Revolusi Batin adalah Revolusi Sosial

Kita tidak menyaksikan bahwa ada revolusi sosial sedahsyat apapun mampu mengubah kualitas hidup manusia. Banyak sekali masalah kehidupan yang kita hadapi: kekacauan, ketidakadilan, konflik dan peperangan, kemiskinan, dst. Sebagian dari kita a-patis, tidak mau tahu atau tidak mau melakukan apa-apa karena tidak tahu harus melakukan apa di tengah belantara persoalan dunia. Sebagian yang lain terjun di dunia aktivis untuk melakukan apa saja yang bisa dilakukan, berusaha menjawab sebagian kecil dari banyaknya persoalan yang ada.

Persoalannya jauh lebih dalam daripada sekedar bertindak atau tidak bertindak, menjadi aktivis atau bukan-aktivis. Bereaksi dengan sikap diam-pasif atau tidak mau melibatkan diri dengan masalah-masalah kehidupan bersama merupakan ekspresi dari isolasi diri yang jahat. Menjadi aktivis yang terbakar untuk mengatasi masalah-masalah sosial di luar tanpa menyentuh kontradiksi-kontradiksi dalam batinnya sendiri juga bukan jawaban yang memadai.

Tidak ada jawaban yang memadai tanpa kembali melihat persoalannya secara menyeluruh. Akar dari kekacauan kita adalah bahwa kita membuat pemisahan antara diri dan dunia. Dunia yang rusak ini dipandang berada di luar dari diri. Kita lalu berhadapan dengan dunia sebagai suatu entitas di luar padahal dunia sesungguhnya tidak ada bedanya dengan diri kita. Untuk melihat kebenaran, kita musti menyadari kepalsuannya. Kalau kita melihat kepalsuan ini, maka kita akan sadar bahwa dunia tidak ada bedanya dengan diri. Kita akan menyelidiki persoalan ini dan bertanya mungkinkah kita hidup sungguh-sungguh berubah setiap hari, yang dari sana perubahan-perubahan di luar mungkin terjadi.

Revolusi Batin

Kebanyakan orang berpikir bisa berubah pelan-pelan, sedikit demi sedikit, secara bertahap. Aku sekarang terluka dan berharap suatu saat aku akan sembuh. Aku sekarang jahat dan aku percaya suatu saat akan menjadi baik. Orang berkata waktulah yang akan menyembuhkan atau segala sesuatu akan menjadi baik seturut berjalannya waktu.

Orang belajar untuk mengumpulkan pengetahuan, teori, teknik atau metode. Orang belajar berbagai cara untuk bebas dari belenggu batin. Orang mendisiplinkan diri dan berjuang mengikuti system pemikiran tertentu atau pola ideal tertentu. Sekarang aku jahat. Besok aku tidak ingin jahat. Aku akan mencoba tidak jahat. Aku tidak seperti yang seharusnya. Aku akan mencoba menjadi yang seharusnya. Aku sekarang menderita. Suatu saat aku berharap bebas dari belenggu batin, mengalami pencerahan, naik ke surga, masuk kerajaan allah, menjadi ilahi. Kita selalu memupuk semangat agar tetap bertahan dalam pencobaan, memupuk pengorbanan, melatih kesabaran. Saat penderitaan tak tertahankan, kita bertanya-tanya kapan semua beban ini akan berakhir? Demikian seluruh gerak waktu adalah pergulatan.

Apakah pengalaman, pengetahuan, pola ideal yang kita anut membawa perubahan? Bukankah semua pengalaman atau pengetahuan justru menjadi perintang untuk memahami kenyataan apa adanya?

Apakah kebaikan, ketertiban, kebebasan merupakan hasil dari perjuangan? Bukankah kebebasan yang dihasilkan sebagai reaksi atas keterbelengguan bukanlah kebebasan? Pergulatan untuk menjadi bebas adalah keterbelengguan yang lain. Ide kebebasan itu sendiri tidak lain hanyalah perluasan dari keterbelengguan.

Mengapa kita berjuang menciptakan kebaikan, ketertiban, kebebasan? Mengapa kita menciptakan idea bukan kejahatan, bukan kekacauan, bukan keterbelengguan? Bukankah kita enggan menghadapi fakta dan berlari dengan mencari penghiburan, rasa aman, rasa pasti? Kita menyibukkan diri dengan berbagai konsep ideal, ideologi, utopia, cita-cita, tujuan luhur dan mengejarnya dengan membabi-buta. Lalu lahirlah daya upaya, pergulatan, perjuangan, pendisiplinan, proses panjang untuk menjadi yang bukan faktanya. Bukankah semua itu tidak membawa kita kemana-mana, tidak menciptakan perubahan yang sesungguhnya?

Ada orang-orang yang merasa berubah setelah berjuang sekian lama. Aku sekarang merasa lebih baik dari hari kemarin. Aku sekarang menjadi lebih damai dari pada tahun-tahun yang lalu. Tetapi sungguhkah kebaikan atau kedamaian merupakan hasil dari perjuangan, hasil evolusi bertahap, hasil kemajuan dalam rentang waktu?

Kalau pola ideal dan perjuangan batin mencapai tujuan luhur itu merupakan pintu pembebasan, mengapa sebagian besar orang meski sudah berjuang begitu lama tetap lumpuh didera tekanan hidup? Mengapa kejahatan makin merajalela? Kenyataannya kita tetap hidup ditengah kondisi yang sama, ketakutan, konflik, kejahatan, brutalitas, pemiskinan, ketidakadilan, eskploitasi, penindasan dalam berbagai bentuk. Tengoklah masalah-masalah global seperti pemanasan bumi, kerusakan lingkungan, kemiskinan, kejahatan trans-nasional, penyebaran penyakit, dst. Berbagai bentuk kejahatan dan eksploitasi justru berkembang menjadi lebih canggih. Krisis dan kerusakan yang ditimbulkan menjadi lebih masif dan lebih dahsyat. Bukankah ini bukti bahwa batin manusia tidak sungguh berubah setelah sekian juta tahun manusia mendiami bumi?

Kita menyaksikan adanya evolusi secara fisikal, biologis, teknologis. Tunas menjadi pohon. Anak ayam menjadi induk ayam. Anak bayi tumbuh berkembang menjadi dewasa. Perkampungan kumuh berubah menjadi perumahan mewah. Miskin menjadi kaya. Kota kecil menjadi kota besar. Lalu kita berpikir bahwa perubahan batin adalah sama seperti evolusi fisikal dan ini adalah sebuah kekeliruan fatal. Kenyataannya, batin tidak mengalami kemajuan atau perubahan bertahap. Kemajuan atau perubahan yang kita alami hanyalah modifikasi, perluasan, reaksi dari yang sudah ada sebelumnya. Secara biologis ada evolusi, secara batin tidak ada evolusi. Tetapi orang menerapkan evolusi biologis ke dalam kehidupan batin. Apakah anda melihat kepalsuan ini?

Revolusi batin hanya mungkin terjadi di luar waktu. Ia ditemukan dari saat ke saat, bukan penerusan atau perluasan dari sebelumnya. Ia mungkin terlahir kalau kita berdiam bersama fakta, bukan sibuk dengan yang bukan-fakta. Belajar untuk memahami fakta bukan dengan mengumpulkan pengetahuan lalu mendisiplinkan diri, tetapi memandangnya tanpa jarak, hidup bersamanya tanpa waktu, tanpa beban ingatan masa lampau, tanpa proyeksi ke masa depan. Selama masih ada perjuangan, pergulatan, daya upaya, di sana kita masih berada dalam rentang waktu.

Dengan tinggal bersama fakta sepenuhnya, batin keluar dari bentangan waktu, keluar dari dirinya sendiri. Di sana ada Energi yang luar biasa, gairah yang meluap tak terkatakan. Energi itu ada di Saat Sekarang, di luar waktu. Saat sekarang juga bisakah ambisi kita berhenti, bukan nanti atau suatu saat di masa depan? Kalau kesempatan sekarang belum terjadi, bisakah ambisi berakhir Saat Sekarang berikutnya?

Revolusi Sosial

Orang tahu bumi semakin rusak, kekacauan ada di panggung politik, eksploitasi masif di bidang ekonomi, kekerasan dan kejahatan tumbuh subur di tengah masyarakat, konflik selalu ada dalam hubungan antar pribadi. Orang bertanya apa yang bisa kita lakukan? Pertanyaan ini telah melahirkan berbagai teori dan system ideologi. Teori yang satu mengatakan kualitas hidup individu akan berubah secara alamiah kalau struktur sosial di luar berubah. Teori yang lain mengatakan bahwa perubahan harus mulai dari individu; kalau individu berubah, masyarakat dan dunia juga akan berubah. Lahirlah gerakan-gerakan sosial kiri atau kanan, liberal atau konservatif, religius atau sekular. Bukannya menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi dalam masyarakat, gerakan-gerakan ini justru menambah konflik yang ada. Perubahan sosial atau revolusi sosial yang sesungguhnya tidak pernah terjadi. Kita masih hidup di tengah mesin perusak, kekacauan, eksploitasi, konflik, kekerasan, kejahatan, dst. Kondisi jaman sekarang tidak berbeda dari jaman-jaman sebelumnya.

Perubahan yang sesungguhnya tidak datang dari gagasan, system ideologi, teori, tetapi dari pemahaman diri secara total. Pertanyaan kita bukan apa yang bisa kita lakukan untuk mengubah dunia, tetapi bisakah kita hidup betul-betul berbeda dari hari kemarin. Apa yang kita lihat di luar–kekacauan, eksploitasi, konflik, kekerasan, kejahatan—ada di dalam batin kita. Bisakah kekacauan batin kita berhenti seketika? Bisakah kita mengalami perubahan radikal dari batin yang kacau menjadi batin yang tertib, suatu revolusi batin seketika? Kalau batin tertib, maka mungkin akan ada ketertiban di luar.

Diri tidak terpisah dari dunia karena diri identik dengan dunia. Kalau pikiran berakhir, diri juga berakhir. Kalau diri berakhir, dunia yang kita kenal ini juga berakhir. Dunia yang kita kenal adalah seperti panggung perluasan diri. Dunia penuh dengan warna-warni kenikmatan dan kesakitan, dualitas konflik dan kompromi. Semua itu tidak berbeda dari diri.

Diri atau dunia yang kita kenal ini tampaknya nyata. Ketika pikiran berakhir, dunia terlihat tidak nyata seperti yang kita duga. Realitas dunia adalah seperti bayang-bayang. Kalau kita belum melihat realitas apa adanya, maka kita mendapati tidak ada sesuatu yang lain yang lebih nyata dari pada dunia yang kita kenal ini. Lalu kita membangun hidup dan bergulat dengan kesakitan dan kenikmatan. Proses ini terus berlajut hingga kita sampai pada keadaan bangun. Ketika orang tidur, orang bisa bermimpi buruk atau bermimpi indah. Mimpi tampak begitu nyata sampai orang terbangun. Setelah bangun, orang sadar bahwa mimpi tidak nyata. Begitulah dengan pandangan kita terhadap diri atau dunia ini.

Orang-orang yang bangun, sadar, waspada bukan berarti menjadi a-sosial atau a-politik. Mereka tidak menjauhi realitas sosial atau politik, tetapi berelasi secara baru dengan realitas sosial, politik, ekonomi, agama, berelasi secara baru dalam hubungan-hubungan pribadi. Keterlibatan sosial dan politik atau keterlibatan dalam hubungan-hubungan pribadi tidak lagi berpusat pada ambisi kepentingan pribadi.

Bisakah kita hidup tanpa kepentingan pribadi sama sekali, tanpa keinginan, tanpa kemauan, tanpa belenggu, tanpa diri? Bisakah kita bertahan hidup tanpa gerak keinginan yang tidak sungguh kita perlukan untuk kelangsungan hidup? Kalau diri berakhir, maka ada kebebasan–yang bukan lawan dari belenggu, yang bukan bebas melakukan apa saja yang kita mau–dan tindakan yang bersumber dari kebebasan pasti benar. Kalau diri berakhir, maka ada sesuatu yang lain, sesuatu yang kudus, dan yang kudus ini menggerakkan tindakan kita dalam relasi satu dengan yang lain.

Kita bertanggung jawab bukan pertama-tama untuk menciptakan perdamaian dunia atau ketertiban umum. Kita tidak dituntut untuk mengubah keadaan dengan merombak struktur di luar. Tanggung jawab kita pertama-tama adalah memahami diri sendiri karena dengan memahami diri sendiri damai dan ketertiban itu muncul dan berdampak ke luar. Itulah yang bisa kita lakukan pada lingkup mikro.

Pada lingkup yang lebih luas, masih ada faktor-faktor lain yang ikut menentukan perubahan, misalnya kekuatan politik, kekuatan modal, dan kekuatan informasi. Namun demikian kunci utama perubahan bergantung pada para penggeraknya. Perubahan struktural dalam batin akan mengubah lingkungan pengaruh hidup kita dan menembus struktur-struktur sosial di luar.

Diri identik dengan dunia dan realitas batin identik dengan realitas sosial. Persoalannya bukan bagaimana mengubah dunia, bukan bagaimana mengubah keluarga atau masyararakat, juga bukan bagaimana mengubah diri sendiri. Melainkan bisakah kita hidup sungguh berbeda dari saat ke saat, bukan melanjutkan apa yang sudah berlalu atau mengejar apa yang belum terjadi. Bisakah kita hidup tanpa diri? Bisakah kita hidup di tengah dunia tetapi bukan dengan semangat dari dunia? Kalau diri ini berakhir, sesuatu yang kudus mungkin akan tampil dan menggerakkan tindakan kita secara baru di tengah dunia. ”Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diriKu bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.” (Yoh 17: 18-19)*

6 Responses to “Revolusi Batin adalah Revolusi Sosial”

  1. Romo, aku ini orang jahat rupanya, orang jahat yg tidak mampu mengalahkan dunia, orang jahat yang mengalirkan kejahatan tersembunyi sehingga dunia menjadi rusak, jahat, menjauhi kenyataan yang ada, hidup dalam kepalsuan.

    Kenyataan yg ada aku ini jahat kok. Kalau aku tidak jahat, kejahatan dunia mungkin berkurang karena mesin-mesin penjahat tidak beroperasi. Aku yg berpenampilan sopan dan rapi tidak ada bedanya dengan orang jahat yg biasa disebut penjahat. Penjahat tidak selalu seperti yang kita bayangkan: garang dan bersenjata tajam. Penjahat juga ada yang berpenampilan rapi : berdasi, berkerah putih, kadang-kadang memakai T-Shirt kegiatan sosial yang diikuti atau T-Shirt keluaran terakhir. Apa yg aku lakukan sebagai orang jahat kalau tidak mau disebut penjahat? Apa saja bisa aku lakukan termasuk membunuh. Membunuh? Ya, membunuh! Membunuh tidak harus dengan senjata tajam atau alat lainnya yg bisa membuat orang “masuk jalan tol” ke tempat para malaikat berkumpul atau ke tempat para orang-orang berdosa dipanggang dlm api penyucian. “Membunuh” bisa dengan kata-kata yg mengakibatkan karakter seseorang berhenti atau mati. Saat saya menghakimi seseorang secara sepihak, menuduh seseorang dengan semena-mena, mengeluarkan kata-kata yg tidak benar, tanpa sadar saya telah “membunuh” orang lain. Hmm! jangan-jangan ketika kematian yg sesungguhnya terjadi aku “membunuh” object dengan maksud tertentu : hidup tenang, menguasai harta duniawi’nya sing akeh-akeh, atau selingkuh. Hidup tenang agar satu bebanku berkurang, menguasai harta bendanya agar aku kaya raya, atau yg terakhir yg belum disebut disini… kalau yg ini saya no comment aja. Lha aku kan ngga sadar?

    Kejahatan yg ada di dunia, pengerusakan, kerusuhan, kekerasan, dst ternyata berawal dari aku yg tidak mau tahu, tidak perduli pada keadaan. Ternyata, aku memang jauh dari kesadaran. Beberapa waktu yg lalu kalau saya “bertemu” Romo dalam misa, dalam homili Romo sering sekali mengatakan tentang kesadaran: “Hanya ada dua pilihan: anda sadar atau anda tidak sadar”. Iya Romo, (dulu) saya tidak sadar. Yang saya alami saya bingung setiap kali mendengar kata-kata itu terulang di altar. Apa sih maksud Romo setiap kali berkata anda sadar atau tidak sadar!? Pikiran ini merambat lagi, apa Romo tahu apa yg terjadi.

    Inilah ke-tidaksadar-an’ku. Aku berlari dari kenyataan di Saat Sekarang dan masuk dalam kekosongan, adakah Tuhan disana? “Apa yg salah dengan kepala’ku?” adalah kalimat biasa bagi orang yg gemar berdiam dalam keheningan. Kepalaku terletak diatas bahu dan disangga dengan leher yg jenjang ya, secara anatomi memang begitu, bukan seperti lagu seorang penyanyi terkenal “pikiranku tak dapat kumengerti, kaki di kepala, kepala di kaki”. Kesalahpahaman terus berlanjut, aku terus terjerumus ke dalam lubang ketidaktahuan karena aku merasa aku sudah menimba cukup pengalaman dan pengetahuan dari kotbah atau tulisan-tulisan Romo, karena aku merasa lebih hebat lebih pintar dari yg lain. Aku tidak punya cukup pengetahuan bahwa isi kepalaku adalah pantulan dari apa yg dalam hatiku, pikiran liar yg berasal dari reaksi batin. Saat memasuki dunia hening jiwa raga, mungkin tubuh ini bisa bertahan diam bermenit-menit hingga hitungan jam, tetapi jiwa-ku? Batin-ku? Aku tidak bisa membedakan batin yg bereaksi atau pikiran yg melesat karena raga-ku yang sedang diam kuanggap mewakili kesadaran diri seluruhnya. Wah, fatal akibatnya! Aku jadi orang aneh, kebiasaan yg berasal dari batin yg bereaksi dalam hening terbawa keluar dari tubuhku. Komentar batin sering keluar dari mulutku diiringi tertawa renyah membenarkan diri. Secara fisik aku hadir dlm pertemuan, tetapi roh’ku entah kemana. Aku menganggap apa yg aku lakukan baik adanya, padahal yg terjadi justru sebaliknya: membuat keadaan kacau dan orang mengangkat alis terheran-heran. Bagaimana aku mengalami revolusi batin bila moment by moment aku tak sadarkan diri… eh kalau itu pingsan namanya. Percuma saja aku dicekoki pengetahuan dan bacaan yg bagus-bagus kalau aku tidak sadar. Orang-orang yg mengelilingi aku pun enggan mengulurkan tangan, aku dibiarkan beraksi seorang diri.. hehehe… ternyata, bukan hanya Caleg yg depresi berat dan disediakan pelayanan rumah sakit jiwa oleh pemerintah. Mestinya aku berada disana, kalau malu menetap untuk observasi setidaknya untuk konsultasi, karena kewajaran yang aku tampilkan ternyata jauhhhh sekali dari kenyataan… Kasihan yaa!

    Aku tidak pernah mengalami kebebasan yg sesungguhnya, yg aku alami sekedar merasa bebas: bebas dari segala tuntutan yg membuat kepala dan sekujur tubuhku sakit bukan kepalang. Mengapa bisa sakit? Karena kalau apa yg aku inginkan apa yg aku anggap baik tdk terpenuhi, aku menjadi sakit, sakit jasmani dan sakit rohani. Sakit jasmani bisa pergi ke dokter, aku punya cukup uang utk rawat jalan. Kalau sakit rohani? Rohaniwan pun mungkin enggan mendekat karena aku kerap tidak sadar mengabaikan orang lain. Ketidaksadaran membuat aku semakin terpuruk dalam kesendirian, tanpa sadar aku mengeksploitasi orang lain.

    Bagiku memang sulit hidup bersama dengan aktualita tanpa jarak, diluar arus waktu, karena aku terbiasa dan mapan dengan cara hidupku yg sekarang. Tak ada yg berani mengutak-atik diriku, meski kata-kataku kerap mengambang tidak jelas apa maksudku. Jadilah aku terus melakukan pengejaran untuk apa saja yg aku anggap baik, sehingga teman-temanku menggeleng-gelengkan kepala dan menjauhi aku. Aku tidak lagi hidup mengalir dalam arus kehidupan, tapi arus yg lain… nggak tau tuh Romo namanya arus apa!? Yang jelas aku bisa dikatakan tidak mengadakan pendekatan terhadap masalah kehidupan, wong aku justru menjauh dan lari dari kenyataan. Romo, seperti yg pernah saya katakan dulu: berlari adalah kegiatan yang melelahkan. Sekarang aku masih juga berlari ya Mo…

    Seandainya revolusi batin terjadi pada setiap pribadi di paroki ini, alangkah bahagianya hidup rukun dan damai, tanpa kecurigaan tanpa memasang filter. Setiap kali mau menyambangi seseorang, yg ada awalnya adalah rasa takut: takut tidak diterima, takut ditolak sehingga orang atau teman yg lain keberatan mengapa begitu banyak rambu yg saya pasang… hihihi.

    Memang benar apa yg Romo katakan, bukan karena apa yg Romo katakan selalu benar melainkan karena saya mengalami sendiri dan bukan mengulang pengalaman orang lain yg saya tulis: damai batin hanya ada di luar arus waktu. Lagi, kembali soal Energi, bukan Energi hasil olah tubuh dst melainkan energi diluar arus waktu. Energi murni yg dengan kesadaran seutuhnya hadir bukan karena dilatih-latih seperti latihan pernapasan mulut-hidung hidung-mulut, bukan karena dipupuk karena kalau dipupuk belum tentu ada kesadaran didalamnya, bukan karena berjam-jam aku bertahan dalam keheningan. Kalau yg terakhir disebut ini, bisa jadi saat berdiam dalam keheningan pikiran melayang entah kemana atau menahan kantuk. Apakah anda pembaca dan pemerhati milis meditasi ini ingin merasakan Revolusi batin yang sesungguhnya, semoga keinginan itu bukan menjadi ambisi langkah berikutnya.

    Baik Romo, terima kasih atas tulisan yg tidak mampir ke address sehingga membuat saya agak bingung, dikirim langsung atau ke email Romo seperti biasa. Terima kasih untuk mengingatkan saya melalui tulisan ini akan kekurangan yg ada pada saya. Selama pagi, selamat berkarya. Hati-hati ya Romo, jangan sampai modemnya rusak.

    Salam
    NN

  2. Salam damai bersama Kristus,

    Romo Sudrijanta yang saya kagumi… Maaf , saya bukan warga paroki Santa Anna. Namun saya belum lama ini kerap membuka site ini. Membacai tulisan-tulisan romo Sudrijanta, membuat saya seperti ‘dibaptis’kembali secara nyata (karena dulu yang eprtama kali saya masih kecil, jadi tidak tahu rasanya pengalamn dibaptis, hehe).

    Saya ingin bertanya, apakah dengan melakukan otokritik terhadap diri adalah juga bagian dari sikap penilaian yang sebenarnya malah cenderung membawa kita pada suatu konsep ideal atau pelabelan baru?

    Tulisan romo ini menarik juga mungkin untuk dibaca oleh para penggiat atau aktivis sosial, budaya, etc, yang seturut pengalaman saya (karena termasuk saya sendiri-pun) terkadang terjebak pada pengkambing hitaman bangunan sosial eksternal melulu.

    Terimakasih
    Salam hangat dari pembaca setia tulisan-tulisan Anda. Kapan kira-kira sekaliannya akan dibuku-kan???
    =============

    Anda betul. Kritik atau otokritik selalu berangkat dari konsep ideal tertentu dan konsep ideal justru menghambat revolusi. Kritik atau otokritik berguna untuk menghasilkan perubahan pinggiran, tetapi bukan revolusi.

    Kebiasaan menyalahkan bangunan sosial sama buruknya dengan menyalahkan bangunan diri sendiri. Mengapa menyalahkan atau mengkambinghitamkan? Ingatan bawah sadar kita menyimpan pola-pola ideal tertentu dan kita merespond persoalan dari ingatan. Revolusi bergerak dari sesuatu di luar pola-pola ideal yang tertanam.

    Ada rekan lain yang juga minta segera dibukukan. Mungkin dalam beberapa bulan ini.
    Sudrijanta

  3. HOREEEEYY!! DITUNGGU LHO, MO, BUKUNYA HEHE…^_^

  4. Manakala Alpa

    Melihat parasit di kebun tetangga
    Acap membuat lupa
    pekarangan rumah sendiri

    Melihat jelaga di wajah mereka
    Acap membuat lupa
    Rona apa sedang bermukim- di hati sendiri

    Riuh rendah suara-suara
    Menina bobokkan di luar sana
    Begitu halus goda candu
    Hingga larut-pada ruang kasak kusuk itu

    Sedang disini-sejenak alpa
    ‘tuk sekedar menilik kembali
    Ada apa saja- di rumah sendiri …

    Mei, 2009

  5. Revolusi Batin adalah Revolusi Sosial

    Berjalan-jalan kembali di rubik ini,banyak yg dapat kita petik.Tulisan yg sampai mengenah”kita menyibukan diri dgn berbagai konsep ideal,ideologi,utopia,cita-cita tujuan luhur&mengejarnya dengan membabi buta”.

    “Semua itu tidak membawa kita kemana-mana tidak menciptakan perubahaan yang sesungguhnya”

    Karena setiap individu hanya terpaku pada’diri’tidak tuntas untuk mengetahui dimensi terdalam realitas hidup ini.
    Kalau saja Judul ini ada dihati kita Revolusi Batin adalah Revolusi Sosial menjadi hantaran yang sungguh-sungguh merubah pribadi kita,keluarga kita,lingkungan sosial kita juga,menyadari perubahaan itu Cinta Allah akan hadir disetiap detiknya sehingga keindahaan&kebenaran merekah di setiap hati kita.Seperti kutipan ini(Yesaya11.5).

    Terima kasih Romo kami boleh berjalan-jalan di web St Anna,banyak hal yg dapat kami temui di sini untuk penyadaraan setiap saat.GBU

  6. Syalom untuk Romo Sudrijanta

    Romo, rupanya memahami makna dan arti dari “revolusi batin adalah revolusi sosial” tidaklah mudah, butuh pemahaman yang mendalam, agar kita mampu memaknai arti dari revolusi batin.

    mengenal tujuan dan arah dari revolusi,
    dalam benak manusia umum selalu muncul pertanyaan, hal apa dan perbuatan benar seperti apa yang harus kita lakukan agar kita dapat dinilai baik oleh batin dan lingkungan sosial.
    banyak orang mengartikan bahwa perbuatan yang baik dan benar adalah perbuatan yang mengikuti suara batinnya, namun batin yang belum tertanami oleh kebaikan justru akan mengarahkan manusia kedalam kesalahan, dan kesalahan tersebut
    akan membuat perubahan yang salah pula pada lingkungan sosial.
    banyak kekeliruan pemahaman seperti itulah
    yang membuat kita harus mengenal lebih dalam karakter dan kepribadian kita, supaya kita dapat
    membedakan antara kebenaran dunia dan kebenaran sesungguhnya.
    untuk dapat menciptakan perubahan batin yang lebih baik,
    dan akan menciptakan perubahan sosial yang jauh lebih baik lagi.

    terimakasih romo sudrijanta

    salam dari saya
    “Suryana”

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>