Sering konflik, ingin cerai
Salam damai romo, saya seorang khatolik dari bayi, saya menikah dengan secara khatolik, istri saya lebih tua 6 tahun dari saya, banyak perbedaan yang sering menimbulkan perselisihan,istri saya sangat perfect, sedangkan saya kurang begitu baik, saya sudah berusaha terus untuk memperbaiki diri, tapi tetep saja selalu kurang, sehingga sering terjadi pertengkaran, akhirny akhir-akhir ini sering terucap kata perceraian dari mulut kami berdua, istri saya berkata kalau hidup tersiksa dengan saya, apakah itu bisa menjadi hal terjadinya pembatalan perkawinan? bagaimana caranya romo?
Dominicus







Untuk Sdr Dominicus
Saya merasa anda terlalu mempermasalahkan sikap perfect isteri anda dan sikap anda yang berlawanan sehingga menimbulkan konflik yang akhirnya mengarah pada perceraian.
Coba deh mengingat masa-masa manis sebelum pernikahan atau apakah anda sudah mempunyai anak?
Setahu saya ikatan pernikahan dalam Katholik tidak bisa diceraikan jadi lebih baik anda datang pada romo paroki atau konsultasi pada orang tua atau pada saudara anda yang bisa membantu menyelesaikan konflik dalam rumah tangga anda.
saya pun sama persis dengan isteri anda yang perfect itu. setiap saat saya selalu cerewet bila ada yang tidak PAS di mata atau hati saya. tapi saya sangat tahu bahwa tiap-tiap orang unik jadi lebih baik saya kerjakan sendiri dengan hati yang riang. malah saya pun tahu sifat saya ini merugikan diri sendiri atau orang-orang di sekitar saya, tapi saya berusaha mengerti sifat orang lain yang bersebrangan dengan saya. sehingga sampai sekarang tidak menimbulkan konflik yang dalam.
Tuhan senantiasa menyertai anda & keluarga
kepada sdr Dominicus
sifat-sifat hakiki perkawinan menurut GK adalah monogam dan tak terceraikan (cic 1056).
Katekis GK 1615 Penegasan-Nya bahwa tali perkawinan tidak dapat diputuskan, menimbulkan kebingungan dan dianggap satu tuntutan yang tidak dapat dipenuhi. Tetapi Yesus tidak meletakkan kepada suami isteri beban yang tidak terpikulkan (Bdk. Mat 11:29-30), yang lebih berat lagi daripada peraturan Musa. Dengan memperbaiki tata ciptaan awal yang telah diguncangkan oleh dosa, Ia sendiri memberi kekuatan dan rahmat, untuk dapat menghidupkan Perkawinan dalam sikap baru Kerajaan Allah. Kalau suami isteri mengikuti Kristus, menyangkal diri sendiri dan memikul salibnya (Bdak. Mrk 8:34), mereka akan “mengerti” arti asli dari Perkawinan (Bdk Mat 19:11) dan akan dapat hidup menurutnya dengan pertolongan Kristus. Rahmat Perkawinan Kristen ini adalah buah dari salib Kristus, sumber setiap penghayatan Kristen.
Dari 2 kutipan diatas sangatlah jelas bahwa dalam mengarungi bahtera kehidupan berumah tangga yang sering kali sangat sulit ini kita perlu menempatkan Kristus sebagai semacam mercu suar sehingga arah dan tujuan dari bahtera kita tetap terjaga.
Berikut adalah beberapa saran :
- Mungkin sdr dominicus dapat mencoba mengikuti retret,kebetulan ada retret yang diselenggarakan di cibulan tgl 12 Maret. Siapa tahu melalui kegiatan tersebut sdr mendapatkan pencerahan.
- Sdr. dapat bergabung dengan kelompok-kelompok kategorial yang beranggotakan pasangan suani-isteri seperti Couple For Christ CFC) atau ME dan lainnya. di santa anna ada kelompok tsb.
- Lupakanlah dahulu ide2 tentang pembatalan perkawinan,perpisahan,annulasi dan lain sebagainya karena itu adalah domainnya GK. Sebagai awam,tidak layak rasanya kita membahas masalah itu, ujung2nya nanti bisa terjadi misinterpretasi dan salah kaprah.
tks
Sdr. Dominicus Ytksh.,
Perkawinan Katolik bukanlah hubungan antara dua orang manusia saja. Dengan saling menerimakan Sakramen Perkawinan, relasi yang kemudian terjadi adalah antara suami – Yesus – istri. Pasangan yang telah meng-ikrarkan “akan setia pada waktu untung dan malang”…………..”akan menerima suami/istri dan mencintai sampai maut memisahkan” … semestinya suami/istri akan berusaha untuk mempertahankan perkawinan tersebut. Bila dasar perkawinan adalah kasih (1 Kor 13 :1-13) kiranya masing-masing pihak akan rela hati untuk membahagiakan pasangannya sehingga perceraian tidak akan terjadi. Sebagai bahan permenungan kita, saya ingin membagikan kutipkan tulisan Romo P. Moses Beding, CssR (dari Ave Maria Mei 2005) yang sampai kepada saya melalui Ibu Maria L.S.
Judul: Cinta Perkawinan, tidak ada perceraian di Medjugorje
Salib Kristus pengikat perkawinan di Medjugorje.
Di kota kecil Siroki Brijeg daerah Herzegovina, kurang lebih 20mil dari Medjugorje, dikisahkan bahwa dalam catatan paroki sekitar 13ribu umat tidak ada perceraian. Sepanjang ingatan orang, di sana tidak ada keluarga yang berantakan. Apakah orang-orang disini mendapat siraman rahmat istimewa atau previlese khusus dari surga untuk mengalami perkawinan yang kokoh kuat seperti ini?
Padahal orang-orang ini selama berabad-abad menderita penindasan dan penganiayaan karena iman yang teguh pada Tuhan Yesus Kristus yang wafat dan bangkit untuk menyelamatkan umat manusia. Dari pengalaman mereka sangat yakin bahwa sumber keselamatan satu-satunya datang dari Salib Kristus.
Orang-orang Kroasia mempunyai suatu tradisi perkawinan yang indah, yang menjadi inspirasi bagi peziarah dari manca negara. Bila pasangan muda-mudi akan menikah, orang-orang tidak akan menyatakan bahwa mereka telah menemukan pasangan ideal yang mereka impikan, melainkan imam akan mengatakan kepada mereka : “Kamu telah menemukan salibmu! Istri adalah salib untuk suami dam suami adalah salib untuk istri. Dan sebuah salib harus dicintai untuk dipanggul. Sebuah salib tidak untuk dibuang melainkan untuk disandang (dipanggul) dan disayangi.”
Selanjutnya pada waktu pemberkatan pernikahan, pengantin wanita meletakkan tangan kanannya di atas salib dan mempelai pria menumpangkan tangannya di atasnya, dengan demikian kedua tangan mereka terikat bersama-sama satu di atas yang lain di atas salib Kristus.
Kemudian imam menumpangkan stola ke atas tangan-tangan mereka. Pasangan itu lalu mengucapkan janji setianya, berdasarkan rumusan Liturgis Gereja. Setelah janji setia diucapkan keduanya tidak saling berciuman melainkan mencium salib! Mereka sadar bahwa yang mereka cium itu adalah sumber kasih!
Pasangan itu dan semua orang yang menyaksikan peristiwa itu tahu bahwa bila sang suami melepaskan istrinya, berarti ia melepaskan salib, demikian juga jika sang istri melepaskan suaminya maka ia pun melepaskan salib!
Dengan begitu mereka kehilangan segala-galanya karena mereka melepaskan Kristus. Buah dari cinta kasih mereka, adalah buah dari salib mereka yaitu anak.
Berbicara mengenai kesatuan keluarga berarti berbicara mengenai kesatuan suami-instri-anak. Perekatnya adalah salib.
Kiranya tulisan tersebut boleh menjadi inspirasi bagi kita pada waktu melalui hari-hari yang berat dalam perkawinan kita.
Salam,
Hallo Dominicus!
Sebetulnya sifat yang saling berlawanan itu bagus dipakai untuk saling melengkapi, jangan malah untuk saling menjatuhkan. Kalo istrimu perfect kan bagus, jadi dia bisa tau dan selalu semangat untuk perfect. Dia bagus untuk anda supaya terpacu untuk maju. Kalo anda santai tidak pikir perfect kan bagus juga untuk stimulasi dia supaya gak stress. Cobalah saling bicara. Bayangkan kali tangan kita kanan (yang punya konotasi bagus itu) semua, lha yang untuk cebok mana?! Makanya Tuhan memberi kanan dan kiri kan karena fungsinya memang beda beda. Kalo kalian berdua sama sama perfect, apa gak stress berdua? Toh apa yang orang pikir perfect itu sebetulnya selalu masih belum perfect.
Cobalah untuk saling terima keadaan. Yang penting kan apakah kalian berdua itu saling mengasihi. Baca lagi deh apa itu kasih di Korintus. Antara lain, Kasih itu murah hati. Apakah istrimu bisa murah hati tidak menuntut suaminya untuk perfect? Apakah anda juga dapat murah hati untuk menerima kenyataan bahwa dia perfect? Sejauh anda adalah suami yang bertanggung jawab, saya kira sebaiknya coba bicarakan lagi.
Coba dulu lah…
jangan dikit dikit mau cerai. Cerai itu gak enak, udah banyak biaya malah dapat masalah. Belum tentu juga ketemu orang yang bakal enak, kalo ternyata si A si B gak enak lagi gak enak lagi, apa ya mau cerai lagi cerai lagi? Mendingan perbaiki perkawinan yang ada.
salam berkat Tuhan, rin