Pertanyaan abcd dari seorang Moslem

saya seorang muslim yang mempunyai pasangan seorang katholik.
disini saya benar-benar bingung dan ingin bertanya mengenai:
1. apa hakikat tritunggal maha kudus? karna saya bingung.. terkadang pasangan saya bicara kalau Jesus itu Tuhan nya.. tapi terkadang dia bilang Tuhan ku itu Allah.. maaf sekali Bapak..saya bingung sekali..karna saya memang tidak mengerti..
2. mengapa bayi yang lahir membawa dosa turunan (atau apa saya kurang mengerti maaf Pak), padahal menurut logika saya bayi yang baru lahir sekalipun anak pelacur atau pembunuh, dia tetap saja tak tahu apapun mengenai dosa pendahulu nya..
3. saat dalam batas dimana perceraian dirasa adalah jalan satu2 nya yang lebih baik dampaknya kepada diri sendiri, pasangan, dan mungkin anak bila sudah dikaruniai; mengapa tetap dilarang?
4. dalam bible mengatakan minuman keras itu jangan dikonsumsi.. (termasuk 10 larangan, atau apa saya juga bingung Bapak.. hanya pernah diberitahu pasangan saya) tapi mengapa dalam ibadat agama katholik meminum anggur?

sebenarnya masih banyak yang ingin saya tanyakan kepada Bapak Romo.. tapi saya rasa itu dulu yang masih saja terngiang di pikiran saya dan menghantui saya..(kebetulan saya pemikir dan terkadang terlalu logis.. jadi semua hal saya pikirkan..)

Mohon maaf sekali lagi Bapak.. saya lancang dan mungkin tidak berhak bertanya.. namun saya benar2 ingin menemukan jawaban yang logis untuk diri saya sehubungan dengan keputusan apa yang akan saya ambil kedepannya.. baik untuk pasangan saya maupun saya secara pribadi..

yang saya inginkan hanya sebuah jawaban yang bisa saya jadikan sebagai “reverensi” dari pencarian dalam hidup saya dan pasangan bila mungkin kami berjodoh..

terimakasih yang sebesar-besarnya Bapak..

Ebina

7 Responses to “Pertanyaan abcd dari seorang Moslem”

  1. @Ebina

    1. Tritunggal MAhaKudus, walaupun semua orang KAtolik mengimaninya tetapi tidak semua orang Katolik bisa menjelaskannya, termasuk teman istimewa-mu itu. Tritunggal MahaKudus, Allah dengan 3 persona, Bapa, Putera dan Roh Kudus. Ke-3-nya adalah satu. masing-masing memiliki sifat ilahi yang sama, tidak berbeda, dan tidak bisa dipisahkan. Keputusan Putera adalah keputusan BApa. Apa yang dikehendaki Roh Kudus adalah kehendak Bapa dan juga kehendak Putera. Yesus adalah persona Allah, yaitu Putera. Orang Katolik percaya Yesus sepenuhnya manusia, tetapi Ia juga sepenuhnya Allah. Mengapa kok Allah butuh makan dan minum, terluka dan merasakan sakit.. karena itulah ciri kemanusiaan yang melekat kepada persona Putera. Bisakah bila Yesus menghilangkan rasa lapar dan haus itu ? menghilangkan rasa sakit ? dan membuat diri-Nya tidak pernah terluka ? jawab-nya “Ya”.. tetapi tidak Ia lakukan karena Ia ingin menunjukkan kepada kita, bahwa manusia dapat melakukan apa yang Allah kehendaki. Dengan cara-cara sebagai manusia, Yesus memberi contoh bagaimana mengasihi Allah. Dan dengan demikian, manusia bisa beroleh keselamatan kekal.
    Dan puncaknya dari karya keselamatan Allah adalah pengorbanan Yesus di kayu salib, untuk menunjukkan bahwa Allah sungguh mengasihi manusia dan rela mengorbankan diri-Nya untuk keselamatan umat manusia. Mengapa demikian ? ini ada hubungannya dengan pertanyaan anda no 2.
    Pada saat Adam berbuat dosa, maka dosanya itu menjadi kutuk bagi manusia. Dikatakan, karena dosa satu orang, maka semua manusia jatuh dalam kuasa maut. mengapa demikian ? secara literal, memang bisa diartikan bahwa kejatuhan Adam membuat manusia mengenal sengsara dan kematian. Kejatuhan Adam juga membuat manusia mengenal nafsu yang cenderung menjerumuskan manusia ke dalam dosa. Dan dosa ini pun membawa kematian kekal.
    Manusia pertama, sebelum kejatuhan tidak mengenal sengsara dan kematian, dan terutama tidak mengenal dosa, mengapa ? karena ada rahmat Allah yang mengkuduskannya. Karena kejatuhan manusia, rahmat Allah itu pun hilang. Inilah yang menurun kepada anak-anak keturunan Adam. Kondisi hilangnya rahmat ini adalah kondisi yang sama bila kita berdosa berat.
    Pada jaman perjanjian lama untum meminta pengampunan atas dosa berat, seorang imam mempersembahkan kurban. Dalam perjanjian baru, Yesus adalah seorang Imam Agung yang memepersembahkan diri-Nya sebagai kurban. Jika diperjanjian lama, dosa tidak terhapuskan secara otomatis, kini pengorbanan Yesus ini menghapuskan dosa dan memulihkan kembali hubungan Allah dengan manusia secara otomatis, sehingga manusia menerima kembali rahmat pengudusan untuk dapat melakukan kehendak2 Allah, dan tidak perlu lagi ada korban persembahan penghapusan dosa.

    2. jadi yang dimaksud bukan dosa orang tua diturunkan kepada anak. tetapi semua keturuan adam, ketika dilahirkan memiliki dosa yang disebut dosa asal. Dosa yang sebenarnya tidak sama dengan dosa karena perbuatan, tetapi memiliki efek yang sama yaitu hilangnya rahmat pengudusan Allah. Dosa ini kemudian dihapus dan rahmat pengudusan dipulihkan dengan sakramen baptis.

    3. Allah yang mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada perceraian, tetapi karena kekerasan hati orang Israel, Musa mengeluarkan surat cerai.

    Allah bersabda, apa yang dipersatukan Allah, tidak terceraikan oleh manusia. Jadi perceraian itu tidak dikehendaki Allah.

    Walaupun demikian, mereka yang ditindas oleh kekerasan, diijinkan untuk berpisah dari sang suami [artinya tidak tinggal serumah]. Perceraian walaupun kelihat sebagai jalan keluar, tidak pernah terlihat menjadi hal yang positif bagi tumbuh kembang anak. Anak adalah pihak yang paling dirugikan dari perceraian kedua orangtuanya [dan tidak pernah dikatakan sebagai pihak yang beruntung]. Sebaliknya perceraian bisa jadi [walau tidak mau dikatakan besar] memberi keuntungan salah satu pihak, dan memberik keuntungan yang lebih sedikit atau kerugian bagi pihak yang lain.

    orang mengatakan pernikahan itu adalah sakral.. tetapi apakah ke-skaral-an itu hanya pada saat pengukuhan ? atau berlangsung sepanjang perkawinan itu sendiri ? jika kamu mendengar seorang mengatakan perkawinan adalah sakral, lalu selang sekian lama ia bercerai, apakah kamu masih percaya kepadanya jika kelak ia mengatakan hal yang sama saat ia menikah lagi ? Jadi kesakralan itu harus terjadi sepanjang perjalanan pernikahan itu, terutama bila sudah terbentuk menjadi sebuah keluarga dimana Allah mengkarunikan anak-anak kepada pasangan. Orang Katolik percaya, Allah yang mempersatukan dua insan dalam ikatan perkawinan. Ketika ada pihak yang membuat “kegaduhan” dan keretakan RT terjadi, maka perlu ada seorang di antara suami dan isteri yang menjaga hal ini tetap sakral sehingga anak-anak mereka kelak bisa belajar tentang arti sebuah perkawinan sesungguhnya, yang bukan semata-mata antara manusia dengan manusia, tetapi memiliki relasi yang lebih dalam yaitu antara manusia dengan Allah.

    4. yang membuat manusia berdosa itu bukan minumannya itu sendiri, melainkan bila manusia meminumnya dan kehilangan kendali atas dirinya. Dan dosanya menjadi berat, ketika perbuatannya telah membuat dirinya celaka terlebih bila membuat orang lain juga celaka.
    Dalam kitab suci yang dilarang adalah kemabukan bukan minum anggur. Jika anda tahu meminum sedikit saja membuatmu mabuk, maka itulah yang dilarang.

    untuk sementara itu dulu ya..

    May God bless your steps..

  2. Dear Ebina,

    Pertama tama yang harus disadari, pertanyaan mengenai agama adalah persoalan kepercayaan dan bukan soal logis. Bicara soal agama adalah soal kepercayaan kepada Allah yang adalah Mahabesar jauh melampaui manusia. Otak manusia terlalu kecil untuk menggapai pengetahuan tentang Allah yang Mahabesar itu. Jadi tidak mungkin kita bicara logis. Karena kalau kita bicara logis itu adalah bicara hanya sejauh manusia bisa berpikir. Kalau demikian, Allah tidak lagi Mahabesar melainkan sama besarnya dengan manusia.

    Kedua, berdasarkan hal pertama tersebut maka kita sama sekali tidak dapat berdebat mengenai apa yang dipercaya oleh seseorang sejauh yang diajarkan oleh agamanya. Anda dapat saja minta diberi informasi, tapi anda tidak berhak mendebat apapun apa lagi membandingkan suatu kepercayaan dengan kepercayaan lain untuk mengatakan kepercayaan mana yang benar. Itu karena benar selalu menurut-siapa. Kebenaran menjadi subyektif karena kebenaran obyektif tidak dapat diperoleh sebab Mahabesarnya Allah yang dipercayai.

    Ketiga, berdasarkan hal kedua tersebut di atas, baiklah saya menjawab saja pertanyaan anda sejauh untuk pengetahuan dan bukan untuk maksud kristenisasi.

    1. apa hakikat tritunggal maha kudus?
    Ini berarti ada tiga pribadi dalam satu Allah.
    “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” [Matius 28:19].
    Siapakah tiga Pribadi dalam Allah?
    Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus.
    “Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.” [1 Yohanes 5:7]
    Apakah ketiga Pribadi dalam Tritunggal MahaKudus setara satu dengan yang lainnya?
    Ya, Mereka setara, tetapi masing-masing adalah pribadi yang berbeda, dan masing-masing adalah Allah yang sejati, sungguh-sungguh Ilahi.
    Bisakah kita memahami kebenaran ini tentang Allah?
    Ini adalah suatu misteri yang tidak seorang manusiapun bisa memahami sepenuhnya dengan pikirannya.

    2. mengapa bayi yang lahir membawa dosa turunan?
    Yang dimaksud dengan dosa turunan adalah dosa asal.
    Apakah yang dimaksud dengan Dosa Asal?
    Yaitu dosa yang dilakukan oleh Adam, bapa (asal) dari segala umat manusia.
    Bagaimana dosa Adam mempengaruhi seluruh umat manusia?
    Karena dosa Adam, setiap manusia diciptakan tanpa rahmat, karena dia adalah bapa dari segenap umat manusia.
    “Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa” (Roma 5:19)

    Jadi, dosa turunan bukan mempersoalkan dosa orang tuanya melainkan dosa Adam, bapak segala bangsa. Dosa itu sebetulnya merupakan kecenderungan manusia untuk melawan Allah. Dosa itu dihapus oleh pembabtisan dalam nama Allah Tritunggal Mahakudus.

    3. saat dalam batas dimana perceraian dirasa adalah jalan satu2 nya yang lebih baik dampaknya kepada diri sendiri, pasangan, dan mungkin anak bila sudah dikaruniai; mengapa tetap dilarang?

    Satu satunya alasan perceraian dalam agama Katolik adalah kematian pasangan. Sama sekali tidak boleh cerai hidup.
    Matius 19:3 – 6
    Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?”
    Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?
    Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
    Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

    4. mengapa dalam ibadat agama katholik meminum anggur?
    Yang dilarang adalah secara sengaja membuat diri mabuk karena berpotensi melakukan perbuatan dosa yang tidak dapat dikontrolnya. Sedangkan meminum anggur dalam ibadat Katolik tidaklah memabukkan. Tidak pernah ada orang mabuk karena minum anggur dalam Misa. Silakan menghadiri Misa untuk memastikannya.

    Salam berkat Tuhan, rin

  3. @Ebina

    Saya salut bahwa anda berusaha mempelajari iman pasangan anda. Itu tandanya cinta kan? :)

    Saya akan coba menjawab

    1. apa hakikat tritunggal maha kudus? karna saya bingung.. terkadang pasangan saya bicara kalau Jesus itu Tuhan nya.. tapi terkadang dia bilang Tuhan ku itu Allah.. maaf sekali Bapak..saya bingung sekali..karna saya memang tidak mengerti..

    Susah untuk menjelaskan Trinitas karena di alam raya ini tidak ada yang bisa dijadikan analogi yang pas atas trinitas. Dulu banyak penjelasan Romo dan buku-buku yang saya baca tapi juga kurang memuaskan.

    Namun saya akhirnya mendapat penjelasan yang mencerahkan mengenai trinitas. Ini yang coba saya share (bagikan) kepada anda.

    Kristen termasuk agama monoteis (mono = satu; teis = Allah). Jadi sama dengan Islam yang mengakui ke-esa-an Allah. Allah yang satu dan esa itu mempunyai tiga pribadi. Yang satu itu adalah “substansi” Allah, sementara yang tiga itu adalah “pribadi” Allah.

    Ketika kita menunjuk sesuatu dan bertanya “apakah itu?” kita bertanya mengenai “substansi” dari hal tersebut. Jadi misalnya kita menunjuk si Manis yang sedang menjilati tubuhnya dan bertanya “apakah itu?” maka jawabannya adalah “kucing”. Jadi substansi si manis adalah kucing. Begitu pula kalau kita menunjuk ke pucuk tugu Monas dan bertanya “apakah itu?” maka jawabannya adalah “emas” karena emas itulah substansi berwarna kuning yang nempel di Monas (kita UMPAMAKAN SAJA emas diatas Monas itu seluruhnya terdiri dari emas, padahal kenyataannya yang emas cuma lapisannya)

    Lalu, kalau kita menunjuk seseorang dan bertanya “apakah itu?” maka jawabannya adalah “manusia”. Nah, untuk manusia kita bisa bertanya juga “siapakah itu?” maka jawabannya bisa “Bagus, Slamet, Budi, Anita, Rini dan lain-lain”. ITULAH YANG DISEBUT “PRIBADI”!!

    Jadi “pribadi” adalah “SIAPA”, bukannya “APA” (yang “apa” adalah substansi).

    Sekarang, KATAKANLAH anak saya yang lugu menunjukkan jari kepada sang ALLAH (kita umpamakan bahwa Allah itu bisa ditunjuk) dan bertanya kepada saya “Pak, itu APA?” Maka saya akan menjawab “itu Allah, nak”. Kalau anak saya bertanya “Pak, itu SIAPA?” maka saya akan menjawab “itu, Bapa, Putra dan Roh Kudus, nak”.

    Inilah yang dimaksud bahwa Allah itu satu (substansi) dan Dia adalah Tiga (pribadi).

    Seperti yang saya katakan sebelumnya, di alam raya ini tidak ada yang seperti Allah (maksudnya terdiri dari SATU substansi dan TIGA pribadi). Kita-kita ini manusia hanya terdiri dari SATU substansi dan SATU pribadi. Tidak ada manusia yang punya lebih dari satu pribadi (“pribadi” disini berbeda dengan “personalitas”. ini mengingat ada penyakit jiwa dimana seorang manusia mempunyai lebih dari satu “personalitas”. Meskipun begitu orang ini pribadinya tetap satu).

    Dengan pemahaman diatas sekarang saya akan mencoba membahas tentang Yesus.

    Sebagaimana diketahui Allah terdiri dari tiga pribadi (Bapa, Putra, Roh Kudus). Nah, pribadi kedua tersebut dahulu kala turun ke dunia dan mengambil daging (inilah maksud dari doktrin “inkarnasi” yang berasal dari bahasa Latin “in carnis” dimana “carnis” adalah “daging”). Lalu apakah pribadi dalam Allah tinggal 2? Jawabannya, tidak. Karena inkarnasi sang pribadi kedua terjadi tanpa Dia meninggalkan substansi ilahiNya.

    Yesus sendiri adalah Tuhan dan juga Allah. Kata “Tuhan” adalah terjemahan dari kata “Lord” (Al-Quran berbahasa Inggris pun menggunakan kata “Lord” untuk setiap kata “Tuhan” di Al-Quran Indonesia). Kata “Tuhan merupakan gelar bagi seseorang yang statusnya tinggi. Jadi kata ini tidak melulu dipakaikan kepada Allah, tapi juga bisa dipakaikan kepada manusia. Jadi seperti kata “Gusti” dalam bahasa Jawa (orang Jawa sering menyebut “Gusti Yesus” yang kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia berarti “Tuhan Yesus”). Karena Yesus itu statusnya tinggi, maka Dia layak disebut “Tuhan”, dan karena Dia ilahi maka Dia layak disebut Allah. Maka cocoklah untuk menyebut Yesus “Tuhan Allah”.

    2. mengapa bayi yang lahir membawa dosa turunan (atau apa saya kurang mengerti maaf Pak), padahal menurut logika saya bayi yang baru lahir sekalipun anak pelacur atau pembunuh, dia tetap saja tak tahu apapun mengenai dosa pendahulu nya..

    Ajaran mengenai dosa asal adalah ajaran yang imani yang kurang mampu dijelaskan melalui logika (seperti ajaran mengenai surga dan neraka). Namun ada dasar logikanya juga.

    Pertama-tama, kita harus memahami bahwa pada hakekatnya SEMUA manusia saling terhubung. Manusia pada dasarnya adalah satu keluarga besar yang dimulai dari seorang ayah (Adam) dan seorang ibu (Hawa). Kita ini semua saudara satu moyang. Karena itu apa yang dilakukan yang satu pasti mempunyain pengaruh (entah besar atau kecil) bagi yang lain.

    Kedua, coba kita umpamakan satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan dua anak. Katakanlah si ayah pernah merampok. Maka mau tidak mau si ibu dan dua anaknya pasti terpengaruh oleh tindakan si ayah. Entah terpengaruhnya dalam bentuk pandangan miring para tetangga atau kenyataan bahwa mereka telah manikmati hasil rampokan (meskipun mereka tidak tahu uang yang mereka terima dari ayah adalah hasil rampokan) dan lain-lain.

    Jadi karena moyang kita yang pertama telah melakukan kesalahan, maka semua keturunannya terkena dampaknya karena kita semua adalah anak-anaknya dan kita terhubung dengannya, dialah bapak utama kita (Adam).

    Itulah yang bisa saya jelaskan.

    Bisa juga kita umpamakan dosa asal itu sebagai penyakit genetik yang menurun ke semua keturunan karena dulunya Adam telah ceroboh terkena radiasi nukir yang mempengaruhi kode genetiknya.

    3. saat dalam batas dimana perceraian dirasa adalah jalan satu2 nya yang lebih baik dampaknya kepada diri sendiri, pasangan, dan mungkin anak bila sudah dikaruniai; mengapa tetap dilarang

    Karena Allah memandang bahwa tidak ada yang namanya “batas” yang merupakan “jalan satu2 nya yang lebih baik dampaknya kepada diri sendiri”. Allah memandang bahwa perceraian itu bukan solusi, bukan pilihan akhir.

    Bila anda tahu bahwa jabang bayi anda cacat apakah anda pernah berpikiran, “jalan satu-satunya yang terbaik” adalah membunuhnya sementara masih jabang bayi, supaya setelah besar dia tidak terbebani”. Tidak kan? Karena itu bukan solusi, itu bukan pilihan akhir.

    Jadi “bercerai” itu mirip dengan “membunuh jabang bayi yang cacat”.

    Di jaman modern dimana di negara Barat (setahu saya di Inggris) aborsi diijinkan kalau kedapatan jabang bayi cacat. Bangsa barat yang moralnya terpuruk tidak memahami betapa keliru dan buruknya tindakan ini. Namun Allah lebih tahu dari manusia dan Dia ingin menghindarkan manusia dari keburukan itu maka dilaranglah aborsi olehNya. Begitu pula dengan perceraian. Di jaman modern ini banyak orang yang bercerai, tampaknya kita tidak memahami betapa kelirunya dan buruknya cerai. Namun Allah yang Maha Tahu bersabda bahwa cerai sama sekali tidak diperbolehkan (Matius 19:6).

    Kita tidak selalu tahu mengapa Allah melarang ini atau itu. Tapi kita tahu bahwa Allah sangat mencintai kita sehingga setiap hal yang dilarangnya Dia larang karena hal tersebut buruk bagi kita. Kita mungkin merasa hal tersebut baik, merasa bahwa hal tersebut merupakan solusi, merasa bahwa hal tersebut merupakan pilihan akhir, tapi Allah lebih tahu daripada kita.

    Perceraian menghancurkan struktur kemasyarakatan, menimbulkan ketidakpastian. Saya bahkan pernah dengar satu pemkiran (entah tesis, entah buku) dimana dilarangnya perceraian di negara Katolik menciptakan kestabilan ekonomi, sosial dan politik daripada masyarakat dimana perceraian diijinkan.

    4. dalam bible mengatakan minuman keras itu jangan dikonsumsi.. (termasuk 10 larangan, atau apa saya juga bingung Bapak.. hanya pernah diberitahu pasangan saya) tapi mengapa dalam ibadat agama katholik meminum anggur?

    Gereja Katolik dan bahkan Hukum Taurat tidak pernah melarang minum alkohol. Yang dilarang adalah minum berlebihan sampai mabuk karena saat mabuk seseorang kehilangan daya nalarnya sehingga bisa terjerumus ke perbuatan yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain.

    Mungkin jawaban saya kurang memuaskan. Tapi paling tidak saya berusaha :) . Mari kita sama-sama berusaha untuk mencari yang terbaik. Kalau sudah begini, pasti semuanya enak jadinya, bukankah begitu :) .

  4. pasangan kamu itu blm tau tentang agama katolik jd jwbn yg ia berikan kepada kamu itu asbun(asal bunyi) klo kamu ingin tau lebih dalam untuk referensimu ssebaiknya kamu ke grja dan bertemu langsung dengan rommo dan silahkan anda bertanyalah sepuas kamu,,,sebab pertanyaan kamu sekarang yg sekkarang sangat tidak membutuhkan jwbn karnna sangat melenceng jauh ddari ajaran katolik

  5. @ringgo… pertanyaan Ebina sangat logis dan sangat wajar ditanyakan oleh orang yang belum tahu/mengerti bukan saja oleh orang Non-Katolik bahkan seorang Katolik sekali pun…

    kalo urusan begini harus ke romo, kapan orang Katolik bisa pintar dalam mempertanggunjawabkan atau membela imannya..

    Jadi jangan langsung mengambil sikap yang tidak simpatik atau menaruh curiga bila ada orang yang menanyakan hal ini..

  6. @ibnurini

    Dosa itu sebetulnya merupakan kecenderungan manusia untuk melawan Allah.

    “Kecenderungan melawan Allah” dalam teologi disebut “concupiscentia”. Ini adalah cacat dosa yang diakibatkan oleh dosa asal. Namun “concupiscentia” sendiri BUKAN dosa.

    Berikut dari Katekismus Gereja Katolik, sekaligus menjelaskan sedikit tentang dosa asal:

    Akibat Dosa Adam untuk Umat Manusia

    402 Semua manusia terlibat dalam dosa Adam. Santo Paulus mengatakan: “Oleh ketidak-taatan satu orang, semua orang telah menjadi orang berdosa” (Rm 5: 191. “Sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Rm 5:12). Rasul mempertentangkan universalitas dosa dan kematian dengan universalitas keselamatan dalam Kristus: “Sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang mendapat penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang mendapat pembenaran untuk hidup” (Rm 5:18).

    403 Sehubungan dengan santo Paulus Gereja selalu mengajar bahwa penderitaan yang sangat banyak membebani manusia, dan kecondongannya kepada yang jahat dan kepada kematian tidak dapat dimengerti tanpa hubungan dengan dosa Adam dan dengan kenyataan bahwa ia meneruskan kepada kita suatu dosa, yang kita semua sudah terima pada saat kelahiran dan yang “merupakan kematian jiwa” Bdk. Konsili Trente: DS 1512.. Karena keyakinan iman ini Gereja memberi Pembaptisan untuk pengampunan dosa juga kepada anak-anak kecil yang belum melakukan dosa pribadi (Bdk. Konsili Trente: DS 1514.).

    404 Mengapa dosa Adam menjadi dosa bagi semua turun-temurunnya? Dalam Adam seluruh umat manusia bersatu “bagaikan tubuh yang satu dari seorang manusia individual” (Tomas Aqu., mal. 4, 1). Karena “kesatuan umat manusia ini”, semua manusia terjerat dalam dosa Adam, sebagaimana semua terlibat dalam keadilan Kristus. Tetapi penerusan dosa asal adalah satu rahasia, yang tidak dapat kita mengerti sepenuhnya. Namun melalui wahyu kita tahu bahwa Adam tidak menerima kekudusan dan keadilan asli untuk diri sendiri, tetapi untuk seluruh kodrat manusia. Dengan menyerah kepada penggoda, Adam dan Hawa melakukan dosa pribadi, tetapi dosa ini menimpa kodrat manusia, yang selanjutnya diwariskan dalam keadaan dosa (Bdk. Konsili Trente: DS 1511-1512.). Dosa itu diteruskan kepada seluruh umat manusia melalui pembiakan, yaitu melalui penerusan kodrat manusia, yang kehilangan kekudusan dan keadilan asli. Dengan demikian dosa asal adalah “dosa” dalam arti analog: ia adalah dosa, yang orang “menerimanya”, tetapi bukan melakukannya, satu keadaan, bukan perbuatan.

    405 Walaupun “berada pada setiap orang secara pribadi” (Bdk. Konsili Trente: DS 1513.), namun dosa asal tidak mempunyai sifat kesalahan pribadi pada keturunan Adam. Manusia kehilangan kekudusan asli, namun kodrat manusiawi tidak rusak sama sekali, tetapi hanya dilukai dalam kekuatan alaminya. Ia takluk kepada kelemahan pikiran, kesengsaraan dan kekuasaan maut dan condong kepada dosa; kecondongan kepada yang jahat ini dinamakan “concupiscentia”. Karena Pembaptisan memberikan kehidupan rahmat Kristus, ia menghapus dosa asal dan mengarahkan manusia kepada Allah lagi, tetapi akibat-akibat untuk kodrat, yang sudah diperlemah tinggal dalam manusia dan mengharuskan dia untuk berjuang secara rohani.

    406 Ajaran Gereja mengenai penerusan dosa asal dijernihkan terutama dalam abad ke-5, teristimewa di bawah dorongan pikiran anti-pelagian dari santo Agustinus, dan dalam abad ke-16 dalam perlawanan menentang reformasi. Pelagius berpendapat bahwa manusia sendiri berkat daya alaminya dan berkat kehendak bebasnya dapat menghayati kehidupan susila yang baik, tanpa memerlukan bantuan rahmat Allah, dan dengan demikian membatasi pengaruh dosa Adam menjadi suatu contoh kehidupan yang buruk saja. Sebaliknya para reformator pertama mengajarkan bahwa manusia sudah rusak sama sekali oleh dosa asal dan bahwa kebebasan sudah ditiadakan. Mereka mengidentifikasikan dosa yang diwarisi oleh setiap orang dengan kecondongan kepada yang jahat, yaitu concupiscentia, yang dianggap sebagai tidak terkalahkan. Terutama pada tahun 529 dalam Sinode kedua Orange (Bdk. DS 371-372). dan pada tahun 1546 dalam Konsili Trente (Bdk. DS 1510-1516). Gereja menyatakan pendiriannya mengenai makna wahyu tentang dosa asal.

  7. Matur nuwun pak Sugeng,
    yang saya maksud juga:
    kecondongannya kepada yang jahat dan kepada kematian tidak dapat dimengerti tanpa hubungan dengan dosa Adam dan dengan kenyataan bahwa ia meneruskan kepada kita suatu dosa, yang kita semua sudah terima pada saat kelahiran dan yang “merupakan kematian jiwa”

    Salam berkah Dalem, rin

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>