Pernikahan Beda Gereja

Siang romo, saya sedang bingung nech! Saya skr sedang berpacaran dng
laki2 dr gereja protestan. Saya menjalin hubungan sudah 2 thn. Tahun depan
kami berencana menikah… yang saya bingung tentang perkawinan saya nanti.
Saya ingin menikah secara katolik tp pacar saya kan protestan. Dia tidak
mau diajak untuk pindah agama katolik.

Yang jd pertanyaan saya, harus kah saya menikah secara protestan dan
dibabtis lagi secara protestan, untuk pernikahan ini. Padahal hati saya
enggan. Klo saya tidak mengikuti dia saya tidak akan pernah menikah donk. truz
apabila saya lakukan pernikahan protestan tp setelah menikah saya tetap k
gereja katolik apakah saya masih boleh menerima komuni,atau kah saya harus
ikut pengukuhan lagi?
Nls
========
Nls,
Anda bisa saja menikah secara Katolik dan calon suami anda tetap Kristen. Atau anda menikah secara ekumenis. Silahkan konsultasikan secara langsung dengan pastor paroki anda.
Sudrijanta

38 Responses to “Pernikahan Beda Gereja”

  1. Romo saya ingin mohon bantuannya untuk dapat memberikan informasi mengenai perkawinan beda agama (katolik dan kristen)

    apakah di gereja katolik mengijinkan perkawinan beda agama ini tanap harus pasangan berpindah agama ke katolik? (karena pasangan sudah dibaptis secara kristen? bila iya, bagaimana caranya ?

    dan apakah benar bila orang katolik melakukan pemberkatan di gereja non katolik, maka yang bersangkutan tidak diperbolehkan menerima komuni lagi, haknya sebagai org katolik dihilangkan?

    menurut romo, solusi apakah yang terbaik untuk permasalahan ini? karena pada dasarnya saya dan pasangan saling menghargai.

    sebelumnya terima kasih atas bantuannya.

  2. @Susan, jawaban Romo untuk kasus pertama Nls juga cukup menjawab pertanyaan anda.

    Baik pernikahan ekumenis atau melangsungkan pengukuhan di tempat lain selain di Gereja Katolik, membutuhkan ijin dari keuskupan. Jika hal itu tidak dilakukan, atau dengan kata lain melakukan pengukuhan tidak dengan norma pernikahan GK, maka tentu saja ini merupakan pelanggaran hukum kanonik GK, dan pelanggaran ini mengakibatkan anda tidak dapat menerima sakramen Ekaristi, hingga anda membereskannya dan menerima sakramen tobat.

    Jadi solusinya adalah sebagai seorang Katolik, langsungkan pernikahan di dalam norma pengukuhan pernikahan GK. untuk itu silahkan anda berkonsultasi dengan pastor paroki anda.

  3. Salam Sejahtera,

    Saya Seorang katolik, dan dalam waktu dekat ini berencana untuk menikah. Calon istri saya beragama kristen protestan, dan kami telah sepakat kelak istri saya akan ikut mengimani katolik. Yang menjadi ganjalan saat ini adalah, dalam pernikahan nanti pernikahan akan di laksanakan di rumah calon mertua. Dan pemberkatan nya di lakukan di gereja kristen protestan tempat calon mertua saya beribadah. Yang saya tanyakan apakah bisa nanti setelah pemberkatan secara gereja kristen protestan , kemudian saya minta pemberkatan secara gereja katolik…?
    Mohon Saran dan bantuan nya … Terimakasih

  4. @Antonius.. jawabannya tidak bisa.. pengukuhan hanya 1 x dan harus sesuai norma Gereja Katolik.. tetapi ada jalan keluarnya..
    romo paroki bisa meminta ijin keuskupan tempat anda berdomisili untuk mengadakan pengukuhan bukan di Gereja, hanya dengan ijin ini, pernikahan anda dapat dikukuhkan oleh Imam Katolik di luar lingkungan Gereja dan pengukuhan itu pun bisa dihadiri oleh pendeta protestan.
    Anda pun membutuhkan ijin untuk menikah dengan pasangan anda yang non-baptis Katolik.
    jadi cobalah berdiskusi dengan romo paroki anda.

  5. Romo, saya bukan dari paroki St. Anna, tapi jika boleh saya ingin bertanya.

    Saya menjalin hubungan yang serius dgn seorang Protestan dan kami berencana untuk melanjutkan hubungan kami ke jenjang pernikahan, meski waktunya sama sekali belum diputuskan.

    Kami menghargai agama kami satu sama lain. Ia pun tidak masalah dengan iman Katolik saya. Tetapi orang tuanya menghendaki pernikahan seiman (menurut pengertian mereka, 1 agama yang sama). Dengan kata lain, mereka mengharuskan saya berpindah agama menjadi Protestan. Tetapi saya tidak mau meninggalkan iman Katolik saya, apalagi pacar saya sendiri pun sebenarnya tidak masalah dengan itu, hanya saja ia tidak mau berdebat secara keras dengan orang tuanya, karena tidak ingin meretakkan hubungan orang tua dan anak. Sedikit catatan, orang tuanya adalah pendeta, bahkan ayahnya adalah seorang pendeta besar dan dosen sekolah pendeta dalam aliran gereja mereka.

    Saya mendapat info dari seorang pastor bahwa pernikahan campur dapat dilangsungkan dengan 2 cara. Pertama, mengikuti bimbingan pra nikah di kedua gereja lalu memohon surat dispensasi untuk menikah di gereja Protestan. Kedua, menikah di gereja lain (Protestan) kemudian setelah menikah baru menjalankan prosedur pernikahan Katolik, yang disebut pemberesan perkawinan. Cara yang kedua ini, menurut pastor tersebut, tidak harus dengan persetujuan orang tua, yang penting pasangan suami istri itu saja yang berkomitmen.

    Info yang belum saya ketahui, untuk cara yg pertama apakah orang tua dari kedua pasangan juga harus hadir dan menyetujui, menanda tangani suatu surat/dokumen tertentu? Lalu apakah ada surat atau hal-hal lain dari gereja Katolik yang harus diserahkan/diketahui oleh gereja Protestan tempat akan dilaksanakannya pemberkatan nikah? Karena ayahnya sendirilah pendeta yang akan memberikan pemberkatan nikah.
    Karena jika memungkinkan, kami lebih ingin menempuh cara yang pertama, supaya pernikahan itu juga sah secara Katolik dari awal.

    Saat ini kami masih berdoa bersama-sama setiap hari supaya Tuhan memberikan jalan yang terbaik bagi kami. Dan jika Tuhan menghendaki, supaya orang tuanya dapat menerima iman Katolik saya. Tetapi jika sampai di akhir, mereka tetap tidak menyetujui, mungkin kami harus menempuh cara-cara seperti ini.

    Mohon infonya. Terima kasih.
    MRG
    ===========
    Barangkali maksud dua cara dari romo tersebut adalah sbb:
    1. Nikah secara Katolik (cukup dihadiri oleh pastor; tempat di Gereja Katolik; mengikuti proses kanonik dan mengambil kursus perkawinan)
    2. Nikah secara ekumenis (dihadiri oleh pendeta dan pastor, tempat pemberkatan bisa di Gereja Katolik atau di Gereja Kristen; mengikuti proses kanonik dan mengambil kursus perkawinan)

    Jelas kedua cara tersebut membutuhkan ijin dari uskup atau ordinaris wilayah setempat.

    Mengingat ayah dari calon pasangan Anda adalah seorang pendeta, barangkali lebih bijaksana mengambil cara #2. Kalau pemberkatan ekumenis di lakukan di Gereja Kristen, berkas kanonik dan dokumen perkawinan dari Gereja Katolik disimpan di Gereja Katolik. Ritual pemberkatan sepenuhnya mengikuti tata cara Gereja Kristen setempat. Pendeta memimpin seluruh upacara dan berkotbah; pastor hanya hadir dalam upacara itu sebagai saksi atas janji perkawinan yang Anda berdua ucapkan.

    Untuk kedua cara tersebut, ketidaksetujuan atau ketidakhadiran orang tua bukan menjadi halangan pernikahan, kecuali Anda masih di bawah umur dewasa.

    Kalau Anda menikah secara Kristen, tanpa proses kanonik dan ijin dari uskup/ordinaris wilayah, maka pernikahan Anda dianggap tidak sah secara Katolik.

    js

  6. sungguh menyedihkan bila ada pastor paroki yang akal-akalan menyarankan umatnya melakukan hal ini :

    “menikah di gereja lain (Protestan) kemudian setelah menikah baru menjalankan prosedur pernikahan Katolik, yang disebut pemberesan perkawinan. Cara yang kedua ini, menurut pastor tersebut, tidak harus dengan persetujuan orang tua, yang penting pasangan suami istri itu saja yang berkomitmen”

    jelas-jelas hukum Kanonik Gereja melarang pengukuhan religius lain selain pengukuhan secara norma Gereja Katolik baik sebelum atau sesudahnya.

    semoga si pastor cepat bertobat…

  7. Romo,saya bukan dari paroki st.anna

    begini romo saya sudah menikah di gereja pantekosta tanpa dihadiri kedua orang tua,tapi sebelumnya saya seorang katolik, karena pernikahan itu kedua orang tua saya tidak setuju dan tidak menganggap sah,sekarang saya sering beribadah di gereja katolik dan komuni,padahal saya sudah pernah dibaptis di gereja pantekosta tersebut.yang saya ingin tanyakan apakah pernikahan saya sah,apakah saya boleh menerima komuni,dan apakah saya boleh menikah lagi di gereja katolik sementara tidak ada surat perceraian yang ditetapkan karena pernikahan saya yang pertama tidak terdaftar dan tidak mendapat izin dari gereja katolik.mohon bantuannya romo.

  8. 1. kamu tidak boleh menerima komuni, sebelum menerima sakramen tobat karena kamu menikah di luar GK dan dibaptis ulang di Protestan.

    2. Pernikahan di luar GK adalah tidak sah.

    3. perceraian ? maksudmu, kamu saat ini sudah bercerai ? walaupun pernikahannya tidak sah di dalam GK, namun apabila orang tersebut berkehendak menikah lagi di dalam GK, ia membutuhkan anulasi untuk pernikahan pertamanya dari tribunal Gereja. Gereja-lah yang akan memutuskan ia dapat menikah lagi di dalam GK atau tidak.

    saran saya, segeralah menerima sakramen tobat untuk kesalahan yang anda perbuat dengan melanggar perintah Gereja.

    May God bless your steps..

  9. sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas penjelasan jawaban dari pertanyaan saya,tapi ada sesuatu hal yang ingin saya tanyakan.Apakah saya harus dibaptis lagi di GK atau hanya menerima sakramen tobat saja ? lalu bagaimana jika saya sudah terlanjur menerima komuni di GK ?mohon bantuannya romo, terima kasih.

  10. baptisan Katolik itu sekali untuk sepanjang hidupnya.. jadi tidak ada baptisan lagi.. kalo sudah terlanjur menerima komuni ya sudah, kan nggak bisa kembali ke masa lalu, yang penting masa depan..

    Jadi cukup menerima sakramen tobat dan melakukan silih yang diminta untuk pertobatan-mu itu..

    May God bless your steps

  11. Maaf Romo jika saya terlalu banyak bertanya,,

    1. Sakramen tobat yang dilakukan itu,apakah ada jadwal tertentu di GK misalnya saat menjelang Paskah atau masa Natal saja,atau Pastor dari GK yg menentukan kapan harus menerima sakramen tobat,?

    2.Maksudnya melakukan silih itu apa,?

    3.Saat ini saya belum ada keinginan untuk menikah lagi,tapi apakah saya boleh meminta anulis terlebih dahulu di kepastoran paroki tempat tinggal saya untuk meyakinkan status saya,maksud saya adalah anulis itu yang jika nanti memang bisa diberikan oleh Gereja Katolik untuk menjadi pegangan saya jika suatu saat diminta oleh pihak Gereja,dan ada pendataan oleh pihak Gereja,?

    4.Dan yang terakhir pertanyaan saya Romo,apakah saat meminta anulis,saya boleh sendiri ataukah harus didampingi oleh pihak laki-laki,(suami)?karena saat ini saya tidak tau keberadaan suami saya.Terima kasih Romo atas jawaban dan penjelasannya..

  12. Dear Romo,
    setelah sya baca artikel2 sebelumnya sya menyimpulkan bhwa perkawinan katolik & non Baptis Katolik (kristen) bisa dilakukan dgn syarat melangsungkan pernikahan di GK.
    kalaupun dilangsungkan di Gereja Kristen juga bisa dan pastor bisa jd saksi, betul begitu??
    apakah dgn ini sah menurut GK?dan sya ttp diakui telah menikah di GK?

    selanjutnya kami bisa menjalani sesuai dengan kepercayaan masing2.
    tapi pasangan saya menuntut sya menemaninya beribadah ke Gerejanya..namun sya ttp ke GK tiap minggunya..
    dengan kata lain sya ke Gereja 2x.
    apakah itu di perbolehkan?dosa kah sya?

    Mohon bantuan solusinya..
    terima kasih romo

  13. @Emilia
    1. Sakramen tobat bisa diterima kapan saja. Kamu tinggal datang ke Romo dan meminta sakramen tobat. Kalo romo-nya ada waktu pasti tidak menolak, asal jangan dilakukan di menit-menit terakhir sebelum misa, biasanya romo akan menunda hingga selesai misa.

    2. silih itu adalah perbuatan yang dilakukan untuk memperbaiki “kerusakan” akibat dosa-dosa kita. Dalam sakramen tobat biasanya diberikan penitensi atau hukuman atas dosa yang kita akui, biasanya pengaku diminta mendaraskan doa tertentu sebanyak jumlah tertentu. tetapi kalo romo-nya lebih kreatif penintensi-nya bisa berupa hal lain. Melakukan penitensi ini, maka dosa-dosamu sudah diampuni. silih artinya berganti.. jadi perbuatanmu itu seharusnya cukup untuk menggantikan perbuatan dosa-dosamu.

    3. Boleh saja mencoba. tetapi tanpa alasan berat, jangan terlalu berharap bisa mendapatkan anulasi tersebut. anulasi tidak bisa didapatkan di paroki, melainkan di keuskupan. tetapi mungkin bisa saja pihak paroki membantu, tetapi prosesnya biasanya diajukan langsung oleh si pemohon. Dan jawaban dari permohonan relatif lama.
    a
    4. kamu bisa mengajukan anulasi itu sendiri.

  14. Pernikahan beda agama baptis-Katolik dan Baptis-Non Katolik bisa dilangsungkan di tempat lain di luar gereja dengan ijin dari keuskupan atau pejabat Gereja yang diberi wewenang oleh keuskupan setempat. Bukan berarti kehadiran Imam dalam pengukuhan ini hanya sebagai saksi, tetapi turut mengukuhkan, bagaimana pun tata cara-nya yang dilakukan di tempat tersebut tidak boleh melanggar aturan GK.

    Selain itu pernikahan itu sendiri membutuhkan ijin dari Keuskupan. Si Katolik diminta berjanji untuk menjaga imannya dari bahaya dan dengan semaksimal mungkin berupaya membawa anak-anakmu ke dalam Gereja Katolik. Dalam satu kesempatan, pasanganmu pun harus diberitahu tentang arti pernikahan Katolik.

    Nah sesuai dengan janji itu, maka kamu boleh saja menemani pasanganmu ke gerejanya, tetapi ada beberapa hal yang tidak boleh kamu lakukan untuk menjaga iman-mu, seperti :

    1. tidak ke Gereja Katolik setiap hari Minggu.
    2. menerima roti dan anggur dari perjamuan kudus Protestan.
    3. dibaptis ulang.

    Intinya jangan melakukan segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik. Darimana kamu tahu yang ini bertentangan dan yang ini tidak, kamu harus banyak bertanya dan mencari tahu. Tanya-tanya ke pastor paroki atau forum Katolik seperti ekaristi.org/forum atau mungkin juga ke website st. Anna ini. Hal ini baik juga menguatkan dan menumbuhkan iman kamu, dan mempersiapkan dirimu kelak bila pasanganmu mengajukan pertanyaan-pertanyaan dasar tentang iman Katolik-mu.

    Selama kamu menjaga imanmu saat menemani pasanganmu kamu tidak berbuat dosa karenanya.

    May God bless your steps..

  15. terimakasih banyak buat jawabannya..
    akhirnya saya bisa lega mendapat jawaban yg selama ini sya cari2..

    PUJI TUHAN selama ini sya dikuatkan akan iman sya meskipun sekeluarga pasangan sya dominasi non-Katolik..bahkan sempat sya di remehkan soal beribadah..sya PERCAYA TUHAN yg menjawab semuanya..

    sya jg berkomitmen tidak akan meninggalkan iman sya demi hal2 duniawi seperti ini.Bantu doanya y..

    terus sya bertanya2 saat sya ke Gereja Non-Katolik, apakah saat sya berdoa disana tertuju kepada TUHAN yg sama?

    adakah doa2 sebagai referensi untuk menjawab pengharapan dan permasalahan sya ini?seperti doa novena atau doa kepada orang2 kudus?

    terimakasih,
    Tuhan Memberkati.

  16. Dear Romo..

    Saya & calon rencana menikah awal Januari 2011..
    Saya katolik, calon suami Kristen Oikumene.
    Kami sepakat untuk menikah secara Katolik.
    Calon suami berniat menjadi seorang Katolik, namun kondisi pekerjaannya tidak memungkinkan untuk katekumen tahun ini.
    Masalah kami terletak pada waktu persiapan pernikahan yg sangat minim.
    Calon suami bekerja di kapal pesiar dan baru dapat kembali ke jakarta pertengahan November 2010.
    Kami sudah coba buat time line untuk menentukan kapan harus ikut KPP (sesuai dengan jadwal KPP yg ada), kanonik, dan daftar tanggal nikah ke Paroki.
    Namun kami perlu informasi lebih soal perkawinan beda gereja ini, seperti :
    1. Apa saja persyaratan yg perlu dipenuhi?
    2. Kami akan ikut KPP masing2, saya bulan Juli ini, calon suami bulan November (setelah pulang dari pekerjaannya). Selesai KPP dan kami dapat sertifikat KPP, apakah kami bisa langsung ke Pastor Paroki untuk mendaftarkan diri guna mengikuti Kanonik?
    3. Berapa lama waktu yg diperlukan untuk penyidikan kanonik?
    4. Pertanyaan apa saja yg akan disampaikan dalam kanonik?
    5. Selesai Kanonik, berapa lama kami mendapat persetujuan dari gereja Katolik untuk melangsungkan pernikahan dan mendapatkan tanggal pernikahan? Apakah kami tetap harus mendapat dispensasi Uskup, meskipun kami akan menikah di gereja Katolik?
    6. Apakah pendaftaran tanggal pernikahan harus H-3minggu untuk memenuhi kriteria 3x pengumuman pernikahan?
    7. Apakah diperbolehkan diadakan Ekaristi (menerimakan komuni) saat pemberkatan nanti dengan kondisi suami & keluarga suami sebagian non-Katolik?

    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas bantuan Romo..
    Tuhan berkati

    salam,
    Yola Wahyu

  17. @Yola Wahyu:
    1. Syaratnya: Anda menjalani proses kanonik dan kursus perkawinan. Itu saja.
    2. Begitu calon suami pulang, segera saja bertemu dengan pastor paroki untuk kanonik sembari Anda mengambil kursus perkawinan.
    3. Proses kanonik hanya dibutuhkan sekitar 60 menit.
    4. Pertanyaan-pertanyaan selama penyelidikan kanonik ditujukan untuk mencari tahu sejauh mana Anda saling mengenal satu dengan yang lain. Apakah ada rintangan atau halangan menikah secara Katolik? Kalau ada, apakah bisa dicarikan jalan keluar termasuk dicarikan dispensasi?
    5. Ya, Anda membutuhkan dispensasi/ijin pernikahan beda gereja dari uskup. Untukmengurus dispensasi/ijin di Jakarta ini butuh waktu sekitar 1 bulan.
    6. Proses kanonik dan pengurusan persiapan pernikahan di gereja sebaiknya 3 bulan sebelum hari H.
    7. Pemberkatan dengan Ekaristi bisa saja.Tapi untuk calon pasangan non-katolik tentu belum bisa menerima komuni.

    js

  18. Dear Romo,

    terima kasih untuk jawabannya, sangat membantu sekali.
    Romo, berarti rancangan kami menikah di Januari 16 bisa selesai segala pengurusannya, kecil sekali kemungkinannya ya? apakah baiknya dimundurkan tanggalnya atau apakah mungkin untuk meminta bantuan pastor paroki agar izin dapat diperoleh kurang dari 1 bulan?

    Terima kasih
    salam,
    Yola Wahyu

  19. Dear Romo,
    Saya seorang Katolik yang akan menikah dengan seorang Protestan. kami sudah membicarakan mengenai pernikahan untuk tahun depan.tapi beberapa hal yang masih membuat saya ragu. proses pernikahan akan dilakukan di gereja pasangan saya. Hal yang ingin saya tanyakan adalah untuk proses pernikahan saya harus mengikuti proses yang namanya SIDI, yang ingin saya tanyakan apa pandangan SIDI dari GK, apakah setelah SIDI saya dianggap bukan anggota dari GK lagi? dan tidak dapat menerima komuni? dan hal lain lagi gereja pasangan saya tidak memperbolehkan pemberkatan perkawinan dikukuhkan oleh pendeta bersama dengan romo. jadi proses seperti apa yang harus saya lakukan agar pernikahan saya sah secara GK?

    Terima kasih mo, Tuhan berkati.

  20. Dear Romo……..

    Romo saya mau tanya,saya seorang perempuan kristen dan akan menikah dengan seorang pria Katolik pada tahun ini.saya ingin menanyakan permasalah kami ini,saya dan dia ini akan menikah tanpa sepengetahuan orangtua ( dr keluarga pria )dsebabkan karena si kakaknya blm menikah bisa dikatakan blm ada teman yg dekat ato tidak mau dilangkahi,begitu jg dgn orgtuanya tidak setuju jg.sedangkan si pria mau menikahin saya,walaupun tidak disetujui keluarganya.yang saya ingi tanyakan,seandainya saya menikah dengan si pria ini tapi si pria tidak memiliki wakil dari orang tuanya karena tidak di setujui ,pemberkatan di lakukan di gereja katolik .itu bagaimana romo……apakah sah atau gmn baikknya….
    dan jika si pria mau menikahin saya tanpa sepengetahuan orangtuanya,itu bagaimana???? saya mempunyai keinginan menikah dengan restu dari semua pihak……..
    Tq and Gbu..

  21. @Lidwina.. walaupun sudah sangat lama belum terjawab, semoga jawaban ini bisa dibaca oleh user lain yang mengakses website ini dan mengalami permasalahan yang sama.

    SIDI dalam protestan merupakan peneguhan iman.. tentunya adalah iman Protestan. SIDI akan melalui proses pendidikan tentang iman Protestan. Tentu saja bila melakukan proses SIDI artinya percaya akan apa yang telah di-iman-i oleh gereja Protestan tersebut, dan bisa jadi bertentangan dengan iman KAtolik. Jadi sudah sepatutnya dihindari, karena dalam pernikahan beda agama Katolik dengan non-baptis Katolik, si Katolik dalam proses mendapatkan ijin pernikahan dari ordinaris wilayah atau keuskupan, telah berjanji untuk menjaga imannya dari bahaya.

    Bila tidak diperkenankan, tidak masalah, selama telah mendapat ijin dari ordinaris wilayah atau pastor paroki, dihadiri oleh saksi, maka pernikahanmu sah secara Katolik. Setelah perkawinan, para saksi wajib segera mencatatkan perkawinan tersebut ke paroki, nama mempelai, peneguh, para saksi, tempat dan tanggal peneguhan.

    Perlu diketahui juga, bahwa tata cara peneguhan tentu saja tidak boleh bertentangan dengan iman Katolik. contohnya tidak boleh ada perjamuan (pemberian roti dan anggur), jadi berupa pemberkatan perkawinan saja. Hal ini harus disepakati oleh pihak Protestan, demi menjaga janji si Katolik.

    Hope this helps..

    @Lola..

    Apakah pernikahan tanpa restu orang tua bisa dilakukan dan sah di dalam GEreja Katolik ? jawabnya ya.. selama pernikahan dilakukan sesuai dengan hukum Gereja maka pernikahan tersebut sah. (salah satunya perlu ada saksi-saksi)

    Namun kamu benar, sebaiknya diusahakan semaksimal mungkin untuk mendapatkan persetujuan dari keluarga masing-masing. Supaya tidak terjadi masalah dikemudian hari, yang bisa juga dapat mengganggu hubungan kalian yang telah menjadi suami dan isteri kelak.
    Kalian pun dapat meminta bantuan pihak ke-3 dan disegani oleh keluarga pasanganmu bila jembatan komunikasi sudah tertutup.
    SAya kira perlu dicari tahu Apakah benar bahwa karena si kakak, orang tua pasangan anda tidak menyetujui pernikahan anda, atau ada hal lain ? dan apakah benar si kakak begitu egoisnya sehingga tidak mau melihat adiknya bahagia ? adakah alasan lain yang justru menjadi alasan utama halangan mereka menyetujui pernikahan kalian ?

    Bila segala hal sudah ditempuh untuk mendapatkan restu dan masih mendapatkan penolakan, dan niat kalian sudah bulat, kalian siap secara mental dan finansial, semua konsekuensinya sudah kalian pertimbangkan, maka kalian dapat menyatakan niat kalian ke pastor paroki dan mengukuhkan pernikahan tersebut di GEreja Katolik.

    Dan jangan lupa berdoalah.. doa orang benar besar kuasanya.. ingatkan pasanganmu untuk tetap ke GEreja Katolik dan menerima sakramen tobat dan Ekaristi. agar Allah yang melihat kesetiaan umatnya, memberikan jalan terbaik bagi dia untuk mempersatukan cintanya dengan dirimu di hadapan Allah.

    May God bless your steps..

  22. Dear Romo…

    Romo, saya Chatarina,saya seorang katolik dan akan menikah dengan pria yg belum katolik tahun ini. Dia seorang kristen tapi sudah 1 tahun ini sudah masuk gereja katolik untuk merayakan misa ekaristi dan dia bertekad untuk tetap menjadi seorang katolik. Secara kristen dia telah dibaptis, saya sudah pernah menanyakan hal ini pada romo paroki di tempat saya berdomisi (Paroki Bunda Maria Cirebon), menurut romo calon pasangan saya tdk perlu baptis lagi hanya perlu peneguhan secara katolik saja, apakah benar begitu Romo? Calon pasangan saya sebenarnya ingin ikut katekumen tapi keburu keluar kota, saat ini dia bekerja di Batam. Kami berencana menikah akhir tahun ini, apakah kami bisa KPP masing-masing? saya di Cirebon, sedangkan dia Batam, posisinya dia masuk Paroki Kerahiman Ilahi Tiban? trus bagaimana prosesnya? Kami berencana menikah di Cirebon Romo? Persyaratan apa yang harus saya siapkan utk KPP ini? mohon penjelasannya dan terima kasih Romo, Tuhan Yesus memberkati.

  23. @Chatarina, Puji Tuhan kamu bisa membawa pasanganmu kembali ke dalam Gereja Katolik. Semoga imannya sungguh-sungguh diteguhkan bukan saja olehmu melainkan dan terutama berasal dari dalam dirinya yang didorong oleh Roh Kudus.
    Gereja KAtolik mengakui baptisan Protestan selama baptisan itu sah, yaitu secara materi (air) dan forma(“Aku membaptis engkau dalam nama BApa, Putera dan Roh Kudus”) serta memiliki intensi yang sama dengan Gereja Katolik yaitu untuk bersatu dalam misteri Paskah Kristus, karya keselamatan Allah bagi manusia.
    Jadi bila romo paroki-mu mengatakan tidak perlu dibaptis lagi artinya baptisan Protestannya sah menurut Gereja Katolik.

    Mengenai KPP, bisa dilakukan terpisah, mengenai persyaratannya silahkan datang langsung ke sekretariat paroki.
    Namun walaupun baptisan pasanganmu adalah sah, pernikahan tetap kalian membutuhkan ijin dari ordinaris wilayah atau Keuskupan.

    Pernikahan kalian akan langsung bersifat Sakramen, karena baptisan pasanganmu yang sah [walaupun bila belum secara resmi bergabung dengan GEreja Katolik tetap tidak boleh menerima hosti]

    May God bless your steps..

  24. Dear romo..

    Romo, saya adalah seorang katolik dan kalau saya melakukan proses pernikahan ekumenis di gereja kristen, apakah saya harus berubah menjadi kristen dulu?

    Dan setelah menikah, jika kedepannya saya menjadi seorang kristen, apa konsekuensi nyatanya?

    Terima kasih sebelumnya.

  25. @Angga,

    pernikahan kalian membutuhkan ijin dari ordinaris wilayah atau keuskupan, termasuk untuk menikah di tempat lain di luar Gereja Katolik. Tentu saja hal ini tanpa mengabaikan hukum KAnonik.
    Cara lain adalah dengan mengundang pendeta dalam proses pemberkatan pernikahan yang dilakukan di Gereja Katolik.
    DAlam pernikahan baptis KAtolik – non baptis Katolik, yang KAtolik diminta berjanji untuk menjaga imannya dari bahaya (ini termasuk untuk tidak berpartisipasi aktif dalam perjamuan gereja Protestan dan selalu menjalankan kewajiban sebagai seorang Katolik) dan hal ini harus disadari sepenuhnya dan tidak dihalangi oleh pasangannya yang Protestan. Hal lain adalah si Katolik berjanji untuk dengan sekuat tenaga membawa anak-anaknya ke dalam Gereja KAtolik.

    jadi jawaban daRi pertanyaanmu sekarang adalah : anda tidak perlu menjadi protestan untuk menikah dengan protestan. Dan jikalau pasangan anda atau gereja protestan pasangan anda memnita demikian (termasuk diminta untuk SIDI atau baptis ulang), anda harus berani menolaknya dan membela iman anda. Jika ini anda lakukan maka anda otomatis terpisah dari Gereja Katolik, dan merupakan pengingkaran iman. Anda tidak berhak menerima sakramen,hingga anda berdamai dengan Allah dalam sakramen tobat. Tentu saja bila anda menikah di luar pengetahuan Gereja Katolik, anda pun perlu membereskannya.

    Pernikahan itu sesuatu yang menyatukan manusia tetapi juga seharusnya menjadi sarana untuk mendekatkan satu sama lain kepada Allah. Jika diawali suatu permintaan pengingkaran iman kepada Gereja-Nya yang satu, kudus, Katolik dan Apostolik, maka harus ditanya kembali ke dalam diri anda, apakah ia sungguh-sungguh adalah seorang yang diberikan Allah untuk menjadi pendampingku ?

    May God bless your steps..

  26. Syalom,

    Saya adalah seorang pria, anggota jemaat gereja protestan (lutheran).
    Bulan depan saya merencanakan akan menikah dengan seorang wanita yang adalah anggota jemaat gereja katolik.

    Kami berdua sepakat untuk menerima pemberkatan pernikahan di gereja protestan.

    Yang ingin saya tanyakan adalah,
    1. Apakah gereja protestan akan mengijinkan dan memberkati saya (protestan)dan calon istri saya (katolik) menikah?

    2. Apakah gereja katolik mengijinkan kami menikah/diberkati
    di gereja protestan?

    3. Apakah calon istri saya (katolik) HARUS melakukan/menjalani SIDI di gereja protestan?

    Sebelumnya saya ucapkan terimakasih.

    Syalom

  27. @robert,

    Shalom aleichem..

    1. silahkan tanya ke gereja Protestan..

    2. dengan dispensasi Keuskupan hal itu bisa saja dilakukan. Bagaimana pun seorang Katolik harus mendapatkan ijin untuk menikah dengan pasangan yang non-baptis Katolik, dimana ia harus berjanji menjaga iman Katolik-nya (artinya ia harus menjalan kewajibannya sebagai seorang Katolik termasuk ke Gereja Katolik setiap hari Minggu dan hari raya wajib lainnya) dan berusaha dengan sungguh-sungguh membawa anak-anaknya ke dalam Gereja Katolik.

    3. saya tidak tahu, silahkan ditanya ke gereja Protestan.. tetapi yang pasti, isteri anda TIDAK BOLEH melakukan upacara sidi tersebut karena hal itu merupakan partisipasi aktif dalam norma perayaan agama Protestan.

    hope this helps

  28. Romo. saya dari paroki lain. saya ingin mendapatkan informasi mengenai perkawinan antara katolik dan kristen.

    Saya seorang katolik calon istri saya seorang kristen dari GKJW. kami akan melangsungkan pernikahan tahun 2012 ini.
    kami calon mempelai dan kedua orang tua kami tidak mempermasalahkan mengenai pernikahan antara kristen dan katolik.
    Saya ingin tetap mempertahankan iman katolik saya.

    Proses pemberkatan pernikahan akan dilakukan di gereja kristen GKJW.

    Yang ingin saya tanyakan :
    1. Apabila saya menikah dengan pemberkatan kristen (GKJW),
    apakah saya mendapatkan sanksi berupa : tidak bisa menerima
    komuni atau mungkin sanksi lainnya.
    2. Apakah saya perlu mejalankan kataksasi di GKJW (kalau tidak
    salah mungkin proses pendalaman imam sebelum menikah)
    3. Apakah untuk melapas sanski tersebut dan supaya saya
    diterima kembali di GK, setelah menikah di GKJW saya harus
    melakukan pemberesan pernikahan secara katolik.
    Apa yang dimaksud pemberesan pernikahan dan Bagaimana
    syarat/prosedur pemberesan pernikahan tersebut.
    4. Untuk proses pemberesan pernikahan tersebut apakah istri
    saya perlu pindah agama. dan untuk proses pemberesan
    pernikahan apa diperlukan kehadiran kedua orang tua (karena
    kami telah sah di catatan sipil) atau cukup kami berdua
    saja.

    Demikan pertanyaan kami, sebelumnya kami sampaikan terima kasih.

    Salam,

    Petrus

  29. syalom,
    saya ingin bertanya romo.
    saya seorang katholik, kebetulan pasangan saya beragama buddha. kami berencana menikah di GK. namun pasangan saya tidak mau di baptis secara katholik.
    apakah boleh demikian?
    terimakasih :)

  30. Dear Romo,

    Maaf sebelumnya kalo pertanyaan saya sudah ada diatas sblmnya,saya seorang katolik dan calon saya beragama kristen dan akan melangsungkan pernikahan di Kapel Blue point bali secara kristen, namun setelah menanyakan dengan romo setempat di bali, mereka memberitahukan bahwa romo tidak dpt hadir di kapel, hanya di gereja. kami sudah memberitahukan ke paroki asal saya dan mereka agak kaget jg karena romo tidak mau hadir di kapel, krn peraturan setempat.
    1. yang saya tnykan apakah ada peraturan seperti itu Romo, romo tidak dapat melangsungkan pernikahan di kapel. karena kami sudah terlanjur dp utk sewa kapel tersebut.
    2. pendeta calon saya mengharuskan saya di babtis/dikuatkan ulang secara kristen apakah itu termasuk membahayakan iman katolik saya.

    Terima kasih Romo untuk waktu dan jawabannya,

    Thomas

  31. @Petrus

    1. Apabila saya menikah dengan pemberkatan kristen (GKJW),
    apakah saya mendapatkan sanksi berupa : tidak bisa menerima
    komuni atau mungkin sanksi lainnya.

    JAWAB : sebaiknya anda berdiskusi dengan romo paroki anda.. perkawinan yang diberkati di gereja lain tanpa ijin dari keuskupan adalah pernikahan yang tidak sah. Itu sebabnya anda kehilangan hak anda dalam sakramen.

    2. Apakah saya perlu mejalankan kataksasi di GKJW (kalau tidak
    salah mungkin proses pendalaman imam sebelum menikah)

    JAWAB : lihat jawaban di atas..

    3. Apakah untuk melapas sanski tersebut dan supaya saya
    diterima kembali di GK, setelah menikah di GKJW saya harus
    melakukan pemberesan pernikahan secara katolik.
    Apa yang dimaksud pemberesan pernikahan dan Bagaimana
    syarat/prosedur pemberesan pernikahan tersebut.

    JAWAB : lihat jawaban di atas, jika anda tahu bahwa hal itu di larang Gereja, mengapa anda tetap meneruskan perkawinan itu di gereja lain tanpa restu Gereja. Dengan ijin Uskup tentunya perkawinan anda bisa dilakukan di tempat lain yang layak, namun tetap membutuhkan kehadiran Imam Katolik supaya perkawinan tersebut sah menurut Gereja KAtolik. Dan tentunya tata cara perkawinan yang digunakan tidak boleh bertentangan dengan hukum Gereja Katolik.

    4. Untuk proses pemberesan pernikahan tersebut apakah istri
    saya perlu pindah agama. dan untuk proses pemberesan
    pernikahan apa diperlukan kehadiran kedua orang tua (karena
    kami telah sah di catatan sipil) atau cukup kami berdua
    saja.

    JAWAB : lihat jawaban no. 3

    Jika anda sungguh ingin mempertahankan iman anda, taati hukum Gereja. buktikan perkataan anda dan tunjukkan iman anda dalam perbuatan.

  32. @Irma… anda dan pasangan anda dapat menikah di dalam Gereja Katolik dengan dispensasi dari Keuskupan. Anda sebagai seorang Katolik akan diminta berjanji untuk mempertahankan iman anda dari bahaya, dan kelak berusaha dengan sungguh-sungguh membawa anak-anak anda ke dalam Gereja Katolik. Anda pun di larang mengukuhkan pernikahan anda dengan tata cara agama lain baik sebelum atau sesudah pengukuhan di dalam Gereja Katolik.

    silahkan berkonsultasi dengan romo paroki anda mengenai hal-hal di atas bila belum jelas.

    May God bless your steps..

  33. @Thomas,

    apakah perkawinan anda sudah mendapat ijin dari Keuskupan ? Karena untuk menikah dnegan pasangan non-baptis Katolik anda harus mendapat ijin dari KEuskupan
    apakah tempat perkawinan anda sudah mendapat ijin dari Keuskupan ? Karena hanya dengan ijin KEuskupan anda dapat melangsungkan perkawinan di tempat lain.

    Anda tidak boleh di baptis ulang atau melakukan upacara sidi Protestan karena itu pengingkaran iman Katolik.. Itu sebabnya saya sangat menyarankan bahwa perkawinan itu dilangsungkan di Gereja Katolik, karena dengan demikian, perkawinan itu tidak melukai iman Katolik anda.

    Hope this answers your questions

  34. Dear Romo,

    Saya berasal dari Paroki Cideng, saya berencana menikah dengan calon yang beragama protestan yang berasal dari jawa tengah. Seluruh persyaratan telah kami lengkapi baik menurut tata cara Katolik maupun yang Protestan. kami sudah akan melakukan Kanonik di gereja paroki Cideng.
    Namun yang menjadi masadi masalah adalah catatan sipil dari daerah meminta surat dispensasi dari gereja untuk mengesahkan pernikahan tersebut di negara. Sedangkan info yang saya terima dari sekretariat adalah surat dispensasi tersebut tidak bisa keluar dari gereja krn merupakan rahasia gereja.
    Mohon bantuan saran apa yang harus saya lakukan, karena jika saya tidak bisa mendapatkan surat dispensasi tersebut, saya harus masuk ke Kristen agar pernikahan saya dapat disahkan oleh negara.
    Romo, Mohon bantuan sarannya, dan terima kasih banyak atas bantuanya

    salam

    Reza

  35. Dear Romo,

    Saya seorang Katolik sedang menjalani hubungan serius dengan lelaki Kristen Protestan. Selama ini kami saling bergantian ke gereja masing2 dan saling menerima komuni (dalam Katolik) dan perjamuan kudus (dalam Kristen). Sampai saat ini kami belum memutuskan untuk disatukan ke agama mana karena kami masih teguh memegang agama kami masing2. Apakah kami berdosa karena telah menerima komuni (pasangan saya belum pernah dibaptis secara Katolik) dan perjamuan kudusa(saya belum pernah dibaptis secara Kristen)? Mohon penjelasan romo. Apakah ada doa-doa khusus mengenai permasalahan saya ini romo?

    Terima kasih.

  36. Dear Romo,

    Saya paroki tangerang, akan menikah dengan pasangan saya yang beragama kristen, tetapi upacara pernikahannya akan diadakan di gereja kristen tempat calon suami saya, dan berlokasi di luar negri (australia). yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana saya bisa tetap menerima sakramen pernikahan saya disana sebagai seorang katolik?

    Terima kasih romo untuk waktunya

  37. Dear Romo,

    Saya sedang binggung dengan masalah saya, saya akan berencana menikah dengan pasangan saya dari Gereja Protestan Anglikan, Keluarga tidak setuju jika saya menikah dengan pasangan saya yang berbeda, mereka berkata tidak akan hadir dalam pernikahan saya sekalipun itu di lakukan di Gereja Katolik/pun di Gereja tempat calon saya. Keluarga dari calon saya berpendapat demikian juga tidak akan menghadiri pernikahan tersebut. Yang ingin saya tanyakan adalah apakah bisa dilakukan pemberkatan pernikahan di Gereja Katolik tanpa kedua orang tua kami? hanya dihadirkan saksi 2. Kami sangat binggung sekali, mengapa hanya karena berbeda saja tidak dapat menikah secara sah dihadapan Tuhan. Kami berdua sangat sedih dan kami tidak bisa terceraikan lagi walau semua orang menentang. Kami minta Jalan keluarnya Romo. Terima kasih.

  38. dear Romo,
    saya lagi galau sekarang, 14 tahun yang lalu (1997) saya menikah dengan seorang gadis beragama pentakosta, dan dulu syarat yang saya ajukan harus menjadi Katolik dan diberkati di GK, dan dia dan semua keluarga setuju, hari demi hari kami lalui dan tidak ada masalah dengan Agama, anak kami sepasang aktif di GK, yg laki-laki menjadi Misdinar dan yg Perempuan aktif di Sekolah Minggu, dan istri akhir tahun ikut koor ibu-ibu, saya sangat bahagia sekali. Namun masalah timbul di akhir Desember 2013, dimana gereja tetangga (pentakosta) mengundang istri saya mengikuti acara Natalan di gereja tersebut. karena anak saya yang perempuan tidak terbiasa beribadah dengan cara pentakosta, maka memaksa untuk pulang, maka dari situ istri saya selalu menanamkan ajaran-ajaran pentakosta dan sejak itu mereka bergereja di Pentakosta, sejak itu saya seperti sudah di hianati dan setiap saya menegor dan menjelaskan tentang Katolik kepadanya, ujungnya hanya perdebatan dan perkelahian yang timbul dan seuatu saat saya ultimatum kalau mereka tetap beribadah disana saya akan pergi, namun istri saya memilih lebih baik bercerai daripada kembali ke GK, sekarang saya hanya merasakan galau terlebih kalau sudah hari sabtu, anak saya yang dulunya aktif latihan MIsdinar sekarang latihan musik untuk pentakosta, di hari minggu pagi kami pergi ke gereja masing-masing tapi dada saya terasa sesak, hal ini sudah saya undang teman satu lingkungan bahkan ke Guru Agama anak saya karena sasmpai sekarang anak-anak saya maasih sekolah di Katolik, namun belum ada soludi, maka dari itu saya minta saran dari Romo untuk kasus saya ini, terimakasih

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>