Seribu Pintu Menuju Kristus
Tubuh seringkali dilecehkan. Ia sering diperlakukan sebagai alat untuk mengejar kesenangan dan kepuasan. Ia seringkali dituduh sebagai biang keladi segala kelemahan. Tidak heran, dalam relasi dengan Tuhan, orang sering hanya memusatkan perhatian pada hati dan budi dan kurang menghargai peran tubuh. Padahal dengan menyentuh tubuh apa adanya ini, kita menyentuh Tubuh Kristus.
Bagi orang Kristiani, hanya ada satu pintu menuju Bapa yaitu Kristus, namun ada banyak pintu menuju Kristus. Pintu itu tidak lain adalah tubuh kita sendiri. Bagaimana menyentuh Tubuh Kristus melalui pintu tubuh ini?
Tubuh ini adalah Kristus
Yang dimaksud tubuh ini adalah keseluruhan diri ini: materi dan roh, tubuh fisik dan pikiran, rasa perasaan fisik dan mental, tubuh fisik dan batin dst. Semuanya saling mempengaruhi. Marilah kita melihat lebih khusus hubungan timbal-balik antara pikiran dengan tubuh.
Perhatikan nafas tubuh anda. Kalau anda sedang gelisah atau marah, nafas anda bekerja dengan cepat dan pendek-pendek. Sebaliknya kalau sedang tenang dan damai, nafas anda lembut dan panjang-panjang. Pikiran yang kacau membuat nafas anda kacau; pikiran yang tenang membuat nafas anda tenang. Dengan menyadari pikiran dan tubuh anda, batin menjadi hening, peka dan tajam.
Tubuh ini merupakan ekspresi materiil dari pikiran dan pikiran merupakan ekspresi non-materiil dari tubuh. Tubuh pada dirinya bernilai karena tidak kurang mengekspresikan sesuatu yang melampauinya dan tidak lebih mengekspresikan realita apa adanya.
Seperti halnya nafas menjadi jembatan penghubung antara pikiran dan tubuh fisik, maka tubuh secara keseluruhan ini menjadi jembatan penghubung antara yang materiil dan non-materiil. Ia seperti satelit yang menghubungkan surga dan bumi, yang imanen dan yang transenden. Tubuh ini, tidak kurang tidak lebih, adalah Kristus.
Bisakah Indra-hati-budi Bekerja secara Utuh?
Tubuh kita bereaksi atau bertindak sesuai dengan dorongan indra-indra kita. Mari kita mengamati indra kita. Kita lihat bahwa salah satu indra cenderung dominan, salah satu indra berperan lebih penting dalam setiap moment yang terus berganti. Saat ada suara yang ditangkap oleh telinga, maka pendengaran menjadi lebih dominan. Saat objek yang terlihat ditangkap oleh mata, maka penglihatan menjadi lebih dominan. Saat objek menyentuh tangan, maka perabaan menjadi lebih dominan. Begitulah seterusnya.
Ketika kita mendengar suatu kata, pikiran kita cepat bergerak dengan mengatakan itu suatu kritikan, perasaan kita mengatakan itu tidak menyenangkan, dan pikiran bergerak kembali untuk menolak, menilai, menghindar, atau menerima, dst. Apa yang kita dengar tercerai-berai, terpecah-belah oleh pikiran, perasaan, keinginan, kemauan dst. Pendengaran bisa tidak terpecah-pecah kalau ada kesatuan antara pencerapan indra dan keutuhan hati-budi.
Bisakah rangsangan yang ditangkap oleh indra direspons secara langsung tanpa melibatkan sensor pikiran atau perasaan? Bisakah indra bekerja secara utuh tanpa intervensi pikiran dan perasaan yang memecah-mecah? Bisakah kita memandang sesuatu dengan persepsi langsung yang mungkin di situ terdapat keutuhan indra-hati-budi? Bisakah memandang pohon-pohon, mengamati gerak air sungai, memberi perhatian total pada langit berawan, burung yang terbang, misalnya? Bisakah memandang pasangan hidup, anak, tetangga, rekan kerja tanpa terpecah-pecah oleh berbagai keinginan, harapan, penilaian? Mengamati secara total berarti seluruh indra-hati-budi bangun. Dalam apa yang terdengar, di situ bukan hanya ada pendengaran melalui indra telinga tetapi sekaligus ada pemahaman total. Dalam apa yang terlihat, di situ bukan hanya ada penglihatan melalui indra mata tetapi sekaligus ada pemahaman utuh. Tidak ada lagi pikiran yang mencampuri pencerapan indra-indra.
Kebanyakan orang berjuang mendisiplinkan diri tetapi pendisiplinan tidak membawa ketertiban. Apa perlunya tubuh atau batin didisiplinkan kalau tidak membawa ketertiban? Mendisiplinkan diri berarti bertindak berdasarkan suatu pola ideal yang kita anut. Dalam disiplin terjadi penyesuaian, kekerasan, pengendalian, pergulatan dan semuanya ini tidak membawa ketertiban. Disiplin bukanlah ketertiban dan ketertiban hanya datang kalau ada kesadaran akan gerak batin kita. Bisakah kita memandang segala sesuatu tanpa pusat, tanpa si aku atau pikiran ini sebagai pusat? Bisakah indra-hati-budi bekerja secara utuh, tidak terpecah-pecah? Pemahaman total seperti ini membuat batin hening, tertib, mekar, aktif, tajam.
Kristus Ekaristi
Tunjukkan seperti apakah Tubuh Kristus itu? Dimanakah anda menemukanNya? Anda boleh menunjuk pada Tabernakel tempat Hosti Kudus ditahtakan. Itu jawaban yang tidak salah tapi kurang lengkap. Anda boleh menunjuk kearah diri anda tempat Kristus tinggal di dalam hati anda. Itu juga tidak salah tapi masih kurang lengkap. Gambaran Tubuh Kristus yang lengkap tidak bisa dipisahkan dari gambaran Kristus yang hadir dalam tubuh anda ini. Menghayati Kebenaran Injil tanpa mengintegrasikannya dalam keseluruhan tubuh anda ini kurang menangkap pesan Injil secara komplit.
Dalam perayaan Ekaristi, umat Kristiani bukan sekedar mengenang Yesus yang pernah hidup, mati dan bangkit 2000 tahun yang lalu, namun mengenang dan merayakan Kristus yang mati dan hidup Saat Sekarang. Seorang imam dalam perayaan Ekaristi menghadirkan Kristus Ekaristi di tengah-tengah umat.
Setelah memohon turunnya Roh Kudus, seorang imam yang mempersembahkan Ekaristi memberkati roti dan anggur. Sejak itu, roti dan anggur diperlakukan bukan sebagai lambang atau tanda tetapi sungguh-sungguh Tubuh dan Darah Kristus. Di sana terjadi trans-substansi: materi roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus.
Dengan makan Tubuh Kristus dan minum DarahNya, umat menyentuh sedalam-dalamnya Tubuh Kristus sendiri, Tubuh Realita, Tubuh Keberadaannya yang paling dalam. Dengan menerima Tubuh Kristus, Kristus Yang Hidup hadir sepenuhnya dalam tubuh anda. Anda disadarkan kembali realita dasar bahwa tidak ada pemisahan antara anda dengan Kristus, antara tubuh anda yang dikenal dan Tubuh Yang Tak-Dikenal, antara yang imanen dengan yang transenden.
Seperti halnya es tidak bisa dipisahkan dari air, begitu pula anda dari Kristus. Di luar air tidak ada es, begitu pula di luar Kristus tidak ada anda. “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” (Yoh 1:3)
Banyak para murid Yesus mengikutiNya kemana saja Ia pergi. Mereka mempunyai kesempatan melihat dari dekat seperti apakah Yesus itu. Namun Yesus tahu mereka belum sungguh-sungguh berelasi secara nyata denganNya, belum sungguh-sungguh menyentuh Tubuh RealitaNya. Maka Ia menggoncang para muridNya supaya bangun dan tersadar.
”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darahNya, kamu tidak mempunyai hidup dalam dirimu. Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal dan aku akan membangkitkan dia pada akhir jaman. Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia tinggal dalam Aku dan Aku di dalam Dia.” (Yoh 6:53-54, 56)
Perkataan itu menggoncang iman para muridNya. Mereka yang tidak siap mengundurkan diri dan tidak lagi mengikutiNya. Namun mereka yang bertahan dan mempunyai kontak nyata denganNya memperoleh hidup. Kisah pencerahan para murid di Emaus dan murid-murid lain pasca kebangkitan Yesus dari kematian menguatkan kebenaran yang telah dikatakanNya.
Seribu Pintu Menuju Kristus
Tidak sedikit orang merayakan Ekaristi tanpa kesadaran bahwa Tubuh Kristus begitu dekat dengan tubuh kita, bahkan bersatu secara tak terpisahkan. Mereka ini seperti hantu-hantu yang lapar. Mereka menerima Tubuh Kristus namun tidak pernah kenyang dan tidak mengalami kehidupan. Selesai Ekaristi, mereka kembali kepada kehidupan biasa tanpa perubahan: tidak ada proses trans-substansi atau transendensi diri.
Tubuh tanpa Roh Kudus atau Roh Kristus adalah seperti tubuh tanpa jiwa. Orang yang hidup dengan tubuh tanpa jiwa adalah seperti orang yang mengusung mayat ke mana-mana dan mayat itu bisa jadi adalah anda sendiri.
Untuk menyentuh Tubuh Kristus, kita perlu hidup dengan tubuh ini apa adanya. Dalam tubuh ini ada banyak pintu: mata, telinga, hidung, lidah, tangan, pikiran, perasaan, sensasi, dan persepsi murni. Cara kita melihat atau mendengar bisa menyesatkan ketika mata atau telinga bekerja terpisah dari persepsi murni atau terpecah-belah oleh pikiran dan perasaan. Menyadari seluruh gerak keterpecahan batin ini mungkin akan membawa kembali keutuhan tubuh ini.
Aku melihat Kristus dengan mata yang dipakai oleh Kristus untuk melihat aku.
Aku mendengarkan Kristus dengan telinga yang dipakai Kristus mendengarkan aku.
Aku berjalan mendekati Kristus dengan kaki yang dipakai Kristus untuk mendekati aku.
Aku bernafas dengan nafas yang dihembuskan Kristus sendiri kepadaku.
Tubuh ini adalah Kristus.
Di sini ada Keindahan dan Kepenuhan Hidup.*







Mantap Romo!!! tambah lagi artikelnya…
Roben-Erik,
Tulisan anda juga ditunggu di website ini.
Sudrijanta
Wah Romo Sudri bagus sekali tulisan ini, usul saja agar tulisan tulisan semacam ini kalau bisa juga dimuat di berita paroki mingguan atau buletin st. Anna.
Tulisan lain saya tunggu di website sebagai renungan dikala pekerjaan dikantor agak lenggang sebagai penyejuk iman
wah sayang ya kalau tulisan sebagus ini dimuat di berita paroki mingguan lalu berakhir di trash. lebih baik dibaca dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari………….
Tulisan2 Romo memang bagus dan menjadi sangat indah kalau kita benar2 menghayati bukan sebatas indera dan nalar. Banyak dari kita ( termasuk saya sendiri ) yg menjadikan Allah ( Bapa, Putera dan Roh Kudus ) sebagai “Sesuatu” yg berada di luar diri kita. Membaca banyak buku, artikel, diskusi kemudian kita merenung dan berdoa tapi di kala datang hal2 yg tidak kita kehendaki, kita merasa Allah menjauh dari kita. Kita memohon tapi tak kunjung terjawab dan karenanya kebahagiaan menjauh dari kita.
Bukan hal yang mudah membuka diri dan menyadari keberadaan Sang Khalik di dalam diri kita. Untuk itu kita perlu berlatih ( kecuali yg mendapat pencerahan secara instant dari suatu peristiwa tertentu ) secara terus menerus dan menguatkannya dg doa sungguh-sungguh. Saat kita bisa memasuki Kerajaan Allah dg menyadari setiap nafas hidup kita yg datang daripadaNya, kita bisa temukan damai dan sukacita. Hidup menjadi ringan, kalaupun suatu ketika datang cobaan2, yang kita temukan adalah keindahan di balik segala pencobaan.
Kalau sekiranya Bapak / Ibu ingin lebih dalam memaknai tulisan2 Romo dan merasakan secara pribadi apa yang Romo sampaikan, alangkah baiknya ikut latihan meditasi bersama setiap Sabtu pagi di Gd. Yos.
Saya berterima kasih pada Romo yang telah berkenan meluangkan waktu dengan setia mendampingi kami yang rindu untuk lebih dalam menggali spiritualitas yang ada dlm diri setiap orang dan merasakan damai di dlm batin.
Benarlah kiranya sesungguhnya ADA itu kosong
KOSONG itu ADA
Untuk itu belajarlah dari kekosong supaya
ADA.
GBU All
Renungan dr Romo yg ini langsung kena ke hati krn essensi nya adalah ‘KRISTUS’, kita memang tdk bisa meninggalkan ‘Kepala’ dr seluruh ‘Tubuh’ yaitu YESUS sendiri, karena ” Jika orang tidak memiliki Roh KRISTUS, ia bukan milik KRISTUS”. (Roma 8:9b)
Trims Romo Sudri buat hikmat nya, Selamat Berkarya…!
DD
MERINDUKANMU ADALAH KESUKAANKU PADA..NYA
MERAWAT BATIN INI ADALAH PEKERJAANKU
MEMBUATMU BERSUKA ADALAH TUGASKU
MENCINTA ADALAH PERJALANAN INI BERSAMA-SAMA..NYA.
Itulah sekian dari ucapan2 batin saya atau batin kalian semua
untuk SERIBU PINTU MENUJU KRISTUS/KESADARAAN AKAN KRISTUS SENDIRI.
Setiap,kerinduan adalah suatu kehangatan-kedekatan-kesamaan Batin kita yg sudah lebh dahulu KRISTUS mendirikan”RUMAH”nya dalam setiap hati kita,agar cintaNya kokoh&mendalam.
Biarlah,setiap membuka mata&membuka lembaran pagi,kita hny lah
manusia yg Rapuh,’diri’ini mesti berbenah setiap saat,sehingga dihadapan Allah kita menjadi layak,menuju Pintu-Pintu NYA.
Bersungkurlah selalu dalam kerinduan itu,sehingga hati kita semakin peka thp sesama,karena hny kepadaNYA lah kita memperoleh segalanya.
Memahami tujuan-tujuan KRISTUS yg kita IMANI tanpa kata2 yg teucap,kalau Kebutuhan2&Penderitaan2 orang lain,adalah Kebutuhan Kristus sendiri.
sehingga penyadaraan ini menciptakan suatu ruang bagi orang lain,sehingga akhirnya tujuan dari kedalaman Hati kita tak seorangpun tersingkirkan dari hati kita karena semua menjadi saudara.
Kalau saja semua orang sangat2 memahami Kecintaan Kristus yg selalu hidup,dalam Jiwa2 yang luhur yaitu;Tubuh Rohani kita
kekuatan-kerinduan-tercipta dalam kebutuhan2NYA,yaitu menerima
TUBUH&DARAH KRISTUS yg tak terpisahkan lagi,oleh Tubuh ini menjadikan Satu Kesatuan Yg Utuh daripadaNYA.
Itulah Transendensi diri terjadi,dalam hening senantiasa terbuka
Tanpa Batas,keinginan-daya upaya-pencarian-penderitaan,kesakitan,keluhan,kesedihaan,..semua menjadi TIADA.
Kekuatan dari Kristus sendiri yang mendiami hati,memberikan KEPENUHAN HIDUP,dengan ROH KRISTUS SENDIRI.
walau nasib Kristus juga pernah mengalami Jatuh Bangun dengan segala kesulitan&hambatan tapi IA masih PERCAYA,kepada BAPANYA.
itulah yg Kristus juga memberi teladan2nya sampai detik ini
Sukacita,Damai,sehingga Keindahan&kebaikan2 boleh kita terima.
KUMELIHAT ENGKAU ADA DIMANA-MANA
KELEMAHAN&KEKURANGAN PADA SESAMAKU KU MELIHAT ENGKAU
KEPADA ORANG KECIL SEPERTI KU,SERING KAU HAMPIRI.
KAU BERI MINUM BAGI YG DAHAGA.
KEPADA YG SAKIT KAU BERI KESEMBUHAN…MASIH BANYAK YG KAU LAKUKAN UNTUK KU.
Itulah Yg Kristus ijinkan semuanya boleh kita semua alami.
Karena hanya kepada IA kita bertumpuh.
dan hanya kepada Tubuh kitalah Kristus tinggal dan menjadi Alat-panjang tangan NYA,sehingga PANCA INDRA KRISTUS Adalah PANCA INDRA NYA yg boleh kita pakai dikehidupan ini.
salam&cinta
Seperti yang dikatakan oleh rasul Paulus :
“Sebab : “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasehati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.
(1 Korintus 2 : 16)
Tulisan Romo Sudri benar2 penuh inspirasi… baik yang topiknya meditasi atau yang kental nuansa ajaran Katholiknya seperti ini…. saya mendapat banyak masukan. Terima kasih, Romo. Salam.