Retret Meditasi di Cibulan
Retret Meditasi pada semester pertama tahun 2009 dilakukan dua kali. Yang pertama tanggal 19-26 Januari 2009. Peserta seluruhnya ada 12 orang. Sejumlah 4 orang ikut dalam gelombang pertama tanggal 19-22 Januari dan 2 orang meneruskan ke gelombang kedua bersama 8 orang lainnya tanggal 23-26 Januari 2009. Berikut ini adalah sebagian pengalaman yang mereka tulis pada akhir retret.
Retret Meditasi yang kedua dilakukan tanggal 24-26 Juli 2009. Jumlah peserta sebanyak 29 orang. Anda bisa membaca pengalaman retret mereka di rubrik “kesaksian”.







Terima kasih, romo sudri yang sudah memberikan kami waktu dan kesempatan baiknya untuk kami semua yang sangat mencintai meditasi. Retret meditasi ini salah satu kesempatan untuk mengamati setiap gerak batin kita dan sadar setiap gerak langkah kita.
Tempat sejuk dan udara dingin membuat kami melihat dan merasakan rahmatNya. Melepaskan diri, melenyapkan keinginan-keinginan duniawi, membebaskan diri dari ketakutan, keterikatan, keterkondisian, mengejar, berambisi, mengukung, dan kekawatiran persoalan hidup kita harian.
sedikit,membagi pengalaman nyata,dimana kita bisa merasakan dan mau menerima segalanya dengan senang hati,dan waktu ataupun tempat,kerinduan itu tidak berkesudahaan.
Berat untuk meninggalkan tempat yang baik, udara yang baik,sahabat-sahabat yang baik,lingkungan yang baik pula. dalam keheningan,kita hanya menemukan Ia bersama-sama,dalam diri kita dan dalam sahabat-sahabat,namum tetap kita menyadari,
untuk terus hidup diluar,rutinitas kita kembali. bekal itupun sudah saya peroleh dan bisa dirasakan untuk semua orang dikehidupan harian saya.
Saat pulang kerumah, akhirnya kutemui dan kusadari, kalau saya sudah
Memperoleh hal-hal baik dan kebebasan batin ini untuk bisa menyayangi dan mengasihi dan memberikan semangat serta memberikan dorongan kepada orang-orang di sekitar kita.
Melepaskan semua segala keinginan-keinginan duniawi memang tidak mudah, namun dengan sungguh menyadari setiap saat, setiap detik, setiap waktu gerak batin ini, dan berhenti sejenak pikiran,yang melintas sesaat, disitu KEBEBASAN kita peroleh.
sahabat-sahabatku yang mungkin belum mendapatkan kesempatan baik ini untuk retret bersama, niscaya retret harian kita di rumah sungguh juga berarti. Karena meditasi bisa kita lakukan dimana saja, jika hati sudah rindu dan keheningan itu akan menghantarkannya untuk masuk didalam Nya.
salam penuh kasih
regina mary
2009/01/24 at 10:15 AM
AKU mengamati diriku sendiri. Kalau saya mengatakan sangat mencintai meditasi artinya saya melekat pada meditasi, meditasi menjadi object pikiran saya, saat kata ‘meditasi’ melintas dalam benak saat itulah pikiran saya terkondisi dan mulai melakukan pengejaran.
Sadar akan setiap gerak langkahku adalah baik, hanya ada dua kata yakni sadar atau tidak sadar. Sadar akan setiap gerak langkah sementara pikiran menerawang, apakah saya sadar ? ? ?
Segala daya upaya untuk melenyapkan segala keinginan arus dunia, meraih kebebasan, untuk tidak melekat, adalah bagian dari gerak pikiran. Pikiran ini terus saya amati, sampai habis, berhenti sendiri, tanpa hasrat dan tujuan, mengikuti gerak yang tak saya ketahui dari dalam diri. Saya hanya mengikuti saja setiap gerakan, langkah kaki, dan itu sangat sangat kusadari, mulai dari saat membaca email Romo tentang retreat meditasi hingga menjelang berangkat menuju pastoran dimana mobil telah menunggu. Pikiran bergerak begitu cepat, berubah menjadi liar: kecemasan menghantui pikiran karena Romo mematok angka “13” untuk jam keberangkatan, sementara gerak pikiran sebelumnya mengatakan paling tidak sebelum 12.30 saya siap di gedung yos, dan saat waktu menunjuk angka 12.30 saya baru akan bergerak mencari kendaraan untuk pulang ke rumah. Saat mendekati rumah, kaki bergerak menuju minimarket mencari sepotong roti untuk pengganjal perut yang belum diisi, sementara pikiran mulai sibuk mengalahkan niat itu untuk segera pulang ke rumah. Perjalanan menuju tempat retret belum dimulai, tapi pikiran ini seperti sudah berhenti, yang bergerak hanya tangan-tangan, kaki-kaki, tubuh, dan itu sangat disadari.
Untuk saya, kerinduan yang tidak berkesudahan mesti berakhir sendiri begitu saja, alami, karena gerakan yang tak saya ketahui itu tadi yang ada yang membuat batin menjadi baru setiap saat. Pikiran tidak bisa membantah atau mengatur-atur diri, karena gerak dari dalam diri itu seperti memenuhi diri. Ada sesuatu yang lebih dari segalanya dalam diri ini, tidak sekedar seperti pikiran yang menguasai diri.
Setiap saat pikiran bukan hanya melintas tetapi masuk secepat kilat, adakah kita sadari? Kita bahkan tidak sadar pikiran itu sudah membuat tindakan dalam diri ini, aku, saya, apapun kata ganti penunjuk diri, dengan melakukan sesuatu yang diarahkan untuk tidak semestinya dilakukan dalam retret ini, berinteraksi dengan sesama bahkan dengan dunia luar. Ini bukan berasal dari hati yang jernih, bersih, bukan tindakan yang berasal dari kemurnian hati. Bagaimana mau taat pada pemimpin dalam kehidupan sehari-hari apakah itu pemimpin dalam rumah tangga, pemimpin jemaat, hirarki, pemimpin perusahaan, bila masih ada hasrat, pengejaran, keinginan untuk menguasai (segala bentuk keinginan), ego, yang semua itu tidak disadari oleh aku dalam diri.
Saat waktu berakhir untuk meninggalkan tempat retret, tidak ada yang tersisa karena disadari waktu untuk kembali masuk dalam kehidupan sehari-hari. Hati siap melangkah untuk esok hari dan seterusnya, dan berharap suatu saat bisa ikut retret dengan lebih baik lagi.
2009/01/28 at 11:17 AM
Dearest Romo n Saudari2 ku semua,
Maafbaru bisa menulis. Itupun akan singkat. Thanks to Romo yg sudah menyediakan wkt khusus bagi kami cantrik2, bimbingan Romo, masih terus diperlukan. Bukannya kami melekat, tapi kadang kalau belum diarahkan ,atau dijawab Romo, kami masih hrs meraba2 sendiri; jadi malah salah kaprah.
Retreat mggu lalu sangat terasa gunanya bagiku,semakin membawa lebih peka, lebih empaty thdp sekeliling, keluarga, dan saudara2 ku yg kadang bercerita, share kepadaku mengenai bbrp macam problem maupun hanya sekedar cerita ringan.
Tetapi bagiku sendiri, saya sungguh tertegun n terhenyak pada saat Romo bawa kami ke lap. Hely Wisma. Wah….wah…. I can’t say anything. BUT AMAZING…….Saya betul mati total……yg effect nya sgt berguna untuk menghidupi Real Daily Life kedpn. Ktakutan, kelekatan, dll mudah dihancurkan dg penyadaran. Yach meski tentu saja tiap saat masalah muncul, tapi skrg lebih mudah HIDUP kembali, inkarnasi kembali, asap2 n belenggu2 dg mudah disappear secara otomatis. Semula ada yg saya INGINkan diakhir Ret2 itu, tapi tak kudapat & kutak merasa kecewa,etc, karena yg kualami saat2 tiga malam disana lebih dr cukup. Tinggal melatihnya secara continyu dg penyadaran total.
To tell You all the Truth. Setelah puncak tugasku selesai pd hari Jumat malam, ada kerinduan saya akan menyusul lagi…….. he,he. Aku nyaris jatuh lagi, bangkit lagi kusadari….. okay…lah cukup sudah. Aku tak bisa Bersaing dg Luci ih……. ah Sorry Lus tak ada Persaingan Diantara para Cantrik ya.
Ah, udah ya jariku dah pegel nih…….
Last but not least, also my special thanks to Pak Budi yg memberi & menyediakan nafkah Jasmani during our Stay there.
Luvin Christ,
l w
Dear all,
Maaf baru sempat menulis. Buat saya pribadi ini adalah retreat ke 2, pengalaman jelas sangat berbeda jauh karena kali ini saya mengalami keheningan.
Ketika saya berangkat dari jakarta menuju cibulan yang ada dalam benak saya besok sudah harus dengan rutinitas meditasi yang lumayan berat makanya saya benar-benar menyiapkan kondisi tetap fresh dan terbuka untuk apapun yang akan saya alami nanti.
Hari pertama berjalan seperti biasa pikiran masih lebih dominan dibanding kesadaran, kaki, punggung menjadi sangat menyiksa melewati 45 menit duduk diam tidak bergerak sama sekali.
Hari kedua saya bisa tahan duduk hampir 2 jam tidak bergerak dan tidak sakit ini buat saya pengalaman yang hebat. Ketika saya kembali lagi untuk duduk ada keinginan besar untuk mengalami hal yang sama tadi dan ternyata bukannya baik malah jadi resah dan gelisah. Bersyukur ketika sore dalam pengarahan Romo menyatakan tidak masalah dengan duduk cara apapun… Ok dan itu sangat membantu di hari selanjutnya.
Dihari ketiga mengalaman yang sangat luar biasa bukan karena bisa duduk lama tapi mengalami masuk keheningan yang lebih jauh lagi, terjadi sangat cepat dan pikiran saya sama sekali tidak bisa menangkap itu tadi apa, yang saya tahu bahwa setelah itu saya seperti habis lari jauh menyedot semua energi saya. Kaki, punggung, tangan dan semua rasanya tidak ada hanya ada keheningan. Seperti menari di atas awan yang begitu luas tidak ada apa-apa hanya ada keheningan itu.
Setelah mengalami semua itu, saya bisa lebih mengerti apa yang selama ini Romo ajarkan dengan sangat jelas. Ada pertanyaan-pertanyaan yang muncul begitu saja dan Romo kita yang satu ini dengan arif mengarahkan semua pertanyaan-pertanyaan itu dengan sangat bagus memhapus selaput yang menghalangi cara pandang saya tentang meditasi ini sendiri. Syukur.
Dikesempatan ini saya mau ucapkan rasa syukur dan terima kasih saya dan “Angkat topi untuk Romo Sudri” untuk semua yang boleh saya alami selama retreat. Menjadi pribadi yang sungguh bebas dari beban arus dunia yang tidak pernah berhenti ini. Pengalaman retreat ini memberi dampak yang kuat dalam perjalanan meditasi saya kedepan.
Terima kasih untuk sahabat-sahabat saya di tahap ke 2, terutama Sri yang selalu bersama saat meditasi pribadi siang jam 08 – 12.30 dalam kesulitan-kesulitan dan keindahannya. Walaupun ada kekonyolan disana-sini diatara kita, ada yang sakit (sari) ada yang protes waktunya tidak tepat (Luci), ada yang duduk bergerak terus (Ira, Lia), ada yang hobi buat menu (Sinta) dan yang duduk meditasi paling ok dikursi dengan santai nya sampai kepencerahan (dewi), Ibu Promono punya semangat besar walaupun sudah tua yang membuat saya menyayangi beliau, namun ini semua memberi warna baru untuk lebih saling mengenal, menjadi lebih dekat, mencintai sebagai satu keluarga. Harapan
Dear all, Maaf baru balas, apa kabar semuanya? inilah tulisan pengalaman tentang retret sy kemaren..
retret cibulan kali ini adalah retret meditasi ketiga kalinya yang bisa sy ikuti. seperti biasa sedikit kabur dr kntr dg timing yg paaasss banget, ga ada bos besar di kntr.. ketemu lg dg Christine, Sinta, Ira, jg dg ci Lia, mba Luci, Sari, Bu Purnomo, n Dewi. dan yg pasti ada Pater Sudri, sayang kali ini ga bisa bareng ci Mery n Oma Lily..
hari pertama diakhiri dgn badan yg babak belur alias sakit semua. 45 menit duduk diam meditasi sy anggap sbg prestasi tersendiri. keterhentian pikiran sy sadari lebih panjang dan reaksi yang terjadi ternyata pribadi ini tidak siap. memaksa diri ini memunculkan segala pikiran bahkan sampai pikiran2 buruk pun datang. segala kesadaran yang mengatasi rasa sakit kaki, perut dan punggung menjadi tidak berarti. rasa sakit ini menjadi lebih dominan dan tidak bisa lagi tidak menjadi beban. alhasil setengah hari kedua sy lalui dengan berantakan.
setelah sharing, ternyata kondisi di atas membutuhkan keberanian lebih. semula diri ini ragu, sanggupkah? disamping itu tidak dibutuhkan kesadaran aktif mengatasi keadaan di atas, justru kesadaran saat itu juga, tanpa harus memilih mana yg harus diatasi terlebih dulu, rasa sakit tubuh atau kesiapan untuk keterhentian pikiran yg lbh lama. selangkah lebih maju. Trims Pater..
hari selanjutnya, rasa kantuk yg luar biasa, kembali kesadaran saat itu juga, dan meditasi bisa dilanjutkan dengan segala kondisinya, termasuk ada rasa penyesalan karena keterhentian pikiran ini tidak lagi seperti yg sebelumnya. pikiran lebih sering muncul dan rasa sakit lebih terasa. membutuhkan kesadaran yang lebih. ini melelahkan. hari terakhir, saat duduk diam, terlintas pikiran, kenapa reaksi batin ini tidak sama seperti yg sy bayangkan saat Pater mengajak semua peserta utk menghentikan segala ritual doa? tidak ada doa pagi, doa makan, apalagi doa malam. semua dihentikan. alhasil..??
sampai saat ini sy belum menyambut komuni lg. semua terasa melayang – layang. kosong n hampa. tapi diri ini belum tau, apakah ada hubungannya dengan keterhentian segala ritual ini? situasi ini sangat mengesalkan. apakah ada kesempatan utk mengalami api? apakah persepsi murni akan muncul? kita liat sj nanti.
Thank you so much Pater… dan terima kasih utk kebersamaan kita selama retret teman-teman… sri sangat menghargainya.. salam, sri.
Dear All,
Sharing yang menarik dari peserta retreat membuat saya jadi sungguh kepingin ikut suatu saat nanti,karena saya belum pernah mengikuti khusus retreat meditasi tapi tidak menjadikan suatu pengejaran. Saat teman-teman retreat , saya sempat 2 hari berturut- turut meditasi pagi hari di tengah-tengah sawah daerah Ubud Bali, suasana yang berbeda,di sebuah pendopo di depan villa kamar kami, yang begitu saya lihat langsung berpikir, ini dia tempatnya sangat cocok untuk meditasi ( meskipun dimanapun kita bisa melakukannya ), suasana yang menyatu dengan alam, bunyi gemercik air , suara burung , kodok dan jangkrik dengan alunan musik Bali, semilir angin bertiup , semuanya demikian cepat pikiran menyatu terhanyut dalam keheningan dan terasa begitu indah dan bebas dari keterbelengguan dan keterikatan, bebas dari beban dunia dan saat saya selesai rasanya ngga kepengin masuk ke dalam alam nyata, tapi saya berpikir, koq ngga realistis ya, semua keheningan dan kebebasan yang didapat membuat kualitas hidup yang lebih baik dari ke hari, sungguh terasa manfaatnya.
Saya cerita dengan suami saya saat itu setelah meditasi dan dia bilang, kan bisa juga meditasi disini, bayangin saja sedang meditasi sama teman-teman semua, hehe….tapi ngga ada yang bimbing saya disini , wah kalo ada Romo Sudri mestinya meditasinya akan lebih baik,
Anyway, thanks untuk sharing dari teman-teman semua
Salam,
mary
Hi…………para sobatku pemeditasi-2 yang handal… aku yang kecil dan bulat ini (yg lebih kurus juga ada kan..si Aurelia itu loh), sebetulnya malas menulis/ketik ..lebih enak sharring-nya gomong langsung; cepat, singkat…..dan…tuntas… tetapi… gatal juga hati ini kalo ga ikut arus kehidupan he he he jadilah seperti tsb. di bawah ini:
1. Awalnya……….ada gerak hati/mungkin juga kerinduan… ingin undur diri/mundur dari routinitas yang …hampir hampir monoton ini… maka…melayanglah sms ke padre/’Suhu Yo’ menanyakan kapan waktu luangnya bisa kita manfaatkan, mumpung masih di Jakarta, daripada kemudian hari bukannya ga mungkin markasnya pindah ke Nabire sono ato belahan bumi manalah…terus kita ngajak retret, apa ga modar tu modalnya (tiket/waktu dll….dll)sesuatu yang mustahil kan!..) dengan sedikit aturan main/usulan waktu/hari, alangkah baiknya kalo retret meditasi itu dilaksanakan hari kamis/jumat sd minggu (akhir pekan)..> itu dari kacamataku dan teman teman seprofesi juga barangkali yang sehari harinya menghabiskan waktu menjadi kuli/pekerja pada orang lain bukan owner seperti ibu Merry misalnya. Berhubung isi sms itu ga’ penting….saya tidak mengharapkan/menunggu balasan,
2. Singkat kata/kalimat: jadilah kami retret yang kali ini seperti UMPTN aja, ada gelombang 1 dan gelombang 2, mungkin karena diakibatkan oleh adanya gelombang arus kehidupan.
3. Kamis siang menjelang sore, saya merasa ada yang ga’ beres nih…kepalaku mulai terasa berat/pening…semakin sore semakin terasa… meski tidak saya pikirin sebab semakin dipikirin semakin sakit kan! Ketika Ira menelpon untuk konfirmasi jam berangkat, saya pesenin tolong bawa laserin donk, saya agak sedikit masuk angin barangkali.(ira kan punya pabrik obat mecosin he he).
4. Mampir di sentul, gantian nyetir, saya akhirnya meneguk setengah botol laserin-nya Ira.lalu ambil alih kemudi dengan catatan sampai di wisma nanti, tolong kerik-kin.
5. Nyasar dikit akibat mengambil patokan’mbok bariyah’ /’ibu barayah’ bangunan bercat hijau yang ternyata sudah dicat menjadi putih, setelah dipandu ‘Suhu Yo’ akhirnya mendaratlah kami di wisma SJ sekitar jam 19.00.
6. Ternyata menjadi malam yang menyenangkan karena bisa tidur pulas/nyenyak, selain karena sempat icip nasi ayam bakar ala Wisma SJ tetapi juga ternyata fasilitasnya ok; ada ahli pijit/acupressure… hm……hm…..mantap…hasilnya? tubuh penat/kepala terasa berat ini menjadi ringan….lepas bebas …barangkali….itu pengalaman meditasi pertama.
7. soal meditasi:
Mungkin karena saya datang dengan satu tujuan: meditasi, hanya itu, jadi saya ya menikmati aja dari waktu ke waktu. Sikap saya sewaktu meditasi;pertama tama mencari posisi duduk dan letak tangan yang enak/pas.Setelah itu saya berusaha kosongkan pikiran, diam aja kadang pejamkan mata,ketika sadar sudah melantur, mata dibuka sedikit dan berusaha sadar tidak mencari pikiran,tetapi pikiran apa aja muncul, ketika sadar itu pikiran, saya berusaha menghentikan itu …tetapi saat saat tertentu saya mengalami kekosongan/hening, tak ada pikiran, tak merasa apa apa..tak mendengar apa apa, tetapi itu tak berlangsung lama.. beberapa menit aja, seperti berada dalam suatu situasi yang….sulit dikondisikan, apa itu yang dinamakan persepsi murni? Mengapa cuman sebentar ya? Ketika tersadar ..apa ya.. tetap tak tau…lalu muncul pikiran lain. Begitu terus silih berganti,. Mungkin itu yang namanya kosong tetapi berisi yah…Bagi saya posisi duduk ok, jalan ok. Pikiran melantur…ok, terkantuk kantuk (biasanya waktu pagi menjelang jam 06.00), juga oke oke aja he he…melewati waktu yang ditentukan lepas bebas tanpa beban. pokoknya kali ini saya tidak terbebani oleh waktu dan kondisi (posisi dudukku nyaman nyaman aja, ga ada rasa pegel dll dll.seperti tetanggaku sebelah kiri dan kanan ha ha..Enjoy aja.
Lebih menikmati adalah moment setelah jalan (walking meditation) itupun berlangsung/terjadi setelah menit menit pertama berlangsung (mungkin setelah 5-10 menit) dan saat sebelum 5-10 menit akhir sebelum ketukan lucia or Christin menyudahi pengembaraan pikiran karena pada menit menit tsb. di atas, keheningan diusik oleh: menit menit awal (maap maap yah..bagi yang terusik) oleh batuk batuk, bersin bersin, hidung tersumbat,…dll dll (ga minum oskadon sih.. )dan menit menit terakhir: bunyi bunyi yang timbul karena adanya gerakan anggota tubuh entah jari jemari yang dikletek, entah ganti posisi duduk dll dll.tetapi..its ok…menandakan aku tidak tidur.
Saya sempat sempat berdoa: Tuhan terima kasih karena saya diberi kesehatan yang baik, bernapas dengan baik dalam situasi apapun, tidak seperti mereka yang sesak napas/hidung tersumbat, batuk batuk dll. Mohon belas kasihMu agar mereka bisa mengalami keheningan tanpa beban. Bukannya saya mengamati atau menunggu jawaban dari Tuhan,…tetapi yang terjadi setelah itu… benar benar hening..yang ada hanyalah suara alam dan sesekali suara mesin mobil/motor. Apa mungkin saat itu saya mendadak budek kali ya….
8. Sedikit tanggapan soal curhatnya ibu Christin: saya memang sedikit kasak kusuk menu, tetapi itukan tidak sepanjang waktu meditasi, lebih jelasnya merubah menu karena hari pertama itu, akibat salah menu, siang itu kita makan urap (mayoritas sayuran kol dan kelapa) plus bakmi yang terlanjur kebanjiran kuah, akibatnya sore itu meditasinya terganggu dengan …. Perut kembung akibat kebanyakan gas, lantai yang dingin dan hujan, tubuh menyerap hawa dingin dari kaki yang tak beralas kaos kaki memperburuk kondisi tubuh. Seperti kata orang, men sana in cor pore sano, dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat (kira kira begitu deh intinya he he, kalo salah Christin tolong benerin). Lah… ini.. tubuhnya gak sehat akibat diisi dengan yang gak sehat..akibatnya jadi sakit. Orang sakit apa bisa meditasi ya Mo?mungkin bisa ya Mo, mesti belajar ni dari Romo, karena itu juga pikiran ya Mo!
9. Ucapan terima kasih tentunya buat Suhu Yo karena kehadiranmu membantu memperjelas pencerahan yang dari ATAS itu. Amin.
10. MOHON MAAF BERIBU, BILA ADA YANG BENAR BENAR TERUSIK KARENA KEUSILANKU, BUKANLAH MAKSUD HATI MELUKAI SIAPAPUN YAH… INI HANYA TULISAN APA ADANYA TANPA ADA MAKSUD LAINNYA.
Dear Sri,
Tahu tidak apa yang membuat saya ingin membalas email Sri ?… di akhir cerita nanti kamu akan tahu sendiri…
Siap atau tidak siap pikiran yang berhenti saya sadari sejak saat menerima, membuka, dan membaca email Romo tentang full meditation retreat: tahap 1 tgl 19-22 tahap 2 tgl 23-26. Entah kenapa, setiap kali saya terima email dari Romo apakah tentang tulisan meditasi atau retret meditasi kemarin pikiran ini berhenti nafas berhenti, dunia luar seolah berhenti… hehehehe… jangan tanya kenapa, saya tidak bisa jawab… Tgl 15/1 kemarin itu pun begitu: nafas berhenti dst…. waah lihat, Sri, pikiran saya bergerak: jangan-jangan Romo mengirim email tanpa nafas (nafasnya berhenti)…..hiiiii……
Sri, seperti pembicaraan kita di akhir retret menjelang makan malam, pikiran-pikiran buruk melintas di hari-hari pertama lalu seiring dengan berjalannya waktu retret pikiran buruk itu kehilangan daya cengkeramannya, itu yang saya alami. Kebetulan, pikiran buruk yang kita alami sama yakni orang mati.
Tentang ritual doa, mungkin kalau siang/sore itu Romo tidak ada di ruang makan (waktu itu kita baru datang, Sri), bisa jadi Romo tidak tahu kalau saya berdoa di kapel. Waktu itu Romo berdiri membelakangi pintu kapel dan saya menyelinap di balik punggung beliau, masuk ke kapel…… setelah itu saya minta korek api pada Pak Budi untuk menyalakan lilin di kapel karena saat itu yang terbersit dalam pikiran sewaktu berdoa, lilin tidak dinyalakan…. hahaha…. ketahuan kalau saya berdoa …………………
Ritual doa yang dimaksud itu dijelaskan Romo sewaktu pengarahan Senin malam sebelum meditasi, sambil memandang saya (Romo kok tahu saya berdoa koronka?) misalnya doa koronka, doa rosario…. untuk ini saya bisa mengerti, karena tujuan kita bukan seperti retret umum lainnya tetapi retret meditasi. Beruntunglah Sri karena ini retret yang ketiga, ini retret meditasi saya yang pertama.
My dear Sri, kita turun gunung hari Senin malam, jadi wajarlah kalau sampai sekarang Sri belum menyambut komuni.. Yang dimaksud belum menyambut komuni mungkin nanti misa hari Sabtu/Minggu? apa sempat masuk kerja jam 8 di daerah Medan Merdeka sebelumnya ikut misa pagi dulu?
Sampai hari ke tiga di rumah, saya suka tersenyum kalau ingat saat kita berdua ngobrol di teras depan waktu menunggu mobil datang (Senin malam). Masih ingat gak waktu kita berdua tertawa lepas….hahahaha…….. ssttt…. yang lain tidak boleh tahu!!
Salam,
L
Bagaimana rasanya putus hubungan dengan dunia luar selama berhari-hari, meditasi belasan jam per hari tanpa interaksi dengan sesama ? keinginan untuk menghubungi keluarga lenyap meski pada hari-hari pertama pikiran-pikiran buruk muncul bergantian.
Dalam diam tubuh ini mencoba mengikuti gerak halus dari dalam. Saat rasa lelah luar biasa datang, kesadaran berkurang dan gerak halus tak terasa. Saat rasa jenuh datang, perhatian beralih mencari tempat yang cukup nyaman untuk mengamati diri sendiri. Ternyata diri ini punya admirer. Dia tahu kapan saya datang, dia tahu kapan saya melakukan pengejaran atau ambisi, dia tahu kapan saya didera rasa takut. Dia hebat sekali. Di sisi kanan rumah induk Wisma Cibulan ada sarang laba-laba yang cukup besar, dekat tembok kuburan. Pada hari pertama saya melihat sarang itu, penghuninya bukan hanya sang induk yang begitu besar dan ganas tetapi ada laba-laba yang kecil-kecil. Di sarang laba-laba itu saya melakukan pengamatan, melempari sarang dengan kuntum bunga, daun, tangkai, apa saja dari tetumbuhan hingga induk laba-laba bergerak dari satu benda ke benda yang lain. Saya melihat diri saya seperti laba-laba itu, saat saya merasa terusik akan sesuatu hal, pikiran ini bergerak, merespon, hingga melakukan tindakan. Semua terjadi begitu cepat tanpa disadari bahwa itu adalah gerak pikiran atau reaksi batin.
Suatu saat, pada jam konsultasi Romo mengatakan bahwa pengalaman yang saya peroleh adalah reaksi pikiran. Keesokan harinya ketika saya datang pada jam konsultasi dan menceritakan hal yang berbeda, Romo mengatakan itu adalah reaksi batin. Ada reaksi pikiran ada reaksi batin, apakah saya sadari kedua hal itu? Setelah menghadap Romo saya mendatangi penggemar saya, ia kembali terusik dengan segala tumbuhan kecil yang saya lemparkan ke sarangnya. Ia bergerak menangkap kuntum bunga yang masuk ke sarangnya, ia bergerak menangkap ranting kecil dan menjatuhkannya ke tanah, ia bergerak menangkap daun yang melekat lalu mengamati sesaat sebelum membuangnya. Seperti itulah saya, saat saya diam pikiran datang seperti kuntum bunga atau daun atau ranting kecil yang menempel pada sarang laba-laba. Sarang itu ibarat arus waktu yang setiap saat mengusik atau siap menyeret kepada situasi apapun dimana saya merasa cemas, melekat atau melakukan pengejaran, keinginan, ego yang semuanya adalah bagian dari pikiran, dan laba-laba itu seperti diri ini yang setiap saat bergerak megikuti arus waktu.
Asyik juga mengamati diri sendiri. Amatilah dirimu sendiri, begitu kata Romo beberapa bulan yang lalu, dan sekarang (saat retret) saya temukan jawabannya bahwa kita, saya dan .. dan siapa ya saya lupa- tiada beda.
Saya menikmati waktu break day di antara peserta-peserta tahap 2 yang datang. Saat makan malam, sempat digoda Romo dengan kata-kata yang halus bahwa saya tidak boleh bicara karena masih retret, “Dia jangan diganggu, lagi berdoa”… sedang makan kok dibilang lagi berdoa, Romo?!
Malam itu saya tidak bisa tidur. Meditasi pagi jam 3-7 yang terhenti separuh jalan, saya lalui sendiri di ruang meditasi. Apa yang membuat saya tidak bisa tidur? Setelah makan pagi, saya duduk-duduk di teras mencari jawaban. Menjelang siang saya kembali ke sarang laba-laba sambil mengamati reaksi dari laba-laba itu. Apa yang terjadi dalam kekosongan ini?
Sabtu pagi setelah makan pagi udara cerah. Seperti sehari sebelumnya saya mengambil sebuah kursi dari meja makan, meletakkan diluar tembok teras, lalu selama kira-kira satu jam duduk bermandikan sinar matahari pagi. Setelah itu saya ke kamar untuk mandi beneran. Peserta tahap 2 yang mayoritas karyawati usia produktif semangatnya luar biasa. Saat waktu meditasi jam 8 sampai sebelum makan siang mereka berkumpul di ruang meditasi. Semangat yang dimiliki peserta tahap dua menular pada saya. Saat waktunya tiba saya datang menghadap Romo. Romo, saya tidak bisa tidur malam. Mengapa, apa penyebabnya? Takut pada Romo.. hehehe… Meditasi bersama pada sore hari dari jam 15-19 membuat saya ‘tenggelam’ dalam kehampaan. Mati total. O’… begini ini rasanya mengalami kematian total dalam Saat Sekarang…. sepi.. hening… kosong… tak ada pikiran yang melintas. Setiap kali ketukan waktu berbunyi rasanya seperti tak ingin beranjak… tapi waktu terus bergulir…
Seperti yang pernah Romo katakan, ketakutan berasal dari sesuatu yang dikenal. Saat saya melekat pada sesuatu yang dikenal saya tidak ingin melepasnya, seperti sebuah pengejaran yang tiada akhir. Sebuah pelajaran yang amat berharga dalam hidup, saya temukan menjelang akhir retret meditasi. Suatu aktualita dalam kehidupan seperti akan saya jalani, siap atau tidak siap. Kalau selama ini saya bersikap seperti melakukan tawar menawar, sekarang saya jalani apa adanya, tanpa pamrih. Menerima segala sesuatu yang disukai sebagaimana yang ada dan tidak menolak apa yang tidak disukai. Selebihnya biarlah tangan Tuhan yang menuntun aku.
Terima kasih kepada Romo Sudrijanta yang telah memberi tempat sebagai penumpang terdaftar dalam mobil yang mengantar ke Wisma Cibulan dan kembali ke Jakarta, yang telah memberi bimbingan dan pengarahan selama retret meditasi; kepada Pak Budi dan keluarga yang telah membuat jasmani saya kenyang tanpa makan malam; kepada Adik yang sejak awal membaca e-mail full meditation retreat men-support sang ibu mengikuti retret tanpa komunikasi sama sekali; kepada teman-teman yang mendukung saya, juga kepada Romo Dibya dan Romo Ardi yang mendadak muncul di Wisma saat Romo suhu tidur siang. Special thanks kepada seorang Pastur yang beberapa bulan lalu menyarankan saya untuk ambil retret, cuti sejenak dari rutinitas sehari-hari. God Bless You All. Diatas segala-galanya terima kasih kepada Dia Yang Mengasihi aku yang memberi kemudahan dan membuka jalan untuk mengikuti retret meditasi ini.
Salam,
L
salam kenal,
saya aling, mau nanya kapan retret meditasi diadakan lagi?
kalo bukan umat katholik boleh ikut ngak?
karena melihat cerita2 kakak2 di atas, saya tertarik untuk ikut retret meditasi, saya sebelumnya memang ingin belajar meditasi.
trima kasih
===========
Bukan Katholik juga welcome. Jadwal retret meditasi berikutnya untuk tahun ini belum ditentukan. Pada saatnya akan diberitahukan lewat situs ini.
Anda sudah pernah meditasi? Meditasi apa yang biasa dipraktekkan?
Salam,
Sudrijanta
saya blm pernah ikut kegiatan meditasi manapun, tapi akhir2 ini saya coba bermeditasi sendiri sesuai dengan panduan buku yg saya baca, hanya konsentrasi pada napas masuk dan keluar, pikiran di kosongkan, hanya itu saja sih, tidak bisa lama2 paling lama 1/2 jam udah ngak tahan pegal kaki dan punggung.tapi saya percaya kalo sudah sampai tahap keheningan mendalam, semua rasa sakit dan pegal tak terasa lagi seperti yg kakak2 share di atas.
jadi kalo memang ada retret lagi dan waktu memungkinkan, saya sungguh berminat.
trim’s Romo
Romo, kalau ada retret meditasi lagi mohon diberitahu via email kepada saya, agar saya bisa ikut..
Saya pernah mengikuti retret meditasi dengan Romo Siriakus, O. Carm dengan cara doa Yesus.
Saya ingin ikut lagi agar cara meditasi saya lebih mantap..
Terima kasih sebelumnya.
Saya belum pernah ikut retret Meditasi tetapi sangat berminat.
Saya baru ikut meditasi 3x pada setiap rabu pagi setelah misa jam 6. Sungguh meditasi merupakan pengalaman yg unik bt saya. Meski belum mendapat keheningan yg dalam, awalnya saya mencoba melawan pikiran yg timbul di benak saya. Semakin saya mengkondisikan utk stop berfikir malah menjadi-jadi. Setelah tahu bahwa kita harus menerima apa adanya baru bisa kompromi & bisa lebih menerima apa adanya.
Buat saya meditasi merupakan relaksasi yang mewah. Mewah karena hanya orang2 yg sadar akan perlunya melatih kesadaran, olah batin,olah pikiran ( tepat tidak berpikir) yang dapat mengikuti pelatihan ini, tanpa mengeluarkan uang, kita dapat mendapatkan ruang & waktu dengan kesadaran penuh untuk mengenal diri terlebih dahulu, baru merasakan kehadiran Sang Ada !
Ah aku sok tahu…aku belum memperoleh hakekat dari meditasi itu sudah bicara banyak. Lebih baik saya lebih mengalami banyak tanpa berkata-kata.
Aku selalu rindu utk bertemu dengan sang Ada (istilahnya Ahmad Dhani) melalui praktek meditasi.
Suhu Yo & teman2, jangan jemu membimbing saya ya !
TH
TH,
Selamat datang di dunia meditasi. Keterbatasan diri yg disadari terus menerus akan membawa anda masuk lebih dalam. Menurut saya anda tidak sok tahu, tdk ada alasan utk merasa sok tahu krn itu hanya reaksi pikiran.
Saya masih dlm taraf belajar meditasi spt anda, mari kita bersama meniti jalan di luar arus waktu.
Salam,
L
Salam Romo dan teman2 sekalian,
Saya mempunyai sedikit pengalaman meditasi yang ingin saya bagikan ke teman2 jikalau pengalaman saya ini bisa membantu dan tentunya pasti banyak kekurangan2 disana sini dan mohon petunjuknya jikalau ada yang kekeliruan. Terutama tentunya petunjuk dari Romo Sudri
Latihan Meditasi yang pernah saya lakukan adalah Meditasi Konsentrasi (dgn memakai objek) dan setelah itu berlanjut ke Meditasi Kesadaran.
Mengapa saya harus melangkah 2 tahap, karena tahap pertama adalah apabila saya sudah dapat mengonsentrasikan pikiran saya tanpa diganggu oleh pikiran2 lain yang muncul didalam latihan tsb, dan faedahnya sehari-hari adalah hanya sebatas untuk menekan napsu keinginan sebatas kekuatan kita dari hasil latihan tsb, namun andaikata tidak bisa ditekan maka semua itu bisa mengakibatkan hal2 yang mungkin tidak kita inginkan, (analoginya “napsu keinginan” adalah rumput liar yang mau tumbuh sedangkan konsentrasi pikiran kita adalah benda yang menimpa rumput liar tsb agar tidak bisa tumbuh) karena saya menyadari bahwa tidak bisa selamanya saya bisa mengontrol rumput liat tsb,maka akhirnya saya memasuki tahap kedua yaitu Meditasi Kesadaran.
Meditasi Kesadaran yang saya latih hanya memperhatikan keluar masuknya nafas dan tentunya saat latihan nafas masih dapat kita sadari namun lama-kelamaan nafas semakin halus dan semakin halus sehingga terasa seperti tidak bernafas dan segala sensasi yg muncul pada fisik sprt pegal kesemutan, kecapekan, bulu roma merinding dsbnya serta yang timbul didalam pikiran saat latihan, saya hanya mengamati dan memperhatikan tanpa ada rasa suka ataupun tidak suka dan yang ada hanyalah disadari dan diamati karena semua itu akan muncul untuk hilang dan hilang untuk muncul begitu seterusnya, dgn demikian melatih batin saya tidak terikat sesuatu dan hanya menyadari sebagaimana adanya, dan tentunya hasil latihan ini harus di latih terus menerus sekaligus dipraktekan didalam kehidupan sehari-hari baik didalam berbicara, berbuat dan berpikir.
Dalam keseharian hidup saya pasti saya pernah mengalami perasaan “Benci / Suka”, dan apabila itu timbul maka saya hanya coba menyadarinya dan mengamati perasaan “Benci/Suka” karena perasaan tsb akan muncul untuk hilang dgn sendirinya.
Disini saya hanya menganjurkan kiranya sdr2/teman2 yang telah mendapat petunjuk dan latihan dari Romo untuk melatihnya dgn disiplin setiap hari walaupun sebentar, jangan sampai berhenti ditengah jalan sebab faedahnya sangat besar dan berharga sekali, karena saya pernah mengalami “berhenti ditengah jalan” karena suatu hal yg tidak bisa saya ceritakan disini apa sebabnya, namun yang pastinya saya harus mulai lagi dari nol, tentunya sdr2/teman tidak mau seperti saya ya..ngak?
Apa yg Romo Sudri jelaskan di dalam tulisan Beliau ttg meditasi adalah tulisan seorang Meditator yg benar2 menguasai meditasi, kepada Romo saya mohon petunjuk jikalau ada tulisan2 saya tentang latihan meditasi saya ada yang keliru dan perlu ditambahkan.
Terima kasih sdr2 n teman2,semoga dapat berbagi pengalaman untuk kemajuan bersama.
Tuhan Yesus memberkhati kita semua, amin.
==========
Saudara Sarjun,
Anda agaknya bukan orang baru dalam meditasi. Pengalaman anda juga saya alami. Meditasi konsentrasi atau meditasi dengan objek, dengan berbagai variasinya, ternyata tidak mampu menembus realita “apa adanya”. Maka saya kemudian mengembangkan meditasi tanpa objek. Mari kita berjalan bersama dan saling memperkaya.
Sudrijanta
Salam Romo dan teman2 sekalian,
Begitulah kira2 Romo, itupun saya jalani hanya sebentar kira2 3th dgn 2 cara, waktu itu Kristus blm memberikan rahmatnya kpd saya utk menjadi orang percaya kpd Beliau. Semuanya itu berawal dari buku meditasi karya guru meditasi dari timur, selang beberapa lama kemudian saya baru dapat bimbingan tidak langsung dari guru meditasi melalui email. Disebabkan oleh karena kebodohan saya, sempat semua itu saya hentikan dan alasannyapun karena kebodohan saya juga.
Waktu itu ada rasa penolakan utk tidak berhenti, karena merasakan tidak ada salahnya, tapi karena ketidak-sadaran saya dan berbagai faktor lainnya, ternyata saya harus mengalah untuk tidak melanjutkan walaupun sekali-kali masih coba di latih, oleh karena itulah saya menulis kpd teman2 disini, sekedar berbagi pengalaman, utk tidak menghentikan latihan meditasi yang Romo ajarkan karena sangat bermanfaat buat diri sendiri dan orang lain sekitar kita.
Romo,sprt yg saya katakan diatas, sblmnya saya bukanlah orang percaya kpd Kristus, suatu ketika tanpa saya sadari saya ingin membaca alkitab PB(kebetulan istri saya adalah Katolik yg waktu itu hanya mempunyai alkitab PB), dalam membacapun hanya asal baca layaknya membaca buku biasa, tapi yg anehnya semakin dibaca semakin terasa enak dan semakin mengerti apa yg tersirat di alkitab… sehinggga akhirnya dgn sadar saya mempercayai Kristus melalui alikitab PB. Banyak orang2 seiman mengatakan itu bimbingan Roh Kudus,,,mungkin saja atau mungkin namanya aja yg berbeda.. saya rasa Romo mengerti maksud saya.
Saya sangat senang membaca tulisan Romo yang menjabarkan dan menjelaskan ayat2 alkitab lain daripada lain (menjelaskannya atau menjabarkan secara meditatif), benar2 apa yang Romo jelaskan/jabarkan adalah yang tersirat, maka yang nyata bagi saya, hasil meditasi sungguh bermanfaat buat yang melatihnya.
Guru meditasi saya pernah memberi petunjuk melalui email kepada saya “bahwa segala fenomena apapun yg saya temukan didalam latihan meditasi saya, tidak terkecuali semuanya itu harus dilepaskan, yang ada hanyalah sadar dan menyadari segalanya didalam meditasi dan suatu saat meditasipun harus dilepas” tapi karena kebodohan dan ketidak-sadaran saya, sampai sekarangpun saya belum mencapai sesuai petunjuk Beliau alias belum sadar.
Demkian Romo, sedikit berbagi pengalaman buat teman2 yang lain. Mohon kalau ada kekurangan dari tulisan saya, Romo sudi memberi petunjuk.
Trims, Tuhan Yesus memberkahti kita semua, amin.