Pergulatan Suami-Istri Usia Perkawinan 1.5 Tahun

Surat berikut ini mengungkap pergulatan RAM, seorang suami yang yang sedang menghadapi masalah dalam relasi dengan istri dan ibu mertuanya. Usia perkawinannya 1.5 tahun dan dikarunia 1 orang anak laki-laki. Keluarga-keluarga muda barangkali bisa belajar dari kasus RAM dan istrinya.
=========

Jakarta, 20 Januari 2011
Selamat malam Mommy,

Sebelumnya saya informasikan bahwa email ini sengaja saya CC ke Romo Sudrijanta selaku Romo Paroki yang dulu memberkati pernikahan kita dan Romo Ignasius Tari selaku ketua Komisi Kerasulan Keluarga di Keuskupan Agung Jakarta, agar beliau-beliau pun bisa pula mengoreksi apabila yang saya sampaikan ini kurang atau tidak tepat.

Soal syarat mediasi yang kamu utarakan hari Kamis 13 Januari 2011 kemarin di Polres Jakarta Timur, saya akan menanggapinya satu per satu :

1. RAM dan keluarga minta maaf secara lisan dan tertulis kepada Mommy dan keluarganya atas kejadian ini.
Tanggapan saya : Saya tidak berkeberatan untuk meminta maaf kepada Mommy dan keluarga, tapi saya rasa keluarga saya tidak perlu minta maaf, karena selama ini justru dari kamu dan Mamamu yang selalu mengadukan dan terlalu jauh melibatkan keluargaku untuk masalah ini, yang sebenarnya tidak perlu seluas itu sampai membawa-bawa nama keluarga besar untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi kalau kamu memaksa, dengan rendah hati keluargaku akan meminta maaf.

2. RAM berjanji untuk tidak melakukan KDRT di kemudian hari di atas kertas bermaterai disaksikan oleh masing perwakilan keluarga dan di hadapan pihak berwajib.
Tanggapan saya : Saya tidak keberatan dengan syarat ini, karena memang relevan dengan permasalahan yang kamu laporkan ke polisi. Walaupun sebenarnya perlu Mom ketahui bahwa sama sekali tidak ada niat sedikitpun dari dalam diri saya untuk melakukan kekerasan terhadap kamu selain hanya membungkam mulut kamu saat nada bicaramu sudah mulai berteriak keras sekali dan omongan yang keluar dari mulut kamu sudah tidak terkontrol. Saya merasa tidak nyaman dengan cara kamu mengumbar emosi karena sangat tidak enak kalau sampai didengar oleh para tetangga kita. Dikhawatirkan akan muncul stigma negatif di antara tetangga tentang keluarga katolik kog malah selalu ribut terus. Untuk itulah saya coba meredamnya dengan membungkam mulut kamu sambil mengajakmu untuk berbicara baik2.

3. Bisnis sampingan tetap jalan terus.
Tanggapan saya : Saya tidak berkeberatan dengan syarat ini, walaupun tidak relevan dengan masalah ini. Asalkan tidak menomorduakan urusan Rumah tangga, mengurus anak dan suami.

4. ATM dan gaji RAM diserahkan kepada Mommy untuk dikelola.
Tanggapan saya : Saya bisa menerima syarat ini asalkan tetap dikelola secara transparan, dan setiap sebelum mau mengambil uang dari Rekening saya harus dengan SEPENGETAHUAN dan SEIJIN dari saya sebagai pemilik rekening. Tapi syarat ini akan saya penuhi setelah Mommy mau ikut saya hidup terpisah dari rumah Perumnas Klender (Rumah Orang Tua Mommy).

5. RAM tetap tinggal di rumah Perumnas Klender.
Tanggapan saya : Hari Minggu pagi kemarin tgl 16 Jan 2011 jam 09.45, saya nemuin Romo Sudri di Santa Anna, mohon saran dan masukan-masukan dari Romo yang dulu memberkati pernikahan kita di Gereja St. Yoakhim. Romo berpendapat masalah ini harus diurai satu per satu, urut yang paling dominan dahulu.

Pokok masukan dari Romo Sudri adalah sebagai berikut. Romo menyarankan agar keluarga inti kita segera memisahkan diri dari keluarga orang tua kita, dalam artian keluarga inti kita pisah dahulu dari orang tuamu. Tapi bukan terus berarti menjauhkan/memutus/memisahkan tali persaudaraan dengan orang tuamu. Ini untuk mengurangi potensi konflik. Nantinya kamu pasti akan merasakan seperti yang sering kita dengar di lagu: semakin engkau jauh semakin terasa dekat. Toh tetap bisa saling telpon atau berkunjung.

Jadi saya mengikuti saran dari Romo agar keluarga inti kita tinggal di satu rumah sendiri. Saya sendiri sudah coba cari-cari rumah yang layak, dan sekarang sudah saya temukan dan siapkan, rencana tempat tinggal kita setelah ini. Saya siapkan rumah kontrakan untuk kita tinggali di Legenda Wisata Cibubur. Lokasinya cukup strategis dan fasilitas cukup lengkap. Foto-foto rumahnya bisa kamu lihat di attachment.

Saya masih mencintai kamu dan tidak akan menceraikan kamu. Tapi saya nggak mau keluarga kita hancur atau rusak gara-gara masalah ini. Saya sudah konsultasi intensif dengan Romo Sudri dan menurut saran beliau solusi terbaiknya adalah saya memang harus keluar dari rumah di Perumnas Klender dulu bersama anak dan istri, dan tinggal terpisah dari orang tua untuk melatih kemandirian dan kedewasaan.

Saya rasa saran dari Romo Sudri sangat relevan dan bisa diterima. Jadi saya memutuskan bahwa saran Romo Sudri harus saya ambil untuk tetap membentuk satu keluarga inti yang utuh dan mandiri. Dan saya akan bertanggung jawab penuh terhadap keluarga inti kita.

Dan kamu sebagai istri saya, sudah seharusnya kamu juga ikut dengan keputusan ini. Sudah seharusnya istri lebih mendengar suaminya.

Seandainya pun kamu tetap lebih memilih untuk tinggal dengan mamamu, saya pun tidak bisa memaksakan, dan saya tetap akan tinggal sendiri sambil tetap membuka pintu selebar-lebarnya kalau kamu sudah berubah pikiran dan ingin hidup tinggal dengan saya.

Tapi seandainya kamu tidak dapat menerima keputusanku untuk hidup pisah rumah, silakan menghubungi Romo Sudri untuk penjelasan lebih lanjut, karena itu memang saran dari Beliau (Romo Sudri), dan supaya kamu tidak lagi menghujat bahwa keluarga saya sebagai biang pemecah atau pengadu domba keluarga kita seperti yang keluarga kamu tuduhkan selama ini.

Saya sudah memperoleh ijin dari Romo Sudri mengenai hal ini. Jadi mohon bisa dimaklumi. Karena memang niat dasar saya adalah untuk membina keluarga inti yang utuh sesuai ajaran-Nya di Injil.
Kalau kamu belum bisa memahaminya sekarang, saya yakin suatu saat nanti kamu pasti akan mengerti maksud dan tujuannya Romo Sudri menyarankan seperti itu.

Jadi kalaupun kamu tidak mau ikut dengan saya, saya akan mulai bawa serta barang-barang kebutuhan pribadi dan pekerjaan saya pindah dari Rumah Perumnas Klender ke rumah kontrakan baru itu.

Dan untuk kamu dan si “x” anak kita, saya akan tetap bertanggung jawab untuk itu, tentunya sesuai dengan kemampuan saya.

Saya beri sedikit kelonggaran untuk tetap tinggal di Rumah Perumnas Klender sampai akhir Januari 2011, dan per 1 Februari 2011 kita sudah tinggal di rumah terpisah.

Saya sebenarnya sebelum liburan Natal kemarin sudah punya rencana untuk membelikan si “x” mobil-mobilan yang bisa dinaikin dan keyboard agar dia bisa mulai mengenal bermusik sejak dini.

Sekarang pilihan ada di kamu. Kamu bersedia ikut saya untuk kembali membina rumah tangga keluarga inti kita menuju kesejahteraan, dimana bahtera ini masih sangat jauh sekali untuk berlayar mengarungi samudera kehidupan. Atau tetap ikut mamamu dan memperkarakan kasus ini ke pengadilan yang justru akan menguras waktu, tenaga, pikiran, dan yang pasti UANG KITA. Bukan uang kamu atau uang saya saja tapi UANG KITA. Entah itu belasan atau puluhan juta terbuang sia-sia karena mempertahankan ego dan harga diri semu, yang seyogyanya uang sebanyak itu dapat kita gunakan untuk kepentingan keluarga kita yang lebih bermanfaat. Tolong pikirkan dengan akal sehat, pikiran jernih dan hati nuranimu sendiri. Karena konsekuensi dan dampaknya akan sangat signifikan dari dua pilihan di atas.

Perlu kamu pahami dulu, bahwa membawa kasus ini ke pengadilan hanya akan menjadikan persoalan semakin rumit dan panjang. Menjadikan yang menang jadi arang, dan yang kalah jadi abu. Kedua-duanya jadi hancur. Jadi pikirkan sekali lagi jauh ke depan tentang masa depan keluarga kita, masa depan anak kita yang sudah dipercayakan Tuhan pada kita.

Mari sama-sama kita renungkan lebih mendalam dan jauh. Kita saling introspeksi diri, mengoreksi diri dan mengendalikan diri kita agar semakin menjadi pribadi yang baik di mata Tuhan. Mari sama-sama merenungkannya dalam lubuk hati kita paling dalam, tanpa intervensi dari pihak manapun.

Bukalah hati dan pikiran kita tanpa ada intervensi dari pihak manapun agar jangan karena ego kita semata kita mengaburkan masa depan keluarga kita dan anak kita.

Perlu kamu ketahui bahwa selama satu setengah tahun ini hidup berumah tangga dengan kamu, saya merasakan rasa sakit yang mendalam yang mungkin selama ini masih bisa saya pendam. Ingin tahu kenapa? Selama itu pula saya merasa ada yang kurang dalam pernikahan kita. Saya merasakan bahwa dalam pernikahan kita kurang adanya rasa saling percaya.

Saya sudah sepenuhnya percaya kamu, namun mengapa sebaliknya, hanya rasa tidak percaya, kecurigaan dan prasangka buruk yang selalu menghinggapi dirimu. Tidakkah kamu berpikir bahwa hal itu sangat menyita energimu? Bukankan akan lebih baik jika saling menutup kekurangan pasangan, saling memahami dan menggali kepribadian pasangan, dibandingkan hanya mencari-cari kesalahan dan mengkambinghitamkannya?

Apalah artinya suatu lembaga perkawinan tanpa didasari saling percaya? Apalah artinya hidup perkawinan bila selalu diisi dengan pertengkaran? Bukankah selain cinta dan komitmen, kepercayaan juga memegang peran sangat penting dalam perkawinan? Tanpa kepercayaan, esensi perkawinan jadi hambar. Sudah saatnya kita renungkan kembali hal itu, dan memantapkan hidup perkawinan kita.

Apakah kamu masih ingin saya menjadi nahkoda bahtera rumah tangga kita? Apakah kamu masih ingin ditemani di hari-harimu dan malam-malam indah selanjutnya bisa kita lalui bersama-sama, dengan anak kita juga. Apakah kamu masih ingin rumah tangga kita bahagia ke depannya? Silakan dijawab dengan hati.

Bahwasanya perlu diketahui, saya sebagai nahkoda tidak akan menyesatkan bahtera rumah tangga kita. Sekali lagi bahtera kita, bukan bahtera kamu atau bahtera saya, tapi bahtera kita.

Dan perlu diingat juga, bahwa dari saya tetap ada rasa percaya, cinta dan pengampunan untuk kamu. Kapanpun itu.

Kalaupun sekarang kamu belum bisa memahaminya, silakan kembali pada saya kapanpun. Dengan pintu terbuka, dengan tangan terbuka saya tetap menerima kamu lagi. Kapanpun itu.

Namun saya yakin, kamu masih ada cinta dan asa untuk kembali merajut hati kita yang sudah terlanjur terkoyak ini. Untuk bersatu kembali. Semoga…!

Saya masih punya harapan juga untuk kita sama-sama mohon bimbingan dan pendampingan dari Romo Ignas maupun Romo Sudri. Dan saya yakin, Romo pun dengan tangan terbuka akan menerima kita kembali menjadi anak-anak Bapa.

Akhir kata, coba kita renungkan syair lagu dari Yana Julio yang berjudul “Satu Keinginan” (listen to attached mp3 file)

SATU KEINGINAN
by Yana Julio

[Mengapa terjadi setelah sekian lama terjalin
kasihnya yang murni berakhir dari kenyataan
bila cinta terlanjur menjadi satu keinginan
mengapa perasaan angkuh....tiada mau sirna

Bukankah cinta datang untuk menyatukan
dua hati yang berbeda
Dan tiada memaksakan satu keinginan
atas keinginan yang lain
karna cinta....
untuk cinta....]

Saya sangat tersentuh saat mendengarkan lagu ini…bagaimana dengan kamu???

May God bless you and lead you…
Yours faithfully,
RAM
=========

Jakarta, 18 Januari 2011
Selamat pagi Romo,

Saya informasikan progress terakhir di kasus saya.

Hari Senin kemarin, saya mendatangi Polres Jakarta Timur untuk wajib lapor tiap hari Senin Kamis.

Awalnya sesuai kesepakatan dengan istri saya, saya mau mediasi jam 9 pagi dengan mengajak kakak saya dari gunung putri. Tapi karena saya faktor pekerjaan, saya baru bisa jam 2 siang (jadwal wajib lapor diberi kelonggaran dari jam 9 pagi sampai jam 2 siang).

Awalnya istri saya ngotot maunya jam 9 pagi sesuai yang saya janjikan sebelumnya (hari Jumat malam). Tapi saya keukeuh tetap datang jam 2 siang, kalau istri saya mau datang jam 2 ya silakan, kalo gak mau ya terserah dia. Akhirnya dia ternyata datang jg jam 2 siang tsb.

Di situ terjadilah mediasi, dimana dicapai kesepakatan berupa surat pernyataan yang saya tulis di atas kertas bermaterai yang isinya kira-kira seperti jawaban saya atas syarat dia di email saya, hanya saja saya masih memberi kelonggaran untuk tetap tinggal di rumah Perumnas sampai dengan akhir bulan januari 2011 ini.

Surat pernyataan inilah yang menjadi dasar pencabutan laporan istri saya ke polisi. Setelah pencabutan laporan, malamnya saya langsung diminta istri untuk pulang ke rumah perumnas klender lagi, dan saya menyanggupinya walaupun baru jam 10 malam sampai di rumah dari Cibubur rumah teman saya.

Awal Pebruari 2011 ini rencananya kami akan pindah rumah ke rumah kontrakan. Tapi istri tidak setuju dengan pilihan saya untuk tinggal di kontrakan daerah Legenda Wisata Cibubur yang sudah saya DP sebesar 500ribu, dari total 12 juta sewa per tahunnya. Untuk sekarang ini kami belum mendapat kontrakan yang sesuai dengan kemauan kami berdua. Mohon dukungan doanya ya mo, semoga kami segera mendapat kontrakan yang sesuai dengan yang kami harapkan.

Sampai hari ini saya sudah tinggal bareng dengan istri dan mertua saya. Kalau saja saya tidak memikirkan anak saya atau tidak mendengarkan nasihat romo Sudri, barangkali sudah saya ladeni ke pengadilan.

Tapi jalan Rencana Tuhan memang misteri. Barangkali ini adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan keluarga kami. Semoga.

Dan semuanya, saya serahkan pada Kuasa Tuhan. Saya percaya bahwa Gusti Allah boten sare. Tuhan lah Maha Tahu segalanya. Tuhan lah Sang Maha Adil. Saya tetap mencoba memberi pengampunan pada mereka walaupun tuduhan mereka pada saya itu tidak benar adanya. Karena kalau saya ladeni lagi pasti akan lebih panjang lagi masalahnya, tidak akan selesai-selesai.

Sekali lagi, kini saya hanya berpasrah dan percayakan semuanya ini pada kehendak Tuhan, karena hanya itulah yang bisa saya lakukan sekarang.

Oya, mengenai rencana Romo memposting email saya ini, saya menyetujuinya, Romo. Barangkali bisa menyadarkan keluarga-keluarga yang sedang dilanda konflik seperti yang saya alami.

Terima kasih banyak Romo atas dukungannya pada kasus kami selama ini, sehingga kami bisa dipersatukan lagi. Semoga ke depannya kami mampu membina keluarga yang mandiri, dewasa dan revolusioner.

Mohon tetap bantuannya ya mo.

Best regards,
RAM

4 Responses to “Pergulatan Suami-Istri Usia Perkawinan 1.5 Tahun”

  1. waaaaahhhh….
    hebat sekali bung RAM ini!
    Dia suami yang mau berubah, mau komunikasi, mau ikut Yesus dan memang tanggung jawab.
    Betul betul patut dipuji!

    Saya share sedikit ya:
    Bagaimana pun jengkelnya suamiku terhadapku, dia sama sekali tidak pernah memukul apapun, apa lagi memukul aku. Itu karena dia sungguh lelaki. Pantang baginya memukul perempuan walau dalam keadaan apapun juga. Yang dilakukannya adalah diam. Kalau perlu masuk kamar dan diam. Mungkin akhirnya dia berdoa kalau sedang tidak tau apa yang mesti dilakukannya. Sungguh saya hargai suami saya untuk penguasaan dirinya yang baik itu.

    Kalau lihat setting rumah perumnas Klender, tentu tempat kalian itu sumpek. Ya memang bisa dimengerti kalau istri teriak teriak, anda tentu khawatir orang dengar hal hal buruk. Percayalah, semua tetangga sudah tau apa isi rumah tangga kalian. Jadi, dari pada semakin merendahkan martabat, lebih baik pergilah.

    Syukurlah kalau memang akan pindah. Semoga di masa yang akan datang, selalu ingat untuk jadi lelaki sejati. Lelaki yang pantang memukul perempuan, apapun sebabnya. Bayangkan, dia adalah ibu dari anakmu. Belajarlah dari St. Josef yang bertanggung jawab atas Bunda Maria walau apapun yang terjadi.

    Selamat jadi suami yang baik!

    Salam berkat Tuhan, rin

  2. Wah saya salut untuk Bung Ram dalam usahanya menyelamatkan perkawinannya, semoga sang isteri juga menyadari kekeliruannya sehingga sama-sama bisa menyelamatkan perkawinan ini karena harus dari kedua belah pihak.
    Sedikit sharing saya selama masa perkawinan, tidak pernah secuil pun suami saya melakukan kdrt, bila ada masalah tidak pernah keluar dari ruang kamar kami artinya diselesaikan berdua tidak ada campur tangan pihak ketiga termasuk ortu ataupun lainnya.Sekesal apapun maka kedua belah pihak mencoba untuk memahami, mengerti dan menyadari apa yang terjadi dan ber emphati satu sama lain dan syukur kepada Tuhan semuanya sejauh ini bisa diselesaikan dengan baik. Saling asah, asuh dan asih adalah kunci kebahagiaan perkawinan.

    Pindah rumah adalah alternatif terbaik untuk keluarga baru karena bila di PMI ( Pondok Mertua Indah) biasanya akan membuat salah satu pihak tertekan, jadi untuk pasangan baru sebaiknya jangan pernah tinggal di PMI ya, meski rumahnya kecil, kontrakan atau apa pun sebaiknya sendiri, semua jadi mandiri dan meskipun kadang terasa berat tapi untuk sebuah perkawinan jauh lebih baik. Oke sdr Bram, you are on the right track, good luck, God bless you and yours.

  3. Bagi pasangan baru sedikit tips: senyaman apapun anda tinggal bersama mertua di PMI ( Pondok Mertua Indah), lebih baik tinggal di RSSS ( rumah sempit sangat sederhana) ataupun rumah 4 L ( rumah yang kalau keluar kamar LU LAGI LU LAGI; artinya rumah yang cuma ada kamar doang) karena bagi sang suami dia bisa mandiri dan menunjukkan eksistensinya sebagai kepala keluarga dan ini penting bagi sang suami untuk memotivasinya berusaha lebih menyejahterakan keluarganya, juga sang isteri bisa mandiri, baik untuk kedua belah pihak.Semua masalah diselesaikan bersama, ringan sama dijinjing dan berat sama dipikul.

  4. Sdr. RAM, terima kasih atas kesediaan membagi masalah keluargamu. Saat saya menulis tanggapan ini, entah bagaimana kelanjutan masalahmu, namun saya sangat berharap dan berdoa ada penyelesaian terbaik bagi keutuhan keluargamu. Tanggapan saya ini bukan hanya ditujukan untuk RAM, tetapi juga kepada Mommy (istrimu).

    Membangun sebuah keluarga bukan hal mudah. Perlu keterbukaan komunikasi antara suami-istri. Ada suami/istri yang lebih suka mengungkapkan isi hati secara lisan, ada pula yang cenderung menyatakan pikiran dan perasaan lewat tulisan. Kalau membaca penuturan RAM yang panjang-lebar, tampaknya RAM lebih bisa mengungkapkan isi hatinya lewat tulisan. Sementara mungkin Mommy lebih suka cara komunikasi lisan. Kemacetan komunikasi suami-istri dapat menyebabkan menumpuknya emosi, yang bisa berujung pada pengungkapan perasaan secara tidak wajar seperti memukul, memecahkan barang2, dsb.

    Saya percaya, apa yang RAM lakukan terhadap Mommy bukan identik dengan kebiasaan melakukan KDRT, namun lebih sebagai luapan emosi yang selama ini dipendam. Sementara Mommy, masih dalam masa transisi menjadi seorang ibu muda. Perubahan peran ini bisa menimbulkan stres. Hendaknya kedua pihak dapat saling memahami. Ke depan, cobalah kalian berdua mengungkapkan apa yang dipikirkan dan dirasakan saat itu, tanpa harus memendam dalam hati seperti api dalam sekam.

    Tak perlu melaporkan kejadian yang baru sekali terjadi ini kepada polisi. Pelibatan pihak luar, apalagi yang sama sekali tidak mengerti duduk masalah, malah mungkin merunyamkan suasana. Bukankah kalian berdua telah sepakat mengarungi bersama bahtera rumah tangga satu setengah tahun lalu dengan berlandaskan kasih? Terapkanlah kasih yang sabar, tidak cemburu, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, dan tidak menyimpan kesalahan orang lain (1 Korintus 13:4-5).

    Setelah kejadian, RAM dengan rendah hati telah meminta maaf. Mommy, janganlah berkeras hati, terimalah permintaan maaf itu. Kehidupan rumah tangga kalian baru dimulai, masih banyak peristiwa yang akan kalian alami. Maafkanlah tanpa menengok ke belakang, mengungkit-ungkit kembali masalah yang telah selesai.

    Meminta maaf dan memaafkan termasuk perbuatan yang lazim dalam rumah tangga, apalagi kita sebagai manusia lemah tak lepas dari kekurangan dan kekhilafan. Ingatlah ketika Petrus bertanya kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Jawaban Yesus menyiratkan pengampunan tanpa batas, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Matius 18:21-22)

    Hal lain yang menjadi keprihatinan adalah pengelolaan keuangan. Uang sering kali dapat menjadi sumber ketidakharmonisan suami-istri. Di sini juga perlu ada keterbukaan komunikasi. Sepakatilah bersama bagaimana kalian akan mengelola keuangan. Apakah kedua pihak menyatukan seluruh uang penghasilan masing-masing untuk dikelola sebagai uang bersama? Ataukah ada sebagian kecil dari penghasilan masing-masing yang disisihkan untuk keperluan sendiri? Apakah perlu sampai suami harus menyerahkan kartu ATM dan seluruh gaji kepada istri? Penting untuk diingat, jangan sampai ada satu pihak merasa tertekan karena pengelolaan uang yang kurang berkenan baginya.

    Demikian pula dengan bisnis sampingan, seberapa perlu? Apa yang menjadi prioritas dalam rumah tanggamu? Mencari uang sebanyak-banyaknya, atau mencari uang seperlunya agar dapat tetap membesarkan anak yang dipercayakan Tuhan kepada kalian dengan penuh perhatian? Ingatlah, uang tidak bisa membeli kebahagiaan dan tahun-tahun awal anak adalah saat pembentukan kepribadiannya yang sangat membutuhkan pendampingan orangtua.

    Yang terakhir, mengenai tempat tinggal. Belajarlah dari Keluarga Kudus (Bunda Maria dan Santo Yusuf) yang begitu tegar menjalani suka-duka hidup berumah tangga tanpa melibatkan orangtua mereka. Mommy, sebagai perempuan kita dapat meneladan Bunda Maria dalam menjalani peran istri dan ibu. Bunda Maria begitu mengasihi keluarganya, taat pada suami (mau saja diajak mendaftarkan diri untuk cacah jiwa ke Betlehem padahal sedang hamil tua, lalu mengungsi ke Mesir saat Yesus baru muncul ke dunia, kemudian tinggal di Nazaret dengan hidup sederhana). Bunda Maria memberi perhatian total kepada keluarganya, ia hadir di saat-saat penting dalam kehidupan Yesus.

    RAM dan Mommy, perjalanan bahtera rumah tangga kalian masih panjang. Arungilah samudra kehidupan bersama dengan berpedoman pada kasih. Suatu saat kelak, giliran anak-anak kalian yang akan mengarungi bahtera rumah tangga. Lalu, kalian akan melepas mereka dengan pesan-pesan bijak, buah dari pengalaman kalian. Semoga.

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>