Perceraian terselubung selama 17 tahun

Maafkan saya, kalau harus bercerita tentang aib keluarga yang telah saya bungkus rapi selama bertahun-tahun. Tetapi,saya berharap melalui forum ini. Semoga masukan dari sdr/sdri,dapat menguatkan saya dan memberikan pandangan lain siapa tau sikap saya salah dan hanya memandang permasalahan ini dari kacamata saya sendiri.

Saya seorang Istri usia 48 tahun dan suami 51 tahun, kami telah menikah 17 tahun secara katolik atas kemauan sendiri dan telah dikaruniakan 3 orang anak laki-laki. Mungkin ketika menikah kami tidak memikirkan matang-matang. Saat itu saya sudah berusia 29 tahun dan ibu sakit-sakitan. Setelah setahun saling berkenalan saya putuskan untuk menikah. Saat undangan pernikahan kami telah diedarkan, sifat suami saya mulai terkuak. Waktu itu saya sangat stress berat dan ingin membatalkan perkawinan dan melarikan diri ke LN. Tetapi hal itu tidak mungkin karena tinggal 10 hari lagi dan akan sangat berdampak pada nama baik keluarga dan kondisi ibu sedang sakit. Akhirnya saya lalui juga sebagai takdir yang harus saya jalani.

Sejak kuliah, bekerja sampai menikah saya tinggal dan bekerja di Yogya dan suami di Jakarta. Demikian juga semua saudara saya tinggal di Jakarta. Sebelum menikah Suami telah punya 2 rumah diperumahan elite, mobil dan lain-lain dan dia berasal dari keluarga cukup berada, lulusan S-2 luar negeri. Sedangkan saya saat menikah tidak punya apa-apa, hanya mobil tua saja, selama kerja di yogya saya kost di paviliun dan suami yang sering datang ke Yogya. Sejak awal perkawinan kami tidak wajar, suami tidak pernah memberi saya uang dan saya tidak tau pendapatannya berapa, jadi kami kerja sendiri-sendiri untuk mencukupi kebutuhan sendiri-sendiri.

Bahkan waktu keluarganya melamar saya, saya membeli sendiri, semua perhiasan dan segala keperluan hantaran lamaran dari keluarganya, untuk menjaga nama keluarganya didepan keluarga saya. Saya lakukan itu semua karena saya pikir suami saya sudah tidak punya orang tua lagi, sehingga saya tidak mau menyusahkan kakak-kakak dan iparnya. Tetapi seharusnya saya berpikir kalau suami saya menginginkan saya bukankah dia dapat memberi uang kepada kakak-kakaknya untuk meyiapkan segala sesuatunya. Itulah kebodohan saya paling fatal.

Suami sibuk cari uang untuk dirinya sendiri dan mengembangkan usahanya sendiri. Tidak terjadi konflik karena kami jarang ketemu dan saya bisa mencari uang untuk saya sendiri untuk mencukupi kebutuhan saya. Tetapi ketika kami punya anak-anak suami juga tidak pernah peduli dengan kebutuhan rumah tangga dan anak-anak di yogya, yang boleh dikatakan semuanya dicukupi oleh saya.

Tahun-tahun pertama perkawinan saya anggap wajar, karena dalam pikiran saya tetap positif toh suami hemat (bukan pelit) dan mengembangkan usahanya toh untuk kami juga, untuk masa depan anak-anak. Jadi saya tidak keberatan kerja keras di yogya, menopang hidup anak-anak, sampai tidak punya saving sedikitpun. Sementara suami membeli tanah, gudang, ruko, dan lain-lain, punya rental mobil di Jakarta dan usaha-usaha lainnya yang saya tidak tau persis.

Tahun 2002. saya putuskan memboyong anak-anak pindah ke Jakarta untuk dapat kumpul serumah dengan ayahnya. Saya pikir itulah jalan terbaik untuk memperbaiki rumah tangga kami sehingga suami bisa sayang dan memperhatikan anak-anak karena tinggal satu atap. Saya melepaskan pekerjaan saya di Jogya akan mencari pekerjaan baru di Jakarta. Ternyata perusahaan di Jakarta yang menerima saya bermasalah, sehingga saya putuskan mengundurkan diri. Sambil mencari pekerjaan lainnya saya sempat menganggur 4 bulan tanpa penghasilan.

Disitulah saya tau persis sifat asli suami etika saya tidak punya uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang notabence selama 9 tahun kami berumah tangga, semua kebutuhan anak-anak di Yogya dipenuhi oleh saya sendiri. Sekarang saya harus meminta uang ke dia untuk membeli beras, susu dan lain-lain. Mulainya masalah timbul, suami sering marah-marah, banting pintu, kata-kata kasar, pergi tanpa pamit, dan selalu ada pertengkaran. Yang selalu dipermasalahkan suami adalah, saya pindah ke Jakarta dan sekarang jadi pengangguran, sehingga sekarang semuanya menjadi beban dia.
Perasaan saya hancur waktu itu, karena suami bukan tidak mampu mensupport kami waktu itu bahkan dia sedang membangun gudang dan baru beli tanah. Mengapa hanya beberapa bulan saja mensupport kami dai tidak sanggup padahal saya bertahun-tahun mensupport ketiga anak kami ketika tinggal di yogya.

Akhirnya daripada saya harus mengemis ke suami, lebih baik meminta bantuan kakak-kakak saya untuk mencukupi kebutuhan kami. Yang paling menyakitkan saat itu bila suami berangkat kerja tidak sarapan, walaupun saya sediakan pulang kerja dia beli makanan untuk dimakan sendiri tanpa memperdulikan kami, padahal saya juga telah memasak untuk dia. Dan itu terjadi dirumahnya sendiri. bagaimana perasaan saya? hari-hari hanyalah penuh dengan air mata. Timbullah penyesalan, bagaimana senangnya saya ketika di yogya dulu bersama anak-anak bisa punya uang sendiri. Sekarang saya dan anak anak tidak lebih dari parasit dihadapan suami.

Saat itu membuat saya sadar akan perkawinan kami.
Disitulah saya tau apa arti keluarga buat suami saya.
Saya sadar apa arti kehadiran saya dan anak-anak bagi suami saya.
Saya benar-benar sadar bahwa perkawinan ini hanyalah untuk memenuhi status sosial suami saya saja agar menjadi terhormat, punya istri dan anak-anak.
Tapi sebenarnya dia tidak pernah tau apa arti perkawinan, istri dan anak-anak,, bahkan dia tidak tau apa arti dan kedudukan suami dalam keluarga.

Akhirnya pada awal,July 2002 saya mendapat panggilan kerja dari salah satu perusahaan yang cukup bonafit di jakarta dengan income yang lumayan. Suami saya senang mendengar itu, tetapi justru saya muak dan berpikir terbalik. Saya merasa suami saya benar-benar licik dan mengeksploitasi saya. ketika saya akan dapat gaji besar dia senang karena menjadi dapat sumber pendapatan keluarga.

Padahal ketika saya melamar kerja sana-sini, bahkan ketika test wawancara dia tidak mau mengantar saya dan saya harus minta tolong kepada kakak dengan berbagai alasan bahwa suami tidak dapat mengantar.

Di saat genting itu, saya tersadar saya tidak tahan dengan sifat dan sikap suami saya, . saya berdoa pada Tuhan agar menberi jalan terbaik bagi saya. Saya kemudian menghubungi mantan bos saya di Yogya, agar dapat kembali bekerja di Yogya, dan ternyata perusahaan sangat senang karena selama 13 tahun bekerja sebelumnya kondite saya di anggap baik.

Akhirnya pertengahan July 2002 saya putuskan kembali ke Yogya dengan memboyong ke 3 anak kami dengan menempati rumah kontrak yang sangat-sangat sederhana. Tidak ada reaksi apa-apa dari suami. mungkin dia senang kalau kami tidak menjadi parasit lagi, atau juga bisa sedih karena saya melepaskan gaji besar di Jakarta. Entahlah. Tetapi sebagai istri tentu saya berharap suami saya akan melindungi dan melarang saya dan anak-anak kembali ke Yogya kalau memang dia mencintai kami.
.
Saya rajut kembali kehidupan kami di yogya yang penuh airmata itu. Untuk menghidupi dan menyekolahkan ke-3 anak , saya harus kerja siang dan malam. Dan anak-anak dirawat oleh pembantu dan syukurlah saya juga mendapat pembantu yang sangat baik dan jujur dan sekarang telah 15 tahun pula ikut saya. Anak-anakpun tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas di sekolah dan tidak banyak menuntut, karena saya selalu mengajarkan mereka prihatin dan bersyukur.

Saya membungkus rapi masalah keluarga saya, tidaka ada yang tau. orang lain taunya kami adalah keluarga yang harmonis, suami yang yang mapan, lulusan S-2 luar negeri.

Sejak tahun 2002 saya dan anak-anak,tidak pernah lagi pulang ke rumah suami di Jakarta. kalau ada kepentingan di Jakarta kami pulang ke rumah kaka saya. Suami ke Yogya,kadang sebulan sekali kadang pernah 4 bulan sekali. saya tidak pernah menanyakan tentang kehidupan suami di jakarta, tentang binis dan pekerjaannya. saya merasa tidak peduli. Dia pun tidak pernah menanyakan tentang anak-anak, perkembangan apalagi kebutuhan anak-anak. Tidak ada apresiasi sama sekali untuk anak-anak, hanya cela dan larangan yang selalu diucapkan ke anak-anak. Baginya keberhasilan itu hanya angka-angka, bukanlah seberapa besar usaha anak-anak.

Sehingga sungguh ironis, ketika dia baru tiba dari Jakarta, anak-anak pasti akan berbisik ke saya menanyakan kapan ayahnya kembali ke Jakarta. Kehadirannya membuat anak-anak terganggu, seharusnya mereka merindukan kehadiran ayahnya.

Bahkan yang paling saya sesali saat ini adalah saya harus bertengkar hebat dengannya ketika anak pertama kami harus menyambut komuni pertama gara-gara tidak ada sedikit perhatianpun untuk peristiwa penting itu. Pastilah itu sangat melukai perasaan putra kami, melihat ibunya harus menangis di dalam gereja dan mendampinginya dengan mata bengkak. Padahal tanpa suami, saya dengan anak-anak telah novena keluarga termasuk memohon agar sikap suami berubah.

Jika dia datang ke Yogya, layaknya seorang suami, makan saya sediakan, kamar tidur semuanya tersedia dan saya akan pindah tidur dengan anak-anak. Pas kalau suami datang hari minggu, kami juga ke gereja bersama-sama layaknya keluarga katolik yang lainnya.

Perkawinan kami hanyalah diatas kertas atau tepatnya perceraian terselubung, semuanya saya bungkus rapi agar keluarga tidak ada yang tau apalagi teman-teman kantor saya. Kami nyaris tidak pernah bertengkar. Bagi saya buat apalagi bertengkar sebab hanya akan menyakiti hati saya sendiri, toh suami tidak berubah, toh dia jarang-jarang datang ke Yogya.

Dalam hal ibadah, mungkin suami saya paling rajin, ke gereja, ikut rosario, doa-doa pribadi dll. Sampai saya bingung kenapa kehidupannya begitu kontras. Hubungan antar manusianya sanagt buruk, mungkin dia telah 7-8 tempat kerja berganti-ganti, terakhir keluar dan mulai usaha sendiri . Ketia di Jakartapun saya sampai malu dengan ketua lingkungan kami, karena suami selalu protes tentang pemakaian uang umat, padahal sumbangannya juga paling sedikit. Banyak hal diluar nalar, dari uang kolekte sampai uang parker kadang-kadang membuat saya malu pada diri sendiri atas sikap suami.

Sekarang,sudah 17 tahun perkawinan kami. Karier saya semakin mapan berkat keprihatinan saya. Sekarang anak kami telah SMA, SMP dan SD. Perkawinan kami tetap bertahan di atas kertas. Sampai saat ini saya masih menjaga kesucian pernikahan kami. Walaupun saya tau sejak tahun 2006 telah ada wanita lain dalam hidupnya, yang dia sembunyikan. Semuanya saya bungkus rapi-rapi didepan keluarga saya, karena jika mereka tau pasti mereka akan memaksa saya bercerai dengan suami.

Bercerai bagi saya mungkin itu paling baik buat saya. Tetapi yang sellau saya pikirkan adalah anak-anak. Betapa malunya mereka jika orangtuanya bercerai, alangkah mindernya mereka ternyata orangtuanya bercerai. itulah yang selalu membuat saya kuat. saya hanya ingin anak-anak saya bangga punya orangtua dan keluarga yang utuh. sesakit apapun itu bagi saya. Apalagi ketiga anak saya sekarang semuanya bersekolah di Sekolah katolik, tentu mereka tau hukum bercerai dalam agama katolik,,

Akhirnya semuanya terjawab awal tahun 2010, semua kebusukan Suami terbongkar oleh keluarganya sendiri, ternyata suami saya banyak hutang, usahanya telah bangkrut ditipu orang. Dan teganya dia pinjam uang saudara-saudaranya dengan alasan membiayai,saya dan anak-anak termasuk membangun rumah di Yogya

Padahal rumah itu saya bangun dengan keringat sendiri. tidak henti-hentinya dia memzalimi saya. Tetapi akhirnya keluarganya tau apa yang selama ini dia perbuat terhadap saya dan anak-anak. Tetapi suami tidak mengakui semuanya, dan merasa semua usahanya selama ini adalah untuk masa depan anak-anak dan istri juga. Suami masih tetap angkuh dan tidak merasa bersalah sama sekali.

Sekarang semua yang dikumpulkan suami selama bertahun-tahun dengan menelantarkan kami telah hilang bahkan rumahpun akan di sita Bank, dan suami saya akhir-akhir ini mulai mendekati saya dengan harapan dapat tinggal di Yogya. Dan saya sudah mati rasa, sudah 8 tahun. Terakhir ini, perasaan saya sudah mati. Jika masih ada hanyalah sebatas dia adalah Bapak dari anak-anak saya.

Saya sulit dapat menerima kembali suami saya. Saya ingin hidup tenang dengan anak anak. Saya ingin anak-anak tinggal tanpa suara-suara arogan dan dikte dari ayahnya. intinya kami tidak mau di ganggu lagi.

Tetapi ketika berdoa malam , airmata saya selalu berderai, timbul rasa kasihan kepada suami melihat nasibnya sekarang. sering jika deadline tagihan bank, saya transfer uang ke dia. Tetapi ketika dia datang ke Yogya, melihat sikapnya tidak pernah berubah, membuat saya kembali muak dan sakit hati.

Itulah konflik bathin yang terjadi pada saya hingga saat ini, belum sedikitpun suami saya sadar. dia tetap yakin bahwa dia kan bangkit dan menjadi orang yang kaya. Sangat angkuh dan sombong, sikap itulah yang selalu membuat saya tidak bisa menerima dia kembali.Sampai saat inipun masih ada saja yang ingin menipu dan menguras uang saya.

Mohon masukan dari saudara-saudari,

Kr

12 Responses to “Perceraian terselubung selama 17 tahun”

  1. @Kr.

    Yakinlah bahwa ketika anda menangis, ketika anda merasa disakiti, ketika anda merasa muak – tidak kuat lagi, apa yg salah dalam diri ini, seakan anda melalui semua sendirian: Tuhan menyertai anda dimana anda berada dalam situasi apapun.

    Ampunilah suami anda sebagaimana Allah Bapa di surga mengampuni anda. Tuhan tidak pernah menanyakan segala jasa atau perbuatan baik anda kepada-Nya, perbuatlah demikian kepada suamimu. Tuhan tidak pernah mengingat dosa dan kesalahan anda, perbuatlah demikian kepada suamimu. Bawalah suami anda senantiasa dalam doa (doakan suami anda), doa dapat mengubah segalanya.

    Berkah Dalem.

    LF

  2. 17 tahun sudah anda habiskan untuk seseorang yang tidak memperlakukan anda selayaknya.Buat apa anda masih berkutat pada hal yang sama terus menerus,hal yang membuat anda tidak bahagia.Ibu bilang ini demi anak-anak,jangan berpikir kalau anak2 Ibu tidak tau penderitaan Ibu.Saya pernah di posisi mereka,memang pada awalnya saya malu punya keluarga broken home tapi karena keberanian Ibu saya untuk meninggalkan ayah.Sekarang saya punya keluarga yang lengkap dan penuh dengan cinta kasih.Tetap berdoa pada Tuhan tetapi ingat Ibu juga harus berani melakukan sesuatu kalau ingin hidup Ibu berubah menjadi lebih baik.Tuhan memberkati.

  3. Dear Bu Kr yang baik,

    Lihatlah betapa baiknya Tuhan dalam kehidupan ibu. Benar bahwa ibu menderita, tapi Tuhan memberi 3 putra yang mengasihi ibu. Tuhan memberi kekuatan untuk mendidik, memberi makan ketiga putra sampai punya rumah sendiri di Jogja. Bersyukurlah bu. Tentu itu tidak lepas karena ketekunan ibu berdoa dan bekerja dengan hati baik.

    Soal suami:
    Lihatlah bagaimana menderitanya dia karena salah berpikir selama bertahun tahun. Dia lekat dengan uang, demikian lekatnya sampai akhirnya mengalami banyak penderitaan: dibenci bahkan oleh anaknya sendiri, dibenci banyak orang lain (buktinya selalu ditolak dimana mana), hartanya toh habis juga, harga diri jatuh hanya karena harta. Kalau ibu tidak dapat mendevelop suami, ya silakan mendoakan. Setelah 17 tahun ibu dapat melihat pelajaran yang hebat:
    1. orang kalau menghindar dari tanggung jawab bahkan tidak sayang kepada keluarganya, ya hasilnya anak gak bisa menyayanginya.
    2. orang kalo lekat banget sama uang ya akhirnya bukan malah enak ya malah gak ada orang yang suka.

    Tentu saya tidak tau mengapa sampai suami ibu begitu, tapi pasti ada sebabnya di masa lalunya. Entah karena dia memang dimotivasi dengan uang, atau apapunlah. Ini menjadi pelajaran bagus kan buat anak anak ibu supaya tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ajari mereka untuk bahwa uang memang perlu tapi bukan segalanya. Contohnya jelas wela wela di depan mata.

    Terhadap suami, tidakkah ibu berbelas kasihan untuk memaafkan? Toh dia sudah mendapat pelajarannya sendiri. Toh ibu hidup lebih damai sejahtera dari dia. Berlapang hatilah untuk memaafkan.

    Terhadap perempuan lain itu yaaaa… bukankah dengan adanya perempuan lain itu maka suami jadi jarang ke Jogja dan itu membuat anak anak lebih nyaman? Biar saja itu jadi urusan suami dengan Tuhan.

    Terhadap perkawinan ibu:
    1. Apakah ibu ingin kawin lagi? Kalau ya, silakan bicara dengan romo paroki dan mengurus anulasi kalau memang bisa;
    2. Kalau ibu toh tidak ingin kawin lagi, apa yang ibu khawatirkan?

    Sekarang, yang penting semua harta ibu atas nama ibu sendiri dan jangan pernah pinjamkan akta kepada suami atau siapapun sehingga bisa berpindah tangan tanpa sepengetahuan ibu. Urus saja anak anak baik, mereka pasti menyayangi ibu karena mereka tau betapa menderitanya ibu. Berdoa saja yang baik baik siapa tau suatu saat suami memang tobat dan berubah jadi mengasihi keluarganya. Ibu juga citra Tuhan kan?

    Salam berkah Dalem, rin

  4. pernikahan anda tidak hanya di atas kertas, tetapi sah menurut hukum Gereja dan sempurna.. artinya tidak terceraikan.

    saya sendiri masih melihat adanya kemungkinan anulasi atas pernikahan anda, walaupun hal ini pun perlu bukti dan saksi yang mendukung penyelidikan tribunal. Kemungkinan itu didasari atas keterpaksaan anda menikah dengannya, bukan cinta.

    tetapi kita kesampingkan kemungkinan itu dan kita coba lihat kondisi perkawinan anda. saya pikir ini saat yang tepat mengajak suami anda berbicara, terutama tentang perasaan dan kondisi yang anda alami karena ketidakpeduliannya terhadap isteri dan anak-anaknya. Lihat reaksi yang ia berikan. Jika reaksi penyesalan yang diberikan, maka ajaklah ia untuk bertemu dengan keluargamu dan keluarganya untuk menceritakan kenyataan yang telah ia perbuat dan penyesalannya. Sebuah penyesalan harus ditunjukkan, bukan hanya janji dimulut kepada isteri, tetapi harus diperlihatkan bahwa ia telah merendahkan ego-nya untuk berubah. Di mulai dari permintaan maaf kepada orang-orang terdekatnya yang telah ia bohongi akan kondisi pernikahannya. jika ia menyesal tetapi tidak mau melakukan hal di atas karena malu, tidak apa, ajaklah ia bertemu dengan romo paroki dan ceritakan perbuatan2nya terhadap keluarganya dan penyesalannya dan terakhir mintalah sakramen tobat. Lalu kalian berdua ambilah sesi konseling untuk memulihkan hubungan perkawinan anda berdua. jika ini pun tidak mau, sebaiknya, anda hidup terpisah dengannya untuk sementara waktu dengna sepengetahuan romo paroki. tentunya perpisahan ini untuk memberi kesempatan bagi suami anda memikirkan semua keputusannya dan juga ruang bagi anda untuk merencanakan langkah2 selanjutnya. saya rasa sudah saatnya anda tidak berpura-pura lagi dihadapan keluarganya dan keluarga anda tentang perkawinan kalian. Kejujuran itu pasti melegakan. anda tidak perlu merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi. Fokuskan perhatian dan kekuatan anda untuk membangun kualitas hidup yang baik untuk anda dan terutama anak-anak anda.
    Hal ini bukan berarti anda tidak memiliki kasih kepadanya, atau anda tidak memaafkan dia. Anda berkewajiban sebagai seorang Katolik untuk melakukan hal itu. Dengan meminta dia untuk bertobat dan meminta maaf anda sudah melakukan kasih kepadanya. suatu langkah awal untuk memperbaiki hidupnya menjadi lebih baik sebagai seorang Katolik. Mengapa ?

    Belas kasihan itu tidak perlu buta.. artinya pertobatan itu perlu ditunjukkan dalam tindakan nyata bukan hanya kata-kata menyesal ketika hidup berada dalam kesulitan. Jangan berpikir bahwa ketika hidupnya jatuh, orang HARUS kasihan padanya. Tetapi ia tidak peduli akan akibat perbuatannya yang melukai kasih ketika masih jaya. Dalam ketidakberdayaannya saat ini, ia pun perlu melakukan silih atas dosa-dosanya dan memperbaiki kesalahannya di masa lalu termasuk akibat-akibat yang ditimbulkannya.

    Sebagai isteri, tugas anda membantu dia kembali kepada jalan yang benar. Tetapi hal itu hanya bisa dilakukan, bila suami anda tidak mengeraskan hatinya dengan kesombongan, keegoisan dan kemarahan. Hanay seorang yang rendah hati yang dapat menyesali dosa-dosanya dan percaya akan pengampunan Allah.

    Tentang finansial atau kebutuhan fisik lainnya yang kini tidak dimiliki oleh suamimu, sebaiknya anda memberi secukupnya saja. Utamakanlah kesejahteraan anak2 anda. Mengenai hutang2nya, anda tidak perlu merasa perlu membantu melunasinya. anda boleh membantu sebatas kemampuan anda tanpa perlu mengubah rencana anda untuk kesejahteraan anak-anak anda. Karena memang inilah yang terutama. Bagaimanapun ia harus mempertanggunjawabkan perbuatan2nya dulu dan bila ia mengasihimu dan anak-anaknya, ia tidak akan menyeret kalian kedalam kesulitannya.

    Dan janganlah lupa berdoa.. ajaklah anak-anak anda berdoa untuk ayah mereka. Jangan biarkan mereka memusuhinya.

    sementara itu dulu.. May God bless your steps and protect you and your children.

  5. Ytc, Sdr/Sdri LF, Novilia, Ibnurini, Johan

    Terima kasih atas respon sdr/sdri, cukup melegakan dan memberikan banyak inspirasi dan sangta menguatkan bagi saya untuk langkah berikutnya. Beberapa hal yang ingin saya ungkapkan lagi dari hati saya paling dalam agar Sdr/sdri dapat memberi masukan yang lebih tepat lagi buat saya……….
    1. Saya menganggap perkawinan ini sebagai salib hidup saya. Karena semuanya atas kemauan saya sendiri, pilihan saya sendiri, tidak ada paksaan dan campur tangan keluarga. Hanya kesalahan saya tergesa-gesa memutuskan untuk menikah saat itu, karena mungkin malu sudah berusia 29 tahun dan ibu sakit-sakitan. Dan saya berusaha bertanggung jawab dengan keputusan saya tersebut, untuk tetap mempertahankan perkawinan kami sampai saat ini.
    2. Saya tidak berniat bercerai atau menikah lagi, saya sebenarnya “sudah bahagia” dengan hidup seperti ini dengan anak-anak, tinggal terpisah dengan suami…….., Walaupun saya sadar betul ketiga anak kami laki-laki dan butuh figure seorang ayah. Yang jadi masalah jika rumah suami di Jakarta jadi di sita bank, dan dia harus tinggal bersama kami……………… Saya takut jika sifat suami tidak berubah, kebahagiaan saya dan anak-anak kembali terampas…………………..
    3. Saya berasal dari keluarga yang miskin, sederhana dan orangtua selalu mengajarkan kasih sayang, sopan-santun dan etika. Kebetulan saya anak bungsu, dan kakak-kakak saya sangat mencintai saya dan anak-anak kami. Dalam keluarga besar kami belum ada yang bercerai atau bermasalah dengan keluarga……….. saya malu untuk menceritakan masalah ini dengan keluarga saya…………….. Kedua orangtua saya sudah tiada dan kakak-kakak juga semua sudah punya masalah sendiri-sendiri dengan keluarga mereka. Saya menganggap di usia 48 thn, sudah tidak pantas saya masih melibatkan mereka dalam masalah rumah tangga saya.
    4. Keluarga suami saya, pada dasarnya baik dengan saya tetapi tidak terlalu dekat dengan mereka. Karena mereka tinggal di Jakarta dan saya dan anak-anak tinggal di Yogya. Sejak konflik dengan suami tahun 2002, saya menarik diri dan tidak pernah terlibat lagi dalam acara keluarga suami. Latar belakang keluarga mereka kaya, pedagang dan orientasinya sangat ke uang, mereka juga sudah punya keluarga dan punya masalah sendiri-sendiri, saya sendiri merasa tidak pantas lagi melibatkan mereka, kecuali memang mereka yang bertanya. Ketika saya menikah………. kedua mertua saya telah meninggal……. jadi memang tidak ada tempat mengadu atau memohon bantuan.
    5. Tentang wanita lain, saya sendiri tidak terlalu memikirkannya, karena saya merasa bagian dari kesalahan saya juga……….. Karena sejak peristiwa tahun 2002 saya tidak bisa melayani suami saya lagi………….perasaan cinta itu sudah mati…………….dan mungkin kejelekan saya adalah selalu merasa suami menikah saya hanya sekedar ”Sex”, bukan cinta atau ingin membangun keluarga.
    6. Mungkin kesombongan saya lainnya adalah……………… saya malu orang lain mengetahui masalah keluarga saya sebenarnya ……. yang selama ini memang saya kemas sedemikian rupa selalu tampak ”bahagia” dan ”membanggakan” suami. Apalagi suami jarang ke Yogya, sehingga orang-orang sekitar saya memang tidak tau banyak tentang kelakukan suami sebenarnya.
    7. Saya belum punya cukup ”kerendahan hati ”dan ”keberanian” untuk curhat ke Romo Paroki atau ke konselor perkawinan apalagi ikiu ME…………. Saya kenal dekat dengan banyak Romo di Yogya, beberapa dari mereka punya kompetensi di moral perkawinan…… Saya takut mereka tau masalah saya…………………
    8. Maaf kan saya, Profesi dan kedudukan saya sekarang (tidak bisa saya sebutkan…….) membuat saya harus banyak berhubungan dengan orang dan banyak orang mengenal saya……………. Untuk itulah saya selalu menjaga nama baik keluarga dan perkawinan saya…………….
    9. Maafkan saya, mungkin bukan saya tidak bisa memaafkan dan menerima kembali suami saya………… Tetapi mungkin lebih tepatnya……… saya belum punya kerendahan hati dan takut jika orang-orang dekat saya mengetahui rahasia keluarga saya yang telah dibungkus rapi selama ini. Karena jika sifat suami tidak berubah…….dia sangat berpotensi membuat malu saya dan merusak hubungan baik saya dengan orang-orang sekitar saya.
    10. Saya selalu mengajak anak-anak berdoa untuk ayahnya…….. sekarangpun Bulan Maria setiap hari Selasa dan Jumat malam kami berempat selalu doa Rosario. Saya selalu mengajarkan pada mereka agar hormat kepada ayahnya……… dan berusaha untuk bersyukur, karena mereka masih jauh lebih beruntung dibandingkan banyak keluarga lainnya……………..
    11. Sebenarnya…….. saya adalah pribadi yang lemah……….. walaupun dari luar kelihatan kuat ……….
    12. Mohon doa dan masukkan dari Sdr/Sdri………….. untuk menjadi pribadi yang lebih terbuka dan jujur, karena sampai saat ini saya belum bisa meminta bantuan keluarga dan gereja untuk solusi keluarga saya.

    Salam kasih
    Kr

  6. bila demikian, cobalah mengikuti saran saya untuk berbicara dengan suami anda…

    jika anda mengambil keputusan untuk menyembunyikan masalah ini dari orang lain, itu adalah pilihan anda. Anda pun tahu resiko-resikonya. saya hanya mengingatkan, jangan sampai pilihan anda ini melukai kasih kepada Allah dan juga kepada sesama, terutama anak-anak anda. Itu adalah batasan yang tidak boleh anda langgar.

    saya pikir seorang konselor pernikahan atau seorang romo tidak akan membocorkan rahasia tentang masalah yang anda ceritakan. Bagaimana pun menceritakan hal ini kepada seseorang akan sedikit banyak membantu anda untuk berdamai dengan masalah ini.

    hal lain yang saya pikirkan dan juga anda pikirkan, adalah kemungkinan suami kembali ke rumah anda di Jogya. Anda sulit menolaknya karena, tentunya, anda memilih untuk menyembunyikan kondisi sebenarnya perkawinan dan RT anda dari orang lain. Jadi hal anda terpaksa menerimanya kembali, karena bila tidak, orang akan mencurigai adanya sesuatu yang buruk telah terjadi, sebagian mulai kasak kusuk di belakang anda, atau ada yang berusaha mencari curi keterangan baik dari anda atau orang-orang di sekitar anda atau orang-orang terdekat anda dan itu bukan rencana anda bukan ?
    Saya pikir sebagian orang di sekitar anda juga mulai berpikir, bahwa jarangnya suami anda berada di rumah anda, adalah hal yang tidak wajar, tetapi mereka memilih diam ketika berada di dekat anda.

    jadi terpaksa anda menerima suami anda pulang dengan satu kekhawatiran. Itu sebabnya sebelum itu terjadi sebaiknya anda bicara dengna suami anda sedikit memberi gambaran apakah kekhawatiran anda beralasan atau tidak.

    Tetapi jika ini anda lakukan, bisa jadi suami anda menjadi marah karenanya, karena ego, harga diri, kesombongan..
    Ini bisa menjadi awal konflik terbuka yang bisa memunculkan atau menguatkan praduga atau dugaan orang-orang yang mencurigai adanya “sesuatu yang tidak wajar” dalam kehidupan perkawinan dan RT anda. Dan pada akhirnya anda tidak bisa terus menerus menyembunyikan hal ini tanpa menyiksa diri anda.

    Tetapi jika anda tidak bicara, maka kekhawatiran itu akan terus menghantui anda, seperti bom waktu yang siap meledak pada saatnya nanti.

    secara psikologis, tanpa anda sadari, semuanya itu mungkin dapat mempengaruhi anda dalam sikap dan perbuatan anda sehari-hari.. jika ini terjadi maka ingatlah di paragraf awal. jika melukai kasih kepada Allah dan kepada sesama, itulah batasan yang anda harus perhatikan.

    May God bless your steps and protect you and your children

  7. Dear ibu Kr yang baik,

    Saya menghargai kehendak ibu untuk merahasiakan masalah keluarga ibu, tidak umbar umbaran yang akan membawa malu terutama buat anak anak. Itu memang penting dan harus dilakukan. Mendhem jero mikul dhuwur, ya kan bu. Tapi untuk memperoleh bantuan kan ya perlu ada pembicaraan, tidak koq untuk ngelek-elek tapi untuk development.

    Saran saya silakan bicara dengan suami dengan bantuan konselor. Di Jogja, silakan bicara dengan Rm. Kusmaryanto SCJ di Wisma Vijaya Praya Jl. Wulung 9A. Papringan. Kotak Pos 1015. Yogyakarta 55010. Telp 0274-588700
    , beliau doktor moral di Kentungan dan pasti ibu dibantu dengan cara baik. Atau mungkin malah ibu sudah kenal beliau?

    Soal kekhawatiran/ketakutan suami tidak bisa berubah baik, itu masuk akal. wong lebih 17 tahun (mungkin karena sudah tradisi keluarganya yang pedagang itu) sudah begitu lekat dengan uang ya memang kelihatannya sulit untuk tiba tiba bisa menghargai hal hal lain selain uang. Tapi itu mengandaikan kita tidak percaya bahwa Tuhan akan membantu kita dalam segala hal dan seperti ada tertulis:
    Matius 8:26 Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.

    Berimanlah, segala yang baik pasti terjadi, maka berusahalah.

    Setelah pendampingan, baik juga retret keluarga untuk rekonsiliasi bersama.

    Semoga damai sejahtera menyelimuti keluarga ibu!

    Salam berkah Dalem, rin

  8. Dear Pak Johan dan Ibu Rin,
    Terima kasih atas segala atensi bapak dan ibu

    Saya sudah pernah membicarakan semuanya dengan suami saya…….. ketika dia secara tidak langsung, mengatakan akan tinggal bersama kami di Yogya.
    Yang belum tega saya bicarakan adalah saya sebenarnya saya keberatan dan takut kehadirannya akan merusak tatanan kehidupan kami……….
    Sampai saat ini, saya tidak tega mau bicara itu.

    Rasanya 100% benar kata pak Johan, tidak mungkin saya tidak menerima suami saya kembali ke Yogya…….. itulah masalah yang sedang saya hadapi sekarang.

    Suami saya selalu berpikiran negatif dan sering menyalahkan orang lain……….. Sementara saya terlalu lemah, tidak suka ribut, apalagi di depan anak-anak… Suami sangat temperamental dan emosional (tetapi belum pernah menyakiti secara fisik) , saya belum selasai bicara, dia sudah menarik kesimpulan.
    Rumah kami diperumahan kalau ribut saya malu dengan tetangga dan pembantu.

    Pernah saya coba menyadari dia dengan surat, langsung surat saya dirobek………… setelah itu saya tidak pernah coba lagi……..

    Pernah juga dengan cara halus membawa anak kami no. 2 ke psikolog (kebetulan putra kami satu ini tergolong anak kecerdasan diatas rata-rata, tetapi pribadi sedikit tertutup), dari hasil test psikologis tersebut terekam jelas bahwa anak mempunyai masalah dan hubungan buruk dengan ayah, anak tidak mempunyai figur ayah……… dan beserta saran-saran untuk kami orang tuanya. Ketika hasilnya saya tunjukkan ke suami, saumi saya marah-marah dan menuduh saya sengaja membangun opini agar anak memusuhinya…….. padahal itu jelas-jelas jawaban dari anak sendiri yang saat itu berusia 10 tahun

    Sulit memang untuk saya dapat berkomunikasi dengan suami……
    Di depan anak-anak kami biasa seperti ayah dan ibu lainnya…… Kalau suami datang, kami makan satu meja, berdoa selalu bersama. Saya juga memanggil dan memperlakukan suami saya dengan hormat di depan anak-anak……… Intinya tampak luar tidak ada yang salah di rumah kami tidak pernah bertengkar lagi………..

    Jika ada hajatan dan sumbangan lainnya dilingkungan tempat tinggal kami saya selalu menulis nama Suami….

    Bu rin, terima kasih banyak atas atensinya. Saya kenal baik dengan Rm. Kus (Papringan), Rm Purwo (Banteng), Rm Mali (Nandan) dll. Bahkan saya juga pernah mengenalkan suami saya dengan mereka dan pernah makan malam bersama, tetapi mereka tidak tau apa yang terjadi dibalik senyuman saya…………. Mereka bahkan dekat dengan anak-anak kami, dan telah membantu saya memotivasi anak I dan II kami untuk masuk SMA dan SMP katholik, untuk character building. Padahal anak-anak tadinya ketika ngotot ingin masuk SMA negeri terfavorit di yogya, karena Nilai UAN mereka tinggi,

    Pak Johan dan Ibu Rin….. Profesi dan pekerjaan saya sekarang tidak memungkinkan saya membuka semuanya…….. Saya masih menjadi “panutan” ribuan orang lainnya dan ratusan bawahan saya………….

    Ya…… hidup saya dilematis, Tetapi saya akan belajar menerima konsekuensi dari hidup dan perkawinan ini ……….

    Salam kasih.
    Kr

  9. Yth. Pak Johan dan Bu Rin,

    Tadi malam saya renungkan setiap kalimat yang Bapak dan Ibu tuliskan terakhir. Telah saya bawah juga dalam doa malam………..
    Pagi ini saya merasa agak nyaman…… dan benar saya butuh pertolongan orang lain sebagai mediator kami……

    Jika memungkinkan saya ingin menyelesaikan masalah ini di Jakarta….
    Denga banyak pertimbangan, rasanya saat ini situasi belum bisa kami selesaikan di yogya….

    Apakah menurut Bpk & Ibu, saya dapat berkonsulatsi dengan Romo di Paroki Stella Maris Pluit (Paroki suami saya), sepengetahuan saya suami sampai sekarang rajin ke Gereja tsb. Tetapi yang menjadi masalah, saya tidak kenal lagi dengan para Romo & dewan paroki tersebut karena terakhir ke Gereja tersebut 8 tahun yang lalu.

    Atau mungkin saya bisa berkonsultasi juga dengan Romo di Paroki St. Maria de Fatima Toasebio, tempat kami menerima sakramen perkawinan dulu?

    Yang baru terpikir oleh saya adalah …..
    Jika mungkin saya akan datang sendiri dulu ke Romo, menceritakan apa yang saya dan anak-anak rasakan dan harapan-harapan kami dari suami. Kemudian Romo memanggil suami saya secara terpisah dan menyampaikan perasaan kami dan harapan kami ke depan…..dan memberikan pengarahan…..

    Jika kami menghadap berdua ke Romo, rasanya tidak mungkin……
    1. besar kemungkinan suami akan menolak & tidak setuju ide saya
    2. Suami pasti akan intrupsi semua penjelasan saya, dan saya tidak mau bertengkar di depan Romo.

    Bagaimana menurut Bpk Johan dan Ibu Rin………
    tentang rencana ini…… Jika mungkin dapatkan saya mendapat nama dan no contact person yang dapat saya hubungi ?

    Maaf saya melibatkan Bpk & Ibu, karena saya dan suami bukan umat Paroki St. Anna. Saya dapat blog ini dari Website…

    Terima kasih banyak sudah menguatkan saya………..

    Salam kasih
    Kr

  10. Hallo semangat pagi, bu Kr!
    Saya memuji ibu untuk beberapa hal:
    1. Ibu seorang ibu sejati karena ibu melindungi sungguh anak anak ibu untuk mendapatkan keadaan psikologis yang terbaik.
    2. Ibu sungguh perempuan yang nggenah: tetap setia kepada Tuhan walaupun belasan tahun dizolimi suami.
    3. Ibu istri yang terpuji: sudah demikian disakiti pun ibu tetap baik dan menjaga martabat.
    Proficiat, proficiat, proficiat!!! Kelihatannya saya mesti belajar banyak hal dari ibu! Umur kita sama bu, kita nikah pada umur yang sama, usia perkawinan kita juga sama, hanya pengalaman perkawinan kita yang berbeda. Maka hari hari ini, selama saya menjawab pertanyaan pertanyaan ibu, di rumah saya juga merefleksi ulang perkawinan saya. Oleh karenanya saya kemudian berdoa buat ibu.

    Bu,
    Saya mendukung rencana ibu untuk menyelesaikan masalah ibu di Jakarta. Itu baik. Saya mengerti beban psikologis yang ibu rasakan kalau itu diselesaikan di Jogja.

    Saya juga mendukung rencana ibu untuk mendatangi dulu romonya, bicara dulu panjang lebar, lalu: usul saya ajak saja suami suatu saat yang sudah disepakati dengan romo untuk jalan jalan mertamu ke pastoran. Kalau Romo yang memanggil suami ibu, akan ada banyak pertanyaan dari suami,”Ngapain tuh romo manggil manggil aku?! Kamu ya ngadu ngadu ke romo?!?!?!?” Waaaahhhh…. belum apa apa sudah runyam. Maka sebaiknya misal janjian dengan romo ketemu jam 11.00 ya agak pagi suami diajak jalan jalan lalu 10.30,”Ayo mas mampir ke X, aku mau sowan romo.” Semacam itulah.

    Bu,
    Untuk apa semua perjuangan yang akan ibu lakukan? Saya kira goal ibu adalah semoga suatu saat anak anak mendapati bapaknya menjadi orang yang IESQnya seimbang baik. Kalau sekarang finance IQnya bagus, maka kelak mudah mudahan bapaknya bisa mencapai juga ESQ yang baik.

    Kalau memang itu goal ibu, maka sebaiknya ibu melakukan:
    1. Mengubah paradigma ibu tentang suami. Dari “Bakalan sulit berubah. Dia mengkhawatirkan. Jangan jangan nanti dia menyiksa batik anak anakku.” ke “Ya, Tuhan, tolonglah suamiku untuk menjadi orang yang mengasihi anak anak kami.”
    Di paradigma 1: ibu sudah kecil hati, pesimis.
    Di paradigma 2: ibu beriman kepada Tuhan bahwa Tuhan akan membantu mengubah suami, optimis. Tuhan membantu tuh membantu siapa? Ya membantu suami yang mungkin juga mesti melalui ibu.

    2. Dengan perubahan paradigma, maka mestinya berubah juga tindakan ibu terhadap suami. Saya tidak tau bagaimana bentuk komunikasi ibu dan suami tapi komunikasi antara orang yang pesimis dan orang yang optimis tentu beda. Bentuk komunikasi yang ingin saya usulkan adalah: ramah, terbuka, memberi response positif terhadap aksi yang diberikan suami walau aksi beliau senegatif apapun.
    Contohnya:
    Suami,”Kamu menghasut anak anak untuk membenci aku ya?!”
    ibu (ambil jeda, pandanglah matanya dengan ramah, tersenyumlah, tarik nafas… yaaak!!!) dengan suara lembut netral (bukan lembutnya band Netral lho ya! heheheh…),”kami selalu mendoakan bapak.”
    Suami,”Mendoakan aku bangkrut KAN!!!”
    ibu (ambil jeda, pandanglah matanya dengan ramah, tersenyumlah, tarik nafas… yaaak!!!),”Waaahhh ya nanti kami juga ikut susah to kalo begitu…”

    Biasakan menyapa suami dengan ramah walau tidak mempersilakan dia pulang ke rumah. Jangan takut ramah khawatir nanti dia pulang ke rumah anak anak menderita. Toh ibu ramah atau ketus dia tetap pulang ngambruk ke Jogja kalau nanti rumahnya beneran disita. Buat saja sedemikian pembicaraan yang membuat dia bersyukur punya keluarga yang penuh kasih.

    Soal siapa yang perlu dihubungi di Jakarta, silakan ibu japri saya ke ibnurini@suzuki.co.id
    kemarin saya bisa langsung memberitahu ibu mo Kus. Kalau sekarang saya minta japri karena romo yang hendak saya tawarkan itu sebaiknya memang tidak mbar-umbaran. Jangan khawatir, ini bukan berarti saya ingin ketemu ibu. Tidak. Hanya saja sebaiknya memang japri.

    Salam berkah Dalem, rin

  11. Menurut saya, rencana anda bisa dijalankan.. siapa pun romo yang anda temui, memang sebaiknya yang pernah mengenal anda berdua, setidaknya ada efek psikologis yang berbeda, bila yang berbicara baik kepada anda atau suami anda nanti adalah orang yang [pernah] mengenal anda dan suami anda. Jadi bisa saja bukan seorang romo tetapi seorang yang anda dan suami anda segani dan hormati.

    Tetapi tentunya anda sudah tahu dan merenungkan kemungkinan konsekuensi-nya yang negatif, yaitu bila suami anda bisa saja “tidak setuju” dengan rencana anda itu.

    saya pikir, strateginya sebaiknya memang anda menceritakan dulu kepada romo atau panutan. tetapi untuk pertemuan ke-2, [karena anda merasa yakin bila anda yang mengajak suami akan menolak], maka diatur “seakan-akan” romo atau panutan yang ingin bertemu dengna kalian berdua [bukan hanya suami anda]. Tentunya setelah itu, suami akan tahu, bahwa itu semua sudah di atur.

    sehingga romo atau panutan bisa menjadi sekaligus “saksi”, ketika masalah diungkapkan di hadapan suami anda.

    yang perlu ditekankan di sini apa objective dari pertemuan itu.

    1. apakah untuk sekedar menyampaikan kekhawatiran anda kepadanya
    2. apakah untuk memastikan suami anda tidak mengganggu kehidupan anda dan anak-anak saat ini dengan hutang-hutangnya
    3. apakah untuk menyadarkan suami anda untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar (ini adalah tujuan yang paling ideal, namun paling sulit dicapai, resiko gagalnya besar apabila suami tidak tulus, hanya basa-basi, hanya supaya masalahnya sendiri beres, dst. bahkan sulit mengukur ketulusan, tetapi bisa dilihat tanda-tandanya bila ada perubahan yang positif, seperti apabila suami tidak merengek-rengek atau merecoki atau menuntut sesuatu dari anda karena hutang-hutangnya, bahkan ia tidak pernah menceritakannya atau meminta simpati dari anda, lebih menghabiskan waktu bersama keluarga terutama anak-anak, jujur, terbuka dan menceritakan semua rencananya kepada anda, tidak pergi tanpa memberitahukan kemana anda pergi kepada anda, membantu anda membereskan pekerjaan rumah, tidak menerima telepon dengan mengecilkan suara atau bisik-bisik ketika bersama anda dan anak-anak anda, tidak senyum senyum sendiri ketika membaca sms dan tidak mau menceritakannya kepada anda atau tidak memperbolehkan anda tahu,dst..

    coba terlebih dulu anda renungkan apa yang hendak anda dapatkan dari konseling ini untuk anda dan suami anda..

    mengenai no telp.. maaf saya tidak memiliki data (nanti kalo sempat saya bantu browse di internet).. tetapi memang sebaiknya bisa menghubungi paroki dulu untuk janjian dengan romonya..

    untuk sementara itu dulu..

    May God bless your steps..

  12. Terpujilah Bapa di sorga, karena Kasihnya telah tercurah kpd. Ibu sehingga memiliki KASIH yang tanpa batas, cerita ini memberikan motifasi bagi saya untuk memiliki KASIH tanpa mengharapkan balasan.

    God Bless You

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>