Perubahan Fundamental dari Mutasi Psikologis
Kehidupan ini seperti gerak arus sungai yang terus berubah. Sungai yang Anda lihat sekarang tidaklah sama dengan sungai yang Anda lihat kemarin. Begitu pula kehidupan, termasuk tubuh dan batin Anda. Semua berubah dari saat ke saat. Inilah faktanya bahwa segala sesuatu tidak ada yang tidak berubah.
Namun demikian kebanyakan orang tidak mau sungguh-sunguh berubah. Semua pikiran-psikologis selalu mencari rasa aman atau rasa puas. Ia akan cenderung mempertahankan atau melanggengkan rasa aman atau rasa puas yang telah dialaminya. Karena itu pikiran-psikologis tidak pernah mau berubah, kecuali perubahan itu mendatangkan rasa puas yang lebih besar lagi.
Ketika kemapanan batin tidak lagi memuaskan, lalu orang ingin berubah dan bergulat untuk berubah. Lalu orang mencari berbagai teknik atau metode untuk mengubah diri. Akan tetapi kebanyakan orang melihat dirinya sendiri tidak sungguh berubah meskipun sudah bergulat begitu lama. Kalaupun berubah, perubahan itu hanya di kulit luar, sedikit, sebagian-sebagian.
Orang tidak sungguh berubah bukan karena tidak menemukan teknik atau metode yang tepat, melainkan karena tidak melihat apa adanya sebagai fakta yang terus berubah. Keengganan melihat fakta ini membuat orang berjuang untuk berubah dan perjuangan ini tidak membawa orang kemana-mana.
Kebanyakan orang bertindak berdasarkan perintah pikiran. Supaya terjadi perubahan dalam tindakan, pikiran perlu diubah. Pikiran lama diganti dengan pikiran baru. Pola lama diganti dengan pola baru. Kebiasaan lama diganti dengan kebiasaan baru. Akan tetapi tindakan yang dihasilkan tidak keluar dari pola tertentu, pikiran tertentu, kebiasaan tertentu. Perubahan seperti itu sebenarnya tidak lain hanya modifikasi atau penyesuaian dan penerusan dari yang lama.
Perubahan fundamental tidak datang dari pola tertentu, dari pikiran tertentu, dari pembiasaan tertentu. Perubahan yang sesungguhnya bukan hasil keinginan, bukan buah perjuangan, bebas dari motif, tujuan atau kepentingan. Perubahan yang sesungguhnya terjadi ketika segala sesuatu dilihat dari keheningan batin, tanpa intervensi pikiran-psikologis. Saat itulah terjadi mutasi psikologis seketika saat respons ingatan-psikologis berakhir setiap kali menghadapi tantangan.
Ada data-data neurologis dan psikologis yang kita simpan di otak kita. Data-data teknis, seperti bahasa, orientasi fisikal, keahlian teknis, dst—yang semuanya itu kita butuhkan untuk survival hidup—kita simpan sebagai ingatan-neurologis. Tanpa ingatan-neurologis, manusia tidak akan bisa bertahan hidup.
Kita juga memiliki pengalaman suka dan duka, kenikmatan dan kesakitan. Semua itu kita simpan di otak kita sebagai ingatan-psikologis. Ketika kita menghadapi masalah atau tantangan dengan melibatkan ingatan-psikologis, maka tantangan yang datang tidak kita hadapi secara baru karena respons kita terhadap tantangan berasal dari yang lama. Kebanyakan orang menghadapi tantangan dengan respons pikiran-psikologis ini.
Apakah ingatan-psikologis yang membebani cara kita melihat dan menghadapi tantangan sungguh kita perlukan? Kebanyakan orang dibebani oleh pengalaman kenikmatan dan kesakitan masa lampau dan menganggapnya sebagai nyata atau bermakna. Mengapa orang menyimpan ingatan-ingatan psikologis ini dan membuatnya permanen?
Pikiran tahu bahwa dalam kenyataan tidak ada rasa aman abadi. Akan tetapi pikiran-psikologis menjadikan rasa aman sementara itu sebagai permanen. Sebagai contoh, Anda pada suatu moment tertentu mengalami kebahagiaan. Setelah kebahagiaan itu berakhir, Anda suka mengingat-ingat itu sebagai kenangan indah. Anda suka mengingat-ingat dan berpikir-pikir tentang kebahagiaan masa lampau karena Anda tidak lagi mengalami kebahagiaan. Kenangan tentang kebahagiaan itu sendiri lalu dianggap begitu nyata atau bermakna karena Anda tidak lagi mengalami kebahagiaan secara langsung.
Mana yang lebih nyata atau bermakna, kebahagiaan atau kenangan akan kebahagiaan? Bukankah kebahagiaan lebih bermakna daripada kenangan akan kebahagiaan? Tetapi inilah ironinya. Kebanyakan orang suka menjadikan kenangan akan kebahagiaan itu sebagai pengalaman yang permanen dan ingin mengulang-ulang terus seolah-olah sebagai pengalaman nyata. Seluruh proses ini memperkuat si aku seolah-olah betul-betul nyata. Apakah Anda melihat kepalsuan dari kebermaknaan kenangan akan kebahagiaan sebagai ingatan-psikologis ini?
Setiap orang juga memiliki pengalaman terluka atau pahit di masa lampau. Selama rasa luka itu belum tersembuhkan, maka kita masih akan tetap merasa tersiksa setiap kali kenangan akan kepahitan masa lampau itu muncul.
Terhadap pengalaman kebahagiaan, orang cenderung untuk melekatinya dan membuatnya langgeng. Berbeda dari pengalaman bahagia, orang cenderung ingin membuang apa saja yang mendatangkan penderitaan. Akan tetapi, semakin kuat keinginan untuk membuang kenangan penderitaan, orang semakin kuat dibuat menderita. Lalu pikiran-psikologis memperkuat pengalaman penderitaan itu dengan menciptakan entitas si aku yang menderita.
Kalau pengalaman kebahagiaan dan penderitaan itu dilihat tanpa reaksi ingatan-psikologis, tanpa keinginan untuk melekati atau membuangnya, melihat secara total apa adanya, maka akan terlihat bahwa si aku yang bahagia atau si aku yang menderita hanyalah ciptaan palsu dari pikiran. Cara melihat demikian memungkinkan terjadinya mutasi psikologis seketika. Lalu terlihat dengan jelas bahwa segala sesuatu tidak ada yang permanen dan tidak ada pikiran atau si aku yang berkeinginan untuk membuatnya permanen. Karena tidak ada sesuatupun yang permanen, maka tidak ada alasan apapun juga untuk mengingini suatu perubahan. Batin dibebaskan dari penjara pikiran dan lalu dimungkinkan hidup dalam arus perubahan.
Keinginan untuk berubah dengan demikian bukan hanya tidak mendatangkan perubahan fundamental, tetapi juga menghambat perubahan yang sesungguhnya. Pokok masalahnya bukanlah bagaimana mengubah tetapi bagaimana melihat perubahan itu sendiri. Pertanyaan ”bagaimana” bukanlah pencarian suatu teknik atau metode, tetapi sebagai ”tantangan”. Bisakah kita melihat masalah-masalah kita tanpa ingatan-psikologis sehingga batin sepenuhnya bebas bergerak seperti arus sungai yang terus berubah?*







Bravo Romo, thanks for this wonderful reminder.
(u/ bisa berubah secara fundamental)
Tulisan 2 Romo selalu mencairkan hati 2 yg keras
membeku, menjadi spt aliran sungai ” kehidupan ”
yg berubah setiap saat ini bening n lancar lg,shg
,bisa dihidupi, dijalani, lalu dilewati dg ringan n
tenang ,damai apa adanya,meski keadaan disekitar
bergejolak, memanas, mengkhawatirkan akhir2 ini.
Dg penyadaran, eling senantiasa segala sesuatunya
akan segera jernih kembali tanpa mengingat kenangan
2 lampau baik itu ttg kebahagiaan ataupun pdrtaan.
Tiada lagi beban psychologis yg terus dibawa oleh diri ini
Thanks ,once again… What ‘ll come up next?ditunggu ya Romo
In fact kalo tdk dibantu dg tulisan2, Homili2, etc
saya sering masih terantuk pd kerikil2..gelombang2,dst
yg datang silih berganti….setiap saat,disekitar,dan
didunia yg sdh tua ini(kt. orang??)
Warm Rgrds,
Lw
Yth. Romo Sudri yang baik,
Terima kasih atas homili. Kelihatannya, bagus.
Sayangnya saya agak kurang mengerti apa yang Romo sampaikan. Dalam upaya untuk mengerti, berikut ini saya tuliskan beberapa hal sehubungan dengan perubahan, dengan harapan untuk memperoleh lebih banyak pencerahan
1. Perubahan selalu dengan tujuan untuk berbuah. Tuhan menghendaki pohon Ara itu berbuah, demikian juga kita harus berbuah. Janganlah berubah hanya untuk berubah tanpa tujuan berbuah. Karena sudah banyak orang yang berbuah entah 5 entah 10, teruslah berubah untuk semakin berbuah. Jangan saking kepengen berubah maka berubah jadi loyo mandul tanpa buah.
Bahwa ketika kita berubah hendaknya tanpa membuat target “O, aku sudah melayani maka aku mau pelayanan ini jadi begini.” Itu OK, sebab bila kita sudah menarget maka kita tidak lagi memasrakan segalanya pada kehendak Roh Kudus. Kita hanya diminta terus saja bekerja, bekerja dan bekerja untuk berbuah, berbuah dan berbuah. Hasilnya? Ya serahkan saja pada Roh Kudus. Tuhan kan tidak pernah pasang target harus berbuah berapa. Yang penting kita menggandakan talenta kita.
2. Memory psikologis negative pada titik tertentu juga diperlukan, yakni untuk menjadi hikmah. A seorang yang ketika kecil selalu dipukul oleh ayahnya. Ketika dewasa A berbuah dengan mempergunakan hikmah dari pengalaman masa kecilnya. Dia tau selalu dipukul mengakibatkan perasaan marah yang tidak selesai di waktu kecil sehingga ketika A jadi ortu dia bisa pilih untuk melakukan komunikasi baik baik saat anaknya nakal; ditanya, diarahkan. Sedemikian sehingga anaknya tidak lagi mengalami marah terhadap A.
Mengurung diri dalam memory psikologis negatif itu menghalangi diri untuk tidak berbuah. Untuk melakukan perubahan fundamental satu satunya hal yang harus dilakukan adalah MEMAAFKAN lalu ambil hikmahnya. Memaafkan membuat hati yang tadinya marah bisa tersenyum. Misal B selalu marah dalam hati karena kerjaannya selalu diserobot oleh atasannya. Kalo B terus marah maka B akan semakin tidak kreatif bahkan merusak diri. Hanya supaya kerjaannya tidak diserobot bossnya maka B malah tidak mengerjakan tugasnya. Tapi bila B mampu memaafkan bossnya, B akan bisa tersenyum melihat fakta bahwa boss yang menyerobot kerjaan staffnya pastilah sebetulnya boss itu sendiri kurang kreatif. Kalo B memang pandai maka B akan bisa mempergunakan kesempatan itu untuk mencari peluang peluang lain yang lebih baik sehingga B bisa lebih sukses.
Itu kan sebabnya, mo, mengapa orang yang memaafkan itu akan masuk surga. Itu karena hatinya bisa bahagia.
3. Memory psikologis positif pada titik tertentu juga diperlukan, yakni untuk menjadikan diri semakin BERIMAN. Misal, C dan E berasal dari keluarga miskin. Ortu C rajin berdoa dan mengajar C untuk melihat gelas setengah penuh. Mereka merasakan walau hanya bisa makan 2 hari sekali tapi yang sekali itulah berkah melimpah dari Tuhan. Tuhan diyakini PASTI menolong mereka. Berbekal itu maka ketika dewasa C akan lebih mudah beriman dengan penuh pengharapan bahwa Tuhan pasti menolong. E juga makan 2 hari sekali tapi yang dilihat adalah gelas setengah kosong. E tidak melihat bahwa sekali makan itu adalah berkat Tuhan yang dilihat adalah 2 hari tidak makan itu sebagai kekejaman Tuhan. Maka E memiliki memory psikologis negatif yang bisa saja membuat dia gampang putus asa.
Mengurung diri hanya berkutat dalam memory psikologis positif itu menghalangi diri untuk tidak berbuah. F dulunya anak orang kaya, selalu bisa foya foya. Terbuai dalam kenangan positif saja membuat dia mengira bahwa kekayaan bakal untuk selamanya. Dia akan lupa bahwa orang perlu juga kerja. Maka bisa bisa dia jadi pengangguran yang tidak menghasilkan buah apapun.
Banyak kan mo, orang yang yang ngomongnya gini,”Aku tuh dulu sudah anggota DP, sudah pelayanan ini itu ini itu ini itu…. ” tapi kemudian dia tidak melakukan apapun. Lha saat itulah dia tidak berbuah, maka mungkin saja ditebang.
Tapi, dalam kasus C yang dapat mempergunakan memory psikologis positifnya untuk lebih beriman dan semakin berbuah, perubahan perubahan fundamental yang dia lakukan ya berbekal memory tersebut dia beriman maka dia selalu tau pasti bahwa di depannya selalu ada harapan. Tidak ada keraguan apapun, karena cara pandang dia terhadap kebaikan Tuhan memang selalu dilihatnya nyata.
Demikianlah Romo, sejauh yang bisa saya pahami dalam hal berubah untuk berbuah. Mungkin Romo melihat dimana letah salahnya saya. Silakan mengoreksi. Terima kasih.
Salam, berkah Dalem, rin
@Rin: Kebanyakan orang suka memupuk ingatan-ingatan psikologis dan terpenjara secara psikologis karenanya, lalu hidup dalam sekat-sekat pikiran dan perasaan saja. Sekalipun orang beriman pada Tuhan, tetapi selama orang tidak keluar dari penjara psikologis ini, orang hanya akan mengalami Tuhan sebatas pikiran dan perasaan.
Bisakah Anda melihat kenyataan itu bukan secara intelektuil atau persepsi pikiran? Kalau persepsi murni Anda bangun, tidak berlanjut dengan persepsi pikiran, maka ada kemungkinan Anda melihat secara langsung dan memahami fakta keterkondisian Anda. Melihat dengan cara demikian, memungkinkan Anda keluar dari penjara itu dan dari titik itulah Anda tahu dengan sendirinya apakah ingatan-psikologis itu berguna atau tidak.
Hallo mo!
Terima kasih untuk response.
Contohnya gini mo. Ini real ya, pengalaman saya.
Waktu kecil, ortu saya pernah jatuh miskin karena G30S PKI. Tapi, bagaimanapun kami masih tetap bisa makan karena ibu saya kerja keras jualan apapun, saya sulung jadi saya bantu ibu saya jualan. Kami bersaudara juga masih disekolahkan di Asisi. Dari situ saya tau betul bahwa Tuhan PASTI menolong kita.
Maka, sekarang kalo saya sedang tidak punya uang, saya tetap tau bahwa Tuhan pasti menolong. Oleh karenanya saya ya bahagia saja walau tidak punya uang. Saya terus saja berterima kasih karena pagi pagi masih menghirup udara segar. Masih ada keluarga. Masih ada macem macem lah. Saya masih lihat segalanya adalah baik, walau sedang tidak punya uang. Cara yang paling gampang sih ya minta uang saja ke suami saya to…. dan kalopun misalnya dia juga gak punya uang ya ketawa aja sama sama… lucu ya sama sama kerja koq gak punya uang….
So, perubahannya gimana mo?
Apa romo punya ide saya mesti minta uang ke pak Budi PSE gitu?! Hahahahahaaa…..
Salam berkah Dalem, rin
saya memahami metamorfose ini adalah perubahan seekor kepompong menjadi kupu-kupu. Suatu perubahan baru sama sekali, meski jejak-jejak masih bisa dilacak. Sebagaimana perubahan ujud Tuhan Yesus Kristus di atas Gunung Tabor, suatu metamorfose tubuh duniawi ke tubuh mulia. Demikian suatu perubahan habitus lama menjadi suatu habitus baru. Suatu metanoia. Suatu pertobatan.
Seperti perintah Yesus Kristus, supaya engkau sempurna sebagaimana Bapamu sempurna adanya. Suatu “gerak” atau “perubahan” yang siklis-ke depan. Bukan sirkuler, hanya berputar-putar sebagaimana faham inkarnasi. Gerak ke arah sempurna, itulah faham kristiani.
salam
Salam Hangat Romo,
Setelah saya membaca tulisan Romo J. Sudrijanta, SJ Perubahan Fundamental dari Mutasi Psikologis, sangat sulit bagi saya untuk memahami perenungan yang Romo berikan mungkin tulisan Romo di atas lebih mengarah ke Motivasi/pengembangan diri (menurut saya).
Romo menuliskan kalimat ini di akhir tulisan Romo Bisakah kita melihat masalah-masalah kita tanpa ingatan-psikologis sehingga batin sepenuhnya bebas bergerak seperti arus sungai yang terus berubah?*
Yang mau saya tanyakan kepada Romo:
Apakah perubahan yang Romo katakan mengenai sungai yang selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu merupakan cakupan suatu hal yang positif(definisi batin bergerak bebas yang Romo maksudkan)? Bagi saya hal ini sedikit ambiguitas.
Apakah dalam sgala tidakan manusia merupakan suatu intervensi dari pemikiran manusia? Bagaimanakah hubungan suatu pemikiran dengan hati nurani manusia?
Manusia diharapkan dalam hidupnya berlaku bijaksana dalam segala tindakannya, menurut Romo hal apa yang membuat orang menjadi Bijaksana? Bagi saya orang bijaksana itu terbentuk dari tempaan sgala ingatan psikologis negatif dan positif perjalanan hidupnya (sejauh mana ia memaknai perjalanan kehidupannya).
Menurut Romo Apakah seseorang dapat berubah secara total?
Bagaimana suatu ajaran Agama memaknai/menyikapi Perubahan Fundamental dari Mutasi Psikologis dan solusi yang diberikan mengenai hal ini?
Apakah suatu saat ada pergeseran makna pertobatan dalam ajaran agama dengan Perubahan Fundamental dari Mutasi Psikologis?
Ini pertanyaan yang terlintas di pikiran saya setelah membaca tulisan Romo. Saya berharap Romo berkenan memberikan tanggapan/koreksi atas pertanyaan saya.
Salam Hangat,
Verynandus Hutabalian
@Rin. Kalau kita tidak punya uang untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, ya optimalkan pikiran untuk bekerja dan mencari uang. Itu normal.
Tapi kalau kita bekerja karena kita takut miskin, maka di situ sudah ada masalah kejiwaan yang diciptakan oleh memory psikologis. Takut miskin itu bisa mendera siapa saja, baik orang yang punya uang banyak atau sedikit.
Kalau Anda tidak punya uang dan ketawa saja, itu artinya Anda tidak punya problem psikologis, bukan? Kalau Anda tidak punya uang lalu tidak bisa ketawa lagi, mudah marah, brutal, maka barangkali pikiran-psikologis sudah bekerja mempengaruhi batin Anda.
========
@Verynandus Hutabalian. “Setelah saya membaca tulisan Romo J. Sudrijanta, SJ Perubahan Fundamental dari Mutasi Psikologis, sangat sulit bagi saya untuk memahami perenungan yang Romo berikan mungkin tulisan Romo di atas lebih mengarah ke Motivasi/pengembangan diri (menurut saya).”
Perubahan fundamental tidak berasal dari pikiran. Sementara teori-teori motivasi atau pengembangan diri masih bergerak pada tataran pikiran. Pikiran lama diganti pikiran baru, pikiran negatif diganti pikiran positif. Tapi keduanya tetap pikiran.
“Bagi saya orang bijaksana itu terbentuk dari tempaan segala ingatan psikologis negatif dan positif perjalanan hidupnya (sejauh mana ia memaknai perjalanan kehidupannya).”
Selama ”bijaksana” hanya sebatas produk pengolahan pikiran, maka itu bukan kebijaksanaan yang sesungguhnya.
“Menurut Romo Apakah seseorang dapat berubah secara total?”
Ya, perubahan total itu terjadi setiap moment kalau kita melihatnya dengan persepsi langsung. Perubahan total ini terjadi ketika batin menerobos dirinya sendiri.
Dalam berbagai retret yang saya dampingi, saya melihat tidak sedikit orang mengalami perubahan total ini. Ketika kesadaran-pikiran (conscious mind), pikiran-bawah sadar (sub-conscious mind), dan pikiran tidak-sadar (un-conscious mind) berhasil tertembus, orang mengalami perubahan-perubahan fundamental itu.
”Bagaimana suatu ajaran Agama memaknai/menyikapi Perubahan Fundamental dari Mutasi Psikologis dan solusi yang diberikan mengenai hal ini?”
Perubahan total itu dalam bahasa agama disebut pertobatan. Tapi pertobatan kebanyakan orang tidak cukup fundamental, tidak cukup mengubah struktur batinnya sendiri yang terpenjara oleh pikiran/ego. Maka amat penting mengenali gerak diri yang adalah pikiran, perasaan, keinginan, kehendak, dst.
Romo, saya senang membaca komentar, tanggapan,diskusi diatas,begitu dong..Romo, bila ada komentar diberi response,sehingga Web St Anna menjadi hidup….
Salam Hangat, Romo J. Sudrijanta, SJ
Terimakasih tanggapan Romo atas pertanyaan-pertanyaan saya. Paparan Romo membuat saya mengerti arah perenungan yang Romo tuliskan.
Masih ada hal mengganjal di pikiran saya dari dulu mengenai segala tindakan yang dilakukan oleh manusia. Adakah relevansi sgala tindakan manusia dengan hati nurani? atau Apakah sgala tindakan manusia hanyan intervensi dari pikiran? Maksud saya disini sgala tindakan dengan jiwa sadar (terkendali)
Romo dalam penjelasannya berbicara tentang sgala ruang lingkup pikiran, dari paparan Romo mengatakan kesadaran-pikiran (conscious mind), pikiran-bawah sadar (sub-conscious mind), dan pikiran tidak-sadar (un-conscious mind).
Menurut Romo Hati Nurani masuk dalam ruang lingkup apa dalam sgala tindakan manusia?
Di manakah posisi Tuhan dalam ruang lingkup yang Romo berikan dalam pribadi manusia? (Dalam pemikiran saya di sini selain Sesama dan lingkungannya yang mengingatkan/menunjukkan eksistensi Tuhan).
Saya berharap Romo berkenan kembali memberikan sgala pencerahan, tanggapan dan koreksi atas pertanyaan saya.
Salam Hangat,
V. Hutabalian
@V.Hutabalian: “Menurut Romo Hati Nurani masuk dalam ruang lingkup apa dalam sgala tindakan manusia?”
Bukankah hati nurani merupakan nilai-nilai yang dibatinkan dalam diri seseorang? Tidak banyak orang berani memasuki pengalaman perjumpaan langsung dengan Tuhan atau pengalaman mystical. Bagi para mistik, “Tuhan” menjadi pusat penggerak hidupnya secara aktuil. Bagi yang belum memiliki pengalaman mystical, pedoman-pedoman kebaikan termasuk suara hati dijadikan pedoman perilaku. Suara hati barangkali berfungsi semacam “kompensasi” bagi mereka yang belum memasuki pengalaman mistik lalu orang menyebutnya “suara Tuhan”.
“Di manakah posisi Tuhan dalam ruang lingkup yang Romo berikan dalam pribadi manusia?”
Kalau kita mendekati Tuhan lewat pikiran, maka kita bertemu dengan “Tuhan konseptual”. Kalau Tuhan kita dekati tidak melalui pikiran, maka mungkin kita bertemu “Tuhan mystical”.
Salam Hangat, Romo J. Sudrijanta, SJ
Sangat menyegarkan berdiskusi dengan Romo. Penjelasan Romo mengarahkan konseptual sudut pandang yang sedikit berbeda akan eksistensi Tuhan bagi tahapan dangkal pemikiran saya akan Dia.
Sampai sekarang saya masih merasa dan menyadari Tuhan adalah suatu sosok yang lahir dari perjalanan ingatan manusia (baik secara nyata (real) atau sebatas spiritual yang menghasilkan tradisi).
Apakah Tuhan di luar proses Ingatan Manusia?
Dari pernyataan Romo atas pertanyaan saya:
“Di manakah posisi Tuhan dalam ruang lingkup yang Romo berikan dalam pribadi manusia?”
Kalau kita mendekati Tuhan lewat pikiran, maka kita bertemu dengan “Tuhan konseptual”. Kalau Tuhan kita dekati tidak melalui pikiran, maka mungkin kita bertemu “Tuhan mystical”.
Seandainya Tuhan di luar dari perjalanan ingatan manusia, Bagaimanakah manusia mampu bertemu “Tuhan mystical”?
Saya berharap Romo senantiasa berkenan memberi tanggapan atas pertanyaan saya.
Salam hangat,
Verynandus Hutabalian
@V. Hutabalian: Kalau mau lebih mengenal “Tuhan mystical”, janganlah terlalu banyak berpikir tentang Tuhan. Amatilah gerak batinmu, pikiran,perasaan, keinginan, dst.Itulah langkah pertama sekaligus langkah terakhir.Sebab dengan menyadari gerak-gerik diri, ada kemungkinan diri tertembus dan Tuhan barangkali akan menampakkan wajahNya sendiri dengan caraNya sendiri.
Salam Hangat Romo, J. Sudrijanta. SJ
Terima kasih atas tanggapan dan saran Romo atas pertanyaan saya. Memang sangat sulit menembus/menemukan batasan akan diri saya. Suatu saat saya akan menemukanNya paling tidak bersentuhan dengan batasan tersebut. Saran dan masukan Romo sangat berguna bagi saya.
Salam hangat
Verynandus Hutabalian