Setelah Jadi katolik, So What Gitu Lo?

“Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”

HARI MINGGU BIASA II – 20 Januari 2008, Tahun A
Bacaan: Yes. 49:3,5-6 ; 1Kor. 1:1-3 ; Yoh. 1:29-34

Kisah injil hari ini, tampaknya masih nggak jauh-jauh sikonnya dari peristiwa pembaptisan Tuhan Yesus yang kita rayakan minggu lalu. Penginjil Yohanes mencatat kehadiran Roh Kudus yang turun dari langit seperti burung merpati dan tinggal di atas / menaungi Yesus. Roh yang menjadi saksi bahwa Yesus inilah Anak Allah; cuma dalam versi Matius selain berupa burung merpati, suara-Nya menegaskan bahwa Yesus adalah Anak yang dikasihi dan berkenan pada Allah. (Mat. 3:16-17; Yoh. 1:32-34). Yohanes Pembaptis merupakan salah satu saksi iman pertama bahwa Yesus yang dibaptisnya itu adalah Mesias, Anak Allah, Anak Domba yang menghapus dosa dunia. Dan dengan kesaksiannya ini, kisah mengenai kiprah Yesus sebagai Mesias dimulai. Yesus yang telah dibaptis langsung berkarya untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Dalam bacaan yang pertama, nabi Yesaya menubuatkan datangnya Mesias ini, dalam diri Hamba Tuhan yang akan menjadi terang bukan hanya bagi Israel, bagi suku-suku keturunan Yakub; tetapi bagi seluruh bangsa-bangsa sampai ke ujung bumi. (Yes. 49: 3,5-6).

Beberapa poin menarik buat kita renungkan minggu ini. Pertama, kehadiran Roh Kudus menaungi Yesus, dalam pembaptisan Yesus, merupakan kesaksian utama bahwa Yesus adalah Anak Allah, Mesias, Anak Domba yang menghapus dosa dunia. Roh itu pulalah yang terus hadir dan berkarya sampai sekarang; bahkan yang menyuburkan dan meneguhkan iman kita pada Yesus Kristus. Roh Kudus itu pulalah yang juga menaungi dan memimpin kita berkat baptis yang kita terima. Hendaknya kita senantiasa mensyukuri rahmat Roh Kudus ini.

Kedua, setelah dibaptis dinaungi dan penuh Roh Kudus, Yesus langsung tancap gas berkarya untuk keselamatan manusia. Bagaimana dengan kita? Mungkin pengalaman kita masing-masing berbeda, ada yang baptis tidur waktu masih orok; baptis setengah tidur, yaitu sedikit-sedikit sudah paham dan mengerti; ada yang baptis dewasa dan sebagainya. Baptis itulah yang menjadikan kita warga Gereja, disebut kristiani atau katolik. Kita dibaptis, terima Roh Kudus, dan jadilah kita katolik. Tapi apakah kita juga langsung dikobarkan oleh Roh Kudus untuk berkarya? Berpartisipasi dalam karya keselamatan Tuhan? Apakah kita juga bangga menjadi katolik? Tidak jarang setelah baptis yang meriah, sebagian layu sebelum berkembang. Kita yang sudah berpuluh tahun dibaptis pun, tidak jarang masih angin-anginan ke gereja, jarang terlibat di lingkungan, jarang berdoa, menyembunyikan terang Tuhan di tengah masyarakat sekitar kita. Jadilah kita katolik pasif; dan inilah yang membuat wajah Gereja kurang menarik; kurang bersinar di tengah masyarakat sekitar kita. Kita mewartakan kabar gembira, tetapi wajah kita kurang gembira dan kurang gairah. Inilah pula tantangan bagi para pewarta, pelayan iman, pengurus lingkungan, wilayah, paroki dan sebagainya untuk mampu melayani mereka yang pasif di sekitarnya.

Ketiga, Yohanes Pembaptis, sang nabi besar itu menunjuk pada Yesus, mewartakan Yesus Mesias. Semangat atau spiritualitas Yohanes sebagai pewarta Yesus, sebagai nabi, pelayan iman, pembuka jalan kiranya pantas diteladani oleh setiap orang katolik, terutama mereka yang diajak menjadi pewarta, pelayan iman, pelayan kasih, rasul awam atau apa pun namanya untuk selalu mengutamakan Tuhan Yesus, selalu merujuk dan menunjuk pada Yesus Kristus sebagai tujuan pelayanan dan pewartaannya. Sukacitanya adalah kalau Yesus menjadi besar, orang bertobat dan makin kagum serta memuji Yesus Tuhan; bukan dirinya, “Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh. 3: 29-30). Harus kita akui, seringkali kita pun masih mencari diri kita sendiri dalam melayani Tuhan dan sesama. Diam-diam ingin dipuji dan dihargai. Seringkali kita masih mengatas-namakan Tuhan, “in the name of Jesus,” tetapi tanpa sadar yang kita lakukan adalah meminggirkan Tuhan Yesus sebagai tujuan utama dan pusat pelayanan kita, dalam pelayanan kita. Semoga Roh Kudus menjadikan kita katolik yang giat, sungguh gembira dan sukacita, serta tulus melayani Tuhan dan sesama.

Oleh: Matheus Supomo

One Response to “Setelah Jadi katolik, So What Gitu Lo?”

  1. Setelah sadar klo saya katolik, saya tdk lagi menyerobot lampu merah, saya slalu berikan kesempatan jika ada kendaraan lain yg ingin meyerobot, saya tidak lagi menggunakan klakson secara menyolot, saya selalu membuat tanda salib sebelum memasuki jalan tol berkecepatan tinggi, saya tdk minder lg menaiki kendaraan butut, dan saya tdk takut terlambat sampai tujuan krn saya percaya segalanya sudah diatur dgn baik dan apapun yg terjadi itu tetap yg terbaik buat saya menurut Tuhan.
    Namun sayangnya saya selalu lupa bersyukur ketika saya sampai di tujuan dgn selamat…

    Yah itu sedikit jawaban saya sebagai seorang supir bro, mohon dimaklumi…

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>