Sikap dalam Misa
Ave Maria, Romo/Dewan Paroki St. Anna.
Sebelumnya perkenankan saya untuk memperkenalkan diri. Nama saya Phandu, berusia 28 tahun. Saya tinggal di paroki ST. ALOYSIUS GONZAGA-CIjantung.
Sebenarnya sudah lama saya ingin tanyakan kepada Romo Paroki tempat saya tinggal, akan tetapi karena waktu saya belum sempat menanyakan langsung.
Prihal : Sikap umat yang pantas dalam MISA EKARISTI (baik dari awal Misa – selesai Misa)?
Seringkali saya melihat (baik sengaja atau tidak disengaja) di saat MISA EKARISTI berlangsung masih saja banyak umat yang tidak mempersiapkan diri untuk mengikuti MISA/menyambut kehadiran TUHAN YESUS KRISTUS dalam perjamuan KUDUS-NYA. Bukan hanya anak muda saja, orang tua pun masih sering berbicara selama MISA berlangsung. Terkadang datang terlambat. Di saat HOMILI pun kadang ada yang sibuk ngobrol dengan teman sebelahnya atau pun tertidur karena kelelahan atau ngantuk dengerin HOMILI Romo, yang terkadang mengganggu umat lainnya.
Di saat puncak dalam MISA yaitu menyambut KOMUNI, mereka seolah-olah tak memahami atau merasakan apa yang akan mereka sambut.
Yang mau saya tanyakan :
1. Sebenarnya sikap bagaimana yang benar dalam mempersiapkan diri kita sebagai umat awam untuk hadir maupun menyambut Tuhan Yesus Kristus dalam perjamuan Kudus-Nya (MISA)?
2. Dibenarkan atau tidak sikap saya dalam Misa, seperti : kalau saya datang MISA terlambat setelah pernyataan tobat/doa pembukaan, atau pun saya tertidur saat homili, atau kalau minggu lalu saya tidak datang MISA; saya merasa tidak pantas menyambut Tubuh Kristus (Komuni)?
Terima kasih,
Semoga konsultasi saya dalam Iman khususnya tata cara Ekaristi bisa mendapatkan jawaban.
-GBU-
Phandu







Dear Mas Phandu,
Hidup kita ini, termasuk juga puasa, Misa, berdoa, berelasi dengan sesama, menikah, berkarir dll, adalah TERUTAMA suatu perjalanan dalam berelasi dengan Tuhan.
Karena tujuan akhir dari semua relasi itu adalah perkawinan anak Domba dengan GerejaNya, maka dalam hidup fana ini segala sesuatunya harus diarahkan menuju perkawinan itu. Satu-satunya relasi yang mengarah perkawinan adalah relasi yang mesra dengan Tuhan. Maka, dalam melakukan segala sesuatu termasuk Misa, kita harus bersifat mesra dengan Tuhan.
Mesra yang bagaimana?
Sebagai kekasih, tentu kita menginginkan kekasih kita merasa bahagia, maka dalam Misa pun kita hendaknya ingin menyenangkan Tuhan Sang Kekasih.
Menyenangkan Kekasih tuh gimana?
Datang bersegera.
Layaknya kekasih, apakah kita malas malas menghampiri kekasih kita? Kan inginnya segera. Begitulah layaknya kekasih Tuhan menghampiri Tuhan.
Seluruh perhatian kita tertuju kepada kekasih.
Kalo kita sudah mulai selingkuh, masihkah kita dapat disebut kekasih. Masih suami, mungkin, tapi sudah tidak kekasih lha wong kasihnya sudah dialihkan ke orang lain. Bagitu juga dalam relasi dengan Tuhan, hendaknya seluruh perhatian kita tertuju pada Tuhan dan tidak malah ngobrol dengan orang lain dalam Misa. Ngobrol dalam Misa itu dosanya 2: pertama diri sendiri tidak memperhatikan Tuhan, kedua mengganggu orang lain yang hendak memperhatikan Tuhan.
Melakukan segala sesuatu yang sungguh baik bagi relasi yang sehat dengan kekasih. Bukan hanya basa basi, pura pura memperhatikan kekasih tapi sebetulnya main game atau SMS-an. Kalo emang kekasih ya dengarkan baik baik apa yang membuat relasi jadi tambah mesra, lalu lakukanlah.
Soal tidur,
ya tergantung sebabnya tidur. Kalo tidur karena sakit ya gpp. Kalo tidur karena BT ya pikir pikirlah! seandainya kita ngomong lalu orang yang katanya kekasih kita maunya tidur karena gak mau ndengerin kita karena BT sama kita… hehehehe…. persoalannya kan jadi: kita yang bikin BT apa orang itu yang emang pengen menghindar dari kita? Pertanyaan yang sama kan: apakah memang Tuhan yang bikin BT ato manusia yang belegug kepengen menghindar dari Tuhan dengan cara tidur?
Hormat, sopan, khidmat.
Terhadap suami pun saya hormat. Terhadap saya, suami bersikap sopan. Apa lagi terhadap Tuhan.
Tidak hanya dalam Misa, dalam hidup sehari hari pun sikap itu tetap harus terjaga. Bersegeralah melakukan kasih kepada sesama, karena kasih kita kepada Tuhan. Melakukan kasih tapi kalau menunda-nunda kan bisa keburu tanpa manfaat. Bayangkan, kalo ada orang kelaparan lalu kita mau sih memberi makan tapi minggu depan, yaaaa… keburu mati deh tuh orang!
Juga harus fokus terhadap Tuhan dalam pekerjaan, misalnya, dengan jujur dalam berniaga.
Begitulah semuanya harus dilihat dalam gambar besar relasi kita dengan Tuhan.
Salam berkat Tuhan, rin
heee… aku belum jawab yang ini ya:
2. Dibenarkan atau tidak sikap saya dalam Misa, seperti :
kalau saya datang MISA terlambat setelah pernyataan tobat/doa pembukaan,
atau pun saya tertidur saat homili,
atau kalau minggu lalu saya tidak datang MISA;
saya merasa tidak pantas menyambut Tubuh Kristus (Komuni)?
Kalo kita gak Misa Minggu bukan karena terpaksa (misal sakit ato berada di pedalaman yang gak ada Romonya ato dalam perang dll), itu jelas hukumnya: melawan Perintah Allah ke 3, jadi ya dosa dan harus Sakramen Tobat sebelum menyambut Ekaristi.
Sungguh beruntunglah kita karena kita bersatu dengan Tuhan tidak hanya kelak di Surga tapi juga sekarang saat Ekaristi. Karena Ekaristi adalah persatuan Tuhan dengan GerejaNya maka sebagai kekasih, sepantasnyalah kita menyediakan hati yang bersih bagi datangnya Tuhan ke dalam hati kita. Itu sebabnya ada permohonan ampun di awal Misa untuk mengampuni dosa dosa kecil. Untuk dosa besar ya monggo Sakramen Tobat dulu.
Tuhan datang itu pasti. Dalam banyak kesaksian para kudus melihat bahwa Yesus dan seluruh isi Surga memang hadir dalam setiap Misa. Yang masalah kan manusianya, kadang sontoloyo. Kalau hati kita bersih sehingga chemistry-nya cocok dengan Tuhan, tentu hasilnya bahagia dalam damai sejahtera. Tapi kalo hati kita kotor penuh dosa, apa ya pantas menerima Tuhan di hati yang kotor? Bukankah hasilnya malah ada banyak pertentangan di dalam hati kita? Bukankah itu sebabnya Tuhan mengatakan bahwa kita tidak dapat menyembah 2 tuan: Tuhan dan si jahat? Kita harus pilih salah satu. Pilih Tuhan berarti harus membersihkan hati dan melepas si jahat. Ato pilih si jahat, tapi lalu buat apa merayakan Misa?
Mudah mudahan pilihannya adalah setia memilih Tuhan sehingga bukan hanya pantas menerima Ekaristi dalam hati tapi juga pantas untuk bersatu dengan Tuhan selamanya.
salam berkat Tuhan, rin
Kemarin aku mendapatkan kalimat yang tepat untuk soal Misa ini dari mo Djita saat homili:
“Pertanyaannya adalah apakah kita memang bertemu dengan Tuhan dalam Misa itu? Orang bisa saja Ekaristi tapi kalau tidak bertemu dengan Tuhan, lalu untuk apa Ekaristi?”
Itu kalimat yang tepat dan akan saya ingat sungguh. Terima kasih untuk mo Djita!
Salam berkah Dalem, rin