Seorang istri tidak dinafkahi, bisakah cerai?

dengan hormat,

mohon ijin untuk bertanya saya memiliki sahabat wanita ( katolik) telah ditinggalkan suami ( juga katolik ) karena kasus suaminya selingkuh. pada saat mengandung anak ke 2 istrinya kembali ke kampung & melahirkan disana.
sampai sekarang tidak pernah diberi nafkah oleh suaminya ( suami pindah keluar kota ). apakah istri bisa berhak mengajukan cerai secara katolik ?? pernikahan mereka dilakukan secara katolik. terima kasih. Mohon pendapatnya

Agus

One Response to “Seorang istri tidak dinafkahi, bisakah cerai?”

  1. Tidak ada proses cerai secara Katolik. GEreja Katolik tidak mengenal perceraian yang secara harafiah diartikan pemutusan pernikahan. Gereja Katolik mengenal pembatalan, walaupun sifatnya mirip dengan perceraian dalam arti memutuskan ikatan suami isteri, tetapi sebenarnya tidak sama, karena membatalkan artinya menyatakan bahwa pernikahan sebelumnya seharusnya tidak terjadi karena adanya halangan atau cacat yang ditemukan sudah ada [bahkan] sebelum pernikahan itu terjadi.

    Jadi kalo dikatakan apakah temanmu bisa diceraikan secara Katolik, jawabnya “TIDAK BISA”.

    apakah bisa dibatalkan ? jawabnya juga [kemungkinan besar] “TIDAK BISA”.. mengapa saya masih mengatakan “mungkin”.. karena keputusan diberikannya status NULL pada perkawinan Katolik yang sah ada di Tribunal Gereja. Tetapi jika saya membaca singkat cerita di atas. rasanya sangat kecil kemungkinan permohonan pembatalan dikabulkan.

    itu sebabnya penyelidikan perlu dilakukan, hingga ke masa sebelum pernikahan. Salah satunya adalah alasan pernikahan, bagaimana satu sama lain saling mengenal, apakah ada pemaksaan artinya bahwa pernikahan itu terjadi bukan karena kedua belah pihak salin mencintai, apakah satu sama lain saat itu dalam kondisi yang bebas menikah, dst.

    mungkin adalah keputusan yagn tepat bila suami berselingkuh dan kasus perselingkuhannya sudah berat, isteri meninggalkan suami dan tinggal terpisah bersama anak-anaknya. TEtapi nantinya perlu di analisa kembali mengapa hal itu bisa terjadi, apa saja usaha untuk menyadarkan sang suami, bagaimana selama ini komunikasi mereka, dst.. untuk melihat kemungkinan2 yang ada untuk mewujudkan usaha memperbaiki hubungan atau rekonsiliasi. Tentu saja hal ini dilakukan atas dasar kasih. Tetapi ini pun dilakukan apabila kedua belah pihak mau menyadari kekurangan masing-masing, kesalahan yang diperbuat, memiliki itikad baik dan tekad yagn kuat untuk memelihara keutuhan keluarga dan kemudian bekerja sama untuk mewujudkan perubahan ke arah yang positif.

    Jika keputusannya kebalikannya adalah bercerai, saya berharap hal itu bukanlah keputusan yang tergesa-gesa dibuat, atau karena pengaruh orang lain, termausk orang-orang terdekatnya. karena dalam kecemasan akan ketidakpastian masa depan, ketakutan untuk menjadi seorang single parent, keputusan yang dibuat adalah keputusan yang bersifat emosional. Justru orang-orang terdekatnya dalam posisi ini seharusnya bukan mendesak ia mengambil keputusan itu, karena hal itu bukanlah yang utama. Hal yang utama adalah bagaimana memberi dukungan moral kepada si isteri untuk menghadapi tantangan ini. Berusaha mengurangi beban pikirannya dengan cara-cara yang benar, sesuai iman GEreja KAtolik.
    Si isteri membutuhkan dukungan dari semua orang yang mengasihi dia dengan tulus, terutama keluarganya.
    Justru mendorong ia memikirkan hal ini, menambah beban baru, terutama bila permohonannya ditolak, dan keputusan tribunal pun tidak dalam relatif singkat diperoleh. masa penantian itu akan membuatnya semakin tertekan.

    May God bless her steps and protect her children.

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>