Suami muslim selingkuh, ingin cerai

Perkenalkan, saya ibu dari 2 org putri dan menikah sudah 10th dengan seorang muslim.

Di awal pernikahan suami berselingkuh dgn rekan kerjanya, dan saya mengetahuinya. Hanya suami tdk mau mengakui perbuatannya itu. Kejadian serupa terulang lagi, hanya berselang setahun kemudian, dan dengan wanita yg berbeda. Saya jg tdk tahu apakah suami menjalin hubungan dengan beberapa wanita sekaligus atau bagaimana. Hanya intinya adalah dia berselingkuh. Dan selama itu saya tdk pernah mengucapkan kata-kata ingin berpisah/bercerai, malah suami krn emosi kpd saya, selalu melontarkan kata2 keramat itu. Dan dgn tambahan kalimat bhw dia tdk pernah mau menikahi saya sejak awal, dia tdk mencintai saya, semua dia lakukan krn terpaksa dan pernikahan diantara kami ini terjadi krn saya yg memaksakannya.

Singkat cerita, perjalanan pernikahan kami dibumbui pertengkaran, dendam, kecurigaan satu sama lain, dan perebutan anak krn masalah agama. Akhirnya 1 anak ikut agama suami, dan 1 anak dibaptis. Itupun saya berjuang dgn sekuat tenaga spy bisa membaptis putri bungsu saya. Krn suami tetap bersikeras utk membawa kedua putri kami masuk agama Islam.

Dan di th ke10 pernikahan kami, saya dipertemukan oleh seorg lakilaki yg se-iman dengan saya. Hubungan kami mulai dekat dan sering kami pergi ke gereja bersama. Tp suami mengetahui hal ini dan marah besar. Dia berniat menceraikan saya dan saya menerima itu. Meskipun pd akhirnya hubungan saya dgn lakilaki itu menjadi hambar dan saling menjauh satu dgn lainnya. Tp krn efek dari hubungan itulah, suami menjadi sosok manusia yg paranoid, lebih mudah emosi, curiga, dan tidak mempercayai saya lg.

Saya akui kesalahan saya, dan minta keputusan yg terbaik utk kelanjutan hubungan kami. Krn diawal pernikahan ketika suami selingkuh-pun saya tdk pernah mengucap ingin berpisah. Tapi sebaliknya, ketika saya mempunyai hubungan dgn lakilaki lain, suami begitu beringas sampai tega menyakiti fisik saya.

Yg menjadi keberatan saya adalah, kami beda agama, dan makin lama makin membebani pikiran. Saya menikah 2x, di KUA dan di Gereja (catatan sipil). Sekarang saya sedang menyusun surat gugatan utk dikirimkan ke Pengadilan Agama, krn sudah tidak tahan lagi dgn sikap suami. Apakah tindakan saya ini sudah benar? Atau salah? Dan jika kami bercerai, apakah kedua pernikahan baik secara islam, maupun katolik harus diurus dan dibatalkan keduanya? Bukan hny salah satu saja? Mohon perncerahan dan pertolongan.

Terima kasih.
Vyk

9 Responses to “Suami muslim selingkuh, ingin cerai”

  1. Ibu yang baik, saya bukan seorang ahli hukum agama dan bukan ahli hukum sipil tapi saya mau sharing. Setelah saya membaca tulisan ibu, saya dapat memberi tanggapan sebagai berikut. Pertama, Suami ibu menikahi ibu karena terpaksa, suami ibu tidak mencintai ibu ,selingkuh (masih selingkuh?), sering marah, menggunakan kata kata kramat, curiga, cepat emosi, bahkan melakukan kekerasan secara fisik. Kekerasan secara fisik bisa membahayakan hidup.
    Kedua, sejauh penangkapan saya ibu menikah di KUA (akta nikah dari KUA), kemudian diberkati di Gereja Katolik. Hal ini berarti perkawinan ibu tidak sakramen. Perkawinan Katolik yang bukan kategori sakramen dapat diputuskan, tentu dengan alasan: membahayakan iman,menikah terpaksa, suami tdk mencintai, membahayakan hidup. Perkawinan yang tidak boleh diputuskan adalah perkawinan sakramen. Perkawinan sakramen adalah perkawinan antara satu pria dan satu wanita yg telah dibaptis secara Katolik atau dibaptis di Gereja lain dan diterima Gereja Katolik (ratum) dan telah disempurnakan dengan sanggama (consummatum) tidak boleh diceraikan oleh siapapun dan oleh kuasa apapun kecuali kematian.
    Ketiga, ibu menggugat suami ke pengadilan agama, langkah ini sudah benar kalau memang sudah tak bisa dipertahankan perkawinannya. Agar ikatan secara agama (Islam) dan negara (akta nikah) diputuskan sehingga ibu menjadi orang bebas. Bila ibu sudah bebas, dan mau menikah dengan orang Katolik tadi, silakan hubungi Pastor Paroki. Hadapilah hidup ini dengan senyum. Pace et bene!

  2. Jawaban Irene khususnya mengenai pernikahan orang KAtolik salah besar.. Walaupun pernikahan Ibu Vyk bukan sakramen, tetapi pernikahannya telah diberkati oleh Gereja menurut penuturannya. SEhingga pernikahan itu sah di mata Gereja. Kecuali memang ada cacat dari awalnya, maka pernikahannya baru bisa dibatalkan. cacat misalnya, jika [tulisan ibu vyk di atas benar] suami menikahi dia bukan karena dasar cinta. Tetapi ini akan sulit dibuktikan apabila si suami atau saksi-saksi mau memberikan kata-katanya pada saat penyelidikan, supaya ibu vyk bisa mengajukan permohonan anulasi atas pernikahannya. Silahkan berkonsultasi dengan pastor paroki.
    Apabila pengukuhan pernikahannya yang pertama secara Islam tidak dilaporkan ke Pastor paroki sebelum pemberkatan, maka sebaiknya Ibu vyk segera mengakui kelalaiannya ini dalam sakramen tobat.
    Terlebih bila sebenarnya hal itu ibu sudah ketahui dilarang oleh Gereja tetapi ibu vyk tetap melakukannya, dan bahkan setelah itu masih menerima sakramen ekaristi.

    Ke-2, mengenai perceraian. Karena pernikahan Ibu vyk tercatat di KUA, maka anda sebaiknya mengajukan gugatan ke pengadilan agama. Setelah gugatan anda disetujui oleh pengadilan, dan telah tercatat di KUA, maka data perceraian tersebut akan diteruskan KUA ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Pastikan saja anda memiliki copy dari data tersebut sebagai bukti perceraian anda.

    Sementara itu, untuk kasus ibu, ibu bisa mendatangi paroki setempat untuk mengajukan permohonan berpisah dari suami (tidak tinggal serumah).

    Namun ingatlah karena anda sudah memiliki 2 orang putri, maka semua keputusan ibu di atas sangat mungkin mempengaruhi mereka secara moral dan prilaku. Efeknya bisa terlihat seketika sebagai bentuk ekspresi mereka atau di kemudian hari. Tentu saja sebagai seorang ibu anda harus siap dengan resiko ini. Karena membaca cerita ibu, anda pun memiliki alasan cukup untuk melakukan hal itu demi anak-anak ibu, karena tingkah laku suami dan pertengkaran kalian pun bisa memberikan pengaruh negatif kepada anak-anak. Namun sekali lagi pertimbangkan dengan bijaksana dan matang. Untuk itu saya sangat menyarankan ibu berkonsultasi dengan konselor pernikahan Katolik atau setidaknya dengan pastor paroki anda, dan juga carilah dukungan moril sebanyak-banyaknya dari orang-orang terdekat anda, khususnya keluarga.

    May God bless your steps..

  3. Romo Paroki St Anna yg baik

    Untuk menambah pengetahuan atau wawasan kami mengenai hukum gereja khususnya tentang perkawinan, mohon ditanggapi catatan saya dan catatan sdr Johan. khususnya dimana kekuatan perkawinan secara sakramen dan yang hanya pemberkatan saja. supaya kalau ada kasus2 seperti ini di masyarakat lingk kami, kami tidak salah menanggapi. terima kasih.

  4. Pak Johan yang baik, terima kasih atas tanggapannya terhadap tulisan kami. Tentu saja banyak hal yang belum diungkap oleh ibu vyk. Dalam penjelasan pak Johan ada hal yang kami anggap sama, terutama berkaitan dengan masalah perceraian di Pengadilan agama secara Islam.
    Kami sebenarnya mau menjelaskan bahwa ada perbedaan antara Perkawinan Sakramental dengan perkawinan bukan sakramental (kita pakai dulu istilahnya begitu). Kami sudah mengutip definisi perkawinan sakramental pada tulisan yg lalu(Lih. Can 1141). Intinya perkawinan sakramental ratum=dua-duanya dibatis dan consummatum=sudah sanggama). Sedangkan perkawinan bukan sakramental,yg sering disebut pemberkatan saja dimana salah satu bukan Katolik. Perkawinan ini bersifat pastoral artinya bila tidak diberkati secara Katolik maka perbuatan itu zinah. Perkawinan ini biasanya perkawinan campur antara seorang pria dan seorang wanita dimana salah satu belum dibaptis. Perkawinan ini dapat dilangsungkan setelah mendapat dispensasi dari pejabat yg berwenang. Artinya sebenarnya perkawinan ini dilarang. Syarat perkawinan campur antara lain:pihak Katolik menyatakan bersedia menjauhkan bahaya meninggalkan iman dengan sekuat tenaga; agar semua anaknya dibaptis dan dididik dalam Gereja Katolik (Lih.Can.1124 dan 1125). Ikatan perkawinan ini dapat diputuskan dan dapat menikah kembali bila memenuhi persyaratan (Lih. Can. 1143-1147). Tentu saja tetap konsul dengan Pastor Paroki(Bapak Rohani). Sudah malam saya sudah capek, berhenti dulu ya. Salam dalam Yesus Kristus. Pesan: Prinsip Perkawinan Katolik kita junjung tinggi.

  5. Ibu Irene yang baik.. sebaiknya ibu membaca teliti tulisan ibu vyk bahwa pernikahannya sudah diberkati oleh Gereja. Pernikahan beda agama yang diberkati Gereja seharusnya melalui prosedur dan hukum Gereja, kecuali ada skandal, sehingga terjadi kelalaian, dan pernikahan ibu vyk dikukuhkan oleh GEreja.

    Sebelum hal di atas jelas, tidak bijaksana, ibu mengatakan bahwa pernikahan ibu vyk dapat diputuskan, karena tidak sakramen.. this is terribly wrong, dan jika tidak hati-hati dan tidak ada yang mengkoreksi ini, maka jawaban ini bisa menyesatkan. Sebaiknya ibu belajar lagi mengenai hukum Gereja dengan orang yang lebih memahaminya atau dari sumber-sumber Katolik, jangan menyimpulkannya sendiri.

    Walaupun bukan sakramen, pernikahan yang telah dikukuhkan dalam Gereja, adalah sah dimata Gereja dan tidak terpisahkan.
    Pernikahan yang sudah dikukuhkan Gereja, bisa dibatalkan. tetapi bukan karena pernikahan itu tidak bersifat sakramen, melainkan karena sejak mulanya persyaratan hakiki pernikahan Katolik tidak ada.

    Mengenai hukum Kanon 1143 – 1147 yang anda kutip, sama sekali tidak bisa dihubungkan dengan kasus ibu vyk. Hukum kanon tersebut berbicara mengenai pauline privilege. perpisahan yang terjadi atas perkawinan non-baptis, karena salah satunya dibaptis. Hukum kanon itu menyebutkan bagaimana yang dibaptis dapat membuat perjanjian pernikahan yang sah di mata Gereja atau menikah lagi.

    so please… untuk selanjutnya tolong hati-hati, karena di forum ini sedikit yang tahu dan bisa mengawasi posting yang salah dan memberikan koreksi, terutam karena romo-romonya tidak setiap saat bisa online.

  6. Dear All,

    Kalau tidak salah ada 4 jenis kasih menurut bahasa yunani,
    1. Eros
    2. Agape
    3. Phileo
    4. Storge
    Dalam hubungan percintaan antara 2 seseorang biasa dipakai adalah :
    1. Eros – cinta karena. jadi kita hanya mencintai seseorang karena dia itu baik, ganteng, kaya, dll. Dan bila dia sudah tidak seperti kita kehendaki maka ditinggalkan.
    2. Agape – Cinta walaupun atau meskipun, biasa di sebut cinta tanpa syarat. Mencintai walaupun dia jelek, kasar, miskin, pemabuk, sakit, susah, dll.
    Didalam perkawinan gereja katolik(walaupun menikah dengan pasangan dari agama lain atau tidak beragama), hanya cinta agape yang diakui, jadi bila suatu saat pasangan kita berubah menjadi sesuatu yang tidak kita kehendaki, kita tidak boleh meninggalkannya akan tetapi harus tetap sabar dan mendoakannya. Hanya Tuhan sendiri saja yang dapat memisahkannya dengan maut. Gereja katolik sendiri, tidak mempunyai hak untuk memisahkan sebuah perkawinan. Jadi, itulah indahnya sebuah perkawinan katolik.

  7. @Rafael ..

    Tulisan anda yang ini :

    “Gereja katolik sendiri, tidak mempunyai hak untuk memisahkan sebuah perkawinan. Jadi, itulah indahnya sebuah perkawinan katolik.” adalah tidak tepat…

    Dari Katekismus Gereja Katolik 2032, dikatakan :

    “Gereja adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran” (1 Tim 3:15). “Perintah resmi Kristus untuk mewartakan kebenaran yang menyelamatkan itu diterima oleh Gereja dan para Rasul” (LG 17). “Gereja berwenang untuk selalu dan di mana-mana memaklumkan asas-asas kesusilaan, pun yang menyangkal tata kemasyarakatan, dan untuk membawa suatu penilaian tentang segala hal-ikhwal insani, sejauh hak-hak asasi manusia atau keselamatan jiwa menuntutnya” (CIC can. 747, ? 2).

    Pada prinsipnya memang benar, sebuah pernikahan yang sah [di dalam GK] dan disempurnakan dengan hubungan intim antara suami dan isteri, tidak terceraikan kecuali oleh maut. Namun Gereja memiliki hak untuk memisahkan sebuah pernikahan untuk kasus-kasus tertentu. anda bisa baca-baca mengenai hal tersebut di “topik pernikahan dan perceraian menurut iman Katolik.”

  8. Dear all,

    Hukum (dalam hal ini Hukum Gereja) itu bukan soal “ya atau tidak”, boleh atau tidak boleh” atau soal “harus atau tidak harus”… tapi hukum itu soal nurani atau kepekaan. Jika kasih itu dijunjung tinggi maka tidak ada satu pun hukum yang dilanggar. Hukum hanya membantu agar kasih itu dapat disalurkan secara lebih baik. Di sinilah letak kebijaksanaan itu.

    Mengenai kasus ibu Vyk, dapat saya komentari sebagai berikut:

    1. Seandainya benar bahwa pernikahan ibu Vyk itu terpaksa karena kemauan ibu Vyk saja (bukan kemauan kedua-duanya) maka itu adalah resiko yang harus ibu tanggung sendiri. Solusi pembatalan perkawinan tidak akan pernah jadi sah secara hukum Katolik jika ibu yang memintanya. Ketika menikah dulu ibu adalah pribadi yang bebas dan tidak terpaksa menikah dengan suami ibu (meski dia muslim). Gereja merestui cinta ibu dan ibu sudah berjanji (menyanggupi) di hadapan Tuhan dan imam untuk menjaga pernikahan ibu dengan setia sampai maut memisahkan. Jika sekarang ibu menghendaki perceraian, lalu apa harganya janji ibu itu??? Ibu harus konsekuen dengan janji ibu dulu dan itu yang berharga bagi seorang manusia. Manusia yang tidak bisa pegang komitmen adalah tidak berharga sama sekali. Tolong ibu renungkan baik-baik hal ini; jangan membuat keputusan karena emosi saja; karena dalam hal ini saya melihat bahwa tuntutan cerai itu disebabkan karena ketidak-sanggupan ibu menerima konsekuensi (memegang komitmen) lalu ibu berharap gereja mau merestui niat ibu. Sekali pun perkawinan ini (akhirnya) bisa dibatalkan, tapi amat disayangkan motivasinya.

    2. Jika suami ibu (yang muslim) itu yang meminta cerai karena dia menikah dengan ibu karena terpaksa dan bukan karena cinta, maka gereja dapat mempertimbangkan (dari segala aspek) untuk membatalkan perkawinan tersebut. Dasarnya ialah karena ada hal penting yang tidak terpenuhi saat hendak menikah, yaitu cinta. Dasar utama perkawinan Katolik adalah cinta (saling mencintai). Jika tidak ada cinta, maka tidak boleh dinikahkan. Jadi jika salah satu pihak terpaksa menikah maka azas “tidak terceraikan” dalam perkawinan Katolik akan gugur dengan sendirinya; karena azas tersebut berlaku dalam syarat-syarat tertentu, salah satu dan yang terutama adalah saling mencintai.

    3. Saran saya, sebaiknya ibu jalani perkawinan ibu dengan segala konsekuensinya. Komitmen (kesetiaan) adalah segalanya dan itu yang berharga di hadapan Tuhan. Ia pasti menghargai komitmen ibu. Ibu harus menjalani ini dengan pertobatan yang sungguh-sungguh dan terus-menerus berdoa memohon pengampunan; apalagi ibu pernah selingkuh meski mungkin tidak sampai berzinah. Ditinggalkan suami bukan akhir dari segala-galanya, tapi berjuang mempertahankan perkawinan ibu adalah di atas segala-galanya. Hasilnya? Kita tidak tahu… tapi proses harus dijalani dengan sungguh-sungguh untuk melihat hasilnya nanti. Pertobatan adalah suatu proses, jadi jangan terburu-buru ingin melihat hasilnya.

    Demikian. Saya berdoa untuk ibu Vyk.

  9. Ibu Vyk yang saya kasihi…………
    Pengalaman ibu sungguh pahit dan penuh derita.
    Tetapi yang saya saluti adalah kesetiaan ibu dalam menjaga dan mempertahankan iman kristiani.
    Brangkali yang penting bagi ibu adalah membangun kemandirian ekonomi agar tidak bergantung pada suami sepenuhnya sehingga ibu dapat membesarkan anak ibu dalam iman kristiani. Sama seperti manusia lain yang punya kehendak, akal dan perasaan sehingga begitu juga suami ibu mempunyai kebebasan untuk bertindak sehingga ketika ibu tidak dapat memaksa suami ibu untuk memenuhi tuntutan nilai kristiani sebagaimana yang ibu yakini.
    Di sinilah ibu dapat menghayati kekayaan harta gereja dalam ajaran perkawinan yang bersifat satu dan selama-lamanya.
    Naluri keibuan ibu harusnya mengalahkan naluri keistriaan ibu.

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>