Suami malas kerja
Saya menikah secara katolik dengan keadaan hamil 2 bulan sedangkan suami beragama Islam ( Islam KTP orang bilang begitu) cenderung kejawen ( kepercayaan Jawa). Mmg saya merasa dibohongi wkt kenal suami dia mengaku katolik, ternyata mmg keluarganya dulu terutama ibu mertua saya katolik lalu menikah dengan bapak mertua pindah masuk Islam.
Tapi saya sudah tdk ambil pusing kenyataannya saya sudah mengandung anaknya, sampai 4 tahun perkawinan kami ini saya tidak pernah tinggal serumah dengan suami , saya tinggal di sby saya bekerja sbg staff tetap di perusahaan nasional, hanya beberapa bulan suami pulang sampai saya dikaruniai anak kedua, itupun biaya smua kebutuhan melahirkan hingga membesarkan anak2 dengan gaji saya sendiri , suami jarang sekali kirim uang , pekerjaan suami saya proyekan (borongan) finishing di Bali yang penghasilannya g tentu kadang ada kadang tidak dan alasannya uangnya belum cair kalo saya minta uang susu buat anak2nya, itulah kenapa saya tdk mau ikut suami karena saya masih pny tanggungan utang dan pny pekerjaan , waktu nikah jg smua biaya dari tabungan saya sendiri suami hanya menyumbang sedikit.
Sampai saat ini hutang saya blum lunas karena kebutuhan anak semakin bertambah, dan saya beli rumah cicilan tadinya suami janji mau bantu tapi kenyataan tidak lama kelamaan saya jg berat harus nanggung semuanya sendiri, saya ingin sekali suami tinggal bersama2 dan pny pekerjaan yg g perlu jauh2 , pernah suatu saat saya carikan pekerjaan dia cari alasan lagi mau ambil kendaraannya sendiri untu cari pekerjaan g taunya dia g kembali2 sampai anak bolak-i sakit opname di Rumah sakit dia jg g pernah nongol alasannya mungkin gengsi g pny uang.
Pada akhirnya ortu menyarankan tidak perlu diperbaiki lagi karena watak suami saya malas kerja dan cuma bisa nya menggantungkan orang lain dan mungkin dia menikah dengan saya hanya mau menggerogoti saya , tapi kenyataannya saya sudah habis banyak uang yg keluar tanpa ada pemasukan , mana tanggung jawabnya apa hanya menikahi saya aja setelah dulu dia menghamili saya?!!
Romo, apa yang harus saya lakukan? kalo saya masih bisa mengampuni kesalahan suami saya sedangkan suami saya g pernah sadari itu karena menurut dia apa yang sudah dilakukan itu sudah benar , salah saya sendiri kenapa saya g mau ikut suami ?? sedangkan soal utang saya, ortu saya yg harus tanggung, dia bilang begitu sama saya.
Saya mau bertahan karena anak2 masih butuh perhatiannya tapi suami hanya sayang aja tetapi secara materi dia lebih perhatian ke sodara dan keluarganya sedangkan anak & istrinya kurang diperhatikan.
Mohon saran dari Romo, Terima kasih – GBU (Mariana)







Pernikahan anda sebenarnya memiliki dasar untuk dibatalkan menurut hukum Gereja, karena pernikahan anda terjadi tanpa landasan cinta, terlebih bila benar tulisan anda, bahwa ia membohongi diri anda dengan mengaku sebagai seorang Katolik. saya sangat mungkin anda mengajukan anulasi untuk pernikahan anda.
saya tidak tahu apakah anda masih mencintai suami anda atau tidak. Sebenarnya bila masih ada cinta di antara kalian, bukan hanya seorang, tetapi keduanya, maka pernikahan masih bisa dipertahankan sesuai kehendak Allah. Tetapi yang sulit apabila salah satunya sudah tidak merasakan cinta itu lagi karena seluruh isi hatinya dipenuhi oleh masalah rumah tangga yang tak kunjung terselesaikan atau bahkan tidak jelas akhirnya.
Tindakan suami anda dari cerita anda, tidak sesuai dengan ajaran Gereja. Saya khawatir ia tidak serius membangun rumah tangga ini karena dari awal pernikahan, ia menikahi anda karena terpaksa [karena ingin bertanggung jawab atas kehamilan anda di luar nikah].
saran saya, jika anda ingin mempertahankan rumah tangga anda, sebaiknya anda berbicara dengan suami anda tentang masa depan keluarga dengan suasana yang tenang, dan penyampaian yang bijak tidak dengan kemarahan atau kekesalan. hal ini juga untuk melihat indikasi apakah suami anda hendak mempertahankan bahtera keluarga ini atau ia hanya “menumpang” hingga ia memutuskan untuk keluar dari bahtera itu untuk mencapai tujuan hidupnya sendiri. Perlu ada komitmen yang diiringi dari tindakan nyata untuk sebuah perubahan di kedua belah pihak. Mulai dari kerja sama menyelesaikan masalah-masalah rumah tangga, termasuk masalah ekonomi keluarga. Jika indikasi ini tidak ada, maka anda punya pilihan.
1. anda tinggalkan masalah suami sementara waktu, tidak perlu pusing dulu, dan fokus pada kehidupan anda dan anak. ini yang perlu anda lakukan. Jangan biarkan masalah itu mengganggu anda, karena besar kecil akan ada efek negatif terhadap diri anda dan mempengaruhi aktifitas anda dan sikap anda dengan orang-orang di sekitar anda, dan tidak tertutup kemungkinan kepada anak anda (sadar atau tanpa anda sadari).
Mulailah buat prioritas apa yang hendak anda capai dan anda lakukan. Mulailah membuat rencana.
2. Jika suami anda muncul dan mengganggu, mintalah supaya dia tidak melakukannya lagi. Katakan anda ingin meminta ruang dan waktu untuk berkonsentrasi untuk anak-anak anda. Sementara itu, anda katakan bahwa anda tidak ingin direpotkan oleh kehadiran dan urusan pribadi atau bisnisnya. sampai berapa lama ? sampai anda siap dan utuh untuk berhadapan dengan masalah ini.
3. anda bisa berkonsultasi dengan orang yang anda hormati atau dengan seorang profesional konselor untuk masalah pernikahan anda. atau anda bisa berkonsultasi dengan romo paroki jika memang ada kesempatan. Setidaknya anda tidak melulu seorang diri memikirkan masalah itu. akan lebih baik anda sharing ke orang yang bisa memberikan opsi jalan keluar untuk memecahkan masalah anda.
untuk sementara itu dulu… May God bless your steps and give you strength
Yth. Mbak Mariana,
Maaf, bila dirasa saya lancang menjawab surat mbak padahal mbak tanya ke romo.
Kelihatannya ada beberapa hal yang perlu disadari dari kasus suami mbak tersebut.
1. Kelihatannya suami mbak memang malas ya, karena sudah bertahun tahun koq tidak ada perubahan. Sebagai seorang Katolik, sekarang tinggal mbak pilih saja:
a. punya suami yang malas yang hidup bersama mbak;
b. punya suami yang malas tapi hidup tidak bersama mbak;
masing masing punya akibatnya sendiri-sendiri. Kalo hidup bersama dengan mbak,
apakah suami akan terlalu cerewet karena cemburu terhadap mbak yang punya penghasilan? Bila begitu apakah mbak akan tahan?
apakah suami akan kooperatif membantu mbak ngurus anak sehingga mbak bisa bebas cari uang?;
apakah suami yang tak berpenghasilan itu tidak akan merongrong mbak dengan malah minta uang ke mbak?
Masa lalu sudah lewat, tidak dapat disesali lagi. Yang ada adalah masa kini dan masa depan. Bagaimana mbak mencukupi anak anak mbak untuk segala urusan. TIDAK PERLU MENUNTUT apa apa pada suami karena akan bikin sakit hati aja, walaupun selalu ada pengharapan untuk perbaikan. Dorong saja terus untuk kerja tapi jangan menuntut karena mbak memang sudah telanjur salah pilih suami. So, jalani saja salib mbak dalam Tuhan.
Seandainya mbak berpikir untuk annulment, kelihatannya akan sulit karena kalo pun mbak berkata bahwa mbak dibohongi waktu pacaran tentang status Katolik, tapi apakah mbak tetap dibohongi waktu kanonik? Tentu Pastor akan meneliti dengan benar status Katolik-nya.
Seandainya mbak bermaksud cerai, maka yang dapat dilakukan adalah cerai di Pengadilan Negeri. Sedangkan di Gereja mustahil cerai. Itu pun mbak harus menanggung akibat dari cerai di PN.
Saran saya, kalo mbak memperhitungkan bahwa kalo kumpul suami maka suami akan malah bikin susah keluarga ya mending biar saja dia ada di tempat yang jauh. Mbak memang mau gak mau harus menanggung semua sendiri dalam Tuhan. Tapi kalo memang kira kira dia bisa diajak kerjasama mengurus anak ya silakan diajak serumah baik baik dengan kemungkinan tambah anak.
Jangan kecil hati. Didik anak anak mbak untuk ngerti kesusahan mbak. Sebentar lagi kalo mereka sudah bisa ngerti orang tua, mereka akan jauh lebih mengasihi mbak dari pada suami. Jangan lupa toh Tuhan pasti menolong mbak.
salam, rin
menurut pendapat saya suami anda memang keterlaluan.
tapi yg perlu anda renungkan adalah mengapa dulu anda bisa tdk mengenali suami anda mengenai agamanya?
apakah anda memiliki proses pendekatan & pengenalan satu sama lain yg kurang?
apa landasan anda melakukan perkawinan dengan suami anda?
perlu saya tambahkan kpd anda bahwa anda perlu jg memperhatikan bagaimana perasaan anak-anak anda kelak jika anda bercerai dengan suami anda.
menurut pengamatan saya anak-anak yg memiliki keluarga broken home atau orangtua yg bercerai cenderung mengalami stres berat ketika mereka sdh agak besar & bisa melakukan hal-hal yg tdk-tdk.
dlm kasus anda sebenarnya yg sarankan adalah kesabaran adalah jalan keluar terbaik demi anak-anak anda.
bknkah Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kita harus mengampuni 77×7 kali yg mencerminkan pengajaran akan kesabaran & ketabahan (Matius 18:21-22).
dlm kasus anda anak-anaklah yg terpenting.
saran saya coba rundingkan juga dengan suami & keluarga anda serta romo anda mengenai jalan keluar yg terbaik.
lagi saya tambahkan bahwa sebaiknya jalan keluar pembatalan perkawinan menjadi jalan keluar yg benar-benar terakhir & bukan menjadi jalan keluar yg utama.
mungkin di atas saya tdk cocok jika saya menyebutkan bercerai jadi saya sebut saja berpisah krn ajaran Katolik tdk mengenal perceraian.
jadi pikirkanlah jg anak-anak anda sebagai pemikiran yg utama dlm mengambil keputusan dlm penyelesaian kasus anda.
jangan sampai anak-anak anda menjadi korban atas keputusan anda.
Terima kasih byk utk tanggapan2nya, memang saya akui saya salah pilih suami dan pada saat itu saya menerima dia dalam keadaan putus asa dan patah hati, tanpa saya sadari percaya begitu saja dengan mulut manisnya hingga saya begitu pasrah diperdaya hanya dia mengaku-ngaku sebagai orang katolik selama pacaran memang dia tidak mengelak diajak ke gereja dan serius sama saya.
Saya sesali dan syok berat setelah nyata2 saya sudah dihamili dan sempat dia tidak mengakui kehamilan saya dengannya karena kemungkinannya saya bisa aja hamil dengan orang lain bukan dengan dia(waktu itu posisi saya di Surabaya, dia berada di Bali sampai sekarang), saya dibantu dengan sahabat saya dan pada akhirnya dia mau menikahi saya secara katolik dan saya baru tahu waktu proses untuk mengajukan pernikahan di KTP & KSK yg saya minta dari ortunya tertulis agama Islam ,setelah saya tanya kebenaran agama yang dianutnya, dia bilang dia punya byk KTP dengan agama yang berbeda2 dan akhirnya dia mengaku itu akal2annya dia mengaku katolik spy saya tertarik sama dia. Dengan perasaan malu saya mengaku dosa dihadapan Romo paroki kalo saya tidak suci lagi dan cerita semuanya dengan romo sebelum saya mengajukan pemberkatan nikah dan sewaktu kanonik kita mengaku beda keyakinan.
Setelah 4 tahun ini saya jalani hidup bersama anak2 tanpa suami tapi saya masih beruntung pny ortu yang bijaksana, meski kelahiran kedua putri saya tidak sempat didampingi suami sejujurnya saya sedih sekali dan iri dengan pasangan lain yg didampingi suami selama hamil hingga melahirkan tapi saya harus realistis,sabar dan bertahan demi anak2 apapun yang terjadi dan saya ingin mandiri karena ingat tidak selamanya saya bisa bergantung terus dengan ortu suatu saat saya pasti akan kehilangan mereka.
Pernah terpikir ingin cerai, gara2nya dia tidak mau urus surat pindah untuk urus KSK krn anak kedua harus pny KSK sendiri tdk bs gabung dengan ortu,pada akhirnya saya pny KSK sendiri tanpa dia, jadi suami saya statusnya masih bujang dan di setiap pertengkaran kami dia bilang kalo dia mau bisa aja nikah lagi.
Saya tidak menginginkan perceraian & dalam ajaran katolik itu tidak mungkin terjadi kecuali maut.
Saya menginginkan suami tinggal bersama dengan catatan dia harus pny pekerjaan , dia sepertinya tidk mau repot melamar pekerjaan dgn byk prosedur,dia maunya langsung masuk kerja alias melalui koneksi yang tdk perlu bertele-tele padahal kerja proyek jg tdk lepas dari prosedur, dia kerja proyek kerjasama dgn saudara2nya ,pernah dia bilang katanya saudara2nya seharusnya saya ikut suami termasuk pindah keyakinan tapi itu tdk mungkin dianya sendiri tidak mengimani.
Saya mohon bantuan doa dari saudara2 agar saya dikuatkan dalam menjalani hidup sesuai ajaran katolik,sekarang saya fokus memperhatikan anak2 saya tercinta dan keduanya sudah dibaptis, selain itu harapan saya bisa melunasi hutang2 dan bisa menempati rumah saya sendiri krn saat ini saya masih tinggal bersama ortu terus terang finansial saya dibantu mereka karena gaji tidak mencukupi.
Salam persaudaraan dalam Kristus,
Thanks for All & God Bless U
hmm… sulit sekali me-manage rubrik konsultasi ini. karena terlalu bebas anggota menyampaikan pendapatnya dan membuat bingung si penanya..
tidak ada yang salah dengan kesabaran… tetapi kesabaran harus disertai dengan usaha untuk memperbaiki kualitas hidup, ini adalah hal yang penting.
pembatalan pernikahan hanya bisa dilakukan dengan alasan yang kuat yaitu apabila dasar-dasar pernikahan Katolik dari awal memang tidak ada. tentunya akan berbeda bagi mereka yang telah memiliki anak dalam mengambil keputusan.
Ada kasus yang saya tahu, dimana perceraian dianggap menjadi jalan keluar untuk kepastian status pemeliharaan anak. Perpisahan diambil sebagai pilihan untuk menghindari anak dari kerusakan moral atau tekanan jiwa.
Di tempat lain saya menuliskan cukup panjang mengenai bagaimana orang tua menyikapi masa setelah perceraian [bila terjadi], termasuk di dalamnya menghadapi perubahan sikap anak-anak. Hal ini memang harus dilalui bagi mereka yang memilih perceraian atau perpisahan, tetapi akan lebih baik dalam hal berkonsentrasi memperbaiki kualitas hidup baik bagi dirinya dan juga bagi anak-anak dibandingkan tetap berada dalam situasi yang sama terus menerus.
Bagi single parent tentunya adalah sebuah tantangan baru. saya pribadi tidak melihat perceraian adalah sebagai jalan keluar dari masalah keretakan rumah tangga, terutama bagi mereka yang sudah memiliki anak, karena ada hal lain yang besar dan tidak kalah menantang setelah perceraian terjadi bagi seorang single parent. Belum lagi bila perceraian itu tidak diakui oleh Gereja Katolik. Maka ia pun memiliki tantangan besar dalam mempertahankan iman Katoliknya. bagaimana pun saat itu ia menjadi panutan dan guru bagi anaknya dalam pertumbuhan intelektual, moral dan spiritual-nya.
walaupun anda telah menuliskan hal ini…”Saya tidak menginginkan perceraian & dalam ajaran katolik itu tidak mungkin terjadi kecuali maut.”
cobalah berkonsultasi dengan romo paroki, untuk melihat kemungkinan membatalkan pernikahan anda, ceritakan dengan jujur apa yang terjadi dari awal sebelum pernikahan anda..
Seperti yang saya katakan sebelumnya, jika cerita anda benar, maka ada kemungkinan pernikahan anda dibatalkan.. tetapi disetujui atau tidaknya tentunya hanya tribunal Gereja yang dapat memutuskannya..
May God bless your steps..
dari apa yg sdr Mariana utarakan memang apa yg dialami oleh sdr Mariana sangatlah sulit.
yg saya bisa sarankan utk kebaikan sdr Mariana adalah sebisa mungkin sdr Mariana sabar dalam apa yg sdr Mariana alami saat ini demi kebaikan anak-anak anda.
jika memang tindakan suami sdr Mariana sdh benar-benar keterlaluan maka sdr Mariana bisa berkonsultasi dengan romo mengenai jalan terbaik atau pembatalan perkawinan.
spt yg sdr Johan sebutkan bahwa pembatalan perkawinan tdklah semudah itu krn hal ini tdk boleh dilakukan secara asal-asalan.
percayalah bahwa Bapa itu Maha Baik & tidak buta & apa yg suami anda lakukan & apa yg anda lakukan demi kebaikan keluarga akan mendapatkan ganjarannya sendiri-sendiri namun jangan jadikan hal ini utk menuntut pembalasan kpd Bapa utk suami anda krn hal itu merupakan dosa.
doakanlah suami anda selalu agar suami anda sadar & mau bertobat serta kembali ke jalan yg benar sesuai apa yg diajarkan oleh Tuhan Yesus dlm Matius 5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
memang saya tahu bahwa hal itu sangat sulit dilakukan namun cobalah untuk bersabar sdr Mariana.
apa yg sdr Mariana alami adalah cobaan dr Tuhan.