<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Suami-Istri Berkonflik, Anak-anak Lelah</title>
	<atom:link href="http://gerejastanna.org/suami-istri-berkonflik-anak-anak-lelah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gerejastanna.org/suami-istri-berkonflik-anak-anak-lelah/</link>
	<description>Situs Resmi Gereja St. Anna - Paroki Duren Sawit, Jakarta Timur</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 May 2012 21:35:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: ibnurini</title>
		<link>http://gerejastanna.org/suami-istri-berkonflik-anak-anak-lelah/comment-page-1/#comment-968</link>
		<dc:creator>ibnurini</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Jul 2009 03:23:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=426#comment-968</guid>
		<description>TP,
Mo Sudri benar.
coba lepaskan dulu kegetiran dalam hidup anda dan saudara saudara.  

Memang ruwet tapi bila dipetakan kelihatannya masalahnya ada 4:
1. Masalah Mama
Mama sudah terlalu lama jadi korban Bapak.  Selama kalian belum dewasa Mama bertahan tidak membalas demi kalian.  Bahkan Mama berjuang sekolah kalian apapun yang terjadi.  Begitu kalian dewasa Mama kelihatannya tiba tiba berani melawan (sebetulnya dari dulu juga berani) karena anak sudah tidak jadi soal.


2. Masalah Bapak
Bapak memang kasar dari awal.  Makin tua makin kasar.

3. Masalah Mama - Bapak
Dulu Bapak menyakiti Mama.  Belakang hari mereka saling menyakiti.

4. Masalah anda dan saudara saudara
Kalian terlalu jenuh dengan persoalan Mama - Bapak sejak kecil.

Yang mana yang mesti diselesaikan dulu?  Justru kalian harus lepas dulu dari kejenuhan itu.  Mungkin kalian terus ada dalam masalah itu tapi TERIMALAH bahwa masalah itu toh mau gak mau emang terjadi dalam keluarga.  MAAFkanlah.  KELUARlah dari masalah dan pandanglah itu sebagai just as a problem.  Not my own problem.
BERSYUKURLAH bahwa sesungguhnya kalian adalah anak TUHAN yang gak pake cekcok dan BERBELASKASIHANlah terhadap ortu kalian yang berumahtangga tapi tidak menikmatinya.

Apapun yang dikeluhkan Mama, TERIMALAH.  Berlapang hatilah.  Pahami bahwa Mama sudah puluhan tahun berjuang malah jadi korban 

No. 2 yang harus diselesaikan: Mama
Apa kebutuhan mendasar Mama?  Penghargaan dan perhatian dari anak anak.  Bukan uang.  Pujilah Mama, say I love you, ajak Mama bersyukur, pada akhirnya ajak Mama memaafkan Bapak.  Ajak Mama melihat secara obyektif bahwa Bapak yang sudah pulang kampung kan jauh dari keluarga.  Bayangkan kalo Bapak tua dan sakit, siapa yang akan mengurus Bapak?
Mama lebih beruntung karena dekat dengan anak anak.  Kalau sikap sudah mulai cair, ajak Mama bercanda canda soal ini, misal saat Mama mengungkit kekasaran Bapak, coba nyeletuk,&quot;Yah... bukannya itu suami Mama? hehehe....&quot;

Prosesnya tidak mudah, dan pasti perlu waktu loamaaaa.  Tapi bisa dicoba.  

No. 3 Bapak
Kenapa sih Bapak koq kasar?  apakah lingkungannya dulu memang kasar? ato Bapak tidak pernah bahagia selama hidup? Kalo emang gitu, ya beri apa yang beliau perlukan.
Mintalah maaf kepada Bapak kalo kalo kalian menyebabkan sulit hidupnya.  Beri perhatian.

Bagi bapak bapak mungkin kikuk kalo tiba tiba anak say I love you.  Tapi kalo sesekali anak anak mengunjunginya, ato ditelfon, ditanya perlunya apa, diajak doa bersama.  Mungkin hatinya bisa senang juga ya.  Apa lagi kalo ada cucu yang bisa diajak main main sesekali.

No. 4 Mama - Bapak
Jangan terlalu berharap.  Bapak sudah jauh di kampung kan sudah tidak membuat percekcokkan.  Tapi orang sakit hati TETEEUUUUP melawan orang yang tidak ada, itu biasa.  Berbesar hatilah.  kalo semua sudah bisa memaafkan yaaaa.... bolehlah sekali sekali semua kencan dimanaaaa untuk makan bersama misalnya.  kalo perlu blind date dulu ya monggo, soale kalo Mama Bapak sudah diberitahu dulu kan paling ogah datang.

Yang paling penting berdoalah!  Kelihatannya Roh Kudus paling harus kerja keras untuk mencairkan hati yang beku.

salam, rin</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>TP,<br />
Mo Sudri benar.<br />
coba lepaskan dulu kegetiran dalam hidup anda dan saudara saudara.  </p>
<p>Memang ruwet tapi bila dipetakan kelihatannya masalahnya ada 4:<br />
1. Masalah Mama<br />
Mama sudah terlalu lama jadi korban Bapak.  Selama kalian belum dewasa Mama bertahan tidak membalas demi kalian.  Bahkan Mama berjuang sekolah kalian apapun yang terjadi.  Begitu kalian dewasa Mama kelihatannya tiba tiba berani melawan (sebetulnya dari dulu juga berani) karena anak sudah tidak jadi soal.</p>
<p>2. Masalah Bapak<br />
Bapak memang kasar dari awal.  Makin tua makin kasar.</p>
<p>3. Masalah Mama &#8211; Bapak<br />
Dulu Bapak menyakiti Mama.  Belakang hari mereka saling menyakiti.</p>
<p>4. Masalah anda dan saudara saudara<br />
Kalian terlalu jenuh dengan persoalan Mama &#8211; Bapak sejak kecil.</p>
<p>Yang mana yang mesti diselesaikan dulu?  Justru kalian harus lepas dulu dari kejenuhan itu.  Mungkin kalian terus ada dalam masalah itu tapi TERIMALAH bahwa masalah itu toh mau gak mau emang terjadi dalam keluarga.  MAAFkanlah.  KELUARlah dari masalah dan pandanglah itu sebagai just as a problem.  Not my own problem.<br />
BERSYUKURLAH bahwa sesungguhnya kalian adalah anak TUHAN yang gak pake cekcok dan BERBELASKASIHANlah terhadap ortu kalian yang berumahtangga tapi tidak menikmatinya.</p>
<p>Apapun yang dikeluhkan Mama, TERIMALAH.  Berlapang hatilah.  Pahami bahwa Mama sudah puluhan tahun berjuang malah jadi korban </p>
<p>No. 2 yang harus diselesaikan: Mama<br />
Apa kebutuhan mendasar Mama?  Penghargaan dan perhatian dari anak anak.  Bukan uang.  Pujilah Mama, say I love you, ajak Mama bersyukur, pada akhirnya ajak Mama memaafkan Bapak.  Ajak Mama melihat secara obyektif bahwa Bapak yang sudah pulang kampung kan jauh dari keluarga.  Bayangkan kalo Bapak tua dan sakit, siapa yang akan mengurus Bapak?<br />
Mama lebih beruntung karena dekat dengan anak anak.  Kalau sikap sudah mulai cair, ajak Mama bercanda canda soal ini, misal saat Mama mengungkit kekasaran Bapak, coba nyeletuk,&#8221;Yah&#8230; bukannya itu suami Mama? hehehe&#8230;.&#8221;</p>
<p>Prosesnya tidak mudah, dan pasti perlu waktu loamaaaa.  Tapi bisa dicoba.  </p>
<p>No. 3 Bapak<br />
Kenapa sih Bapak koq kasar?  apakah lingkungannya dulu memang kasar? ato Bapak tidak pernah bahagia selama hidup? Kalo emang gitu, ya beri apa yang beliau perlukan.<br />
Mintalah maaf kepada Bapak kalo kalo kalian menyebabkan sulit hidupnya.  Beri perhatian.</p>
<p>Bagi bapak bapak mungkin kikuk kalo tiba tiba anak say I love you.  Tapi kalo sesekali anak anak mengunjunginya, ato ditelfon, ditanya perlunya apa, diajak doa bersama.  Mungkin hatinya bisa senang juga ya.  Apa lagi kalo ada cucu yang bisa diajak main main sesekali.</p>
<p>No. 4 Mama &#8211; Bapak<br />
Jangan terlalu berharap.  Bapak sudah jauh di kampung kan sudah tidak membuat percekcokkan.  Tapi orang sakit hati TETEEUUUUP melawan orang yang tidak ada, itu biasa.  Berbesar hatilah.  kalo semua sudah bisa memaafkan yaaaa&#8230;. bolehlah sekali sekali semua kencan dimanaaaa untuk makan bersama misalnya.  kalo perlu blind date dulu ya monggo, soale kalo Mama Bapak sudah diberitahu dulu kan paling ogah datang.</p>
<p>Yang paling penting berdoalah!  Kelihatannya Roh Kudus paling harus kerja keras untuk mencairkan hati yang beku.</p>
<p>salam, rin</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Simple Pilgrim</title>
		<link>http://gerejastanna.org/suami-istri-berkonflik-anak-anak-lelah/comment-page-1/#comment-957</link>
		<dc:creator>Simple Pilgrim</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 17:07:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=426#comment-957</guid>
		<description>TP,
Perkenankanlah saya ikutan masuk ke rubrik ini. Romo sudah memberikan respons, saya hanya ingin membagikan pengalaman mengenai hal yang mirip-mirip dengan masalah Anda. 

Saya lihat,satu hal yang absen dalam hubungan keluarga TP  adalah &quot;KASIH&quot;. Bila landasan yang mendasari karya Bapak dan Mama TP adalah kasih, pasti tidak ada seorang Bapak yang terus menerus berlaku kasar kepada Mama yang telah setia mendampingi termasuk mengusahakan pengadaan keuangan keluarga. Mungkin dahulu Mama tidak melawan, demi anak-anak. Namun, perlakuan kasar yang terpaksa diterimanya selama bertahun-tahun tak ayal telah menumpuk akar pahit dan sakit hati di dalam diri Mama.  Pada awalnya,saya rasa Mama TP memang melaksanakan &quot;tugasnya&quot; dengan tulus hati, akan tetapi kepahitan hati yang mendalam telah mengikis kasih di dalam dirinya sehingga Mama pun menjadi &quot;pahit&quot;. 

Keadaan hati Mama yang terlanjur menjadi &quot;pahit&quot; tampak dari kecenderungannya membalas untuk menyakiti Bapak, juga tidak senang bila anak-anaknya membantu atau pun mendukung Bapaknya ,karena tindakan tersebut dipandang Mama sebagai keberpihakan terhadap suaminya yang kejam,dan bukan dirinya sendiri,orang yang selama ini telah setia melayani keluarga,namun disakiti sedemikian rupa. Yang mengejutkan, Mama bahkan tega mencetuskan kata-kata pedas terhadap anak-anaknya yang terkesan mengungkit-ungkit pelayanan dan pengorbanan yang telah dia buat di masa lalu.  Padahal,seperti yang kita ketahui,hal-hal baik yang telah Mama lakukan,pengorbanan yang ia berikan bagi keluarga,tidak peduli seberapa pun besarnya, memang merupakan sesuatu yang wajar dilakukan oleh seorang ibu yang sungguh mengasihi anak-anaknya. 

Sangat disayangkan bahwa pada usia senja yang semestinya bisa dilalui dengan bahagia dan penuh syukur, menuai hasil jerih payah yang telah mendukung kesuksesan kelima puteranya,hubungan Bapak dan Mama TP malah berkembang menjadi semakin tidak harmonis.

Berdasarkan pengalaman saya dalam menghadapi masalah seperti ini,saya usulkan TP dan keluarga mengadakan pendekatan &#039;KASIH&#039;. Mungkin TP dan saudara2 perlu mendengarkan dahulu keluh kesah Mama dan cobalah mengerti serta tidak tawar hati bila dari mulut Mama terucap kata-kata yang kurang pantas. Perlu diingat,Mama adalah korban. Suatu pepatah yang pernah saya dengar mengatakan:&quot;Orang yang sakit,menyakiti&quot;. Disini diperlukan kesediaan TP dan saudara2 untuk tidak jemu-jemu menunjukkan kasih dan simpati seorang anak yang berbakti kepada Mamanya. Dan satu hal yang terpenting,yang seharusnya tidak dilupakan oleh TP dan saudara2 adalah mendoakan Bapak dan Mama. Andalkanlah Tuhan,karena hanya Dia yang mampu mengubahkan hati Bapak dan Mama. Setialah berdoa,dan Anda akan melihat jawaban Tuhan pada waktuNya. Firman Tuhan mengatakan : &quot;Doa orang yang benar,bila dengan yakin didoakan,sangat besar kuasanya.&quot;

Setelah TP dan saudara2 berhasil mendekati Mama, cobalah arahkan Mama untuk kembali membangun kasih yang telah retak di dalam keluarga, dan untuk berusaha mengampuni Bapak tanpa batas, seperti yang telah Tuhan Yesus sendiri ajarkan. Ajaklah Mama untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dengan lebih rajin membaca Alkitab dan berdoa.  Allah kita adalah kasih,dan merupakan suatu hal yang mustahil seseorang yang tidak dekat denganNya akan mampu mengasihi sesamanya. Terus tampakkan penghargaan seorang anak akan jerih payah yang telah Mama lakukan untuk keluarga.

 Secara simultan,TP dan saudara2 perlu setia melakukan hal yang serupa terhadap Bapak. Namun, jangan dilupakan bahwa sepandai apa pun kita berbicara tidak akan ada kuasanya bila tidak menyertakan Tuhan dalam rencana-rencana kita. Karena itu, bawalah masalah Anda kepada Tuhan. Dalam Amsal 21 : 1 dikatakan: &quot;Hati raja seperti batang air di dalam tangan Tuhan, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini&quot;.  Bila hati seorang raja yang biasanya &#039;keras&#039;, &#039;congkak&#039; dsb dapat dengan mudah diubahkan oleh Tuhan, apalagi hati Bapak dan Mama TP. 

Karena keempat kakak TP juga merupakan anggota keluarga, meskipun berjauhan tempat tinggalnya,cobalah diajak untuk meluangkan waktu sesekali untuk mendoakan keluarga bersama-sama. Bapak dan Mama TP memerlukan Tuhan untuk menyembuhkan mereka dari sakit hati dan kepahitan mereka (mungkin sekali Bapak juga bersikap kasar karena memiliki luka batin yang ia sendiri tidak sadari). 

Kami dulu pernah mengalami hal yang hampir sama dengan TP dan puji Tuhan, meskipun melalui kurun waktu yang tidak singkat, Tuhan telah mengubahkan semuanya. Saya percaya,apa yang telah Tuhan lakukan dalam hidup kami,juga mampu Ia lakukan bagi Saudara TP dan keluarga. 

Jangan lelah. Jangan menyerah.
Selamat berjuang. Tuhan Memberkati.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>TP,<br />
Perkenankanlah saya ikutan masuk ke rubrik ini. Romo sudah memberikan respons, saya hanya ingin membagikan pengalaman mengenai hal yang mirip-mirip dengan masalah Anda. </p>
<p>Saya lihat,satu hal yang absen dalam hubungan keluarga TP  adalah &#8220;KASIH&#8221;. Bila landasan yang mendasari karya Bapak dan Mama TP adalah kasih, pasti tidak ada seorang Bapak yang terus menerus berlaku kasar kepada Mama yang telah setia mendampingi termasuk mengusahakan pengadaan keuangan keluarga. Mungkin dahulu Mama tidak melawan, demi anak-anak. Namun, perlakuan kasar yang terpaksa diterimanya selama bertahun-tahun tak ayal telah menumpuk akar pahit dan sakit hati di dalam diri Mama.  Pada awalnya,saya rasa Mama TP memang melaksanakan &#8220;tugasnya&#8221; dengan tulus hati, akan tetapi kepahitan hati yang mendalam telah mengikis kasih di dalam dirinya sehingga Mama pun menjadi &#8220;pahit&#8221;. </p>
<p>Keadaan hati Mama yang terlanjur menjadi &#8220;pahit&#8221; tampak dari kecenderungannya membalas untuk menyakiti Bapak, juga tidak senang bila anak-anaknya membantu atau pun mendukung Bapaknya ,karena tindakan tersebut dipandang Mama sebagai keberpihakan terhadap suaminya yang kejam,dan bukan dirinya sendiri,orang yang selama ini telah setia melayani keluarga,namun disakiti sedemikian rupa. Yang mengejutkan, Mama bahkan tega mencetuskan kata-kata pedas terhadap anak-anaknya yang terkesan mengungkit-ungkit pelayanan dan pengorbanan yang telah dia buat di masa lalu.  Padahal,seperti yang kita ketahui,hal-hal baik yang telah Mama lakukan,pengorbanan yang ia berikan bagi keluarga,tidak peduli seberapa pun besarnya, memang merupakan sesuatu yang wajar dilakukan oleh seorang ibu yang sungguh mengasihi anak-anaknya. </p>
<p>Sangat disayangkan bahwa pada usia senja yang semestinya bisa dilalui dengan bahagia dan penuh syukur, menuai hasil jerih payah yang telah mendukung kesuksesan kelima puteranya,hubungan Bapak dan Mama TP malah berkembang menjadi semakin tidak harmonis.</p>
<p>Berdasarkan pengalaman saya dalam menghadapi masalah seperti ini,saya usulkan TP dan keluarga mengadakan pendekatan &#8216;KASIH&#8217;. Mungkin TP dan saudara2 perlu mendengarkan dahulu keluh kesah Mama dan cobalah mengerti serta tidak tawar hati bila dari mulut Mama terucap kata-kata yang kurang pantas. Perlu diingat,Mama adalah korban. Suatu pepatah yang pernah saya dengar mengatakan:&#8221;Orang yang sakit,menyakiti&#8221;. Disini diperlukan kesediaan TP dan saudara2 untuk tidak jemu-jemu menunjukkan kasih dan simpati seorang anak yang berbakti kepada Mamanya. Dan satu hal yang terpenting,yang seharusnya tidak dilupakan oleh TP dan saudara2 adalah mendoakan Bapak dan Mama. Andalkanlah Tuhan,karena hanya Dia yang mampu mengubahkan hati Bapak dan Mama. Setialah berdoa,dan Anda akan melihat jawaban Tuhan pada waktuNya. Firman Tuhan mengatakan : &#8220;Doa orang yang benar,bila dengan yakin didoakan,sangat besar kuasanya.&#8221;</p>
<p>Setelah TP dan saudara2 berhasil mendekati Mama, cobalah arahkan Mama untuk kembali membangun kasih yang telah retak di dalam keluarga, dan untuk berusaha mengampuni Bapak tanpa batas, seperti yang telah Tuhan Yesus sendiri ajarkan. Ajaklah Mama untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dengan lebih rajin membaca Alkitab dan berdoa.  Allah kita adalah kasih,dan merupakan suatu hal yang mustahil seseorang yang tidak dekat denganNya akan mampu mengasihi sesamanya. Terus tampakkan penghargaan seorang anak akan jerih payah yang telah Mama lakukan untuk keluarga.</p>
<p> Secara simultan,TP dan saudara2 perlu setia melakukan hal yang serupa terhadap Bapak. Namun, jangan dilupakan bahwa sepandai apa pun kita berbicara tidak akan ada kuasanya bila tidak menyertakan Tuhan dalam rencana-rencana kita. Karena itu, bawalah masalah Anda kepada Tuhan. Dalam Amsal 21 : 1 dikatakan: &#8220;Hati raja seperti batang air di dalam tangan Tuhan, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini&#8221;.  Bila hati seorang raja yang biasanya &#8216;keras&#8217;, &#8216;congkak&#8217; dsb dapat dengan mudah diubahkan oleh Tuhan, apalagi hati Bapak dan Mama TP. </p>
<p>Karena keempat kakak TP juga merupakan anggota keluarga, meskipun berjauhan tempat tinggalnya,cobalah diajak untuk meluangkan waktu sesekali untuk mendoakan keluarga bersama-sama. Bapak dan Mama TP memerlukan Tuhan untuk menyembuhkan mereka dari sakit hati dan kepahitan mereka (mungkin sekali Bapak juga bersikap kasar karena memiliki luka batin yang ia sendiri tidak sadari). </p>
<p>Kami dulu pernah mengalami hal yang hampir sama dengan TP dan puji Tuhan, meskipun melalui kurun waktu yang tidak singkat, Tuhan telah mengubahkan semuanya. Saya percaya,apa yang telah Tuhan lakukan dalam hidup kami,juga mampu Ia lakukan bagi Saudara TP dan keluarga. </p>
<p>Jangan lelah. Jangan menyerah.<br />
Selamat berjuang. Tuhan Memberkati.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
