[ Start Afresh: Kembali Hidup.. ]
Tak di sangka, di tahun yang baru dan di awal bulan ini gue justru mendapatkan hadiah yang tidak bisa terlupakan begitu aja. I’ve got the answers of life. Should I be happy or sad? I just don’t know it right now, but I’m so glad, really, coz the grim reaper doesn’t want me…yet.
-=KRoNoLogIs=-
Kamis 2 minggu lalu, gue selamat dari kecelakaan mobil pada saat hujan es disertai angin kencang. Pohon tumbang itu tidak menimpa mobil yang gue kendarai. Thank God for that… safe and sound.
Jumat 2 minggu lalu, dokter bilang gue sakit flu tulang dan bisa menyebabkan kelumpuhan sementara, hanya saja tidak perlu khawatir karena bisa sembuh sendiri kalau istirahat yang cukup. Fair enough, setelah shock di hari Kamisnya, I do need some rest.
Selasa minggu lalu, gue muntah di kantor, which was weird. I mean my body felt weird at that time. Gue ngerasa pusing, tulang ngilu, dan ulu hati nyeri. Sore ke dokter dan dia minta gue cek darah dan rumpell lede. Hasil rumpell lede negatif. Tapi gue ada feeling ini bukan flu tulang biasa, pasti lebih. Dokternya pun merasa begitu dan dia minta gue cek darah lagi keesokan harinya.
Rabu minggu lalu, gue cek darah lagi, dan kali ini ada pemeriksaan Dengue (IgM). Hasilnya positive. Trombosit gue pun turun. As I thought it would be, Dengue Positive! Dokter menyarankan rawat inap karena Dengue bisa menyebabkan kematian jika kecolongan. Gue minta waktu (entah kenapa gue menolak rawat inap) dan dokternya pun mengiyakan dengan syarat gue harus cek darah lagi keesokan harinya dan jika trombo gue turun, mau-tidak-mau harus rawat inap. Deal.
Kamis minggu lalu, gue cek darah lagi dengan harapan trombo gue tidak turun. Ternyata hasilnya trombo gue turun lebih banyak lagi dari hari sebelumnya. Parahnya, ada pengentalan darah. Damn! without being explained... gue mengerti benar bahayanya untuk diri gue sendiri so I decided untuk ke internis dan meminta surat rawat inap. Sorenya, gue sudah terinfus. Pasrah. Mengingat stamina gue yang masih ok walaupun trombo sudah turun drastis, gue meminta ortu gue untuk tidak menemani gue di RS. Pada saat itu gue hanya mau di tinggal sendiri, merenung. Mereka bersyukur atas permintaan gue karena artinya mereka juga bisa istirahat di rumah dan menjenguk gue pada jam besuk setiap harinya nanti.
Hari pertama di rumah sakit…
Gue tidak bisa tidur, pikiran ini mengkhawatirkan hari esok.
Kamar mayat yang berada di samping kanan gue itu,
Yang hanya di batasi oleh tembok,
Terlihat menyejukkan.
Jumat minggu lalu, subuh (pukul 4 dini hari), gue dibangunkan perawat yang ingin mengambil darah gue. Alhasil gue pun bangun untuk sekalian mengecek infus yang ternyata sudah hampir habis dan harus di ganti segera sebelum darah gue naik. Do u know what I saw? Pada waktu perawat ini mengganti infus, ada gelembung muncul. Beberapa dari kalian pasti sudah tahu kalau gelembung itu turun dan masuk ke pembuluh darah bisa membuat pembuluh darah itu pecah dan tentunya orang yang terinfus ini bisa meninggal. Tapi lucu juga, waktu gue menotice adanya gelembung itu dan bahayanya, gue malah cuek! Walaupun sepersekian detik setelah kecuekan gue, akhirnya gue mencabut infus itu dan menahan selang kecilnya dan memberitahu perawat itu perihal gelembung. Dia kaget dan langsung bertindak. Wajahnya seperti kelelahan dan takut. Gue pun menghibur perawat itu dan mengatakan tidak apa-apa.
Dia berusaha tersenyum…
Menutupi rasa takutnya akan kesalahan yang bisa saja terjadi.
Gue pun membalas senyumannya,
Memberikan ketenangan bahwa kejadian gelembung ini,
Bukan masalah buat gue.
Toh, begitu tahu gue kena Dengue Fever,
Gue sudah siap dengan konsekuensi terburuk yang bisa terjadi.
Hari kedua di rumah sakit….
Gue mempertanyakan kepada-Nya arti hidup dan kematian.
Sabtu minggu lalu, pagi hari, gue mendapat tamu istimewa yang sengaja menjengguk gue di luar jam besuk. Dan ketika tamu ini mendoakan gue, seketika gue mendapatkan jawaban akan hidup yang gue pertanyakan kepada-Nya kemarin.
Ada perasaan lega dan tenang setelahnya, walaupun tidak lama kemudian salah satu perawat datang untuk mengambil darah, lagi. Lengan kanan gue pun bonyok karena di ambil darahnya terus-terusan tiap hari. Perawat itu pun mengatakan, “wah, ngel, tangan kamu yang ini tambah bengkaknya deh“. Entah kenapa, gue pasrah dan sabar saja. I just smile and said, “gapapa nanti aku kompres air hangat di bekas jarum suntiknya“. Sesaat, gue ngerasa gue seperti druggie. hahahaha.. bodoh! Sore harinya, dokter berkunjung dan mengatakan trombo gue masih terus turun. Damn!!
Berapa lama lagi gue harus terinfus begini ya?
Gue ga betah di rumah sakit. for sure…
Hari ketiga di rumah sakit,..
Gue menyadari bahwa benar adanya pepatah ini,
“I am the master of my own fate!”
Ibu yang menjaga pasien di sebelah kiri gue tiba-tiba mengatakan ada obat yang bisa menaikkan trombosit dan harganya Rp 2.000.000,-! Bentuknya kapsul. Dia menyarankan gue untuk memintanya ke dokter. Gila! 2 millions?! I wouldn’t do that for sure. Lebih baik trombo gue naik karena usaha gue sendiri daripada dengan bantuan obat yang harganya mahal seperti itu. What is she thinking actually!?? I am not that desperate to be back home… yet! I know I have to fight this virus on my own and I just need more time to do that.
Tepat di hari Minggu, trombo gue naik ke batas minimum. Gue hepi! Perawat dan dokter takjub karena gue bisa melalui masa kritis ketika trombo gue turun 4 hari berturut-turut padahal seharusnya gue sudah melewati fase kritis tersebut di hari Jumat. And as a gift, he discharged me from the hospital
hurray!
God is good, all the time!
Walaupun harus bertahan dengan infus dan
Tetap mandiri (karena gue tidak ditungguin oleh keluarga),
Perjuangan yang benar-benar dilakukan tidak sia-sia.
Hidup ini memang benar milik gue pribadi, bukan orang lain,
Dan guelah yang bertanggung-jawab akannya,
Dalam sehat maupun sakit.
***
Tahun 2007 yang lalu, gue terlalu memaksakan diri gue. Baik dalam hal pekerjaan, kuliah, maupun aktifitas gue lainnya. Gue tidak cukup beristirahat (terutama untuk badan dan kesehatan gue sendiri) karena merasa tidak akan sakit. Ternyata, badan ini pun akhirnya ‘ambruk’ di awal tahun. Ironis… ketika gue menginginkan liburan dan kematian, justru karena Dengue Fever ini gue mendapatkannya – dan hampir kedua-duanya.
Hidup ini ternyata ada tidak hanya untuk sekedar dijalani. Gue teringat salah satu sms dari seseorang yang gue sayang. Dia nulis begini, ” I am into daily routine which bores me a lot…. I am tired of living. That’s it.”. Gue belom bilang ke dia kalau I’m in the same shoes as you, however, I won’t give up.
Selama gue sakit, gue menerima banyak sms yang mensupport gue untuk cepat sembuh, cepat pulih, jangan lama-lama di Rumah Sakit, berbagai doa, dan juga atensi lainnya. Ternyata Hidup tidak sekedar Hidup, selama ini hidup gue pun gue pakai untuk berbagi dengan orang lain, entah pada waktu susah, sedih, senang, sakit, untung, dsb. Dan timbal-balik inilah yang membuat seseorang bertahan hidup, sebenarnya. Jangan sampai harus sakit parah dulu untuk menyadari hal se-simple itu.. ^^ Walaupun reminder dengan sakit lebih ampuh untuk menyadarkan seseorang daripada hal lainnya. Hehehe.
Gue rasa, tiap pribadi pasti pernah merasakan menjadi mayat hidup. Gue pun merasa begitu sebelum sakit Dengue Fever ini. Namun, setelah sembuh, gue sadar bahwa DIA telah memberikan starting point to start afresh…
Kembali hidup; this is my greatest wish this year!







hei.. that’s a really great experience.. how Awesome Our Lord.. He’s really good to His Children and never leave them alone..