Pindah Agama Mengikuti Agama Sang Pacar
Pagi ini seorang putri (26 th), baptis bayi dari keluarga Katolik, datang ke sekretariat paroki dengan membawa surat pernyataan pindah agama dari Katolik ke Gereja Kristen tertentu. Pastor bertanya mengapa pindah agama. Putri ini mengatakan akan menikah dengan pacarnya yang Kristen. Pastor memberikan tanda-tangan dan membubuhi cap Gereja St Anna sebagai tanda bahwa Gereja St Anna tempat putri itu dibaptis mengetahuinya. Berdasarkan surat pernyataan ini, pastor paroki menuliskan catatan pada buku baptis bahwa putri tersebut telah pindah agama.
Ada banyak kasus yang serupa. Orang-orang ini menyatakan keluar dari Gereja Katolik dan berpindah ke agama lain. Begitu pula orang dari agama lain keluar dari agamanya dan menjadi Katolik.
Kebanyakan dari mereka berusia muda. Persoalan perpindahan agama ini pada umumnya berkaitan dengan masalah perkawinan.
Apa komentar anda?







Tanggapan ini moga2 bisa diterima ya!
pengalaman dari bbrp teman2 seusia sy pd wkt itu/bahkan sampai detik ini pasti sama alasannya.pindah agama krn pacar/kekasih-masa pranikah:
a.biasanya siapa yg lbh memegang kendali,kemapanan ekonomi,kemapanan kepercayaan,itu lbh mendominasi.
b.karena kecocokan pd pasangan,sehingga rasa untuk mengalah/mengikuti kepercayaan disalah satu antara mereka
berdua.
c.proses pernikahaan yg dikatakan tdk berbelit2-rumit.krn tidak
adanya kursus perkawinan yg cukup lama,lain dgn katolik.
d.kata-kata akhir,biasanya yg penting cocok & bahagia apapun
kepercayaan sbg pegangan iman,yg penting dlm 1 maligai rumah
tangga hny 1 nahkoda (yaitu 1 kepercayaan).
Namun beberapa tahun berjalan sampai ketahap pernikahan mereka
teman sy yg pindah agama..baik ke agama Nasrani lain.
Ada yg enjoy2 saja,bahkan bahagia sekali.
Namun ada juga yg merasa menyesal,karena rindu,merasa menyesal
krn bahtera rumah tangganya tdk sejalan sesuai harapan.banyak
konflik dsb.rindu akan Sakramen ekaristi yg biasa ia terima
1 minggu sekali (Tubuh Kristus).
Kalau sdh seperti ini,sbg sahabat,sy tdk bisa berkomentari bnyk
kepada mereka.tapi sy bersyukur jika shb sy yg bahagia.walau agama mereka hrs pindah.
kepada yg bnyk konflik,sy hny mendoakan agar ada jln terbaik buat mrk-keluarganya.
sy,memberikan shar sedikit:apapun kepercayaan yg sdh kita Imani
sebaiknya,terus tertanam,tak mudah goyah.Allah kita sama adalah satu.hny jalannya berbeda.
yg penting,hati mesti bebas kemana saja kita melangka,asal jalan baik&benar.
suara hatisering2 lebh disadari..agar peneguhaan Iman,terus
ter’asa.
Kalaupun,banyak pasangan seiman,tapi tdk ada kecocokan,tidak menghargai,melukai,penghianatan,membuang,dsb,percuma mendapat
pasangan seiman.
jika,tdk menemukan 1 iman yg sama,kalau kebalikan dari yg diatas ini,itu hadir dlm setiap pasangan sampai akhirnya memutuskan pada pernikahaan,bahkan sampai hari tua,..apapun
kepercayaannya..itu semua hny sebagai penunjuk pada Sang Pembuat Kehidupan.ia bisa menghargai,menghormati,disetiap tindakan2 pasangannya..bukankah jauh lebih Indah?
Bahkan..menjadikan senyum keabadian yg IA ingini..di kehidupan ini?
ini komentar yg mengikuti beberapa dari sahabat2 saya yg memberikan sharring kehidupannya.
semoga berkenan.
salam
rm
Pindah agama karena perkawinan? untuk saya pribadi tidak dibenarkan karena faktor external dari diri orang tersebut yang terbawa situasi dan keadaan. Iman khatolik putri dipertanyakan kesungguhannya, dia punya kepribadi yang labil mudah terbaru arus dunia, dan menghalalkan cara untuk mendapat legalitas iman yang dianut. Gereja Khatolik sangat kaya mulai dari dogma, Bunda Maria, Bapak Paus dan Imam-imannya, orang-orang kudus, kegiatan gereja yang beragam, dst. Buka mata lihat disekitar gereja kita tercinta St Anna dan lebih luas lagi banyak sekali pengalaman iman yang bisa kita timba bila kita mau berbaur dalam umat basis yang selalu dicanangkan oleh Bapak uskup. Mari kita bangun gereja mulai dari diri kita sendiri agar mampu menjadi batu karang tidak mudah goyang oleh arus dunia.
Salam,
Christina L.
Sebenarnya disayangkan jika pindah agama karena masalah perkawinan. Beberapa teman saya ada yang tetap rindu terhadap Gereja Katolik walaupun mereka telah pindah agama. Bahkan ada teman yang bercerita bahwa dia tetap datang kegereja hanya untuk melihat orang pulang gereja. Bagi saya pribadi, tidak masalah pindah agama, tapi dengan catatan hal itu harus berasal dari nuraninya sendiri tanpa desakan/tekanan dari orang lain. karena jika itu berasal dari nuraninya sendiri dia dapat menjalankan agama barunya dengan baik dan ikhlas. Namun dari pengalaman teman-teman yang pindah agama karena perkawinan, banyak yang tidak menjalankan agama barunya dengan hati yang ihklas. Sesungguhnya Gereja Katolik mempunyai banyak wadah/organisasi yang dapat dipakai sebagai sarana untuk memperkuat iman Katolik. Namun kembali ke pribadi masing-masing. Jalan apa yang akan dipilih. Orang yang aktif digereja belum tentu dapat mempertahankan kekatolikkannya. Orang yang tidak aktif di gereja ada yang bisa mempertahankan kekatolikannya. Agama apapun yang dianut selama bisa menghidupi dirinya dengan cinta, bagi saya tidak masalah.
Terus terang saya prihatin untuk hal ini karena alasan menikah seorang Katolik menjadi pindah agama. Menurut saya justeru bila kita menikah tidak dengan pasangan yang se iman maka kita harus menjadi saksi Kristus di dalam keluarga yang akan dibentuk artinya bila masing-masing tetap sesuai dengan iman yang diyakini nya maka masing-masing saling menghormati iman pasangannya.Dan yang Katolik harus tetap manjalani agama yang diyakini dengan taat dan mengasihi Keluarganya sesuai dengan inti ajaran kita yaitu Kasih.
Pointnya perkawinan yang baik itu adalah bagaimana kita bisa mendekatkan/ membawa pasangan kita lebih dekat dengan Tuhan.
Dalam perjalanan waktu kehidupan berkeluarga kalau kita sungguh menunjukkan iman kita yang kuat dengan teladan, kasih dan penuh cinta , bisa saja pasangan atau anak-anak kita ikut dengan iman yang kita yakini karena Yesus hadir dalam keluarga kita.
Menurut saya kasus puteri yang pindah agama disebabkan mungkin karena kurangnya fondasi iman Katolik.Tanggung jawab keluarga dan lingkungan /pendidikan saat Puteri beranjak dari bayi ke anak-anak menjadi dewasa apakah sudah menerima pembekalan dan penerimaan iman Katolik secara utuh? Perlu juga dipikirkan untuk bisa membekali mereka yang baptis bayi dengan menumbuhkan iman Katolik secara utuh baik di keluarga, sekolah dan lingkungan dimana si anak tumbuh.Menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga, gereja dan sekolah agar baptisan bayi memiliki iman Katolik yang utuh.
Pengalaman putri mengingatkan saya pd pengalaman kakak perempuan yg baptis bayi, pernah menjadi ketua mudika, memasuki hidup baru dengan seorang pria beragama Kristen pada saat seusia putri.
Kita tdk pernah tahu apa yg ada dlm hati seseorang saat ia menghadap pastor utk berkata “Pastor, saya mau pindah agama karena akan menikah dengan pacar saya yg beragama Kristen”. Meski ia baptis bayi apakah ada jaminan bahwa sejak kecil hatinya tertambat pada iman katolik? Sudah sewajarnya bila keluarga/saudara seiman dan lingkungan beragama Katolik disekitar putri diharapkan lebih berperan dalam membangun dan mempertebal iman putri.
Meski disayangkan, putri sudah cukup umur utk memilih keyakinan yg sesuai dengannya. Semoga putri memasuki hidup baru dengan keyakinan baru, dan hidup bahagia selamanya.
Untuk putri-putra yg lain, kiranya pengalaman putri diambil hikmahnya utk memperkokoh fondasi iman Katolik sehingga tidak mudah goyah melihat rumput hijau di halaman rumah ibadah yg berbeda.
Dear all,
sbg perempuan itu memang tdk mudah. tumbuh & berkembang dlm lingkungan spt di Indonesia, msh sgt sulit utk sebagian bsr orang tua yg melihat anak perempuannya tdk hidup secara normal. artinya, sekolah sampai kuliah , lalu menikah dan punya anak. beberapa hari yg lalu, sy sempat terlibat pembicaraan sersan dgn seorang ibu yg mengeluh krn anak perempuannya tdk ingin menikah sebelum melanjutkan kuliahnya ke jejang pasca sarjana. Ibu itu ingin memiliki cucu dulu…
apakah kondisi ‘alami’ seperti ini termasuk salah satu faktor yg membuat seorang gadis memilih utk menikah dgn yg tdk seiman, bahkan rela (?) pindah keyakinan?
tdk ada yg dpt menghalangi keinginan bebas setiap pribadi utk memilih jalannya sendiri. termasuk Romo. bahkan Allah menghargai kebebasan umatnya. namun sy yakin bhw keluarga, khususnya orang tua, adalah faktor kunci dalam segala aspek kehidupan yag membentuk karakter kaum muda. seraya terus berdoa mohon pertolongan Roh Kudus, sy ikut berdoa dan prihatin dgn setiap jiwa yg ‘terlepas’…
salam hangat,
angela a.
Adi,
Kasus pindah agama karena perkawinan rasanya sudah sangat sering kita jumpai. Kiranya langkah antisipatif agar jangan lebih banyak lagi jumlah mudika yang meninggalkan iman Katholik perlu kita kaji. Pembinaan iman yang berkesinambungan sejak masa kanak-kanak, dilanjutkan pada saat ybs memasuki masa remaja memungkinkan iman bertumbuh. sehingga ybs tidak hanya menjadi object namun menjadi subject dalam karya baik di Gereja maupun di tengah masyarakat. Apabila kehidupan rohani seorang mudika cukup matang, kiranya sulit bagi ybs untuk serta merta meninggalkan imannya demi sebuah perkawinan. Saya mendengar bahwa sudah ada pihak yang concern untuk mempertemukan kaum muda Katholik yang masih single dengan membuka website khusus untuk “matching”, bagi yang sudah mengetahui website tsb mungkin baik membagikannya. Ya ini hanyalah sebuah usaha sebagai sarana. Lebih dari segalanya, for our Lord nothing is ever impossible…………..Tuhan akan pertemukan anak-anaknya yang setia dengan caranya yang ajaib.
Istilah ‘pewarisan iman’ atau ‘pelestarian iman’ mungkin menarik untuk di-diskusikan lagi. Seputar kasus mbak Putri (atau Putri-Putri lain), ini saya coba melihatnya di arena persoalan label identitas yang dikenakan oleh kelompok, yang dulu -identitasnya dilabeli kelompok agama A kini identitas-nya dilabeli kelompok agama B, begitupun sebaliknya.
Sayang sekali kalau perasaan kehilangan, sayang ditinggal pergi, dsb, hanya di dasari rebut-rebutan identitas. Terkecuali kalau memang dilatari untuk statistik.
Salam Penuh Hormat
menurut saya perpindahan agama untuk suatu pernikahan adalah hal yg wajar jika mempelai tersebut menghormati dan menjalan kan apa yg sudah menjadi pilihan nya dengan sebaik2x nya.banyak sekali saudara2x saya yg memempunyai pasangan bukan beragama katolik tapi puji Tuhan mereka masuk menjadi katolik,dan menjalankan pilihannya dengan baik,tetapi tante saya yg menikah sirih dengan org muslim yg sekarang gajelas agamanya apa…itulah yg parah.
mmm…membaca judulnya saja sudah membuat saya tersenyum karena beberapa tahun yang lalu saya pribadi juga hampir saja melakukannya…:) (mohon maaf jika saya menulis sharing ini terlalu panjang)
pada saat itu saya sedang dalam kondisi yang serba salah karena kami berdua sejak semula sudah berkomitmen untuk menjalin hubungan yang serius…tidak hanya sekedar pacaran tetapi juga untuk menjalin hubungan ke jenjang pernikahan…
latar belakangnya adalah klasik yaitu saya menemukan pria idaman di dalam diri pasangan saya dan saya merasa sudah yakin untuk hidup bersama dengan dia…dan dia juga demikian.
perbedaannya adalah sebelum saya membuat keputusan untuk pindah agama, saya berkonsultasi terlebih dahulu dengan romo mahasiswa yang memang telah lama menjadi mentor iman saya.
singkat cerita bahwa pindah agama atau tidak adalah keputusan yang harus saya buat secara bebas, tidak ada embel2 yang menjadi pendorongnya…tidak hanya itu…manusia satu waktu pasti akan meninggalkan kita atau ekstrimnya akan melakukan satu perbuatan pengkhianatan…sementara Yesus yang sudah aku kenal sejak aku dibaptis tak pernah sedetik pun melupakan aku apalagi meninggalkanku (mengkhianatiku)…Yesus akan selalu menunggu dengan sabar tanpa perduli apa yang aku lakukan kepadaNYA…
sejak itulah…saya kembali jatuh cinta pada Yesus dan pada kekatolikan saya…kemudian saya sampaikan kepada pasangan saya tentang keputusan saya yang tidak bisa mengkhianati cinta saya pada Yesus…tanpa terduga…pasangan saya tertarik ingin mengenal Yesus dan ingin pindah agama mengikuti agama saya dan kelak jika dia sudah seiman dengan saya maka perkawinan pun dapat dilaksanakan dengan baik…
lagi2 saya dihadapkan dengan dilema…pasangan saya berasal dari keluarga muslim yang taat…rasa2nya dia akan menghadapi halangan yang berat dari pihak keluarga…dan ternyata dia tidak keberatan akan hal tersebut…
keputusan “sementara” yang disampaikan oleh pasangan saya semakin membuat saya yakin bahwa dia lah “soul mate” bagi saya…tetapi tidak tahu kenapa…saya merasa ada sesuatu yang mengganjal di hati saya…dan saya sampaikan kepada pasangan saya untuk memberi saya waktu selama 3 bulan kemudian baru memberi persetujuan padanya untuk pindah agama yang saya anut…
selama 3 bulan penuh saya berdoa novena dan berpuasa…saya mohon pada Yesus dan Bunda Maria untuk memberi petunjuk mengenai keputusan apa yang harus saya ambil…
3 bulan telah berlalu dan petunjuk tersebut tidak muncul juga…saya semakin kalut dan bingung…akhirnya saya menyetujui pasangan saya untuk pindah agama yang saya anut dan bersedia menemani dia untuk kursus agama katolik…
sebelum hari pertama kursus dimulai, saya diminta ketemu dengan pasangan saya…pada saat itu dia menyampaikan bahwa dia tidak mungkin pindah agama karena dia juga ternyata tidak bisa mengkhianati imannya…akhirnya kita berdua pun berpisah secara baik2 dan sampai dengan saat ini kita berdua menjadi sahabat baik…meskipun sampai saat ini kami berdua sama2 belum menikah…
Tuhan memang mempunyai caraNYA sendiri di dalam menjawab semua doa saya…dan jawaban itu sangat manis…
terdapat begitu banyak latar belakang dan pertimbangan seseorang untuk pindah agama…pada saat inilah…seseorang tersebut membutuhkan satu pendampingan yang intens agar dia dapat membuat keputusan itu secara bebas…
Salam,
V
Katolik dan Kristen cm dipisahkan oleh kebiasaan tata cara beribadah dan baberapa dokrin tertentu..Yesus yang kita sembah sebagai Tuhan dan Juruselamat..Yesus yang telah mati berkorban di kayu salib demi menebus dosa kita semua.syalom.
@only4JC, sebutan yang benar adalah Katolik dan Protestan. Anda perlu belajar lebih banyak mengenai pengetahuan iman Katolik, sehingga tahu betapa bedanya dengan pemahaman Protestan yang terdiri dari banyak denominasi (bahkan antar denominasi pun berbeda). Saya tidak mau bahas di sini, anda klik saja nama saya dan anda akan tahu mengenai apa yang saya bicarakan. tolong moderator next time awasi posting-posting seperti @only4JC karena bisa memancing perdebatan, ujung2nya forum konsultasi ini akan dipenuhi sampah dan berbau busuk.
Saya belum tahu banyak tentang hal pernikahan. Di permukaan saya pernah mendengar menikah menyatukan 2 hal yang berbeda menjadi satu kesatuan dalam satu ikatan cinta dan kasih yang tidak terpisahkan kecuali kematian.
2 hal yang berbeda menjadi satu??……..
Perlu kebesaran hati dan kerendahan hati untuk menjadi satu, baik itu dalam suatu konsep pemahaman agama/ menganut agama orang yang di kasihinya. Cinta= Kesetiaan dan Kasih= Pengorbanan.
Mungkin hanya itu yang saya tahu.
Pindah mengikuti agama sang pacar, terlihat sebagai suatu hal biasa karena sering ditemui. Apalagi bila didramatisasi dengan siapa yg lebih dominan dan berkuasa.
menurut hemat saya yang justru perlu dicermati adalah sang tokoh Putri ini adalah:
1. secara historis seberapa banyak ia menggali apa dan bagaimana menjadi “Katholik yg BAIK & BENAR” baik karena keinginan pribadi, didorong oleh orang tua, lingkungan atau gereja. Karena bila Putri ini hanya Katholik NaPas (Natal & Paskah) maka agama hanya sebuah syarat untuk identitas dipergaulan atau di KTP, sehingga kepindahannya tidak terlalu mengejutkan.
2. Bila sang tokoh adalah seorang yang rajin mendalami hakekat ke Katholikannya dan komunitas sangat aktif mendukung, hal ini barangkali cukup mengejutkan.
Keputusan seseorang untuk pindah bisa dikatakan sebagai Hak azasi ybs. Yang mungkin perlu dipertanyakan adalah seberapa peduli komunitas yg ada disekeliling Putri dan putri yang lain untuk membuat/mengupayakan Katholik tetap menarik dan Up to date bukan saja sebagai the way of life atau the way of thinking, tapi Katolik benar2 merupakan Jalan Kebenaran dan Hidup seperti yang disabdakan oleh YESUS sendiri. menjadi katholik bukan suatu paksaan atau pilihan tapi menjadi Katolik adalah suatu Rahmat dari Allah baik bagi diri sendiri maupun bagi sesama. sehingga diharapkan hal seperti diatas tidak terjadi lagi. pertanyaan inipun selelu kembali ke diri saya sudahkah saya menjadi rahmat/berkat bagi sesama ….., demikian GBU.
salam
JHa.
saya sekarang mengalami sendiri, meskipun saya laki-laki, ternyata mengalahkan perasaan cinta tidaklah mudah. saya kristen, berpacaran dengan cewek muslim..mungkin terlalu lama kita tanpa status yang pasti, tapi akhirnya dia lepaskan saya untuk kemudian memilih sahabat saya yang Katolik karena sahabat saya bersedia mengganti agamanya ke muslim. hal yang rumit, antara saya memperjuangkan sahabat saya dan juga cewek saya. sekali lagi masalah perasaan tidak akan mampu menguak hal2 yang kadang menjadi prinsip. pengetahuan agama yang mendalam pun tetep tidak mendukung. karena yang ada dipikiran saya sekarang adalah bagaimana mendapatkan wanita pujaan saya kembali, meskipun harus berselisih dengan sahabat saya. tapi akhirnya tidak ada yang benar. karena semua bertaruh iman untuk mendapatkannya.
Mas Bayu, saat saya harus berpisah dengan kekasih saya lebih dari 30 tahun yang lalu karena perbedaan agama, saya merasakan yang Mas Bayu rasakan saat ini. Pada saat itu saya bingung karena kami saling mencintai. Terus terang bukan kemampuan saya sendiri untuk memutuskan ikatan cinta yang telah terjalin (awalnya saya berharap “dia” dapat mengikuti agama saya yang Katolik, ternyata saya keliru, saya yang “dia” minta ikut agamanya). Atas desakan orang tua dan saudara-saudara saya yang Katolik taat akhirnya dengan hati yang sangat berat saya memutuskan hubungan dengan”dia”.
Benar kata orang “time will heal the wound”, dengan tetap setia kepada Tuhan Yesus dan menyerahkan kepadaNya untuk memberikan pasangan yang sesuai bagi saya, saya mendapatkan ganti seorang Katolik yang dalam beberapa hal lebih sesuai/cocok daripada si “dia”. Kini hampir 30 tahun berlalu, Tuhan membimbing keluarga kami dalam kasih yang hangat. Anak-anak tumbuh dalam iman yang mantap, kami sekeluarga aktif dalam bidang pelayanan kami masing-masing.
Mas Bayu, mari bangkit… mencari komunitas yang dapat membantu melupakan kekasih yang “berat syarat” tersebut. Somewhere out there ada seorang gadis anak Tuhan yang sedang menanti Anda. Terlalu besar pengorbanan yang harus Anda berikan jika untuk mendapatkan cintanya harus melepaskan Tuhan Yesus.
Semoga Tuhan memberkati & membimbing Anda.
Salam.