Rasa sayang sudah hilang, bisakah cerai?

Saya menikah 7thn lalu di gereja katolik karena “MBA”, dan sampe sekarang saya sudah di karuniai 2 org putra. Putra yang kedua usia 5th. Dalam pernikahan kami selalu ada pertengkaran2 cuma karena masalah sepele dan selama ini bila suami saya marah (suami tempramental) saya selalu diam dan mengalah, jadi seakan-akan saya yang salah. Suami kadang marah di depan anak2 dan pembantu.Dan pada waktu suami sudah tenang saya selalu mengatakan pada suami maaf kalo rasa sayang saya semakin berkurang dan maaf kalo seperti ini terus mungkin akan hilang.

Thn 2005 saya hampir bercerai karena suami selingkuh, tpi setelah saya pikir-pikir saya akan lupakan semua dan mulai hidup bersama lagi. Suami sifat masih tetap suka marah-marah.

Tahun 2009 saya mengenal facebook dan punya banyak teman disitu, karena suami melarang saya berteman secara real jadi di dunia nyata saya tidak punya teman. saya mengenal beberapa pria bule di dunia maya yang membuat suami marah dan melarang saya membuka internet. Setahun lalu suami mendapat kerjaan di luar pulau karena selama ini kerjaan dia tidak tetap kadang tidak bekerja. Setelah suami bekerja di luar pulau, yang saya herankan dari diri saya yaitu saya tidak pernah merasa kangen sama suami, kita juga tidak pernah contact kecuali itu ada sesuatu yang penting sekali. Selama setahun suami bekerja di luar pulau dia juga tidak pernah “mengirimi” saya dan anak-anak uang. Semua biaya hidup anak2 mulai makan, uang sekolah,dll saya yang biayai.

Bulan juni sewaktu anak2 libur, suami datang tapi dalam hati ini tidak ada perasaan senang atau bahagia sama sekali, biasa saja. kita pun tidur pisah kamar.

Karena hubungan yang aneh ini, dua bulan lalu saya putuskan untuk pisah tanpa cerai. Saya bilang pada suami lebih baik kita begini aja gak usah hidup sama2 karena i lost my love,tapi gak perlu cerai karena kita katolik. Dan romo, setelah saya putuskan untuk pisah (kami tidak bercerai juga secara sipil) saya lebih bahagia. sekarang ini saya juga tidak mempunyai kekasih atau teman dekat pria tapi saya bahagia dan menikmati hidup saya bersama anak-anak dan teman.

Untuk ketahuan romo, setelah menikah pun saya tinggal bersama orang tua saya dan sampai sekarang ini.
yang ingin saya tanyakan kenapa rasa sayang saya bisa hilang? Pada saat saya dan suami masih kumpulpun saya sudah merasakan itu,rasa sayang saya semakin berkurang dan hilang seiring dgn berjalannya waktu, apa karena semua “MBA?”

Kalo kasus seperti ini apakah saya bisa mengajukan cerai secara gereja? terima kasih.

RRT

4 Responses to “Rasa sayang sudah hilang, bisakah cerai?”

  1. Dear Mbak RRT,

    Sebelum Romo memberikan penjelasan yang dapat memberikan penerangan dan penyelesaian terbaik untuk masalah yang Mbak hadapi, saya hanya ingin sharing pengalaman. Mbak, saya rasa keputusan Mbak untuk tidak bercerai sudah cukup bijaksana karena mengingat pengaruhnya pada anak-anak. Mbak, perasaan ‘cinta’ dan ‘sayang’ terhadap pasangan dapat berkurang atau bahkan hilang sekalipun dalam diri kita bukan karena kesalahan kita, melainkan karena ketidakpekaan atau ketidakmampuan kita membangun dan mengembangkan hubungan yang selaras dan sejalan dengan pasangan. Mbak, saat saya pacaran, pacar saya juga pernah mengatakan bahwa perasaan ‘cinta’ dan ‘sayang’nya sudah hilang yang tersisa hanya ‘kesetiaan’, meskipun dia tidak melakukan perselingkuhan dengan wanita lain. Belajar dari pengalaman tersebut, ternyata saya dapat mengambil pengalaman bahwa penyebab pacar saya sudah tidak lagi menyimpan ataupun menyisakan rasa ‘cinta’ dan ‘sayang’ adalah kegagalan saya memahami, mengerti, serta menyelaraskan keinginan kami berdua. Namun, komunikasi yang terus dikembangkan dengan penuh saling keterbukaan, kejujuran, saling memahami satu sama lain, saling bertukar pikiran dapat mengurangi kejenuhan dalam hubungan kami. Sebenarnya, saya masih mempertanyakan apakah yang menyebabkan suami Mbak bersifat temperamental dan sering marah-marah? Apakah saat Mbak dan suami berpacaran dan sampai menikah sama sekali tidak dilandasi rasa ‘cinta’? Saya menyarankan meskipun Mbak sekarang dalam kondisi pisah dengan suami, tetaplah pelihara hubungan dan komunikasi yang baik sambil terus bersabar karena suatu saat suami pasti akan tersadar dan mau mengubah dirinya menjadi tidak temperamental dan marah-marah lagi. Hal ini berdasarkan pengalaman kedua orang tua saya. Ayah saya dulu juga seperti suami Mbak, dan Ibu saya juga bersabar seperti Mbak, tapi mereka tidak pisah rumah demi menjaga pengaruh psikologis anak-anaknya. Memang saya sebagai anak menyadari ada pengaruh negatif dari keretakan hubungan orang tua saya, namun saya dapat memetik hikmah dari pengalaman kedua orang tua saya. Perjalanan pernikahan tidaklah semudah kita melangkah mulus dan cepat seperti berjalan di atas jalan beraspal, tetapi selalu ada batu-batu yang akan menguji ketahanan kita untuk terus melanjutkan perjalan sampai ke tujuan. Sifat temperamental dan marah-marah suami Mbak suatu saat nanti akan berubah menjadi baik asalkan Mbak tidak membalasnya dengan kemarahan juga. Bukankah batu karang di lautan atau samudera dapat pecah oleh ombak yang terus-menerus menerjangnya? Sementara ini, nikmatilah kebahagiaan dan ketenangan hati Mbak bersama dengan anak-anak sambil terus mengembangkan diri Mbak. Smg Tuhan Yesus menerangi dan memberikan petunjuk yang indah dan terbaik untuk kelanjutan hidup Mbak sekeluarga seterusnya. Tetaplah bersabar dan bertekun dalam doa. Salam Damai Kristus. GBU

    SND

  2. @RRT, walaupun anda memiliki ground untuk mengajukan anulasi tetapi karena pernikahan anda sudah cukup lama dan telah dikaruniai dua orang anak, maka akan butuh alasan yang lebih kuat dari sekedar hilangnya kasih sayang.
    Anda bisa mengajukan permohonan anulasi itu, tetapi jawabannya bisa relatif lama. Saya pikir sebaiknya saat ini anda mencoba memperbaiki kualitas hidup anda dan anak-anak anda. Jangan membebani pikiran anda dengan urusan perceraian ini yang tanpa anda sadari bisa mempengaruhi orang-orang di sekitar anda, terutama anak-anak anda.
    Setelah nanti saatnya tiba, anda bisa bertemu dengan suami anda dan membahasnya mengenai masa depan anak-anak kalian. Tentang rekonsiliasi atau perceraian secara sipil mungkin menjadi pembahasan berikutnya tetapi untuk saat ini, sebaiknya masing-masing di beri ruang dan waktu untuk healing the spirit of your and his self.

    May God bless your steps..

  3. saya baru tahu MBA = Married By Accident heheh.. maaf kuper sih! Iya jadi menurut saya hidup itu suatu peziarahan, perjalanan duniawi yang masing2 pribadi harus hadapi, tiap2 orang mengalaminya, mungkin kadar kesulitannya yang berbeda-beda. Tergantung kita menyikapinya. Kalau dulu waktu pacaran saying I love you itu gampang, tapi kita suka lupa consequences nya, bahwa saying I love you dalam perkawinan bukan cuma di mulut saja.
    Suatu pelajaran bagi kaum muda yang bisa serempet2 kena MBA, bahwa kalau si pria atau wanita mengetahui bahwa berzinah (sex before marriage) boleh, maka besar kemungkinannya setelah perkawinan he/she juga bisa melakukakan hal yang sama.
    Banyak berdoalah ibu RRT, barangkali cuma itu yang bisa dilakukan. Semoga anda lebih happy dan lebih mandiri, berbagilah pengalaman anda dengan sesama, yang penting banyak2 hidup bersosial dan anda tidak sendiri lagi, saling menguatkan ya :)

  4. Saya menikah dgn berbeda agma,saya islam dan suami saya pun khatolik,juga sudah mempunyai ank dan istri,saya sejak kenal dan menikah sudah ada 3 thn,menikah dgn secara islam,suami saya sudah tdk bisa lagi akur dgn istri nya,dan ingin bercerai,yg saya tanyakan bisakah perceraian itu di laksanakan,di pengadilan,dan bgaimana dgn status suami saya di khatolik,jika sudah melakukan pernikah islam tlg beri jwbn nya tks

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>