Peraturan Pantang & Puasa
PERATURAN PANTANG DAN PUASA
KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA
UNTUK TAHUN 2011
TEMA: MARI BERBAGI
Masa Prapaskah/Waktu Puasa Tahun 2011 dimulai pada hari Rabu Abu, 9 Maret sampai dengan hari Sabtu, 23 April 2011.
“Semua orang beriman kristiani menurut cara masing-masing wajib melakukan tobat demi hukum ilahi” (KHK k.1249). Dalam masa tobat ini Gereja mengajak umatnya “secara khusus meluangkan waktu untuk berdoa, menjalankan ibadat dan karya amalkasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang” (ibid). Semua umat beriman diajak untuk memelihara suasana tobat dan mengisi masa tobat ini dengan berbagai keutamaan hidup beriman dan tidak mudah terpengaruh atau mengikuti suasana lain di luar suasana khusus gerejani iini:
Dalam Masa Prapaskah kita diwajibkan:
- Berpantang dan berpuasa pada hari Rabu, 9 Maret dan hari Jumat Suci, 22 April 2011. Pada hari Jumat lain-lainnya dalam Masa Prapaskah hanya berpantang saja.
- Yang diwajibkan berpuasa menurut Hukum Gereja yang baru adalah semua yang sudah dewasa sampai awal tahun ke enam puluh (KHK k.1252). Yang disebut dewasa adalah orang yang genap berumur delapanbelas tahun (KHK k.97 &1).
- Puasa artinya: makan kenyang satu kali sehari.
- Yang diwajibkan berpantang: semua yang sudah berumur 14 tahun ke atas (KHK k.1252).
- Pantang yang dimaksud disini: tiap keluarga atau kelompok atau perorangan memilih dan menentukan sendiri, misalnya: pantang daging, pantang garam, pantang jajan, patang rokok.
Kita semua diajak untuk member perhatian kepada saudara-saudara kita yang berkekurangan dengan cara berbagi untuk mereka. Secara khusus selama masa prapaskah kita merefleksikan dan mendalami sikap iman ini. Maka kita masing-masing diajak untuk mewujudkan keutamaan ini dalam hidup setiap hari sebagai syukur atas kasih Tuhan dan wujud pertobatan kita. Semoga dengan demikian relasi kita dengan Tuhan semakin dekat; kita semakin banyak mengalami kasih-Nya, persaudaraan dan kepedulian kita semakin ditingkatkan.
- Baiklah jika kita semua saling mendukung dengan memelihara masa tobat ini. Maka sangat dianjurkan agar perkawinan-perkawinan sedapat mungkin tidak dilaksanakan dalam masa Prapaskah (juga Adven), kecuali ada alasan yang berat. Pastor paroki dimohon secara bijaksana mencermati dan mengambil kebijakan sebaik mungkin dalam situasi dan kebutuhan pelayanan umat ini.
- Bila ada perkawinan yang karena alasan yang bisa dipertanggungjawabkan dilangsungkan dalam masa Prapaskah atau Adven, atau pada hari lain yang meliputi suasana tobat, pastor paroki hendaknya memperingatkan para mempelai agar mengindahkan suasana tobat itu, misalnya jangan mengadakan pesta besar (Upacara Perkawinan, Komisi Liturgi 1976, hal 14),
- Untuk mengurangi kemungkinan menimbulkan batu sandungan.
Mari kita mensyukuri belaskasih Tuhan dan berusaha untuk membagikannya kepada sesama kita, terutama mereka yang sangat membutuhkan.
Jakarta, 5 Maret 2011
Mgr. Ignatius Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Jakarta







Yang dimaksud dengan “Puasa artinya: makan kenyang satu kali sehari”, bagaimana?
Apa dalam sehari hanya makan 1 kali makan dan kenyang?
atau, makan dalam sehari 2 kali tapi hanya 1 kali kenyang?
Terima kasih,
-Phandu-
St. Algonz
Dear Mas Phandu,
Puasa itu menahan lapar untuk tujuan tertentu. Sebagai silih atas dosa, sebagai permohonan rahmat dan sebagai latihan rohani. Maka, yang namanya nahan lapar ya bertahanlah dalam kelaparan. Tapi tetap harus manusiawi dan tetap dijaga kondisi bahwa kita harus tetap harus bisa bersyukur kepada Tuhan. Mengapa bersyukur itu harus tetap dijaga? Itu karena puasa kita lakukan dalam hubungan mesra kita dengan Tuhan. Kalau kita tidak lagi bisa bersyukur, tentu hubungan mesra itu terganggu, lalu puasanya jadi malah bikin tambah dosa.
Tujuan puasa adalah agar hubungan mesra kita dengan Tuhan semakin baik oleh karena kita semakin sempurna semakin menyerupai Tuhan. (Matius 5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.)
Maka puasa sebagai salah satu alat untuk menjadikan kita sempurna dan mesra dengan Tuhan.
Sebetulnya, Gereja Katolik meminta kita puasa yakni menahan lapar terhadap segala yang jahat. Puasa makanan itu hanya latihan supaya kita tau,”O, begini to yang namanya menahan lapar. Begini to yang namanya tidak mengumbar nafsu.” Setelah itu ya latihan rohani yang sesungguhnya yakni:
Menahan lapar terhadap keinginan keinginan nonton porno, zinah, mencuri, korupsi, menjauh dari Tuhan dengan tidak menghadiri Misa, tidak berdoa, dll.
So,
untuk menjaga agar kita tetap manusiawi,
untuk menjaga agar kita tetap bersyukur,
tetap mesra dengan Tuhan
tapi secara rohani kita berkembang menjadi semakin sempurna
maka silakan: kalau mampu, merasa kenyang 1x sehari saja. Kalau kuat hanya makan 1x itu saja dan 24 jam tidak makan lainnya ya monggo.
Tapi kalo gak kuat, misalnya dalam 24 jam kita makan 2x yang 1 sedikit hanya supaya perut tidak sakit, lalu 1 yang kenyang ya boleh juga. kalo gak kuat juga: 3x juga boleh 1x sedikit supaya perut tidak sakit, 1x kenyang 1x sedikiiiit lagi. Harus jaga supaya tidak sakit supaya tetap bisa bersyukur dan tidak malahan mencaci Tuhan hanya karena berpuasa.
Tapi kalo 5x sedikit 1x kenyang itu namanya nyicil makan.
kalo 10x sedikit itu lebay gak niat puasa! Apa lagi kalo sepanjang siang tidak makan lalu sepanjang malam makan sepuas-puasnya, itu hanya memindahkan jam makan aja.
Sebagai sharing:
ada teman yang setiap kali hari puasa dia malah cepat marah/ mengumpat kepada teman sekantor. Pertanyaannya: buat apa dia puasa, kalo kelakuannya makin buruk?
Yesus berpuasa, tapi Yesus tidak pernah memaksa kita puasa. Menjadi sempurna adalah ketika dapat mengasihi Tuhan, sesama dan diri kita dengan tulus hati seperti Tuhan mengasihi kita.
Salam berkat Tuhan, rin