Perubahan Radikal dalam Moralitas

Tidak kurang keluarga, lembaga pendidikan, agama, masyarakat berbicara tentang moralitas dan memaksakan prinsip-prinsip kebaikan menjadi pedoman perilaku. Lalu masyarakat, agama, dan negara menciptakan seperangkat hukum untuk menjamin bahwa tindakan kita tidak melenceng dari prinsip-prinsip yang telah digariskan. Semakin besar terjadi kekacauan atau krisis, semakin banyak hukum dibuat atau semakin kuat hukum diterapkan.

Namun demikian, kita melihat adanya kontradiksi di mana-mana. Semakin banyak hukum dibuat, semakin banyak pelanggaran dilakukan. Semakin banyak berbicara tentang moralitas, semakin tampak hidup tidak bermoral. Immoralitas yang kita saksikan di luar sebenarnya tidak berbeda dari immoralitas yang ada dalam diri kita sendiri.

Mengapa kita, yang dari kecil dididik menjadi orang yang berakhlak baik, tidak mendapati diri kita sungguh-sungguh baik? Mengapa kita suka mendengarkan petuah-petuah moral dari orang tua, guru, tokoh spiritual, orang-orang terhormat dan tetap saja hidup kita tidak berubah? Meskipun petuah-petuah moral tidak sungguh mengubah, mengapa orang-orang tua tidak jemu-jemu melakukannya? Mengapa semakin orang berusaha bermoral, semakin tidak bermoral?

Selama moralitas memperkuat diri atau si aku, maka kita tidak akan melihat mekarnya kebaikan. Mari kita bersama melihat bahwa perubahan tidak datang dari moralitas. Bahkan moralitas itu sendiri justru menjadi musuh perubahan yang sesungguhnya karena dalam moralitas menyusup gerak kepentingan diri.

Moralitas ketakutan
Sebelum bisa membedakan baik dan buruk, anak-anak sejak dini sudah diajari untuk melakukan yang baik dan menghindari yang buruk. Sejak kecil kita dididik dengan banyak aturan ”boleh dan tidak boleh”. Kalau melanggar, kita mendapat hukuman. Kalau mentaati, kita mendapat hadiah.

Kalau kita hidup menurut aturan moralitas yang berlaku, maka kita merasa bangga, aman, berarti, diterima, dihormati, diberi status atau kedudukan. Ini semacam ”hadiah sosial” yang kita terima dari masyarakat. Ketika aturan yang dipaksakan dari luar ini tidak cocok dengan gerak hati, maka muncul pemberontakan diam-diam atau terbuka. Kalau tidak berani melawan, muncullah penyesuaian, kompromi, tunduk, pura-pura, munafik. Kalau kita melanggar, kita mendapat ”sangsi atau hukuman”. Misalnya, kita merasa bersalah, dicap buruk, dikucilkan, dipecat dari pekerjaan atau jabatan, terancam kehilangan nyawa, dst.

Pertama-tama, moralitas merupakan aturan dari luar yang dipaksakan untuk tidak dilanggar. Aturan ini telah menciptakan ketakutan dan ketakutan merupakan akar dari sikap penurut atau kompromi. Jadi moralitas telah membuat kita takut hukuman atau takut tidak mendapat hadiah.

Apa yang terjadi dalam batin kita ketika kita terdorong untuk mencuri tetapi takut melakukannya? Kita takut mencuri bukan karena kesadaran bahwa tindakan mencuri itu jahat, tetapi karena takut hukuman. Kalau keinginan akan hadiah lebih besar daripada ketakutan akan hukuman, maka muncul kompromi. Apalagi didukung oleh pertimbangan-pertimbangan lain, misalnya, tidak diketahui orang, cukup aman, orang lain melindungi, orang lain melakukan hal yang sama, hukumannya ringan atau ada kemungkinan bebas hukuman. Jadi keputusan tidak mencuri bukan pertama-tama karena pencurian merupakan kejahatan tetapi karena ada resiko hukuman.

Moralitas balas budi
Orang didorong atau terdorong untuk berbuat baik. Tetapi orang sering tidak menyadari motif di balik perbuatan baik yang dilakukannya.

Ada banyak motif di balik perbuatan baik. Misalnya, aku berbuat baik supaya suatu saat nanti orang lain berbuat baik bagiku; aku berbuat baik karena perbuatan baik membuat aku puas, bangga, berharga; aku berbuat baik supaya masuk surga; aku berbuat baik sebagai silih atau tebusan atas kesalahan masa lalu.

Di balik praktek sogok-menyogok, tindakan beramal, pelayanan sosial, tindakan berkorban dan perbuatan yang tampak baik sekalipun seringkali memiliki kepentingan moralitas balas budi. Di sini tidak ada perbuatan baik tanpa motif tertentu dan motif ini memperkuat kepentingan si aku. Perbuatan baik merupakan perbuatan yang sungguh-sungguh baik selama perbuatan itu bebas dari motif untuk kepentingan si aku.

Moralitas hubungan dekat
Amat jarang kita menerima kebaikan dari orang asing. Biasanya kita mendapatkan kebaikan dari orang-orang dekat di sekitar kita: anggota jaringan keluarga, anggota kelompok, lingkaran sahabat, anggota suku, bangsa, agama, dst. Mengingat kelangsungan hidup orang banyak bergantung pada lingkaran jaringan dekat, maka orang merasa memiliki kewajiban untuk berbuat baik pada lingkaran ini.

Ambillah contoh sederhana. Seorang ibu mencintai anak kandungnya karena dia adalah anaknya sendiri. Kalau anak itu adalah anak orang lain barangkali si ibu tidak akan mencintai seperti ia mencintai anak kandungnya sendiri.

Setelah si ibu menjadi tua dan anak menjadi dewasa, kini tiba giliran si anak mengurusi ibunya. Si anak mencintai ibunya karena dia adalah ibunya sendiri yang pernah berjasa di masa lalu. Tanpa pengalaman dicintai oleh ibunya di masa lalu, barangkali perlakuan terhadap ibunya menjadi berbeda.

Dalam lingkaran orang-orang dekat, bukan hal aneh kalau orang rela berkorban dan pengorbanan ini dipandang sebagai wujud cinta, perhatian, solidaritas. Akan tetapi moralitas di sini masih memiliki kepentingan si aku dan si aku ini diperluas secara kolektif: keluargaku, kelompokku, sahabatku, sukuku, bangsaku, agamaku, dst. Karena itu, pengorbanan bagi ”kelompokku” belum membuat si aku keluar dari kepentingan dirinya sendiri.

Moralitas kemapanan
Pikiran mencari rasa aman atau rasa kemapanan. Kemapanan kolektif dianggap penting karena menjadi penjamin kemapanan individual. Moralitas dan hukum kemudian diciptakan untuk menjaga kemapanan kolektif ini. Supaya tatanan sosial tidak terganggu, maka ketaatan pada hukum, penghormatan pada otoritas, kesetiaan pada tradisi, menjalankan kewajiban merupakan hal yang sangat penting.

Motif moral untuk mencari atau menjaga kemapanan telah menjadi sarang bagi kemapanan si aku kolektif. Kita membutuhkan rasa aman secara fisikal. Tetapi apakah ada yang disebut rasa aman psikologis? Bukankah kita tidak pernah mengalami rasa aman atau rasa kemapanan psikologis? Moralitas di sini justru menciptakan sarang bagi rasa aman palsu.

Moralitas juga mudah menjadi pembenar bagi praktek-praktek kekerasan struktural atau kekerasan yang dilakukan oleh para pemegang kekuasaan. Tujuannya tidak lain untuk melindungi kemapanan dari system yang ada. Ini bisa terjadi di lingkup negara, badan-badan bisnis, organisasi sosial sampai keluarga.

Sebagai contoh kasus kekerasan dalam keluarga. Dalam masyarakat yang menghargai nilai-nilai dan tradisi keutuhan keluarga, banyak konflik dan kekerasan dalam keluarga tidak mudah terungkap keluar. Para korban kekerasan cenderung bersikap diam. Moralitas menjaga nama baik keluarga di sini justru telah ikut merusak martabat para korban kekerasan.

Moralitas perubahan sosial
Hukum dan kekuasaan bisa berjalan tanpa legitimasi moral. Para pemegang kekuasaan dan struktur-struktur kekuasaan bisa bertentangan dengan prinsip-prinsip moral universal seperti kejujuran, keadilan, persamaan hak, perlindungan minoritas, non-kekerasan, dst. Semua bentuk kekuasaan cenderung membuat dirinya mapan. Tidak heran para pemegang kekuasaan cenderung anti perubahan. Maka mengharapkan gerak perubahan datang dari penguasa merupakan kebodohan.

Tidak banyak orang mau berjuang untuk perubahan struktural dan kebanyakan menggerakkan perubahan dengan mengacu pada prinsip-prinsip moral universal. Dalam kenyataannya, rumusan-rumusan positif tentang moralitas tidak cukup mampu menggerakkan perubahan fundamental.

Yang dulu di atas, kini di bawah; yang dulu di bawah kini di atas. Regim yang satu diganti regim yang lain; penguasa yang satu ditumbangkan, penguasa yang lain menggantikan. Tetapi moralitas penguasa lama dan penguasa baru, moralitas regima lama dan regim baru tidak jauh berbeda. Perubahan radikal karenanya tidak sungguh terjadi.

Moralitas yang baru sama sekali
Seluruh moralitas lama yang kita kenal ini masih menyimpan kepentingan si aku. Moralitas yang sesungguhnya barangkali akan terlahir kalau moralitas lama ini berakhir.

Moralitas bukan pertama-tama aturan baik-buruk dari luar, tetapi keyakinan akan kebenaran dari dalam hati. Mutu moral seseorang diukur bukan berdasar kesetiaannya pada rumusan ideal, aturan, tradisi, otoritas tetapi pada hatinya sendiri yang disadari sebagai ”kewajiban mutlak”. Seorang moralis yang gemar dengan aturan-aturan moral dan suka berlindung di baliknya bukanlah moralis sejati.

Agar moralitas yang sungguh baru terlahir, dibutuhkan jiwa yang sungguh bebas. Dalam jiwa seorang budak tidak ada kebebasan. Begitu pula ketika jiwa gampang tunduk pada aturan-aturan moral, hukum, otoritas. Batin yang tidak bebas dibeban-pengaruhi oleh berbagai bentuk otoritas dan bertindak menurut rumusan moralitas. Sebaliknya dalam batin yang bebas, terdapat inteligensi yang bertindak benar.

Batin yang bebas mampu bertindak melintas-batas. Tindakan tidak bisa dipagari oleh ”boleh dan tidak boleh”, ”baik atau buruk”. Batin yang bebas tidak takut melanggar hukum atau prinsip moral yang berlaku di masyarakat karena telah menemukan kepastian tak tergoyahkan akan kebenaran dari dalam hati.

Orang setuju prinsip keadilan ditegakkan, tetapi tidak banyak orang bertindak memerangi ketidakadilan. Orang setuju nilai kejujuran dikobarkan, tetapi tidak banyak orang mau berhenti berbohong. Orang menghargai nilai non-kekerasan, tetapi sedikit orang yang sadar akan bentuk-bentuk kekerasan dalam dirinya dan mengubahnya.

Menjadikan moralitas lama sebagai pedoman perilaku telah menciptakan immoralitasnya sendiri. Ketidaksadaran akan bentuk-bentuk immoralitas ini menyumbat mekarnya moralitas yang sesungguhnya.

Dengan menyadari ketidakadilan, kebohongan, kekerasan dalam diri sendiri, ada kemungkinan mesin immoralitas dalam diri sendiri berhenti. Dengan pendekatan ini kita sesungguhnya telah mengubah secara fundamental praktek-praktek yang melawan keadilan, kejujuran dan non-kekerasan di lingkungan pengaruh kita.

Pendidikan moral hanya dengan mengulang-ulang moralitas lama sedikit artinya dalam mewujudkan perubahan. Kita membutuhkan sebuah pendekatan yang sama sekali baru untuk memahami batas-batas moralitas dan menegasinya secara total. Moralitas yang sungguh-sungguh baru hanya mungkin terlahir ketika moralitas lama berakhir dan dari sinilah barangkali perubahan radikal bisa terwujud.*

4 Responses to “Perubahan Radikal dalam Moralitas”

  1. Selamat malam Romo,

    Tulisannya sangat baik. Sebetulnya ini baik sekali kalau ada dalam buku “Revolusi Batin adalah Revolusi Sosial”. Atau nanti ini sebagai bagian dalam tulisan Revolusi Batin adalah Revolusi sosial jilid II ya Romo.

    Meskipun hampir semua artikel dalam buku Romo sudah pernah ada dalam rubrik ini, saat saya membaca ulang terasa lebih mencerahkan dan lebih mendalam. Buku tersebut menurut saya baik bagi mereka yang ingin mempelajari dan memahami diri ini dan membantu kita mengintrospeksi tentang kehidupan rohani dan batin kita yang sering tercemar oleh kotoran-kotoran batin. Si aku selalu muncul disana dan kita sungguh bisa mendapatkan jawaban dalam buku ini. Cocok sekali untuk mereka yang selama ini lebih mengandalkan kemampuan intelektual, logika dan coba melihat dan mengolah dari sisi olah batin yang sangat berguna untuk kehidupan ini.

    Berbicara soal moral, saya teringat pengalaman saat saya di SMP. Saat itu ada pelajaran Civics (saat ini namanya PPKN). Yang diajarkan begitu baik dalam mata ajaran tersebut yang menyangkut moral berbangsa. Namun kenyataannya begitu banyak yang menyimpang/melenceng dari prinsip-prinsip yang digariskan. Saya bertanya bertubi-tubi saat itu sama pak guru yang mengajar tentang kenyataan yang ada di negara ini. Pak guru menjawab terus namun saya tidak puas dengan jawabannya lalu bertanya lagi, lagi dan lagi sampai akhirnya pak guru tersebut menjawab: “Apa Kau pikir ada hukum yang tidak bengkok di negara ini ?” dengan logat Sumatera Utaranya yang khas. Satu kelas tertawa riuh. Saya ikut tersenyum namun nurani saya sedih saat itu. Sampai saat ini membekas dan tetap rasanya tidak bisa menerima melihat kenyataan-kenyataan yang tidak sesuai. Benar seperti yang Romo katakan bahwa mengharapkan gerak perubahan dari penguasa adalah suatu kebodohan dan kita harus membangun moral dari diri kita sendiri.

    Dulu ada mata pelajaran Budi Pekerti yang sungguh sangat baik dalam membentuk moral yang baik bagi anak-anak sejak dini. Namun sekarang mata pelajaran tersebut dihilangkan dan penekanan pada kemampuan IQ saja. Ini suatu hal yang sungguh memprihatinkan. Betul dalam kenyataannya penerapan moralitas si “aku” masih banyak mendominasi, entah karena hubungan baik, sahabat, keluarga dan lain-lain. Sungguh butuh batin yang bebas, pendekatan dan proses belajar yang bebas lepas.

    Yang menjadi pertanyaan kadangkala dalam hal-hal tertentu moralitas total dan radikal bisa dicapai karena sama sekali tidak ada pamrih, tidak ada aku dan lain-lain dalam hal bertindak. Misalnya saat tsunami, bantuan bencana alam datang dari mana-mana. Betul-betul keluar dari batin yang bebas, tidak ada si aku disana, sungguh keluar dari perasaan/batin yang murni. Namun di lain peristiwa si “aku” masih muncul karena hubungan dekat dan lain-lain. Nah Romo apakah disini bisa moralitas radikal/total itu silih berganti/ moralitas itu mengalami naik turun? Seseorang yang sudah berada dalam moralitas total dan disaat lain bisa muncul moralitas yang masih ada ‘aku’ nya? Atau karena itulah manusia ya Romo? Tolong tanggapan Romo ya.

    Ok gitu dulu Romo. Thanks untuk tulisannya yang sangat baik dan saya sungguh mendapatkan sesuatu yang berguna dalam tulisan ini

    salam,
    mary

  2. Selamat siang Rama, Berkah Dalem,

    Pastor, manusia kadang menjadi Binatang ketika berhadapan dengan Moral (Sex, Wanita, Kenikmatan sesaat, onani, Manstrubasi dan lain sebagainya) Refleksi pribadi bagi saya adalah sejauh mana Moral dan Teologi memberikan ruang kesadaran Baru bagi manusia! Dalam artian tidak lari dari realitas moral tapi masuk sebagai daya tawar. Manusia malah lebih buruk dari binatang karena berhadapan langsung dengan “kenikmatan dunia”.

    Saya seorang Katekis. Bukan mau munafik kadang mengalami tegangan yang bersentuhan denga etika moral dan estetika moral! Kenyataanya siapah sih orangnya yang tidak terpincut ketika melihat film Parno, atau goyang Geboy dan lain sebagainya! Sebagai manusia normal (Tidak homo, bencong, gay atau lain sebagainya). Saya kadang hanya bisa meneladan St. Ignatius dengan mecambuk diri sebagai intensi kedosaan saya! Dari pada terlibat dunia moral yang penuh kebinatangan yang tak berakhlak! Mohon Petunjuk Romo Detail Moral dalam ranah kebinatangan Versus Moral “Nafsu Binatang sesat”.

    Berkah Dalem. Vita Mea Christi ( Hidupku Milik Kristus). Berkah Dalem.

  3. Thanks Romo, artikel diatas sangat membantu semua yg sdg saya alami: mengamati roda laws & justice yg sdg ramai…sy sdh jarang baca paper,tapi tiap menit dengar dr TV yg sungguh gemuruh…. apa yg Romo tulis sgt mengena. sy jd “ELING ” kembali langkah apa yg hrs sy lakukan. Sungguh akhir2 ini “engap” rasanya. kini lega sudah… kembali hanya mengamati…jgn terjebak pakai pikiran…. Mulai dg moralitas baruku spy tdk “sakit” lagi.

    Suwun,Mo. ditunggu Buku berikutnya ya.

    Bu Mary: let us just be patient, waiting the “Coming Next ”

    Luv in Christ,
    ly

  4. Selamat Sore Romo..

    Terima kasih atas kotbah di hr minggu kemarin dan kmdn ditulis kembali oleh Romo di web ini.

    Membuka mata dan hati saya kembali utk menyadari seluruh gerak batin ini. Benar yg dikatakan Romo, bisakah jika kita mlakukan sesuatu tanpa pamrih?imbalan?atau kepentingan?

    Dulu,ketika saya sering membantu atau memberikan sesuatu kepada orang lain,baik materi or non materi, saya mengharapkan ucapan terima kasih dr orang2 tsb. Ketika mrk mengucapkan terima kasih, alangkah senangnya hati saya. Namun ketika ada yg tidak mengucapkan terima kasih..saya menjadi kecewa,kesal,sedih.. Batin tidak bebas..Merusak diri saya sendiri.

    Namun setelah saya melatih kesadaran dgn meditasi yg Romo ajarkan,kesadaran saya muncul. Dulu yg msh suka mengharapkan balasan or imbalan,(walaupun skedar ucapan terima kasih), sekarang saya dpt membrikan dgn batin yg bebas tanpa kepentingan apapun.

    Setelh saya sadari batin yg kotor ini,skrg saya dpt mlakukan aktifitas saya tanpa kepura2an, tanpa harus terlihat perfect. Jd apa adanya,shg saya memiliki batin yg bebas. Dan saya jg tidak mengharuskan diri saya agar dapat diterima di kelompok atau di komunitas tertentu. Apa adanya,inilah diri saya,yg memiliki kelebihan dan jg memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. Dengan tanpa adanya kepentingan trtentu,maka saya dpt memiliki batin yg bebas tanpa tekanan atau keterpaksaan.

    Terima kasih Romo,memberikan Penyadaran kepada Diri Ini. Tuhan Memberkati.
    Aida

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>