Suami KDRT dan sexual abuse
Dear Romo dan team,
Pengalaman saya kurang lebih hampir sama dengan Ibu Synthia yg dikirim tgl 28 January 2009.
Suami adalah tipe yg keras kepala dan ringan tangan. Untuk hal ini ceritanya hampir sama dengan Ibu Synthia, dimana saya telah melaporkan kelakuan suami ke kantor polisi dua kali.
Pertama, pagi hari jam 5 pagi sekitar Agustus 2004, setelah saya melahirkan anak pertama. Ketika itu bagian mulut mengalami cedera dan bengkak. Laporan kedua terjadi tahun 2009. Seperti biasa KDRT dilakukan oleh pihak suami karena dia tidak menyukai pembicaraan yang kita lakukan. Dia tidak bisa kontrol diri, sehingga tangan yang ia gunakan.
suami adalah tipe yang sebenarnya tidak mempunyai percaya diri. Kejadian dimulai pada hari pertama perkawinan dimana saya menemukan begitu banyak jimat yang dia bawa ke rumah. kami tinggal di rumah orang tua saya. Saya sudah tahu dia menggunakan hal tesebut ketika masih dalam proses pacaran. Cuma saya pikir dia tidak akan menggunakan ketika kami menikah mengingat dia tentunya mempertimbangkan tinggal di rumah mertua. Kenyataannya dia membawa barang-barang tersebut, saya ketemukan dan kaget dan takut.
Atas anjuran keluarga barang tersebut dicek, dan cerita malah berbalik ke arah saya. Pembantu yang bekerja membuat rumor mengatakan itu barang saya. Suami yang bersifat pengecut, malah senang dengan keadaan ini dan terus melakukan teror kepada saya… sampai sekarang. Setiap kali dia tidak setuju dengan perkataan saya atau cara saya mendidik anak (saya mendidik anak secara katolik, walaupun diam-diam)dia sekarang menteror anak saya dengan menakuti anak mengenai setan dan juga menjelek2 kan saya. Dia terus berusaha menjatuhkan saya di depan anak, dan akibatnya emosi anak menjadi terganggu. Anak gampang marah, memukul saya dan sebagainya. Saya perlu usaha keras untuk menasehati anak saya supaya tidak takut kalau dia benar, dan tidak perlu mendengar perkataan bapaknya. Disini saya masih memberi ‘toleransi’ dengan mengatakan kepada anak saya, bila yang dinasehati bapaknya adalah hal yg baik, maka mereka bisa dengar. Bila tidak, saya katakan kepada mereka bahwa mereka punya hak untuk tidak mendengar, sekalipun itu bapaknya.
Sampai sekarang bisa dikatakan saya tidak bisa punya PRT. PRT akan dengan mudahnya memilih posisi mereka ada dimana, yaitu tentu berada di pihak suami saya, karena suami saya begitu mudah nya memberi uang extra, dan juga rajinnya membeli makanan. Dia juga rajin sekali mengadu domba, sehinggal PRT sepertinya ‘bahagia’ karena seolah2 mereka yang diutamakan dibandingkan saya sebagai istrinya.
Karena itu, PRT senang sekali membuat cerita yang tidak baik mengenai saya. Dan betapa bodohnya suami saya, dia akan telan itu bulat2, tanpa menganalisa atau bertanya kepada saya. Atau mungkin karena suami tidak PD jadi begitu bahagia bila mendapat laporan yang tidak baik mengenai saya, sehinggal seolah-olah dia mempunyai teman.
Singkat kata, akhir2 ini yang dilakukan suami adalah ’sexual abuse’ terhadap anak. Dia mengajar anak untuk hal yang terlalu dewasa. Saya tahu ini dari anak saya. Saya tidak tahu bagaimana…. , apakah saya akan menceraikannnya, demi masa depan anak saya. Atau saya bawa dia ke konsultasi. (saya sudah pernah membawa dia dengan menggunakan tehnik menghilangkan trauma – karena saya lihat suami adalah pendendam yang tidak dapat menghilangkan masa lalu dia, ambil contoh, dia membenci orang tua saya, walaupun orang tua saya sudah tidak ada. Membencinya juga dengan cara yang aneh, yaitu selalu curiga bila saya ke bekas kamar orang tua).
Romo dan team,
Apa yang harus saya lakukan? Saya tidak mau masa depan anak saya atau secara psychology anak saya terganggu. Saya adalah wanita yang bekerja dan sekarang telah memprioritaskan anak2 sehingga, banyak sekali saya absen dari kantor. setiap kali saya lihat anak2 secara emosional terganggu, atau melakukan hal2 yang menurut saya tidak pantas… saya ambil cuti untuk memulihkan kepercayaan mereka kembali dan mendampingi mereka. (PRT merupakan kaki tangan suami, sehingga tidak bisa dipercaya). Hidup memang seperti di neraka, yg kadang membuat maag saya kambuh, dan saya lihat anak saya yg besar juga sudah mulai ada gejala maag.. (karena kalau makan, sering ditakuti untuk tidak makan).
apakah suami saya gila? Pantaskah seorang istri menerima semua ini? Bukankan saya juga harus fight walaupun dia adalah suami?
Oh iya, kami beda agama, suami adalah Islam, dan saya Katolik. Menikah dengan surat seraca Islam. Anak paling besar 6 th dan yg kecil 4 th. Kami berdua bekerja.
Saya tidak tahu apakah saya harus menceraikan dia? Apa dampaknya terhadap anak2 bila itu memang terjadi? anak saya dua2nya laki2.
Mohon bimbingannya. Terima kasih.
Blue







Dear Blue,
Mungkin baik bila dibantu dengan hypnotherapy terlebih dulu. Saya menganjurkan demikian karena tampaknya suami anda akut. Boleh coba hubungi: arifiny2567@yahoo.com
Baru setelah keakutannya reda, baik bila diikuti development. Untuk development keluarga, silakan japri: rini2107@yahoo.com
salam, rin
@Blue…
Di mata GEreja, pernikahan anda tidak sah, sehingga saat ini kehidupan anda dengan suami anda adalah perzinahan. Oleh karenanya hal pertama yang perlu anda lakukan adalah mencari pengampunan Allah dengan menerima sakramen tobat.
Lalu hal selanjutnya yang harus kamu lakukan adalah memisahkan antara anak-anakmu dari suamimu, sehingga sebaiknya anda dan anak-anak anda hidup terpisah darinya untuk sementara waktu.
Dalam kasus anda, bila anda tidak bisa kembali ke Gereja Katolik karena suami anda menghalangi maka sebaiknya anda tidak meneruskan kehidupan pernikahan dengan suami anda.
Terlebih hal ini didukung oleh suami yang menolak atau sulit memperbaiki sikap dan perbuatannya.
Secara psikologi perceraian orang tua memberikan dampak negatif kepada anak. Namun dalam kasus KDRT hal itu bisa jadi menjadi pilihan yang terbaik dari yang terburuk, bila di lihat dari perkembangan psikis anak. Anda tidak tahu hal yang lebih buruk apa yang akan menimpa anda atau anak anda. Itu sebabnya lebih anda melakukan pencegahan yang bisa anda lakukan.
Hal terberat dalam hal ini adalah ketika anak diminta memilih dan anak anda sebenarnya memilih suami anda. walaupun secara hukum anak di bawah 12 tahun berada di bawah asuhan sang ibu, terlebih adanya fakta dan bukti suami anda melakukan KDRT dan tindakan tidak layak sebagai seorang ayah terhadap anaknya, perjuangan anda cukup berat untuk meyakinkan si anak, bahwa itu adalah hal terbaik baginya. Ini adalah suatu tantangan yang harus anda hadapi. Tetapi percayalah bila anda kembali kepada-Nya, Allah pasti menolong anda.
Carilah dukungan keluarga, dan orang-orang terdekat anda.
Dan jangan lupa menerima sakramen Ekaristi… Dan terakhir berdoalah, doa orang benar besar kuasanya.. (jadi ingatlah, hal pertama, menjadi orang benar.. kembalilah ke pangkuan pGereja KAtolik)
May God bless your steps…