Perceraian, pernikahan kembali, dan akses pada sakramen

Bagi mereka yang mengalami masalah perkawinan, terutama perkawinan dengan janda/duda cerai katolik, mungkin penjelasan dari Monsignor Eugenio Zanetti selaku pemimpin Pengadilan Gerejawi di wilayah Lombardia, Italia akan memberi pencerahan tanpa ada kesan penghakiman dan pengecaman (Kiriman dari Fongli, Admin).

“Bercerai dan menikah kembali secara sipil – mengapa tidak boleh dan kapan boleh menyambut Komuni”

Oleh: Shirley Hadisandjaja Mandelli

Tidak dapat dipungkiri bahwa kasus-kasus perceraian di Indonesia ditemukan juga di kalangan umat Kristen dan Katolik. Masalah perceraian di dalam lingkungan Gereja, khususnya Gereja Katolik di Indonesia di mana umat kebanyakan masih memiliki rasa hormat dan patuh terhadap ajaran Gereja Katolik dan meyakini kesucian dari Sakramen Pernikahan, menjadi masalah yang pelik karena melibatkan seluruh aspek kehidupan. Gereja Katolik mengajarkan bahwa di dalam Sakramen Pernikahan terletak hubungan cinta-kasih yang tak terpisahkan baik antara pria dan wanita yang disatukan oleh sakramen itu, namun yang jauh lebih penting hubungan cinta-kasih antara Allah dan manusia. Melalui pernikahan yang diresmikan oleh Gereja itu tercipta sebuah kehidupan menggereja yang lengkap, yang melibatkan pasangan suami istri (pasutri).
Di Indonesia, tema perceraian di dalam lingkungan gereja ini jarang diangkat ke permukaan, sehingga menyebabkan banyak terjadi kerancuan dan kesalahpahaman di antara umat akan pandangan Gereja dan penilaian umat kebanyakan terhadap orang-orang yang menderita perceraian itu.

Lalu di dalam kenyataannya, saat kehidupan pernikahan meretak dan perceraian tak terelakkan, bagaimanakah sesungguhnya sikap Gereja Katolik terhadap orang-orang yang terlibat di dalamnya? Apakah pasutri yang berpisah dan bercerai masih dapat menerima Komuni? Dan apabila tidak, mengapa? Di Eropa dan negara-negara Barat, ini adalah beberapa hal yang banyak ditanya orang terhadap aturan Gereja Katolik, yang sering didengungkan, dan bahkan di antara umat sendiri banyak keraguan dan luka yang menyakitkan hati nurani. Pertanyaan-pertanya an itu menjadi suatu hal yang sangat aktual.

Di dalam wawancara yang dilakukan oleh Avvenire, surat kabar CEI (Konferensi Waligereja Italia) dengan Monsignor Eugenio Zanetti, selaku pemimpin Pengadilan Gerejawi di wilayah Lombardia, Italia dan penanggungjawab dari kelompok “La Casa”, yang di bawah keuskupan Bergamo melakukan bimbingan rohani dan konsultasi kanonik bagi pasutri yang bepisah, bercerai atau menikah kembali secara sipil, artikel ini hendak mengajak umat Kristen dan Katolik di Indonesia untuk mencoba memahami dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanya an hangat yang timbul di dalam tema perceraian.

*Monsignor Zanetti, bagaimanakah sebenarnya kedudukan dari pasutri yang berpisah dan bercerai dihadapan akses kepada sakramen-sakramen?

Seperti yang dijelaskan dengan sangat baik dalam Komisi pelayanan keluarga bagi Gereja di Italia dan di dalam dokumen lainnya. Diperlukan untuk membedakan antara mereka yang berada dalam situasi “perpisahan” , dengan “perceraian” , dan dengan “ikatan sipil yang baru”. Bagi yang berpisah (yang tidak sedang menjalin sebuah hubungan intim baru), terutama bagi mereka yang menderita perpisahan itu sendiri tidak ada hambatan untuk memiliki akses kepada Sakramen Tobat dan Komuni. Namun, jika orang dalam status berpisah itu memiliki tanggung jawab yang besar dan mungkin telah menyakiti pasangan atau anak-anaknya, maka untuk mengakses sakramen-sakramen yang bermanfaat harus melakukan jalan pertobatan dan, jika mungkin, memperbaiki keburukan yang telah dilakukan. Selain itu, tugasnya terhadap anak-anak mereka tidak menjadi berkurang. Jangan lupa bahwa sakramen-sakramen bukanlah tindakan sihir, tetapi melibatkan jalan pertobatan dan iman yang otentik. Jika orang yang berpisah itu, meskipun tidak hidup bersama di luar ikatan pernikahan dengan orang lain (kohabitasi) , menjalankan hidup tak bermoral seperti melakukan free-sex, dia tidak berada dalam posisi yang layak untuk menerima sakramen-sakramen.

*Dan bagi mereka yang telah berpisah, dan sekarang dalam status bercerai, apa yang terjadi?

Mari kita bicara sekarang tentang orang-orang yang bercerai, yang belum memulai sebuah perkawinan baru secara sipil atau kohabitasi. Untuk Gereja, pernikahan yang sekali dirayakan dengan sah, adalah untuk selamanya, artinya tidak bisa dihapus oleh kekuatan manusia. Jadi, jika pada beberapa kesempatan dan dalam kondisi tertentu, Gereja dapat mengenali legitimasi perpisahan demi menghindari keburukan yang lebih besar, namun tetap menganggap negatif sebuah tahap perceraian. Jadi jika seseorang telah menempuh perceraian ingin menghapus pernikahannya dan mungkin akibatnya menyebabkan rasa sakit lebih lanjut dan melukai pasangan atau anak-anak lainnya, untuk memiliki akses kepada sakramen-sakramen, ia harus menunjukkan pertobatan yang tulus dan, sedapat mungkin, menjalankan tindakan perbaikan. Sebaliknya bagi mereka yang menjadi korban perceraian atau yang mengalaminya demi melindungi kepentingan sah mereka sendiri atau anak-anak mereka (tanpa maksud menghina pernikahan itu, dan yang masih dianggap menikah di hadapan Tuhan dan Gereja), tidak ada hambatan obyektif untuk menerima sakramen-sakramen.

*Jadi apa hambatan yang efektif: perceraian itu sendiri atau hidup bersama dengan orang lain (kohabitasi) setelah perceraian?

Bagi mereka yang berpisah atau bercerai, apa yang mencegah akses kepada sakramen-sakramen, selain daripada kondisi moral yang tidak sesuai, adalah kenyataan objektif untuk telah memprakarsai pernikahan baru atau kohabitasi. Pilihan inilah, selain daripada perpisahan atau perceraian, yang menimbulkan kondisi serius yang bertentangan dengan Injil Tuhan tentang cinta-kasih antara seorang pria dan seorang wanita yang diikat dalam pernikahan.

Sebuah ajaran Kristen yang terus menerus diberikan oleh Gereja Katolik dengan menawarkan kepada manusia sebuah pilihan pernikahan yang satu dan tak terpisahkan, yang setia dan terbuka pada kehidupan demi kebaikan pasangan dan anak-anak: sebuah cinta yang mencerminkan dan menunjukkan kualitas yang sama dari cinta Allah kepada manusia dan yang menemukan di dalam hubungan Yesus dengan Gereja contoh dan perantaraanNya melalui Gereja. Pernikahan secara agama adalah sebuah realitas yang tak terhapuskan, sama seperti cinta Ilahi bagi manusia yang tak terhapuskan dan kekal.

Siapapun yang memulai sebuah ikatan baru yang bertentangan dengan pilihannya seperti yang ditunjukkan oleh Tuhan dan oleh karenanya masuk ke dalam suatu kondisi obyektif yang disebut tidak teratur. Dan justru kondisi tak beraturan inilah yang tidak memberikan syarat-syarat yang cukup untuk memiliki akses kepada sakramen-sakramen. Ini tidak berarti memberikan penilaian atas kesadaran hati nurani, yang mana hanya Allah yang dapat melihat. Selain itu, kenyataan untuk tidak memiliki akses kepada sakramen-sakramen bukanlah sebuah indikator mutlak atas pengecualian dari kehidupan Gereja; mereka yang bercerai dan menikah kembali dapat terus melakukan perjalanan iman yang melibatkan dan membuat mereka aktif dalam komunitas gerejawi.

*Seseorang bertanya: Mengapa tidak dapat menerima komuni orang yang, sementara tidak memiliki pernikahan secara agama, namun yang sudah menikah secara sipil dengan orang lain yang telah bercerai?

Rintangan untuk akses kepada sakramen-sakramen, sebagaimana telah disebutkan, adalah pilihan untuk memulai ikatan seperti pernikahan yang tidak didasarkan pada pernikahan secara agama. Jadi orang-orang yang belum menikah, lalu memutuskan untuk memulai sebuah pernikahan sipil atau kohabitasi dengan orang lain yang telah berpisah atau bercerai, dan mengetahui bahwa pasangan mereka itu sudah terikat dalam sebuah pernikahan dan akibatnya mereka tidak dapat melaksanakan suatu pernikahan secara Kristen; tetap memutuskan untuk memulai ikatan dengannya. Gereja, yang di hadapkan kepada keputusan ini, meskipun tetap menghargai orang-orang itu, bagaimanapun juga harus memberikan pelayanan kebenaran, yang juga merupakan tindakan amal dalam mengingatkan orang-orang ini tentang konsekuensi dari pilihan mereka itu. Tetapi bahkan orang-orang ini dapat terus membuat perjalanan iman dan kemajuan di dalam lingkungan Gereja.

*Tapi mengapa pembunuh yang bertobat dan mengaku dosa secara teratur dapat menerima komuni, sedangkan orang bercerai yang akhirnya menikah lagi dan membuktikan dirinya sebagai suami dan orang tua yang baik tidak dapat melakukannya?

Penilaian atas kenyataan bahwa seseorang berada baik dalam kondisi obyektif untuk mengakses atau kurang memiliki akses kepada sakramen-sakramen, tidak dimaksudkan sebagai suatu penilaian atas kesadaran hati nuraninya: penilaian ini yang hanya dapat dilakukan oleh Allah. Jadi, berhenti dan membuat perbandingan dengan orang lain sama sekali tidak menguntungkan, sebaliknya kita harus selalu memiliki hati, selain kepada keselamatan kita, juga kepada orang lain, sebagaimana Yesus telah mengajarkan.

Jadi kita tidak perlu menghebohkan diri jika saudara kita yang melakukan kejahatan serius seperti pembunuhan, membuat jalan pertobatan, memeriksa diri dan memperbaiki dirinya secara otentik, menerima pengampunan dari Allah melalui sakramen Pengakuan dosa. Bahkan kepada orang-orang yang hidup dalam situasi pernikahan yang tidak teratur, Yesus mengusulkan sebuah perjalanan tobat; dan tentu saja dengan cara ini terdapat nilainya yaitu suatu komitmen yang serius dalam mengasihi orang-orang terdekat, dalam mendidik anak-anak, dalam berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, bertindak aktif dalam amal dan sosial.

Dan di dalam tugas pelayanan Gereja untuk mengatur kehidupan spiritual, mereka yang tinggal dalam situasi pernikahan tak teratur ini, dapat menikmatinya juga sesuai yang diijinkan oleh kondisi pilihan hidup mereka itu. Jika mereka memutuskan untuk tidak mengubah gaya hidup mereka yang bersifat suami-istri, sehingga bertentangan dengan ajaran Kristen, mereka tidak akan memiliki akses kepada sakramen-sakramen, karena buah dari sakramen-sakramen yang akan diterima memerlukan niat untuk hidup sesuai ajaran yang ada. Namun bagi mereka, ada cara-cara dan jalan-jalan pertobatan dan persekutuan lain, yang meskipun saat ini tidak sampai pada kepenuhan sakramen, tetapi, cenderung berhadapan dengan Belas kasihan dan cinta Allah.

*Apa yang terjadi jika orang yang bercerai lalu menikah lagi mengakhiri pernikahannya dengan pasangannya yang sudah menkah secara sipil? Lalu ada lagi, apakah juga dapat menerima komuni, orang yang meskipun berada dalam kondisi seperti dalam pertanyaan sebelumnya, diketahui telah memiliki ikatan luar nikah atau dalam situasi pribadi yang mengilhami skandal dalam komunitas Gereja?

Kita seharusnya tidak menghadapi saudara-saudara kita dengan sikap menghakimi atau mengecam; hal ini karena dari luar tidak selalu memungkinkan untuk mengetahui dan menilai kerumitan kehidupan seseorang. Tetapi, ini tidak berarti meninggalkan semuanya kepada penilaian dan keputusan pribadi atau individualis; sebaliknya semua orang harus menghadapi dirinya dengan ajaran Gereja dan mengandalkan panduan dari pembimbing rohani yang bijaksana. Kemudian, jika pada suatu saat mereka yang menjalani situasi pernikahan yang tidak teratur memutuskan untuk melanjutkan hidup bersama, tapi tidak melakukan hubungan seksual, atau jika berhenti untuk hidup bersama, ada perpisahan atau perceraian atas pernikahan sipil, atau ada kematian salah seorang pasangan, maka menjadi berkurang halangan obyektif untuk memiliki akses kepada sakramen-sakramen.

Namun, hal itu memerlukan evaluasi dari totalitas kehidupan moral dan agama orang tersebut dan tindakan jalan pertobatan yang efektif, sehingga saat boleh menerima kembali sakramen-sakramen, menempatkan dirinya dalam perjalanan iman yang nyata dan dalam kehidupan menggereja yang dihormati. Dalam semuanya ini, Gereja melihat kasusnya satu per satu dan memberikan perhatian untuk menghindari perjalanan orang-orang ini menjadi sebuah skandal bagi umat lainnya. Ini berlaku untuk semua orang, (dan bahkan dengan perhatian lebih) bagi mereka yang memegang peranan publik tertentu.*

7 Responses to “Perceraian, pernikahan kembali, dan akses pada sakramen”

  1. Nama saya AA dan melalui website ini saya mohon bantuan atas masalah yang saya alami dan beberapa waktu yang lalu saya sempat menelpon bp.Johan dan bercerita tentang masalah saya via telpon,karena saya memang tidak berada di indonesia, dan sewaktu saya ada jadwal ke jakarta saya bermaksud ingin berkonsultasi ke tempat bp.johan tapi dikarenakan bapak Johan sedang berhalangan dikarenakan tamu dan tidak dapat ditinggalkan yaitu ibu/bapak mertuanya datang dari Surabaya.
    Bagaimana caranya saya dapat berkonsultasi kembali dengan bp.johan karena saya kehilangan nomor telepon beliau ?
    Mohon hubungi email saya dan nanti saya yang akan telpon balik ke Bp.Johan
    Terima kasih GBU

  2. bagaimana cara atw proses pembatalan pernikahan….apa ada ketentuan atw kriteria yg bs melakukan pembatalan pernikahan???

  3. Salam,
    Jika boleh sy ingin minta pencerahan
    Sy seorang duda cerai, agama protestan. Mantan istri sy seorang Katolik, kami menikah secara protestan dan belum mengajukan permohonan dispensasi dari gereja Katolik. Sekarang mantan istri sy sudah menikah secara Katolik.
    Sy sekarang sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita Katolik dan sedang merencanakan untuk menikah secara Katolik.
    Apakah akan ada masalah dalam pengurussannya mengingat status sy yg duda cerai?
    Apa proses pengurusan yg harus sy lalui?
    Mohon bantuan dari rekan2 untuk memberi pencerahan dalam masalah sy.
    Thanks & GBU.

  4. saya dan pasangan sama2 menikah secara katolik. status kami berdua (janda-duda) sekarang kami ingin menikah kembali secara katolik. apakah memungkinkan? syarat apa saja yang harus kami lakukan
    thanks GBU

  5. Bila status kalian janda dan duda karena pasangan kalian meninggal dunia, maka status kalian liber (bebas) untuk menikah di dalam Gereja Katolik. Selain itu, kalian tidak bisa menikah dalam Gereja Katolik hingga pasangan kalian masing-masing meninggal dunia, atau bahwa ternyata pernikahan kalian masing-masing tersebut ternyata cacat sejak mulanya, sehingga mendapatkan status NULL (Anulasi) dari tribunal Gereja.

  6. @Firman,

    Pernikahan Katolik dengan PRotestan bisa jadi bersifat sakramen karena baptisan Protestan yang sah menurut GK. Si Katolik tidak bisa menikah begitu saja sebelum perkawinannya terdahulu mendapatkan status NULL. Itu sebabnya isteri ada seharusnya tidak bisa begitu saja menikah walau secara hukum negara sudah diceraikan.

    Jadi sebaiknya anda mencoba menanyakan hal ini kepada paroki dimana sang isteri mencatatkan perkawinannya yang ke-2, apakah status NULL tersebut sudah ia dapatkan dari TRIBUNAL.

    Jika sudah, maka status anda pun menjadi LIBER dan bisa menikah di dalam GK.

  7. jika saya pernah menikah secara agama lain, dan saya kemudian berpisah. Apakah pernikahan tersebut diakui secara GK, dan saya tidak diperbolehkan menikah lagi di gereja?

    terima kasih.

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>