Suami dan Ibu Mertua Sama Anehnya

Mohon pencerahan,saya sedang ada konflik dgn suami,dikarenakan ibu mertua sedsang berkunjung ke rumah kami,kebetulan kami tinggal di luar negri..

Saya sangat kesal sekali dgn ibu mertua saya,selama disini dia hanya memperhatikan anaknya saja(baca: suami saya),setiap kami jalan-jalan dia berusaha untuk dekat2 dengan anaknya.seperti,ketika saya sedang mengantri kasir di supermarket,ibu mertua memilih di luar menemani suami saya yang sedang menjaga anak kami,pernah suami saya yg sedang mengantri kasir di supermarket,ibu mertua tetap menemani suami sayamengantri kasir,sedangkan saya menunggu di luar..juga ketika kami makan di restorant,saya dan suami makan bergantian untuk menjaga anak kami yg baru berusia 22 bulan,suami makan duluan dan gantian menjaga anak kami,tidak lama ibu mertua selesai makan dan dia keluar dia bilang mau memanggil suami saya,tetapi dia di depan sedang bercakap2 dgn suami saya,saya merasa ini sangat aneh sekali..

ibu mertua saya juga kalau berbicara dengan suami saya seperti berbisik-bisik,sehingga membuat saya curiga.kalau tidak ada suami saya di rumah atau suami saya sedang tidur,dia santai2 saja,tapi kalau ada suami saya di rumah,dia selalu sok sibuk dan berusaha mengajak main anak kami.

Kalo sedang jalan2 suami juga selalu lebih asyik mengobrol dengan ibunya,ketimbang dengan saya,sering kali saya ditinggal dibelakang.

Saya sangat sedih dengan keadaan ini,saya coba untuk membicarakan dgn suami saya melalui email,karena tidak mungkin saya ribut2 di dpn mertua saya.suami saya malah bilang kalo saya “tidak punya otak”, mau menang sendiri,memikirkan diri sendiri..

Romo,saya memang tidak bisa tinggal bareng dgn mertua,karena saya merasa mertua saya terlalu ikut campur urusan rumah tangga kami.dan saya merasa suami saya berubah peringai nya bila dekat2 dengan ibu nya,suami saya sifatnya baik dan sabar,tapi kalo ada ibu nya,dia bisa berubah menjadi pelit,arogan,dll…dia selalu membela ibu nya..dan saya tidak bisa terima itu..

Saya memutuskan untuk bercerai saja,bagaimana cara mengajukan perceraian di gereja katholik?karena dulu saya menikah di gereja katolik,saat itu suami saya belum dipermandikan secara katolik.tapi ketika paskah kmrn suami sudah dipermandikan secara katholik.

Mohon bantuan dan informasi nya,terima kasih

FPN

3 Responses to “Suami dan Ibu Mertua Sama Anehnya”

  1. Aduh bu…. jangan terlalu cepat bilang mau cerai laaaahhhh….
    apa jadinya anak ibu yang masih lucu lucunya itu kalo gak ada bapaknya?
    bukan soal uang, mungkin ibu bisa membiayai dia, tapi kebutuhan untuk ada bapak kandung gimana?
    Lagi pula, kalau ibu menikah secara Katolik, kan ibu tidak bisa cerai secara agama. Lalu ibu mau hidup sama siapa?
    Lagi pula memangnya lelaki lain tidak ada masalah? waaahhhhh…. banyak yang banyaaaaakkk sekali masalahnya, bu, jadi kalo hanya suami ibu dekat dengan ibunya ya coba ibu pahami.

    Selalu ada yang istimewa antara anak dan ibunya, sesuatu yang tidak bisa dipahami orang lain. Misal, saya dan anak saya sejak mereka kecil kami biasa saling menggigit. Apakah ibu bisa memahami bagaimana istimewanya hubungan kami? Bagi banyak orang, itu aneh karena yang melakukan saling gigit untuk bercanda ya kucing atau anjing. Tapi bagi kami, itu sangat mengasyikkan. Kalau kelak anakku punya istri, mungkin saja dia jadi heran heran bagaimana seorang ibu dan anak lakinya yang sudah dewasa koq tetap saling gigit.

    Soal saling bisik dan tawa kecil dia antara suami ibu dan ibunya, yaaaaa…. sebaiknya abaikanlah. BIar saja mereka menikmati waktu kemanjaan di antara mereka. bukankah ibu mestinya bersyukur, suami menikmati kemanjaan dengan ibunya dan bukan dengan perempuan lain?
    Ini tidak berarti dia tidak menikmati kemanjaan dengan istrinya. Sama sekali beda. kemanjaan dengan ibu dan kemanjaan dengan istri, itu beda. Hubungan ibu dengan bayi ibu dan dengan suami kan beda. Jadi jangan khawatir apapun.

    Saran saya, nikmatilah hidup ibu dan dapati bahwa ibu memang bahagia. Ikhlaskan suami berbahagia dengan ibunya, toh itu sesuatu yang terjadi sejak dia lahir. Kalau ibu merasa terganggu oleh kemanjaan di antara mereka, berilah mereka hadiah: biarkan mereka liburan tanpa anda dan bayi. biarkan mereka bersenang senang berdua, entah ke pantai, atau kemana pun. Mereka akan merasa senang karena bisa tertawa bersama, dan ibu tidak usah merasa terganggu apapun.

    Sebagai sharing,
    Kalau di Jakarta, ibu mertua saya lebih senang nginap di adik ipar saya yang perempuan (anak perempuannya). Oleh karenanya pasti suami saya pergi ke rumah ipar saya terus terus. Dalam banyak kesempatan, dari pada saya tidak mengerti banyak pembicaraan di antara mereka, saya pilih mempersilakan suami saya main ke rumah ipar dan kalau tidak perlu benar ya saya tidak ikut. Ini membuat mereka bebas berkasih-kasihan, dan saya bebas juga tidak perlu pikir apa apa. Kan jadi sama sama senang to…

    Coba berempati terhadap ibu mertua ibu. Dia mengandung dan memelihara anak lelakinya berpuluh tahun dan sekarang anak lelakinya malah dinikmati oleh perempuan lain yang adalah anda. Tidak kah ibu merasakan kehilangan yang dia rasakan? Kalau kelak bayi anda dewasa dan menikah, tidakkah ibu juga ingin bercerita banyak hal dengan dia?

    Bahwa suami jadi berubah sejak ada ibunya, mungkin dia hanya jadi serba salah saja karena dia merasa ibu tidak cocok dengan ibunya. seandainya ibu lebih santai, mungkin suami juga tidak serba salah.

    Cobalah mengubah paradigma ibu terhadap mertua dan suami.

    Salam berkat Tuhan, rin

  2. Saya ingin menanyakan tentang persepsi saya tentang kehidupan setelah pernikahan..menurut saya setelah menikah ada baiknya apabila orang tua tidak lagi mencampuri urusan anak-anaknya..tidak tinggal serumah dengan orang tua/mertua,betul tidak yah menurut romo?

    karena suami saya berpegang teguh terhadap budaya nya bahwa,istri harus ikut dengan suami atau tinggal dengan keluarga suami..saya sangat tidak setuju dengan hal ini..karena bisa menyebabkan percekcokan yang menyebabkan ke arah perceraian..

    FPN

  3. FPN yang terkasih…

    salam kenal,
    memang benar sebaiknya kehidupan pernikahan tidak ada orang ketiga,siapa pun itu.
    tapi kita adalah orang timur, yang sangat lekat kekeluargaanya,walaupun anda tinggal lama di luar negeri.

    tiap orang mempunyai prinsip yang berbeda.dan hakekatnya sebagai suami istri hal2 yang prinsip harus sudah dibicarakan sebelum masuk ke jenjang pernikahan.lembaga pernikahan adalah sakral,apapun agamanya.bukan main2!!!

    jika memang setelah menikah baru dibicarakan bahwa anda sebagai istri harus ikut suami, itu adalah konsekuensi pernikahan.
    pernikahan adalah sebuah kompromi sepanjang waktu, selama anda menikah maka kompromi akan terus menerus,perceraian terjadi karena salah satu pihak tidak mau berkompromi dan pihak lainnya terbawa dalam komunikasi yang buruk!

    Jika anda seorang KATOLIK dan anda menikah SECARA KATOLIK, sebaiknya anda merenung….
    pada waktu menerima sakramen nikah anda telah bersumpah diatas Injil di depan ALtar Yang Kudus,dengan saksi2.
    segala yang terjadi adalah dengan restu Tuhan, Tuhan yg mempertemukan kalian berdua, alangkah sedihnya Dia bila karena manusia(ibu mertua) kalian mengingkari janji.

    Pernikahan adalah kompromi terus menerus,jangan pernah menyerah atas pernikahan kalian.
    Jika dulu kalian yakin sekali mengucap sumpah pernikahan, maka sekarang pun kalian harus yakin untuk mempertahankan pernikahan.

    nanti setelah anak anda lebih besar lagi,pasti lebih banyak lagi masalah yang timbul…pada wkt anak mau sekolah,banyak kepentingan2 pribadi yang menjadi ego kita bisa menjadi masalah.merasa bahwa kita sebagai ibu lebih berhak begitu pun ayahnya.sekali lagi…kompromi, bicara dari hati ke hati dan kuatkan dengan iman anda bahwa anda menikah dengan restu Tuhan,tidak ada manusia atau apapun bisa memisahkan kecuali maut.

    satu hal yang mau saya sharing…
    anak saya laki2, ketika saya bersedih…walaupun tanpa saya menceritakan,dia bisa merasakan.dia bisa mendekati saya dan memeluk saya tanpa berkata apa2,apa yg saya rasakan saat itu? kekuatan yang besar untuk bangkit lagi.inilah yang disebut ikatan anak laki2 dengan ibunya.
    cuma memang semua orang berbeda-beda.
    ada yang bisa melepaskan anaknya, ada yang masih merasa bahwa anaknya itu miliknya.
    tapi menurut saya, sebaiknya anda bersabar saja.bukan anda seorang yang mengalami hal seperti ini..
    banyak sekali kenalan saya yg mengalami hal seperti anda.
    klasik jawabannya SABARRRRRR………

    Tuhan tidak akan memberikan kita rintangan,cobaan yang melebihi kekuatan kita,tapi dia akan memberikan kita tempaan dan peng “hajar”an supaya kita menjadi manusia yang lebih baik dan selalu “mengandalkan Dia”.
    jika kita berasa nyaman dengan hidup ini, kita tidak merasa bantuan orang,tapi ketika kita ada masalah kita akan memerlukan orang laen dan yang sering kali kita lupa kita butuh Tuhan…..

    berdoa lah sesering mungkin, karena doa mengubahkan segala-galanya.

    hormatilah dan sayangi lah ibu bapamu, karena mereka anda menjadi seperti hari ini.

    hormatilah ibu dan ayah mertua mu, karena mertuamu telah membesarkan suami mu sehingga ia menjadi suami yang layak untuk mendampingi mu,

    ur husband NOT the best husband n father in this world, but u must believe that he is the best for u.

    Tuhan sayang keluarga kalian, cintailah Tuhan lebih dulu maka engkau akan saling mencintai, minta lah selalu cinta mula-mula yang berkorbar antara kau dan suami mu dalan setiap doa, maka kau akan mengerti bahwa cinta yang paling besra adalah pengorbanan untuk kebahagiaan org yg kita cintai.

    Salam damai…Tuhan berkati

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>