rela d dalam hati kalau sampai dia meninggalkan Katolik.
    Keluarga kami hampir semuanya Katolik atau Kristen, jadi saya merasa kalau sampai dia memeluk Islam, kepada siapa dia akan bertanya? saya takut nanti bisa2 dia mendekati istri ke2nya lagi dgn alasan mo belajar Islam. Dia kemarin ini sempat bertemu dgn mertua dr istri ke2nya dan mereka kelihatannya berdiskusi soal ini. Dia diberi jg bbrp buku ttg Islam.

    Sekarang ini kelihatannya dia hanya perlu media untuk menenangkan pikiran, dia tidak peduli sampai soal bahwa dalam Islam pada akhirnya Yesus juga penyelamat manusia. Yang penting bagi dia, buktinya dgn sholat dia tenang.
    Dia belum sampai tahap ingin mempelajari lebih lanjut. Justru ini yang saya sayangkan krn dalam Katolik pun bila kita sungguh2 berdoa bisa membawa kedamaian yg sama.

    Ibu Rin tawaran untuk berdiskusi bersama sungguh saya hargai, cuma saya tidak tau bgmn caranya. Saya tidak tinggal d daerah paroki ini.

  5. Kepada ibu Lnh,

    jadi sekarang sudah jelaskan dengan penjelasan dari ibnurini ?, ibu sekarang tidak perlu sedih lagi bahwa ibu tidak bisa ke gereja bersama dengan suami ibu, justru ibu harus merasa berbahagia dengan mensupport agama suami ibu karena ibu akan memperoleh kebahagiaan dan kemurahan dari Yesus (Mat 5:7 ???).
    Dengan kata lain Yesus akan memberikan kemurahan bagi pasangan yg istri atau suaminya yg convert ke agama lain apabila mereka memberikan support atau bimbingan sehingga suami atau istrinya menjadi orang yang taat pada agamanya yg baru.

    Jadi apabila para pembaca diposting ini, suami atau istri anda merasa tidak sreg dengan agama katolik dan ingin convert ke agama lain silahkan didukung dan dibimmbing maka anda akan mendapatkan kemurahan dan bahkan kebahagiaan dari Yesus.
    Sungguh mantap pembelajaran dari ibnurini, saya menjadi tidak sabar untuk menunggu pembelajaran selanjutnya.

    Kepada ibnurini,
    Sebaiknya anda cukup membimbing suaminya ibu lnh untuk mendalami agama barunya daripada meberikan saran kepada ibu lnh. Karena anda jauh lebih mengerti agama islam dibanding agama katolik.Dan saran saya jika anda tidak mengerti tentang suatu hal jangan asal distop saja ! belajar untuk rendah hati !
    dan belajar untuk mengerti.

  6. saya pikir saran Ibnurini tidak perlu dilakukan…

    saya pribadi melihat saran itu cenderung seperti kesetujuan anda ia masuk Islam.. jika anda hendak berdoa, maka sebaiknya lakukanlah dalam waktu terpisah, tidak perlu bersamaan.

    Apakah ada keselamatan di luar Gereja ? hal itu tidak pernah disebutkan dalam semua referensi resmi Gereja Katolik. Tetapi kita tidak perlu membahas hal ini panjang lebar.

    ketenangan yang dirasakan oleh suami anda sebenarnya bisa diperoleh di dalam Katolik, tetapi juga dari meditasi Kitab Suci atau meditasi Katolik lainnya seperti meditasi Ignatian. Coba tawari ia untuk mengikuti meditasi Katolik – Kalo ada tinggal di Jakarta, coba buka 98.3 FM jam 5.30 ada sesi Katolik di radio tersebut sampai 6.30. mulai dari bacaan harian dan pembahasannya, lalu jam 6 diselingin doa ratu surga/doa malaikat surga, biografi Santo/Santa yang perayaan-nya dirayakan pada hari tersebut, hingga dialog iman. Setiap hari senin, biasanya dialog iman diganti dengan meditasi Kitab suci.

    Atau sekali-kali ajak ke Rawaseneng, di sana ada tempat doa yang sangat tenang dan damai, cocok untuk mencari keteduhan batin.
    sayangnya websitenya masih dalam perbaikan

    http://www.trappist-rawaseneng.org..

    tapi anda bisa google dengan kata kunci “pertapaan rawaseneng” ada tulisan2 yang menarik dari mereka yang pernah berkunjung ke sana.

    berjuanglah tanpa henti untuk mengajaknya pulang ke pangkuan Gereja. Itu yang perlu anda lakukan demi dirinya dan demi keluarga anda.
    Supaya anak-anak anda pun mendapat pendidikan moral dan iman yang lebih baik dari keduaorang tua mereka. Dan satu hal yang juga tidak kalah penting : berdoalah, doa orang benar besar kuasanya.
    Santa Theresia Lisieux berdoa dan melakukan silih untuk pertobatan seorang penjahat, dan si penjahat mencium salib Yesus sebelum dieksekusi mati.
    Santa Monika berdoa untuk pertobatan suami dan anaknya. Suaminya dibaptis sebelum kematiannya dan anaknya, menjadi seorang tokoh besar dalam Gereja, Santo Agustinus.
    Tidak ada yang mustahil bagi Allah untuk mempertobatkan suami anda..

    May God bless your steps..

  7. Bu,

    Ibu tentu tau bagaimana Tuhan mendidik manusia. Tujuan pendidikan itu adalah agar akhirnya manusia dengan kehendak bebasnya bersatu dengan Tuhan di akhir jaman. Terjadi seperti dalam kitab Wahyu: perkawinan Anak Domba dengan manusia.
    Dalam Perjanjian Lama Tuhan itu lebih tampak sebagai Allah yang perkasa, yang menghukum setiap kali Israel salah, yang memberi banyak berkat setiap kali Israel patuh. Hasilnya? Itu hanya seperti sirkus. Binatang sirkus kan juga gitu: kalau pinter diberi upah, kalo nakal diketok…. heheheheheeee….
    Lalu masuk fase, ketika segalanya berubah. Tuhan HANYA mengasihi dengan penebusan oleh Sang Putra.

    Dalam teori psikologi juga agaknya ada bermacam macam pendapat soal bagaimana mendidik anak. Ada yang bicara soal Reward and Punishment. Tapi ada juga mazhab yang mengajarkan develop saja anak kita untuk terus melakukan segala yang positif. Kalau dia begitu sibuk melakukan yang positif maka dia akan lupa / tidak tertarik lagi melakukan yang negatif.

    Perhatikan juga: kalau kita akan membuat seorang anak jalan ke sekolah kan ada anak yang bisa diajak straight langsung ke sekolah. Ada juga yang mesti diajak dulu mampir ke warung bakso batu deh jalan ke sekolah. Hasilnya sih sama sampai di sekolah. Tapi ada anak yang mudah diajak langsung ada juga yang muter muter dulu.

    Untuk apa ini semua saya katakan?
    Ibu boleh punya goal agar suami ibu ikut Yesus dalam cara Katolik. Tapi, cara mengajaknya juga harus disesuaikan dengan keadaan suami. Kalau ibu KERAS yaaaa…. dia mungkin akan melawan. Sape loe?! Maksa maksa gw ngikutin loe?!?!?!?

    Lagi pula, apakah yang kita pikir betul betul yang terbaik untuknya? Hidayah Tuhan, mana kita tau.

    Itu sebabnya saya menyarankan agar ibu menemani suami belajar dengan baik. Kalau memang ada buku Islam dari keluarga ex-mertua, dari pada ibu kecolongan gak tau apa yang dibacanya, bacalah bu. Malah sebaiknya kalo bisa ibu baca buku itu lebih dulu dari suami, seperti halnya kalo kita mengajari anak kita yang masih SD. kalo anak kita kelas 3 SD belajar IPS, bukannya sebagai ibu kita baca duluan pelajarannya sehingga tau kalau dia bertanya kita sudah bisa menjawab duluan. Just 1 step ahead, tapi kan kita bisa mempersiapkan materinya. Ibu bisa langsung membuat infonya, kalo di katolik masalah ini bagaimana diselesaikan.

    Misal,
    soal keesaan Tuhan: jangan kamu menyekutukan Allah dengan siapapun. Naaa…. biasanya kan dimasalahkan soal Tritunggal. Tritunggal itu mereka kira menyekutukan Allah, padahal kan bukan. Ibu siapkan apa isi ajaran Katolik soal Tritunggal.

    Dari surat ibu ini pun saya masih mengira suami ibu dalam pencaharian akan Tuhan. Kalau ibu tidak salah langkah dalam menemani dia, masih sangat mungkin dia akan melihat kebenaran. Bagaimana cara mengajak dia memahami Tuhan, ini soal seni bu. Layang layang itu kan diulur dan ditarik. kapan diulur kapan ditarik kan tidak ada ukuran waktunya, yaaa tergantung anginnya aja gimana. Begitu juga dengan mendidik suami. Kalo ibu pasif hanya mebiarkan saja dia belajar sendiri, ada kemungkinan dia malah belajar yang salah. Sapa tau kan bukunya salah to… Kalo ibu memang aktif menemani, ibu bisa mengajak dia berpikir dengan lebih baik.

    Lagi pula dia akan tau bahwa ibu memang mendukung dia sebagai SAHABAT.
    Kalo ternyata akhirnya dia benar benar Islam gimana? Ya ikhlaskan! asal memang benar benar sadar pada pilihannya. Jangan paksa apapun, kembalilah kepada kenyataan bahwa segalanya baik dalam Tuhan.

    Kalo mau japri, monggo ke ibnurini@suzuki.co.id

    Salam berkah Dalem, rin

  8. hmm.. saran ibnurini mengandung resiko besar.. bagi awam Katolik sebaiknya tidak mengikuti sarannya yaitu belajar ajaran Islam.. lebih baik memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan Katolik terlebih dahulu untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang biasa diajukan oleh mereka yang berbeda iman..ini jauuuuuuuh lebih baik dari mempelajari ajaran Islam.. bisa-bisa malah diri sendiri yang terjerumus.. suami LNH bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk membuktikan bahwa yang ia pilih adalah kebenaran. hal ini biasa terjadi dalam pasangan beda agama jika berdiskusi menyangkut soal iman. Hal ini juga membantu kelak ketika anak-anak anda mengajukan pertanyaan yang sama, karena melihat perbedaan iman antara anda dan suami anda..

    Membaca ajaran-ajaran Islam biasa dilakukan untuk memperkaya pengetahuan apologetik, yaitu memperkaya pengetahuan tentang iman lain untuk dapat mempertahankan iman lebih baik. Tetapi tidak dalam kasus-kasus pernikahan beda agama.

    saran ibnurini, cenderung karena melihat ketakutan anda kehilangan suami anda yang berpaling kepada perempuan lain yang beragama Islam.. apakah ini benar-benar bisa anda cegah dengan belajar bersamanya ? jawabnya tidak.. jika anda belajar bersamanya, bisa-bisa ia mengajak anda untuk belajar Islam dengan seorang kyai. Karena anda sama butanya atau bahkan lebih buta tentang ajaran Islam. Terlebih anda terkesan berniat mempelajari Islam.. jadi sebaiknya jangan memberikan kesan ini.

    Tidak ada seorang pun di forum ini, bahkan anda, yang mengetahui seberapa dalam ia “mencintai” agama barunya ini. Dan dari cerita di sini, tidak pernah dikemukakan alasan dulu ia nekat menikah lagi, dan pun bila anda tahu, anda tidak benar-benar tahu apakah itu sebuah kejujuran atau kebohongan untuk menutupi alasan yang sebenarnya. Yang paling penting dalam hal ini adalah apakah ibu benar-benar memaafkan dia. memaafkan berarti berusaha untuk tidak mengungkit lagi perselingkuhannya, dan menerima kembali dalam keluarga.

    Jangan terlalu terfokus untuk mempertobatkan suami anda, walaupun upaya tetap perlu dilakukan demi keselamatan dirinya.. dan tentu saja hal ini hanya bisa terjadi karena anda mengasihinya. yang perlu difokuskan sekarang adalah bagaimana anda berjuang supaya anak-anak anda tetap mencintai Yesus dan Gereja-Nya sepenuh hati, dan tidak terpengaruh atas perbuatan suami anda. yang perlu difokuskan adalah bagaimana menata kembali kehidupan paska perselingkuhan itu.. bagaimana anda mempersiapkan kebutuhan keluarta terutama anak-anak anda.
    Sementara perteguh iman anda dengan belajar lebih banyak lagi mengenai Katolik, dan ajarilah anak-anak anda untuk mencintai Yesus lebih sungguh dalam kehidupan mereka.

    ada banyak saran di forum ini karena di sini tidak ada filter.. sebaiknya anda berdiskusi dengan seseorang Katolik yang anda hormati (bisa jadi seorang Romo) tentang masalah anda.. again.. berdoalah, doa orang benar besar kuasanya

    May God bless your steps.. protect you and your children.. and bring light to your husband to come back to His path..May he listen His voice in his heart and see from it, the true Love and salvation from Jesus…

  9. Dalam hal ini saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh sdr. Johan. memberikan saran pasti dilandasi dengan maksud yang baik, tetapi janganlah sampai terjebak dengan apa yang dikenal sebagai ” Relativitas Iman” yaitu pandangan yang mengatasnamakan toleransi dan pluralisme menganggap bahwa semua agama pada dasarnya adalah sama, sehingga iman katolik yang mengajarkan kepada kita bahwa Kristus adalah kepenuhan wahyu Allah dan menjadi satu2nya mediator antara Allah dengan manusia menjadi terdegradasi sama seperti manusia lainnya (Pidato Kardinal Joseph Ratzinger Prefek dari Konggregasi Doktrin dari Iman pada saat pertemuan dengan Konferensi Uskup se Amerika Latin di Guadalajara Mexico mei 1996 ).

    Saran saya kepada ibu lnh, dengan tanpa mengurangi rasa hormat saya atas pandangan dan saran dari sdri. ibnurini, silahkan konsultasi dengan romo.

  10. Terimakasih saya ucapkan atas semua saran dari Ibu Rin, Bpk Yanto dan Bpk Johan. Semua bagus2 dan saya sungguh menghargainya, apalagi sebenarnya anda semua bukanlah saudara langsung saya, kita ini bersaudara dalam Kristus.

    Bpk Johan bahkan sangat jeli dgn mengatakan bhw alasan sebenarnya dia menikah dgn wanita itu (disebut M aja deh) belum tentu benar. Memang ada bbrp hal yg tidak saya ceritakan dsini, karena sangat panjang dan juga biarlah kami bertiga yg tahu (saya, suami saya dan M)
    Terusterang masalah ini bahkan belum saya buka ke keluarga saya, hanya keluarga dari pihak suami yg tahu karena M adalah 1 tempat kerja dgn suami saya (tadinya). Saya belum bisa buka ke keluarga saya karena suami saya itu menantu kesayangan ibu saya, memang dia sangat bisa membawa diri dalam keluarga, bisa berbicara dgn siapa saya dari muda sampai tua. Saya tidak bisa membayangkan kekecewaan yang ibu saya rasakan bila hal ini terbuka. Saya juga bersama saudara2 sangat dekat…justru krn kedekatan itu sy jg tdk sanggup memulai untuk cerita. Begitu jga teman2 saya blm ada yg tahu.
    Saya berpegang teguh pd prinsip bhw sbg istri, saya harus menjaga kehormatan suami saya, bgmnpun keadaannya. Mungkin saya kelihatan bodoh. terlalu membela suami, padahal suami saya sudah menyakiti saya sedemikian rupa, tapi inilah saya. Saya tidak ingin setelah saya ceritakan, saudara2 dan teman2 saya jadi jengah ato sinis thdp suami, dan hub. baik yg sdh terjalin terputus. Saya mencintai suami saya sepenuh hati, walaupun saya tau saya tidak mendapat balasan yang sama. Saya bahkan sama sekali tidak membencinya stlh kejadian ini, saya juga tidak mengerti kenapa. Soal memaafkan, saya sudah memaafkan. Yang sulit adalah melupakan rasa tertipu dan menumbuhkan kepercayaan yg hilang. Dengan berjalannya waktu mudah2an semua ini bisa teratasi.

    Kalau salah satu dari anda mengenal keluarga kami dgn baik, anda
    tidak akan percaya dengan cerita saya ini, krn kami dr luar tampak sebagai keluarga yg harmonis. Kami bahkan jarang sekali ribut, semua masalah kami diskusikan bukan dgn teriak2. Waktu rekoleksi keluarga baru2 ini, anak saya dtanya, apakah mereka pernah liat kami bertengkar, dia menjawab tidak. Ironis bukan, dr keluarga yg kelihatannya sgt bahagia ternyata d dalamnya ada masalah yg begitu besar.
    Bahkan M mengatakan bahwa saya terlalu baik sbg istri. Mgkn itulah mengapa dia memilih M, sifat2 M adalah semua antitesis dr saya sendiri.
    Saya berencana membuka ini ke keluarga suatu hari nanti, tapi kalau semua sudah beres (perceraian sdh diputus), lebih sbg kabar baik, bukan kabar buruk.

    Saya juga pernah ingin membuka ke romo paroki saya, tapi lagi2 terkendala karena ibu kami cukup terkenal d lingkungan gereja, karena ibu saya ketua lingkungan dan sangat aktif di gereja. Ibu saya dgn romo sangat akrab.

    Kalau soal suami saya akan membawa saya jadi agama Islam atau saya bakal jadi ikut pindah agama, saudara2 tidak usah takut, suami saya tidak berniat spt itu sama sekali, dan untuk hal itu iman saya tidak akan tergoyahkan. Saya bukan org Katolik yg super religius, terusterang pengetahuan agama Katolik saya pun tidak dalam sekali (spt ibu Rin), tapi saya pengikut Kristus sejati.
    Beberapa bulan sebelum saya membongkar perselingkuhan suami saya, saya sudah sangat frustasi dan putus asa karena saya sudah curiga sekali tp tidak ada bukti kongkrit, tp saya tidak tahu hrs mengadu kmn. Maka saya berdoa dan berdoa saja. Semua petunjuk yg saya dapatkan akhirnya seperti dberikan begitu saja kepada saya, tanpa harus bermain menjadi detektif. Bahkan rubrik konsultasi ini saya percaya ditunjukkan olehNya. Saya sebelum ‘terdampar’ dsini sangat ingin curhat ke seseorg, tp pihak yg netral, tanpa hrs mjd ‘hakim’ atas saya atau suami saya.
    Dengan semua itu saya yakin memang Yesus berpihak pada saya. Yesus sudah begitu banyak membukakan pintu bagi saya, masa saya tidak mengikutiNya? Jadi kemungkinan saya pindah k agama lain adalah nol.

    Dari semua ini saya juga mendapatkan pelajaran bahwa kasih dan kesabaran itu sungguh bernilai, walaupun awalnya pahit, hasilnya sungguh manis. (“Patience is bitter, but its fruit is sweet.”
    Jean-Jacques Rousseau)

    Kapada semuanya sekali lagi terimakasih..saya mohon doanya…untuk memberikan terang bagi suami saya sehingga dibuka hatinya untuk memilah jalan yg terbaik.

    Ibu Rin saya akan hub. japri..saya tertarik sekali untuk berdiskusi dgn ibu.

    Salam Kristus.

  11. “hmm.. saran ibnurini mengandung resiko besar.. bagi awam Katolik sebaiknya tidak mengikuti sarannya yaitu belajar ajaran Islam.. lebih baik memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan Katolik terlebih dahulu untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang biasa diajukan oleh mereka yang berbeda iman”

    Saya seorang awam, ketika saya berusia 19-22 tahun saya mempelajari Islam dengan cara benar, yakni di universitas. Dan sama sekali saya tidak pernah tertarik untuk masuk Islam. Semakin saya mepelajarinya semakin saya bersyukur jadi orang Katolik. Iman yang benar kepada Yesus sebagai Tuhan tidak akan tergoyahkan walaupun kita belajar apapun. Mempelajari Buddha, Hindu, atheis sekalipun tidak masalah. Itu memperluas wawasan kita. Untuk bisa mengerti bahwa Tuhan mengasihi semua orang dan betapa kita dimudahkan Tuhan dalam mengasihi-Nya.

    Tapi OK, kalo emang mau ikut pak Johan ya monggo. Saya menyarankan begitu karena saya yakin orang yang imannya sudah teguh, dapat bersikap cerdik seperti ular tulus seperti merpati, pasti akan dapat memenangkan iman orang yang diperjuangkannya. Tapi kalo straight maunya dia ikut kita yaaaa…. ada banyak kemungkinan dia malah ogah.

    Salam berkah Tuhan, rin

  12. Waaaahhhhh… ibu LNH!
    boleh saja ibu memuji saya tentang wawasan, tapi sepertinya saya tidak sebaik ibu dalam hal menjadi istri! Bukan main! Sumprit kacang ijo kejepit, saya tidak pernah menjalankan nasehat mendatangi madu saya karena suami saya tidak punya istri ke2. Tapi nasehat itu saya berikan dengan pendekatan psikologis bahwa sebaiknya kita proaktif, tidak hanya tunggu saja dalam kebingungan dan sakit hati. Juga nasehat untuk proaktif mendampingi suami, tidak hanya membiarkan suami belajar yang bisa bisa dia belajar dari uztads manaaa gitu yang bakalan lebih sukses meraih dia dari pada kita. Proaktif dalam keyakinan bahwa Tuhan pasti membantu, itulah sebaik-baiknya yang dilakukan orang beriman.

    Proficiat, proficiat, proficiat!

    Soal konsultasi dengan romo, jangan pernah khawatir. Romo romo itu dapat dipercaya koq. Saya punya banyak sahabat romo yang juga bersahabat dengan suami saya, mereka gak ember tuh. Saya bebas cerita apa saja, dan tidak ada cerita yang sampai ke suami saya. Mereka toh punya kewajiban untuk mendampingi dombaNya, salah satunya adalah kita. So, dari pada ember lalu ibu malah hilang juga kan mending mereka tutup mulut.

    Salam berkah Dalem, rin

  13. terimakasih kepada ibu lnh, ternyata saran saya yg simple dan terkesan klise ini ternyata bagus. Sebenarnya ada beberapa alasan yang mendasari saya untuk meyarankan anda ke romo tetapi saya takut nantinya terkesan “menghakimi” jadi ya sudahlah.

    Hanya saja ada pertanyaan yg mengganjal bagi saya yaitu apa yang dimaksud dengan pengikut kritus sejati ? Bagaimanpula dengan pengkut kristus yang setengah sejati atau tidak sejati ? Dimana letak tolok ukurnya ? Jika seorang pengikut kristus tidak sejati, layakkah dia disebut pengikut kristus ? Kalau ibu lnh bingung dgn pertanyaan2 ini ya enggak usah dijawab.

    kelihatannya ibu lnh akan pindah ruang diskusinya jadi sekali lagi saya ucapkan terimaksih atas kesediaannya membagi permasalahannya di forum ini.Semoga diforum yang baru ibu mendapatkan apa yang ingin ibu dengar dan bukan apa yang ibu tidak ingin dengar.
    tks.

  14. To..ibnurini on Apr 20th, 2010 at 10:46 am

    Assalammualaikum wbb, salam sejahtera bagi kita semua…

    Ibu Rini…saya adalah muslim, membaca penjelasan ibu di atas terus terang saya sebagai umat muslim manusia biasa, sangat tersentuh dan terharu, bahkan saya meneteskan air mata.
    Saya membayangkan bila kasus diatas menimpa kepada keluarga saya.

    Di Rubrik ini…Saya hanya menilai betapa mulianya hati bu Rini…semoga dapat menjadi contoh suri tauladan bagi Kaum Hawa yang lainnya.
    Karena dimuka bumi ini tidak ada satupun benda baik yg mati maupun yg hidup yang kita miliki, kita hanya ditipi oleh Nya ( sang penguasa jagat raya), bekal kita kesana hanya iman dan taqwa…amin
    Pertahankan sifat ibu yang suci..tulus dan ikhlas, semoga Sang Penguasa Alam Semesta melindungi ibu Rini dimana saja berada…aminn..

    sebelumnya ijinkan saya menulis sedikit Firman Allah. :

    Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. [QS. Al Maa'idah 82]

    Wasalam….

  15. Yth. Bp. Ahmad Romi,

    Wassalammualaikum wbb salam damai sejahtera bagi bapak dan keluarga, terimalah salam persahabatan saya. Terima kasih untuk terlebih dahulu menyapa saya.

    Tentu saja saya belum suci pak, saya masih manusia biasa. So, mudah mudahan tali silaturahmi kita akan membawa manfaat baik.

    Doa saya bagi keluarga bapak hanyalah supaya keluarga bapak terhindar dari segala masalah yang membuat hidup kalian pusing dan makan hati. Semoga damai sejahtera melimpah dalam keluarga bapak.

    Wassalam, rin

  16. Ngak apa apa kok selingkuh dan kumpul kebo toh nanti juga dosa kita di tebus oleh yesus, itu mah biasa deh.. tetapi apa bener ya dosa manusia di tebus yesus, kalau gitu enak dong berbuat dosa.

  17. Suami selingkuh, istri bimbang .. jangan bimbang yakin ajeh… yakin ajeh bahwa mas aku tak bisa kau duakan mas .. pilih selingkuhan kau atau aku .. merdeka.

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>