Selamat Jalan Romo Lamers

Update Terakhir: Ditambahkan beberapa foto dokumentasi (16 September 2008)

Kita semua kehilangan, kehilangan figur seorang Pastor, Romo Lamers yang telah berpulang hari Sabtu 6 September 2008. Hari Sabtu pagi, saya ikut misa harian di St Anna. Sebelum menaiki tangga gereja saya mendengar suara Rm Dibyo membuka ibadat, saya jalan santai saja melewati pintu masuk – membuat tanda salib – mencari tempat duduk paling belakang. Mau maju ke depan, nggak enak sama Romo karena terlambat datang. Untung saya tidak mengambil tempat didepan seorang pemuda berbaju kotak-kotak hijau muda (?) yang bangku di depannya kosong…. sebab setelah diteliti ternyata “pemuda” itu adalah Romo Ardi ….

Belum lama berdiri di tempat saya, rasanya ada yang nggak biasa di depan sana, di altar… Romo Dibyo tidak bersuara… dan tidak ada suara buku dibuka lembar demi lembar, as usual – maaf, saya nggak bisa menyebut nama siapapun Romo itu – …. saya tidak berhak memberi comment… saya yang semula menunduk lalu memandang ke altar… Romo Dibyo masih diam saja seperti orang kehilangan kata-kata…. lalu mulai membuka suara…: Romo Lamers meninggal beberapa menit yang lalu………

Jadilah hari Sabtu hari yang tidak biasa bukan hanya untuk saya tetapi untuk semua warga paroki Santa Anna…

RIP Romo Lamers

Waktu dikabari jenasah dalam perjalanan “pulang” ke St Anna, saya memutuskan pulang dulu ke rumah… sampai di rumah saya cerita pada suami bahwa jenasah sedang dalam perjalanan menuju gereja. setelah berganti shirt warna gelap karena waktu misa pagi saya pakai kemeja merah muda, saya dan suami pergi ke gereja. saya diturunkan di depan pintu gerbang sementara suami saya masih ada keperluan lain. ternyata jenasah belum lama tiba. mobil ambulans masih ada di depan gereja. saya memasuki gereja seperti memasuki ruang hampa udara….. di kaki altar, jenasah terbaring dalam peti putih seperti yang teman-teman lihat… Saat maju menuju peti jenasah, kebanyakan orang menyentuh tangannya untuk memberi penghormatan. saya maju dengan perasaan setengah melayang… saya berdiri disisi kepala, hanya memandangi wajah Romo Lamers yang terlihat begitu bersih dan — cakap! ganteng menurut orang kan tidak sama… Sekitar 5 thn lalu paman saya meninggal, saya menunggui di kamar jenasah mulai dari saat dipindahkan dari sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan -menunggu dimandikan di RD St Carolus, sampai jenasah dimasukan ke dalam peti mati dan disemayankan di kapel, wajahnya tidak berbeda… paman saya meninggal dalam usia selisih 4-5 thn lebih muda dari usia Rm Lamers saat meninggal… Pendek kata, wajah Rm Lamers berbeda dengan foto yang ada di depan peti jenasah, dan berbeda dengan wajah sehari-hari menjelang sakit dan masuk rumah sakit….

RIP Romo Lamers

Beberapa bulan lalu Romo Lamers datang ke rumah untuk memberikan komuni bagi kedua orangtua saya. Dengan ayah saya, beliau sempat berbicara dalam bahasa asli-nya… asyik juga kalau bisa bicara dalam bahasa Hollanstall, lebih mudah dari bahasanya Pangeran Charles….

Hari Sabtu kemarin, jadilah hari yang lebih istimewa dari hari sabtu sebelum-sebelumnya… setelah melayat, kami berdua ke sekolah untuk menjemput anak yang sedang ulangan umum. rupanya kabar duka belum sampai padanya, padahal saya sudah kirim kabar melalui temannya yang berbeda kelas. ketika di lobi sekolah diberitahu Romo Lamers meninggal, anak saya seolah tidak percaya. Lalu kami pergi, mencari makanan untuk makan siang di rumah, di perjalanan kami memutuskan untuk mampir ke gereja, mengantar adik melayat. Masih dengan baju seragam SMA, adik turun dari mobil, berjalan melintasi lapangan parkir, memasuki gereja…. mulanya dia ragu-ragu untuk masuk ke gereja, minta ditemani, lalu saya antar adik mendekat ke peti jenasah. waktu itu sekitar jam 1 siang, disekitar peti hanya ada 2 orang pegawai gereja…. adik menatap jenasah berlama-lama…., rupanya dia memperhatikan jenasah sampai ke jubah yang dikenakan………. setelah puas menatap Imam-nya yang telah tiada, saya meminta adik berdoa. Adik berdoa, lalu kami pulang ke rumah….

Sore hari kami kembali ke gereja untuk mengikuti misa. Karena dia punya keinginan untuk tugas, saya sudah wanti-wanti, kalau mau tugas satu jam sebelumnya sudah ada di gereja… Turun dari mobil, adik berjalan menuju sakristi melalui pintu belakang. Rupanya sudah banyak putera altar yang hadir dan ingin tugas, dan yang puteri hanya bertiga… saat adik bersiap ganti baju, muncullah seorang putera yang kemudian genaplah putera-putera altar yang akan bertugas. karena yang puteri hanya bertiga, jadilah puteri-2 ini mengalah…. mungkin juga Tuhan menghendaki begitu, dengan tidak bertugas, adik dapat mengabadikan misa yang khusus ini…. justru kemudian suami saya bertugas, dipanggil ke sakristi oleh ketuanya……..

Minggu sore, kami berangkat dari rumah jam 04.15. sampai di gereja sudah penuh… adik kembali ingin bertugas.. tetapi rupanya pembagian tugas sudah diatur dengan mengikutsertakan putera/puteri dari stasi yoakim… adik tidak bisa ikut tugas… mungkin ini Tuhan juga menghendaki begitu, dengan demikian adik bisa mengabadikan misa yang dihadiri banyak Romo tamu….. Saya bersyukur mendapat tempat duduk di bagian depan.

RIP Romo Lamers

Sampai akhirnya tibalah saat dimana kita semua harus melepas kepergian Rm Lamers. Setelah pemberkatan jenasah, Uskup beserta para Pastor kembali ke sakristi. Adik masih sempat mengabadikan wajah Romo Lamers dalam peti jenasah. sementara saya sempat bertemu dengan Frater yang dulu menjadi pembimbing pa/pi altar. lalu peti jenasah ditutup, diusung ke mobil jenasah yang telah menanti di depan pintu gereja…. adik larut bersama umat yang mengikuti dibelakang peti jenasah. matanya
memerah… aku tahu, adik berduka. tadi pagi dia sempat menyatakan perasaannya untuk ikut mengantar jenasah ke Girisonta. “ulangan umum-nya susulan aja”, katanya polos sambil menyebut mata pelajaran untuk hari senin dan selasa, diantaranya pelajaran matematika. Waduhh.. matematika! mendingan ulangannya bersama-sama dengan teman sekelas daripada ulangan susulan sendiri nggak ada temannya, begitu kata saya kepada adik. Sementara bude-nya (kakak saya) yang datang dari luarkota mengomeli: ikut ke Girisonta? kan jauh, Semarang masih terus lagi… ini kan lagi ulangan umum, nggak usah! Untung adik tidak tahu bude-nya ngomel…

Saat peti mulai dimasukkan ke dalam mobil jenasah, adik masih sempat mengambil gambar dari belakang mobil. matanya tidak lepas dari peti jenasah, dia malah tidak perduli teman-teman puterinya berkelompok di dekat mobil jenasah sambil memandang ke dalam mobil. bahkan ada seorang puteri altar yang telah kelas 2 SMA berdiri di pintu pengemudi dan matanya tak lepas dari peti jenasah, ia kemudian ia menyandarkan tubuhnya ke mobil ambulans, seolah tidak ingin berpisah…………..

RIP Romo Lamers

Banyak pemandangan tidak biasa dari para putera puteri altar sejak awal sebelum misa dimulai…. mulai dari mereka yang berkelompok duduk di bangku paling depan, dekat dengan peti jenasah. hingga peti telah masuk ke dalam mobil jenasah, mereka berkelompok di sisi mobil. ketika mobil jenasah berbelok melalui pintu dekat pastoran, sebagian dari putera-puteri ini beranjak menuju pintu pos satpam tempat bus keluar dan berbelok ke arah sekolah strada.

Sementara peti sudah dimasukkan ke dalam mobil, saya dan adik berdiri menghadap mobil jenasah. mata adik memerah. Saya tahu adik menahan tangis sampai akhirnya adik benar-benar menangis. tangis seorang anak perempuan yang belum genap 15 tahun usianya, tangis seorang puteri yang kehilangan Imam-nya… tangis yang tulus…… dua kali adik menangis, ketika peti diusung keluar gereja matanya memerah, ketika peti dimasukkan ke dalam mobil jenasah wajahnya basah. Dan detik-detik menjelang mobil jenasah diberangkatkan adik mulai terisak lagi. Saya membelai rambutnya, Saya ingin menghibur tetapi kata-kata seolah tidak ada artinya……………………………………….
Rasanya tidak ada teman-temannya yang menangis di sekitar mobil jenasah… Ya Tuhan, aku bahkan tidak bisa menghiburnya saat anakku sedang berduka……..

RIP Romo Lamers

Apa yang membuat adik berduka? Kehilangan tentunya. Adik juga punya pengalaman yang mengesankan dengan Romo Lamers almarhum. Ketika belum lama dilantik menjadi PA, kelas 1 SMP, adik pernah mendapat tugas bersama teman SD yang juga menjadi PA dan yang bertugas adalah Romo Lamers. Kejadiannya sebelum camping rohani misdinar 2006 di Cibubur. Yang bertugas puteri dan hanya berdua. Entah siapa yang bertugas memukul gong, memukulnya terlalu lama sehingga Rm Lamers menurunkan hosti/piala sebelum gong ke-3 berbunyi… setelah misa selesai dan kembali ke sakristi, mereka berdua mendapat hadiah ketukan di kening (jitakan) dari Romo Lamers…………

Natal 2007, adalah tugas misa besar terakhir bersama Romo Lamers… aku malah sempat merekam prosesi arakan dari sakristi (pintu samping) hingga pintu gereja, hanya sayangnya dalam video itu Romo Lamers tidak kelihatan karena barisannya panjang dan beliau ada di paling belakang….

Saat terakhir Romo Lamers bertugas misa pada Sabtu sore – bulan apa lupa, saat itulah tugas terakhir Romo Lamers dengan adik. waktu itu, konsentrasi membacanya sudah berkurang, seringkali ditengah membaca Romo berhenti lama seperti nggak bisa membaca kata/kalimat berikutnya. Setelah hari Minggu itu, selama beberapa waktu Romo Lamers dikabarkan sakit, sampai akhirnya masuk rumah sakit.

Satu-dua hari sebelum Romo Lamers meninggal, adik sempat mengungkapkan perasaannya kepada saya: “semoga waktu misa minggu sore itu bukan misa terakhir Romo dengan aku”.

Harapan tinggal harapan. hari Sabtu kemarin bukan lagi tugas terakhir dengan Romo Lamers. Dalam dua hari ini adik menghadiri misa terakhir dengan Romo Lamers yang telah berpulang………. adik menangis ketika mobil jenasah beranjak meninggalkan gereja. Kami mengira mobil jenasah akan berbelok menuju arah gedung yos, kami berdua jalan ke arah gedung Yos. Nyatanya mobil berbelok menuju arah rumah sakit duren sawit… keluar dari gerbang satpam, dikejauhan kami melihat sirene mobil ambulans didepan gerbang sekretariat paroki. Saya mengajak adik bergegas untuk lebih mendekat ke arah mobil ambulans. Kami masih jauh dari pintu gerbang dan mobil ambulans ketika pandanganku menatap gerakan mobil polisi yang mulai bergerak, dalam hitungan detik mobil jenasah mengikuti di belakangnya…….. Saya menoleh ke belakang… bus ke 2 sedang berusaha keluar dari gerbang pos satpam. tangisan adik semakin keras, airmata basah di wajahnya…. Saya hanya bisa menggigit bibir sambil merangkul dan membelai rambut adik…

Satu per satu bus melalui gerbang tempat mobil jenasah keluar…. busnya sudah lewat semua belum, aku bertanya kepada adik… Sudah, ini yang ke lima, adik menjawab lemah….. suara sirena menghilang ditelan malam.. Wajah adik masih basah dengan airmata. aku hanya bisa berucap: nanti kapan-kapan kita ke main Girisonta ya, menengok Romo disana… jangan nangis lagi.. kan Romo sudah pergi… iklaskan aja….

RIP Romo Lamers

Jadi, kalau ada anggapan bahwa Romo Lamers galak, sepertinya tidak sepenuhnya begitu. Anakku punya kenangan indah bersama Romo Lamers, yang mungkin juga ada hal atau cerita lain yang tidak terungkap…. Buktinya anakku menangis melepas kepergian beliau… Tangis yang aku, ibunya, belum pernah melihat sebelumnya………………………….

Ditulis oleh Lucida. Foto oleh Lucida & Johan Sutrisno

9 Responses to “Selamat Jalan Romo Lamers”

  1. RALAT:

    Natal 2006, adalah tugas misa besar terakhir bersama Romo Lamers
    Seharusnya: Natal 2007

    Saat terakhir Romo Lamers bertugas misa di suatu minggu sore
    Seharusnya: Saat terakhir Romo Lamers bertugas misa pada Sabtu sore

    Terima kasih.
    (Lucida)

  2. Salam kenal,

    Ibu Lucida, bolehkah saya minta gambar2 Romo?
    Saya tidak sempat datang requiem-nya.
    Gambar sewaktu beliau masih bugar pun juga boleh.
    Mail saya di belinda.astuti@yahoo.com ya…

    Terima Kasih,
    Uty

  3. Pengalaman yg paling berkesan bagi saya setiap ada misa di lingkungan saya Romo selalu menghitung umat yg datang. Beliau menghitung untuk mengetahui berapa orang yg terima komuni dan juga berapa org warga lingk yg datang, beliau selalu menekankan pentingnya warga untuk menghadiri misa lingk apalagi kalau yg datang anak2 beliau senang sekali. Selamat Jalan Romo Lamers selamat beristirahat di Surga yg Tuhan Yesus sdh sediakan untuk Romo. Kenangnmu selalu ada di hatiku dan di hati semua umat paroki St Anna.

  4. Yth Ibu Lucida

    Salam kenal,

    Bolehkah saya minta foto Almh Rm Lamers No. 1 & 5 pada artikel ini.

    Email saya : mariajane_h@yahoo.com

    Terima kasih banyak.

    Tuhan memberkati anda.

  5. Rekan Paulus, foto yang saya berikan bisa di share kepada Ibu Uty dan Ibu Jane atau kepada siapa pun yang memintanya. Terima kasih..

  6. sy .. kangen sm Romo.masih ingat, terakhir kali Romo pimpin misa di lingkungan sy, misanya di rumah sy..

  7. Mari teman-teman kita bersama-sama memperingati 40 hari berpulangnya Romo kita tercinta Rm Antonius Lamers ,SJ pada tanggal 15 Oktober 2008 jam 19.00 di Gereja St. Anna.

    Gbu all….

  8. Bagi yang ingin foto2 diatas bisa langsung simpan foto tsbt ke dalam hardisk anda dengan cara: click kanan pada mouse > kmudian pilih ’save picture as’

  9. Dear All,

    Romo pemberani & tak takut dgn siapapun kecuali yg di Atas.
    Inget betul di saat beliau lg membawakan renungan di gereja, dan kebtlan di samping gereja kami polsek. karena sangat terganggu dgn suara2 keras di samping gereja, lsg saja romo angkat jubag & turun dari altar & menuju tempat yg akan dia tegus. spontanitas kami para mudika mengikuti beliau dari belakang.

    Selamat jalan romo…kami selalu mendoakan romo dari sini. terima kasih atas pelayanan romo selama di bumi ini…….

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>