<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Pengalaman Retret (7): Ketiadaan Diri dalam Pusaran Hidup Sehari-Hari</title>
	<atom:link href="http://gerejastanna.org/pengalaman-retret-7-ketiadaan-diri-dalam-pusaran-hidup-sehari-hari/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gerejastanna.org/pengalaman-retret-7-ketiadaan-diri-dalam-pusaran-hidup-sehari-hari/</link>
	<description>Situs Resmi Gereja St. Anna - Paroki Duren Sawit, Jakarta Timur</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Sep 2010 06:57:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: LF</title>
		<link>http://gerejastanna.org/pengalaman-retret-7-ketiadaan-diri-dalam-pusaran-hidup-sehari-hari/comment-page-1/#comment-1059</link>
		<dc:creator>LF</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 00:41:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=450#comment-1059</guid>
		<description>Terima kasih Kang TH.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih Kang TH.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: TH</title>
		<link>http://gerejastanna.org/pengalaman-retret-7-ketiadaan-diri-dalam-pusaran-hidup-sehari-hari/comment-page-1/#comment-1057</link>
		<dc:creator>TH</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 06:47:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=450#comment-1057</guid>
		<description>Stay cool &amp; menyatu dengan alam kosmik &amp; Tak terselami...uhm nice keywords...!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Stay cool &amp; menyatu dengan alam kosmik &amp; Tak terselami&#8230;uhm nice keywords&#8230;!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: LF</title>
		<link>http://gerejastanna.org/pengalaman-retret-7-ketiadaan-diri-dalam-pusaran-hidup-sehari-hari/comment-page-1/#comment-1036</link>
		<dc:creator>LF</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 31 Jul 2009 12:42:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=450#comment-1036</guid>
		<description>Adalah tidak mudah memberikan perhatian terus menerus pada saat sekarang dengan melepas segala pikiran dan emosi yg biasa menyertai kemanapun kita melangkah.  Saat disadari ada pikiran yg masuk, pikiran itu sudah merambat sepersekian detik atau menit.  Seperti juga penulis buku Pengalaman Tanpa Diri Bernadett Roberts yg pada suatu hari tidak dapat menemukan sandalnya dan disaat lain ia terkejut ketika membuka pintu lemari es menyadari sesuatu yang tak terduga ada didalamnya, bulan-bulan pertama mengikuti meditasi ini saya mengalami hal yg serupa entah itu menutup panci besar dengan tutup sejenis yg lebih kecil atau sebaliknya.  Kejadian seperti ini berulang terjadi sehingga anak saya yg memperhatikan saya tersenyum geli.  Disaat lain saya memakai sandal jepit yg tidak sama untuk kaki kanan dan kaki kiri dan melangkah keluar pintu rumah, begitu mendekati pintu pagar pandangan mata menatap aneh pada sepasang kaki ini.

Juga tidak mudah menerima pikiran yg datang apa adanya dan membiarkan pikiran pergi apa adanya tanpa memberi komentar.  Batin ini bergerak mengikuti pikiran untuk memberi komentar batin terhadap emosi halus yg menyenangkan atau tidak menyenangkan.
Kotoran batin sering membuat diri ini terperangkap pada satu gagasan, ide, atau emosi.

Waktu demi waktu berlalu, diri ini lepas dari bayangan masa lalu masa depan dan batin yg bicara sendiri, tanpa perjuangan.  Pikiran dan perasaan tidak lagi mendera. Aku tidak ada di puncak gunung aku tidak ada di kedalaman laut, gunung dan laut tidak ada.  Keheningan bertambah dalam.  Berdoa tak bisa lagi dengan kata-kata, saya hanya diam dalam keheningan menyadari keheningan yg tak terbatas, hanya memandang salib besar di dinding altar gereja sementara napas, pikiran, suara dan lainnya seolah berhenti sendiri tanpa keinginan untuk menghentikan atau mengubahnya.  Diri ini seperti menjadi satu dengan alam kosmis dan Yang Tak Terselami, sumber pengetahuan Tertinggi, Energi dasyat dan ajaib, sesuatu di dalam diri yg bukan bagian dari diri, but, tidak terpisahkan dari diri ini.

Ketika kaki melangkah dalam keseharian, saya menikmati setiap gerak langkah kaki sebagaimana gerak itu sendiri tanpa kegiatan berpikir tanpa percakapan batin.  Saya menikmati perhatian yg tidak terbagi dalam hidup harian, bersatu dengan kehidupan itu sendiri.

Terimakasih kepada Tuhan yg setia menjawab doa saya membangunkan saya di pagi buta untuk meniti jalan rohani ini, terimakasih kepada Romo Sudrijanta.  Romo, jangan bosan membimbing saya, pliiss.

Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Adalah tidak mudah memberikan perhatian terus menerus pada saat sekarang dengan melepas segala pikiran dan emosi yg biasa menyertai kemanapun kita melangkah.  Saat disadari ada pikiran yg masuk, pikiran itu sudah merambat sepersekian detik atau menit.  Seperti juga penulis buku Pengalaman Tanpa Diri Bernadett Roberts yg pada suatu hari tidak dapat menemukan sandalnya dan disaat lain ia terkejut ketika membuka pintu lemari es menyadari sesuatu yang tak terduga ada didalamnya, bulan-bulan pertama mengikuti meditasi ini saya mengalami hal yg serupa entah itu menutup panci besar dengan tutup sejenis yg lebih kecil atau sebaliknya.  Kejadian seperti ini berulang terjadi sehingga anak saya yg memperhatikan saya tersenyum geli.  Disaat lain saya memakai sandal jepit yg tidak sama untuk kaki kanan dan kaki kiri dan melangkah keluar pintu rumah, begitu mendekati pintu pagar pandangan mata menatap aneh pada sepasang kaki ini.</p>
<p>Juga tidak mudah menerima pikiran yg datang apa adanya dan membiarkan pikiran pergi apa adanya tanpa memberi komentar.  Batin ini bergerak mengikuti pikiran untuk memberi komentar batin terhadap emosi halus yg menyenangkan atau tidak menyenangkan.<br />
Kotoran batin sering membuat diri ini terperangkap pada satu gagasan, ide, atau emosi.</p>
<p>Waktu demi waktu berlalu, diri ini lepas dari bayangan masa lalu masa depan dan batin yg bicara sendiri, tanpa perjuangan.  Pikiran dan perasaan tidak lagi mendera. Aku tidak ada di puncak gunung aku tidak ada di kedalaman laut, gunung dan laut tidak ada.  Keheningan bertambah dalam.  Berdoa tak bisa lagi dengan kata-kata, saya hanya diam dalam keheningan menyadari keheningan yg tak terbatas, hanya memandang salib besar di dinding altar gereja sementara napas, pikiran, suara dan lainnya seolah berhenti sendiri tanpa keinginan untuk menghentikan atau mengubahnya.  Diri ini seperti menjadi satu dengan alam kosmis dan Yang Tak Terselami, sumber pengetahuan Tertinggi, Energi dasyat dan ajaib, sesuatu di dalam diri yg bukan bagian dari diri, but, tidak terpisahkan dari diri ini.</p>
<p>Ketika kaki melangkah dalam keseharian, saya menikmati setiap gerak langkah kaki sebagaimana gerak itu sendiri tanpa kegiatan berpikir tanpa percakapan batin.  Saya menikmati perhatian yg tidak terbagi dalam hidup harian, bersatu dengan kehidupan itu sendiri.</p>
<p>Terimakasih kepada Tuhan yg setia menjawab doa saya membangunkan saya di pagi buta untuk meniti jalan rohani ini, terimakasih kepada Romo Sudrijanta.  Romo, jangan bosan membimbing saya, pliiss.</p>
<p>Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ibnurini</title>
		<link>http://gerejastanna.org/pengalaman-retret-7-ketiadaan-diri-dalam-pusaran-hidup-sehari-hari/comment-page-1/#comment-1035</link>
		<dc:creator>ibnurini</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 31 Jul 2009 10:26:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=450#comment-1035</guid>
		<description>Hallo mo!

Setahun dua tahun lalu saya ikut belajar meditasi dengan romo tapi gagal to karena saya terlalu cerewet hehehehhhh...  Tapi bukan berarti si cerewet gak bisa menikmati &quot;Tiada dalam pusaran kegiatan sehari hari&quot; to mo...

Kalo baca penjelasannya bu CS, kondisi itu bisa juga dicapai dengan meningkatkan EQ.  Peningkatan EQ bisa dicapai dengan kesadaran akan manfaat positif berkecerdasan emosional.

dalam cerita yang sama, menyetir mobil, saya selalu bisa bikin pilihan: apa mau marah terhadap motor atau stay cool.  Dalam latihan berkesadaran bahwa stay cool akan membawa manfaat positif bagi hidupku, maka tanpa berpikir pun saya akan stay cool.  selain karena toh semakin banyak motor jalan di jalanan, sebagiannya adalah rejeki bagi kantong saya.  jadi pamali saya menghujat motor.

Cerita lain:  dalam pelayanan di kantor saya sering harus menghadapi konsumen yang marah.  karena saya memang dibayar untuk melayani mereka maka profesionalitas saya sedikit banyak tergantung dari apakah saya cerdas mengelola emosi.  Yang lebih parah, pelayanan di luar kantor.  Sudah capek, tidak dibayar, masih juga harus menghadapi orang omong jelek.  Mau marah?  untuk apa?  memang begitulah pelayanan.  menjadi pelayan adalah menjadi tiada.  harus mendahulukan yang dilayani.  kesadaran kesadaran itulah yang membuat saya tetap stay cool.

&quot;Kamu itu siapa, rin?&quot;  
&quot;Aku bukan siapa siapa.&quot; 
so, gak usah repot marah, hadapi saja dengan senyuman. semakin dapat mengelola emosi, semakin besar kemungkinan dapat mengelola relasi.  Lebih cepat kita bisa mengelola relasi dari pada mitra relasi kita, maka kita bisa mengarahkan jalannya relasi.  Soal apakah kita mau win - win atau mau win - loose ya terserah kita.

Maaf, karena saya tidak sukses meditasi maka saya tidak bisa cerita apa bedanya kesadaran tersebut melalui meditasi.  Yang saya rasakan sih kalau sudah terbiasa, maka semuanya berjalan dengan sendirinya, tidak pakai dipikir.  jadi tidak capek.  malah karena kita proaktif tapi stay cool jadi kita bisa menguasai gelanggang relasi.

Romo kerso memberi masukan?


salam, rin</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hallo mo!</p>
<p>Setahun dua tahun lalu saya ikut belajar meditasi dengan romo tapi gagal to karena saya terlalu cerewet hehehehhhh&#8230;  Tapi bukan berarti si cerewet gak bisa menikmati &#8220;Tiada dalam pusaran kegiatan sehari hari&#8221; to mo&#8230;</p>
<p>Kalo baca penjelasannya bu CS, kondisi itu bisa juga dicapai dengan meningkatkan EQ.  Peningkatan EQ bisa dicapai dengan kesadaran akan manfaat positif berkecerdasan emosional.</p>
<p>dalam cerita yang sama, menyetir mobil, saya selalu bisa bikin pilihan: apa mau marah terhadap motor atau stay cool.  Dalam latihan berkesadaran bahwa stay cool akan membawa manfaat positif bagi hidupku, maka tanpa berpikir pun saya akan stay cool.  selain karena toh semakin banyak motor jalan di jalanan, sebagiannya adalah rejeki bagi kantong saya.  jadi pamali saya menghujat motor.</p>
<p>Cerita lain:  dalam pelayanan di kantor saya sering harus menghadapi konsumen yang marah.  karena saya memang dibayar untuk melayani mereka maka profesionalitas saya sedikit banyak tergantung dari apakah saya cerdas mengelola emosi.  Yang lebih parah, pelayanan di luar kantor.  Sudah capek, tidak dibayar, masih juga harus menghadapi orang omong jelek.  Mau marah?  untuk apa?  memang begitulah pelayanan.  menjadi pelayan adalah menjadi tiada.  harus mendahulukan yang dilayani.  kesadaran kesadaran itulah yang membuat saya tetap stay cool.</p>
<p>&#8220;Kamu itu siapa, rin?&#8221;<br />
&#8220;Aku bukan siapa siapa.&#8221;<br />
so, gak usah repot marah, hadapi saja dengan senyuman. semakin dapat mengelola emosi, semakin besar kemungkinan dapat mengelola relasi.  Lebih cepat kita bisa mengelola relasi dari pada mitra relasi kita, maka kita bisa mengarahkan jalannya relasi.  Soal apakah kita mau win &#8211; win atau mau win &#8211; loose ya terserah kita.</p>
<p>Maaf, karena saya tidak sukses meditasi maka saya tidak bisa cerita apa bedanya kesadaran tersebut melalui meditasi.  Yang saya rasakan sih kalau sudah terbiasa, maka semuanya berjalan dengan sendirinya, tidak pakai dipikir.  jadi tidak capek.  malah karena kita proaktif tapi stay cool jadi kita bisa menguasai gelanggang relasi.</p>
<p>Romo kerso memberi masukan?</p>
<p>salam, rin</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
