Roh Kudus, O Roh Kudus

Dalam hidup kita sebagai orang Kristen, kita sering menyebut Roh Kudus dalam mulut kita. Bukankah demikian? Bukankah kita sering membuat tanda salib? Dalam tanda salib itu apa yang kita katakan? Dalam nama Bapa, dan Putera, dan. . . .Roh Kudus. Lalu, dalam kredo, apa yang kita katakan berkenaan dengan Roh Kudus? Ya, aku percaya akan Roh Kudus. Kita begitu sering menyebut Roh Kudus, tetapi siapa itu Roh Kudus? Siapa Roh Kudus bagi kita? Di mana tempat Roh Kudus dalam hidup kita? Kita sering berdoa kepada Bapa, juga kepada Yesus. Akan tetapi, pernahkah kita berdoa kepada Roh Kudus? Roh Kudus itu Allah juga. Ia juga pantas menerima pujian dan penyembahan dari kita. Kita perlu lebih lagi mengenal dan mencintai Dia. Untuk itu mari kita lihat bersama apa sebenarnya yang dikerjakan Roh Kudus bagi kita.

Yang pertama-tama harus kita sadari adalah Roh Kudus itu sungguh-sungguh ada dan hadir dalam jiwa kita, persis seperti di surga. Tahukah kamu bahwa kamu adalah kenisah Roh Kudus, bahwa Roh Kudus tinggal di dalam kamu? Bahkan dalam yang terkecil dari kalian, Roh Kudus hadir. Bukankah ini luar biasa? Tuhan yang Mahabesar, yang tidak bisa ditampung oleh seluruh alam semesta, mau datang dan tinggal di dalam jiwa kita yang sempit itu.

Roh Kudus hadir dalam jiwa kita sama nyatanya dengan kehadiran Yesus di dalam tabernakel, hanya caranya lain. Bila masuk Gereja atau kapel, apa yang kita lakukan? Bukankah kita memberi hormat dan menyembah Tuhan Yesus dalam tabernakel. Kita menyadari kehadiran Yesus secara istimewa dalam Sakramen Mahakudus. Lalu, mengapa masih banyak dari kita yang kurang mengenal RohNya, padahal Ia tinggal begitu dekat dengan kita; padahal kita hanya bisa mengenal Yesus melalui Roh KudusNya? Yesus sendiri memohon kepada Bapa agar Roh Kudus itu diberikan kepada kita sebagai Penolong, yang tinggal dalam diri kita. Memang dunia tidak melihat Dia, tidak mengenal Dia. Akan tetapi, kamu. . . . kamu mengenal Dia sebab Ia menyertai kamu dan tinggal di dalam kamu (Yoh 14:16-17).

Roh Kudus itu hadir dan tinggal di dalam kita. Kita adalah tabernakelNya. Coba pikirkan hal ini dengan baik-baik. Kita membawa Allah di dalam diri kita sepanjang waktu. Jiwa kita adalah surga kecil tempat Allah tinggal. Karena itu, kita disebut ilahi. Roh Kudus bersatu dengan kita. Kita mengambil bagian dalam kodrat Allah yang tidak kita pahami. Berkat Roh Kudus di dalam jiwa, kita dibuat ilahi seperti Allah sendiri. Sekali lagi, ini sangat luar biasa.

Roh Kudus berada di dalam jiwa kita tidak hanya sebagai tamu. Ia hadir sebagai mempelai jiwa. PersatuanNya dengan kita adalah persatuan yang mesra dan penuh cinta. Ia mendampingi kita sebagai mempelai dan pembimbing kita. Ia membimbing kita seperti seorang ibu membimbing anaknya atau seperti sebuah lampu yang menerangi jalan kita yang gelap. Mereka yang menyadari kehadiran Roh Kudus dan mencintaiNya akan mengalami segala kegembiraan di dalam hatinya dan tidak akan mengalami ketakutan lagi, sebab ia tahu bahwa Allah selalu besertanya. Dengan demikian, mereka juga akan menemukan doa yang begitu menyenangkan sehingga mereka tidak akan mempunyai waktu cukup untuk berdoa.

Kita sering merasa malas untuk berdoa karena kita sering tidak mau menyadari bahwa Roh Kudus hadir dalam diri kita. Ia juga hadir meskipun kita tidak merasakan kehadiranNya. Perasaan kita itu tidaklah cukup untuk menampung kehadiran Allah. Hanya dengan mata imanlah kita dapat menemukan kehadiran terus-menerusnya di dalam jiwa kita. Lihatlah dengan mata iman siapa yang ada di dalam hatimu maka engkau tidak akan merasa kesepian atau ketakutan lagi.

Roh Kudus itu datang dan diam di dalam kita sejak kita dibaptis. Di situ Ia tinggal untuk selamanya. Ia ada di situ siang dan malam, sepanjang hari, baik kita terjaga ataupun tidur. Ia hadir dalam diri kita saat kita melakukan aktivitas-aktivitas kita, pekerjaan-pekerjaan kita, apa pun itu. Ia hadir kalau Anda sedang memasak, atau menyetir, atau belajar, atau apa pun yang Anda lakukan. Dan, sekali lagi Ia hadir bahkan bila kita sedang tidur. Roh Kudus tidak pernah tidur, bukan? Ia selalu menyertai kita siang dan malam, bahkan untuk selama-lamanya sampai kekal. Jiwa kita adalah tabernakel hidup untuk selama-lamanya. Coba Anda membayangkan seorang ibu yang sedang memomong anaknya yang kecil. Apakah ia akan membiarkan anaknya itu kelaparan, atau kepanasan, atau kekurangan sesuatu? Apakah kalau anaknya menangis, ia tidak akan mencari sebabnya dan berusaha menenteramkan anaknya? Apakah ia tidak akan menjaga anaknya dari segala marabahaya?

Saya teringat akan kisah seorang ibu di Bengkulu, Indonesia. Beberapa bulan yang lalu, di Bengkulu terjadi gempa yang dahsyat, yang menghancurkan sebagian besar propinsi tersebut. Selepas gempa, mulailah usaha pencarian korban-korban yang tertimpa reruntuhan. Suatu ketika regu penyelamat mendengar tangisan anak kecil. Ketika dicari sumbernya, ternyata suara tersebut berasal dari bawah suatu reruntuhan rumah. Mulailah mereka menggali dengan perlahan-lahan. Tangisan akan kecil itu semakin keras terdengar sehingga mereka mempercepat kerja mereka. Akhirnya potongan batu terakhir diangkat. Apa yang mereka lihat? Sungguh mengharukan, seorang ibu sedang merangkul anaknya, melindunginya dari reruntuhan. Anaknya selamat, tetapi ibu tersebut sudah tidak tertolong lagi. Lihat, seorang ibu saja, yang hanya manusia, begitu mencintai anaknya sehingga rela berkorban sampai mati untuk anaknya, apalagi Roh Kudus yang melindungi tidak hanya badan, tetapi jiwa kita. Tidak mungkin ia akan membiarkan kita binasa. Ia akan selalu melindungi kita.

Lalu, ada kemungkinan bahwa suatu saat Roh Kudus tidak bisa lagi ada di dalam jiwa kita? Roh Kudus tidak akan meninggalkan kita kecuali. . . kalau kita berbuat dosa berat, dosa yang kita lakukan dengan tahu dan mau. Ini sangat mengerikan dan karenanya kita mengusir Roh Kudus dari jiwa kita bersama semua cintaNya. Kasihan Roh Kudus. Ia begitu mencintai kita. Ia adalah sahabat kita yang paling agung. Ia begitu ingin bersama dengan kita, bercakap-cakap dengan kita, memperhatikan kita, menolong kita, menghibur kita. Namun, Ia tidak bisa melakukan semuanya itu kalau kita sendiri menolak Dia, menolak cintaNya, menolak perhatianNya dengan melakukan dosa berat. Dengan berbuat dosa berat kita sebenarnya telah mengusir Dia dari dalam jiwa kita. Bukan Roh Kudus yang tidak mau tinggal dalam jiwa kita, melainkan kitalah sebenarnya yang mengusir Dia. Dengan mengusir Roh Kudus, jiwa kita kehilangan pelindung. Mungkin kalau seorang anak kecil kehilangan ibunya, ia masih bisa ditolong ayahnya, atau sanak saudaranya, atau orang lain. Akan tetapi, kalau jiwa kita kehilangan Roh Kudus, kita kehilangan segala-galanya. Tidak ada lagi yang melindungi kita. Dengan mudah kita akan jatuh ke dalam kekuasaan setan, yang akan menarik kita kepada kebinasaan.

Kalau Anda melakukan dosa berat, ketahuilah bahwa Anda telah mengusir Roh Kudus dari jiwa Anda. Sesalilah hal itu. Bertobatlah sekarang juga. Pernahkah Anda melihat bangkai yang membusuk? Jiwa yang membusuk akibat dosa jauh lebih mengerikan dibandingkan dengan bangkai yang membusuk. Akan tetapi, Tuhan Yesus sanggup menyembuhkan kita, mengampuni dosa kita. Sama seperti Ia sanggup menyembuhkan orang yang sakit kusta dalam Injil, Ia juga sanggup menyembuhkan kita dari kusta rohani, yakni dosa. Ada satu sakramen dalam Gereja Katolik yang sangat berharga dan luar biasa, yakni Sakramen Pengakuan Dosa. Mengapa Anda tidak menggunakan sarana ilahi ini? Jangan menunda terus karena besok mungkin sudah terlambat.

Semoga kita semakin menyadari kehadiran Roh Kudus di dalam jiwa kita dan mencintaiNya di atas segala sesuatu. Amin. (fg)

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>