Suami-Istri Berkonflik, Anak-anak Lelah

Saya adalah anak kelima dari 5 bersaudara, kami semua sudah lulus kuliah
dan bekerja, keempat kakak saya sudah berumah tangga, saya dekat dengan
kakak2 saya. Namun yg menjadi ganjlan hati saya & kakak2 saya adalah kedua
orangtua kami.

Mengenai kedua orangtua kami, mereka adalah orangtua yang berjuang untuk
kesuksesan kami, bapak adalah guru PNS dan mama adalah ibu rumah tangga,
dengan segala keterbatasan, mereka berjuang untuk kami, mama juga rajin
membantu bapak dg menjahit, jualan masakan, dll, walaupun untuk sekolah
kami mama dan bapak juga sering sekali berhutang, hasilnya adalah kami
sekarang yang sudah lulus sarjana dan dapat mandiri.

Namun yg menjadi masalah bapak adalah orang yang sangat kasar, sejak awal
perkawinan, apabila bapak marah bisa memukul mama, berbicara kasar dan
menendang mama dan mama tidak pernah melawan, kami waktu itu masih kecil
dan tidak tahu harus apa, tapi yang pasti kami membela mama. Memasuki usia
tua bapak juga tetap bersikap kasar pada mama tetapi mama sdh mulai
melawan kalau dikasari bapak, pada intinya mama & bpk sekarang jadi saling
menyakiti, saling curiga, saling menjelekkan satu sama lain kepada
anak-anaknya, sehingga di rumah kami bisa dikatakan tidak ada kedamaian
keluarga

Dalam waktu sekarang ini, bapak terus-menerus merengek dan meminta supaya
kami membiayainya pulang kampung dan sebagai anak, kami memngumpulkan uang
hasil kerja kami untuk bapak pulang kampung. Namun hal tersebut membuat
mama sakit hati dan hampir setiap malam membuka kembali kejadian yang
dulu, dan menceritakan pengorbanan mama dan mengatakan kami tidak adil
karena bapak yg jahat tetapi dimanjakan oleh anak-anak, mama juga selalu
saja menangis, bahkan mengatakan sebesar apapun pemberian kalian ke mama
tidak akan bisa membayar semua pengorbanan mama.

Hal itu membuat saya sedih, mengapa harus keluar dari mulut seorang ibu
perkataan seperti itu, apa yang sudah kami berikan kepada mama dengan
membayar hutang2 mama, belanja kebutuhan rumah untuk mama, uang bulanan,
rekening bersama untk bpk/mama, sepertinya sama sekali tidak berharga di
mata mama, mama sendiri tidak mau kalau kami ajak travelling, tapi kalau
sudah begini mengatakan anak2 tidak adil, bahkan sampai mengatakan kalimat
yang menyakitkan seperti itu, yg kami juga tahu hal itu memang benar,
tetapi mengapa harus dikatakan?

Saya dan kakak2 sangat menyayangi bapak & mama, tapi kami sudah sangat
lelah mengikuti kemauan mereka yg semakin hari semakin tidak jelas,
depresi yg mereka rasakan, serta saling curiga dan saling menyakiti
diantara mereka, saya sudah tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi
kedua orangtua saya disamping keharusan seorang anak berbakti pada kedua
orangtua.

Kami sering berpikir, kenapa mama dan bapak tidak bersyukur mendapatkan
anak-anak yg baik dan menyayangi mereka, tidak ingin membuat mereka susah,
padahal dalam hidup kami juga ada masalah pribadi masing2, tetapi kami
tidak pernah membicarakan ini pada orang tua karena tidak ingin
menyusahkan mereka, kami memecahkan masalah kami dengan saling
berkonsultasi satu dengan lainnya dan saling mendukung, tetapi kami jarang
sekali membicarakan masalah kami pada bpk & mama, tetapi kenapa mereka
terlampau banyak menuntut pada kami ?

Oleh karena itu, saya mohon pencerahan dan jawaban atas permasalahan ini,
karena saya dan kakak2 saya sudah sangat lelah dan tidak tahu bagaimana
menghadapi mereka yg sepertinya tidak mau mengerti kesulitan kami dan
hanya memandang bahwa diri mereka yang sangat menderita dan menuntut kami
untuk membela salah satu dari mereka.

Terimakasih atas perhatian dan jawabannya. Tuhan memberkati.

note : bapak dan mama serta saya tinggal dalam satu rumah, sedangkan
keempat kakak saya karena sudah menikah sudah tidak lagi tinggal dirumah.
TP
========
TP,
Anda mengatakan ”saya dan kakak2 saya sudah sangat lelah dan tidak tahu bagaimana
menghadapi mereka yg sepertinya tidak mau mengerti kesulitan kami dan
hanya memandang bahwa diri mereka yang sangat menderita dan menuntut kami
untuk membela salah satu dari mereka.”

Persoalan anda dan keluarga anda tidak bisa dipecahkan tanpa pengolahan batin anda sendiri. Bukan hanya orang tua dan kakak-kakak anda yang sudah terjebak dalam konflik, anda sendiri juga bagian dari konflik itu. Maka saya usulkan agar anda memahami lebih dahulu konflik dalam diri anda. Saya pernah mengupas masalah seputar konflik di situs ini. Bacalah misalnya ”Konflik dan Rekonsiliasi”. Setelah anda baca dan renungkan, kita bisa dialogkan lebih jauh.

Sudrijanta

2 Responses to “Suami-Istri Berkonflik, Anak-anak Lelah”

  1. TP,
    Perkenankanlah saya ikutan masuk ke rubrik ini. Romo sudah memberikan respons, saya hanya ingin membagikan pengalaman mengenai hal yang mirip-mirip dengan masalah Anda.

    Saya lihat,satu hal yang absen dalam hubungan keluarga TP adalah “KASIH”. Bila landasan yang mendasari karya Bapak dan Mama TP adalah kasih, pasti tidak ada seorang Bapak yang terus menerus berlaku kasar kepada Mama yang telah setia mendampingi termasuk mengusahakan pengadaan keuangan keluarga. Mungkin dahulu Mama tidak melawan, demi anak-anak. Namun, perlakuan kasar yang terpaksa diterimanya selama bertahun-tahun tak ayal telah menumpuk akar pahit dan sakit hati di dalam diri Mama. Pada awalnya,saya rasa Mama TP memang melaksanakan “tugasnya” dengan tulus hati, akan tetapi kepahitan hati yang mendalam telah mengikis kasih di dalam dirinya sehingga Mama pun menjadi “pahit”.

    Keadaan hati Mama yang terlanjur menjadi “pahit” tampak dari kecenderungannya membalas untuk menyakiti Bapak, juga tidak senang bila anak-anaknya membantu atau pun mendukung Bapaknya ,karena tindakan tersebut dipandang Mama sebagai keberpihakan terhadap suaminya yang kejam,dan bukan dirinya sendiri,orang yang selama ini telah setia melayani keluarga,namun disakiti sedemikian rupa. Yang mengejutkan, Mama bahkan tega mencetuskan kata-kata pedas terhadap anak-anaknya yang terkesan mengungkit-ungkit pelayanan dan pengorbanan yang telah dia buat di masa lalu. Padahal,seperti yang kita ketahui,hal-hal baik yang telah Mama lakukan,pengorbanan yang ia berikan bagi keluarga,tidak peduli seberapa pun besarnya, memang merupakan sesuatu yang wajar dilakukan oleh seorang ibu yang sungguh mengasihi anak-anaknya.

    Sangat disayangkan bahwa pada usia senja yang semestinya bisa dilalui dengan bahagia dan penuh syukur, menuai hasil jerih payah yang telah mendukung kesuksesan kelima puteranya,hubungan Bapak dan Mama TP malah berkembang menjadi semakin tidak harmonis.

    Berdasarkan pengalaman saya dalam menghadapi masalah seperti ini,saya usulkan TP dan keluarga mengadakan pendekatan ‘KASIH’. Mungkin TP dan saudara2 perlu mendengarkan dahulu keluh kesah Mama dan cobalah mengerti serta tidak tawar hati bila dari mulut Mama terucap kata-kata yang kurang pantas. Perlu diingat,Mama adalah korban. Suatu pepatah yang pernah saya dengar mengatakan:”Orang yang sakit,menyakiti”. Disini diperlukan kesediaan TP dan saudara2 untuk tidak jemu-jemu menunjukkan kasih dan simpati seorang anak yang berbakti kepada Mamanya. Dan satu hal yang terpenting,yang seharusnya tidak dilupakan oleh TP dan saudara2 adalah mendoakan Bapak dan Mama. Andalkanlah Tuhan,karena hanya Dia yang mampu mengubahkan hati Bapak dan Mama. Setialah berdoa,dan Anda akan melihat jawaban Tuhan pada waktuNya. Firman Tuhan mengatakan : “Doa orang yang benar,bila dengan yakin didoakan,sangat besar kuasanya.”

    Setelah TP dan saudara2 berhasil mendekati Mama, cobalah arahkan Mama untuk kembali membangun kasih yang telah retak di dalam keluarga, dan untuk berusaha mengampuni Bapak tanpa batas, seperti yang telah Tuhan Yesus sendiri ajarkan. Ajaklah Mama untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dengan lebih rajin membaca Alkitab dan berdoa. Allah kita adalah kasih,dan merupakan suatu hal yang mustahil seseorang yang tidak dekat denganNya akan mampu mengasihi sesamanya. Terus tampakkan penghargaan seorang anak akan jerih payah yang telah Mama lakukan untuk keluarga.

    Secara simultan,TP dan saudara2 perlu setia melakukan hal yang serupa terhadap Bapak. Namun, jangan dilupakan bahwa sepandai apa pun kita berbicara tidak akan ada kuasanya bila tidak menyertakan Tuhan dalam rencana-rencana kita. Karena itu, bawalah masalah Anda kepada Tuhan. Dalam Amsal 21 : 1 dikatakan: “Hati raja seperti batang air di dalam tangan Tuhan, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini”. Bila hati seorang raja yang biasanya ‘keras’, ‘congkak’ dsb dapat dengan mudah diubahkan oleh Tuhan, apalagi hati Bapak dan Mama TP.

    Karena keempat kakak TP juga merupakan anggota keluarga, meskipun berjauhan tempat tinggalnya,cobalah diajak untuk meluangkan waktu sesekali untuk mendoakan keluarga bersama-sama. Bapak dan Mama TP memerlukan Tuhan untuk menyembuhkan mereka dari sakit hati dan kepahitan mereka (mungkin sekali Bapak juga bersikap kasar karena memiliki luka batin yang ia sendiri tidak sadari).

    Kami dulu pernah mengalami hal yang hampir sama dengan TP dan puji Tuhan, meskipun melalui kurun waktu yang tidak singkat, Tuhan telah mengubahkan semuanya. Saya percaya,apa yang telah Tuhan lakukan dalam hidup kami,juga mampu Ia lakukan bagi Saudara TP dan keluarga.

    Jangan lelah. Jangan menyerah.
    Selamat berjuang. Tuhan Memberkati.

  2. TP,
    Mo Sudri benar.
    coba lepaskan dulu kegetiran dalam hidup anda dan saudara saudara.

    Memang ruwet tapi bila dipetakan kelihatannya masalahnya ada 4:
    1. Masalah Mama
    Mama sudah terlalu lama jadi korban Bapak. Selama kalian belum dewasa Mama bertahan tidak membalas demi kalian. Bahkan Mama berjuang sekolah kalian apapun yang terjadi. Begitu kalian dewasa Mama kelihatannya tiba tiba berani melawan (sebetulnya dari dulu juga berani) karena anak sudah tidak jadi soal.

    2. Masalah Bapak
    Bapak memang kasar dari awal. Makin tua makin kasar.

    3. Masalah Mama – Bapak
    Dulu Bapak menyakiti Mama. Belakang hari mereka saling menyakiti.

    4. Masalah anda dan saudara saudara
    Kalian terlalu jenuh dengan persoalan Mama – Bapak sejak kecil.

    Yang mana yang mesti diselesaikan dulu? Justru kalian harus lepas dulu dari kejenuhan itu. Mungkin kalian terus ada dalam masalah itu tapi TERIMALAH bahwa masalah itu toh mau gak mau emang terjadi dalam keluarga. MAAFkanlah. KELUARlah dari masalah dan pandanglah itu sebagai just as a problem. Not my own problem.
    BERSYUKURLAH bahwa sesungguhnya kalian adalah anak TUHAN yang gak pake cekcok dan BERBELASKASIHANlah terhadap ortu kalian yang berumahtangga tapi tidak menikmatinya.

    Apapun yang dikeluhkan Mama, TERIMALAH. Berlapang hatilah. Pahami bahwa Mama sudah puluhan tahun berjuang malah jadi korban

    No. 2 yang harus diselesaikan: Mama
    Apa kebutuhan mendasar Mama? Penghargaan dan perhatian dari anak anak. Bukan uang. Pujilah Mama, say I love you, ajak Mama bersyukur, pada akhirnya ajak Mama memaafkan Bapak. Ajak Mama melihat secara obyektif bahwa Bapak yang sudah pulang kampung kan jauh dari keluarga. Bayangkan kalo Bapak tua dan sakit, siapa yang akan mengurus Bapak?
    Mama lebih beruntung karena dekat dengan anak anak. Kalau sikap sudah mulai cair, ajak Mama bercanda canda soal ini, misal saat Mama mengungkit kekasaran Bapak, coba nyeletuk,”Yah… bukannya itu suami Mama? hehehe….”

    Prosesnya tidak mudah, dan pasti perlu waktu loamaaaa. Tapi bisa dicoba.

    No. 3 Bapak
    Kenapa sih Bapak koq kasar? apakah lingkungannya dulu memang kasar? ato Bapak tidak pernah bahagia selama hidup? Kalo emang gitu, ya beri apa yang beliau perlukan.
    Mintalah maaf kepada Bapak kalo kalo kalian menyebabkan sulit hidupnya. Beri perhatian.

    Bagi bapak bapak mungkin kikuk kalo tiba tiba anak say I love you. Tapi kalo sesekali anak anak mengunjunginya, ato ditelfon, ditanya perlunya apa, diajak doa bersama. Mungkin hatinya bisa senang juga ya. Apa lagi kalo ada cucu yang bisa diajak main main sesekali.

    No. 4 Mama – Bapak
    Jangan terlalu berharap. Bapak sudah jauh di kampung kan sudah tidak membuat percekcokkan. Tapi orang sakit hati TETEEUUUUP melawan orang yang tidak ada, itu biasa. Berbesar hatilah. kalo semua sudah bisa memaafkan yaaaa…. bolehlah sekali sekali semua kencan dimanaaaa untuk makan bersama misalnya. kalo perlu blind date dulu ya monggo, soale kalo Mama Bapak sudah diberitahu dulu kan paling ogah datang.

    Yang paling penting berdoalah! Kelihatannya Roh Kudus paling harus kerja keras untuk mencairkan hati yang beku.

    salam, rin

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>